Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, January 26, 2017

Terjemahan: La La Land

Sudah lama tidak menulis, saya kembali dengan sebuah label baru. Singkat saja: Terjemahan.

Semua bisa diulas. Semua bisa dibahas. Musik, film, destinasi liburan. Berita duka, gosip selebritas, tindak pidana korupsi. Pun demikian, semuanya bukan keahlian saya. Bermain peran pengamat dan/atau kritikus juga akan terlalu membebani hari. Nanti malah tidak banyak menulis lagi.

Sehingga saya hanya akan menerjemahkan. Terjemahan dalam bentuk racauan yang memiliki nafas serupa dengan objek yang sedang diterjemahkan. Atau setidaknya itu yang ingin saya capai. Kalaupun gagal, yakinlah itu hanya keberhasilan yang tertunda.

Untuk mendapatkan hasil terbaik, saya akan coba menghidupi kembali momen-momen yang sudah lalu. Misal untuk terjemahan La La Land kali ini, saya tulis sembari mendengarkan album runut bunyi resmi film yang dimaksud. Apapun yang muncul saat tembang berkumandang, saya tulis. Apapun yang muncul setelahnya, saya hanya bisa simpan dalam benak.

Dalam proses, bisa jadi faktor lainnya juga turut memberi warna. Misal saja pandangan orang lain. Ada yang suka sekali, ada yang ketiduran. Ini menarik dan pasti tanpa sadar akan turut tercermin dalam terjemahan saya. Karena tidak ada opini yang salah, kecuali opini mereka yang membenci film ini.

Tanpa banyak bersilat lidah, selamat menikmati.

Tidak semua anak sapi berakhir di dapur McD. Tidak semua ulat bulu menjelma jadi kupu-kupu. Tidak semua startup berakhir dengan valuasi pesta pora.

Di bawah langit ibu kota provinsi, sepasang muda-mudi berjalan dengan linglung. Berdiri di bawah payung walaupun prakiraan cuaca tidak ramalkan hujan. Berhenti di halte, namun hanya duduk berpangkuan hingga bus terakhir hilang dari pandangan. Kemudian bergegas pulang. Tanpa kunjungan ke toko swalayan. Tanpa melipir ke kios rokok di pinggir jalan. Tanpa payung kendati hujan.

Seorang bocah tertabrak becak kala mengejar layangan. Masakan ibu terlampau matang karena keasyikan belanja dalam jaringan. Dan hati remaja jatuh terlalu dalam walau tidak ada jaminan.

Dengan layangan di tangan, kini bisa berbangga di hadapan kawan-kawan. Obral besar-besaran bukan sebuah perhelatan mingguan. Dan menari bersama nyatanya lebih menyenangkan daripada merekam sejarah tanpa menghidupinya.

Akhirnya semua kenangan hanya untuk disimpan. Lalu perlahan larut dalam pusaran. Masa depan tidak ada yang tahu, tapi kenyataan dibentuk oleh masa lalu.

Nikmati senja saat mentari terbit.

Thursday, August 4, 2016

Happy 2nd Career Anniversary

Going back to work this morning after a much needed vacation (and it was splendid indeed), I have just realized that this August I entered the third year of my professional life.

The learning curve for the last two years has been so steep that to say that I learned a lot of things would be such an understatement. Capital market in general and my current employer in particular has given me a new pair of glasses that forever changed the way I see the world. And I am grateful for that.

I still react to things the same way though. I still say what I want to say, I still listen to what I should not want to listen to, and I still could make a great compromise in order to achieve an even greater good. And I am also grateful for that, especially since I have been wearing a different pair of glasses.

They say that when we travel, we learn about ourselves more than we learn about the foreign land we are visiting. Despite how pretentious it sounds, I have to second the motion; My recent Tokyo trip confirmed that. And I am most grateful for that.



Cheers, mate.

Saturday, April 5, 2014

Terpaksa Namun Tidak Dipaksa

Memang katanya asa bisa karena biasa. Hanya saja, kerap kali asa lebih bisa karena terpaksa.

Seperti saya, mahasiswa yang hendak tepat waktu menyelesaikan masa studinya.

Sudah bulanan saya berhenti menulis. Sudah bulanan saya tidak pernah lagi torehkan alinea puitis. Kalimat bukan masalah. Jaringan sosial selalu ada untuk sekadar satu, dua, tiga kalimat manis di penghujung hari Kamis. Alinea.

Petang tadi saya coba melanjutkan karya akhir saya. Laporan magang! Karena tidak semua mahasiswa suka penelitian. Karena tidak semua penelitian memberi dampak bagi dunia pendidikan. Dan saya cukup yakin laporan magang saya ini lebih bermanfaat daripada topik skripsi yang pernah saya ajukan semester sebelumnya.

Sayangnya, kali ini saya tidak akan panjang lebar membahas perihal Reksa Dana. Ini soal menulis. Soal menyajikan gagasan biar enak ditelan. Dan hal tersebut semakin penting karena nyatanya laporan magang tidak se-ilmiah riset keuangan. Angka dan statistika tidak cukup untuk menggugah para penguji yang berjumlah tiga. Saya butuh kisah. Saya butuh cerita. Saya butuh legenda. Saya butuh melatih kembali apa yang selama ini saya tinggalkan untuk mengejar ketinggalan di ilmu keuangan.

Karena itu saya ingin mulai lagi berpetualang di rimba kata. Mumpung semester ini tinggal satu kelas dan sudah tidak pakai UAS. Jadi, horas?



Cheers, mate.

Friday, November 22, 2013

Saturday: Lost

It was far too early in the morning to be trying to call you.

Bonjour still closes its door for this town's creatures. Keeping sterile doctors outside and drunken fresh graduates inside (sleeping on the floor, laughing) this haven of mine. They kept on yelling about their annual salary last night; big as heck that one guy paycheque could actually feed me for the rest of my life. I hate fresh graduates.

Then, Vince arrived. Finally. I have been longing for this town's polluted air since last night, since I got into a fight with these drunken fresh graduates. We were just throwing punches when each and every one of them threw up and fell into a sleep so deep I was almost convinced they were dead because of my lousy jabs. The truth is, that's what will happen to you when you're tired as heck and try to make it go away by letting poisonous substances into your messed up metabolism. I hate fresh graduates.

It was 5.05. It was still cold outside.

It was still far too early in the morning to be trying to call you.

So, I took one for the team. I reached my pocket and lit the last cigarette I had. From last night. From one of those drunken fresh graduates high-roller suit pocket. The one with the bowler hat. I mean, what. I hate fresh graduates.

The coffin nail was top-notch though.

It was 5.20. Vince called.

He needed help waking those drunken fresh graduates. We decided to burn them instead. Just joking. I took the chance to make that suggestion, but Vince did not allow me.

He said I would rot to death in the prison for doing that. I told him that would not be much of a problem looking at myself now. He slapped me in the face. Twice. I sent him a combination of left hook and an uppercut. We hugged. A brotherly one. He begged for me to have a good sleep back in my hometown. He even handed me an airplane ticket back to our hometown. That, and my brown leather suitcase.

It was 6.21. A boy scout walked into Bonjour.

Is it still too early in the morning to be trying to call you?




P.S. See you soon.

Sunday, November 17, 2013

April 16th, 2013

In the digital age that is today, you know you are special when you have made it to be someone's password. Furthermore, to be his or her security question.

But it is only when everything is due yet nothing is new, that you can safely conclude that you actually are. Or better yet, might have always been.

And you are. Or better yet, might have always been.



Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.