Quote? Not Quote?

"On my way to your apartment, I write for fear of silence."
-Young the Giant

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, jurusan Manajemen, konsentrasi Keuangan. Sebelumnya saya menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran dan di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama dan di SD Bani Saleh 1 dan di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, March 7, 2013

Friday: I'm In Love

Imagine an endless green meadow with no one out there but you and your better half lying there eating turkey sandwiches.

Imagine a white sand beach with a bright blue sky and a glimpse of her smile as she runs into the open sea.

Imagine a mountain summit with the yellow sun rising behind the thin clouds as you hold her tight in your arms.

Imagine a rooftop dinner with all the exquisite dishes coming in the perfect order while her red lipstick spells out your name all night long.

Imagine those set of things.

That's the beauty of it.



P.S. I hate the ending myself, but it started with an alright scene.

Tuesday, February 12, 2013

Financial Press

Tulisan ini buat pembaca-pembaca yang masuk perangkat analytics Google tanpa nama dan hanya sebagai token belaka. Thanks to you, blog yang memuat tidak sampai 150 posts ini bisa ketumpahan lima belas ribu views hingga kini.

Pembaca yang menanti bus tua di tengah hujan deras ibukota. Pembaca yang menunggu caesar salad dan air mineral di kencan pertama. Pembaca yang menikmati lantunan vokal lirih dan gitar akustik pria tanggung dari perangkat iPod (ya, iPod, karena saya suka Apple). Dan akhirnya, pembaca yang terpaksa baca blog saya untuk membinasakan rasa lapar sebelum terlelap. Ya, Anda.

Tulisan ini monumen belaka (sekaligus pemanasan untuk babak final label Ben Bonjour, sih). Tulisan pengingat bahwa jadi mahasiswa konsentrasi Manajemen Keuangan ternyata bisa juga kerja di media. Media yang tidak berpihak kepada pihak manapun, kecuali kebenaran. Saya mau jadi yang seperti itu.

Jadi, bersabarlah. Turunkan payung Anda karena bus tua itu sebentar lagi tiba. Cuci tangan Anda karena salad itu tak lama lagi dihidangkan di depan mata. Lepaskan earpod (earphone terbaru Apple) Anda karena malam sudah larut. Dan akhirnya, cek kulkas Anda karena Anda tidak gendut. Ya, Anda.




Cheers, mate. :)

Tuesday, January 1, 2013

Dua Ribu Tiga Belas

Tidur saya tidak pulas. Senyum saya tidak lepas. Di pundak saya seolah ada setan serupa film Shutter sedang bertengger nyaman.

Saya banyak salah. Saya banyak dosa. Saya perlu untuk lebih rajin ibadah. Jangan sampai pikiran liar seperti terjun bebas saat lihat balkon tanpa pembatas atau tenang abadi saat lihat pil penenang muncul lagi. Saya bisa mati benaran.

"One cannot think well, love well, sleep well, if one has not dined well," kata Virginia Woolf di daftar menu Takarajima. Dia jelas-jelas salah kali ini. Semalam saya makan beragam jenis makanan dari seluruh dunia di hotel berbintang, tapi dunia saya tetap jauh mengabur.

Hari ini saya mau makan Hoka-Hoka Bento. Besok saya mau makan Sushi Tei sambil belajar. Lusa saya mau nonton The Raid, makan waffle A&W, nonton Hunger Games. Habis itu mau tidur saja. Lama. Sampai Onrop! digelar untuk kali kedua.

Selamat tahun baru.




Cheers, mate.

Sunday, September 30, 2012

Keluarga Berencana

Aloha.

Lengkapnya begini, baru kepikiran ketika hendak menulis post label #140 ini:

When all is gone, when all is said and done, plans are mere mementos.




Cheers, mate.

Sunday, September 16, 2012

Bebas Terikat



Free will itu apa sih?

Kalau menurut kamus di Spotlight bawaan Mac,

"the power of acting without the constraint of necessity or fate; the ability to act at one's own discretion."

Hmm.

Ya.

Jadi artinya, kedaulatan untuk bebas dari segala keharusan.

Sebuah hak yang sepanjang masa, seluas angkasa, diperjuangkan dan dielu-elukan habis-habisan. Namun pada titik tertentu, rasanya suaka itu malah membuat kita kelimpungan. Banyak percabangan yang membuat kita berpikir bahwa hidup ada baiknya sudah suratan. Bahwa memilih cuma bikin kita risih. Bahwa konsekuensi dari melangkah lebih mengerikan daripada sekadar tabah.

Pada kasus lainnya, justru kebanyakan saya dan kebanyakan Anda menggunakan free will tersebut untuk mengekang diri sendiri. Meyakini sesuatu, apapun itu, kemudian melakukan justifikasi terhadap apapun yang kita yakini. Apa namanya kalau bukan menggunakan kebebasan pribadi untuk mengikat diri sendiri?

Apakah kita yang secara sadar memilih untuk dikekang dapat disebut manusia bebas? Ataukah konsep kebebasan sebegitu hebatnya hingga kita tidak kuasa untuk berpegang kepadanya, lalu akhirnya menyerah dan berserah kepada pembelaan yang sering disebut faith?

Apakah pada akhirnya, kita cuma kumpulan keping-keping hal yang kita percaya? Bahwa kita tidak pernah bebas seutuhnya. Hanya bebas memilih di mula. Memilih jalan mana, kemudian menerima apa adanya.

Tapi kemudian lagi, apakah bebas lebih baik daripada bahagia? 

Coba tanya kembali. Coba evaluasi diri lagi.

Jangan mengaku bebas kalau memang berserah. Jangan juga sebaliknya. You are loved either way.




Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.