Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, October 16, 2008

Bold and Italic Episode 2 - Berguling di Tangga

Saya suka taruhan. Ketika adrenalin terus memuncak sampai akhirnya meledak. Taruhan itu memang menyenangkan, apalagi bila menang. Tapi kalau dengan Dia, kalah pun saya rela.

Dia begitu pesimis sampai menetapkan impian saja ragu-ragu. Atau memang saya saja yang terlalu optimis? Mungkin benar. Sifat optimis saya membunuh. Begitu besarnya sampai saya bisa terbutakan dari realita yang ada. Bahkan seringkali menghilangkan hasrat untuk berusaha. (masalah Optimis Membunuh ini akan saya bahas lain kali)

Impian itu mimpi, harus dikejar tanpa takut jatuh. Beda halnya dengan cita-cita. Cita-cita adalah sesuatu yang lebih dekat kepada realita, sesuatu yang harus dikejar dengan penuh perhitungan. Ketika impian semakin mendekati realita, dia tidak berubah menjadi cita-cita. Dia tetap mimpi, yang harus dikejar tanpa rasa takut. Benarkah?

Tapi sepertinya segala argumen saya tidak bisa mengubah pendiriannya. Entah Dia adalah orang yang teguh atau skeptis. Akhirnya saya membuat sebuah taruhan, setidaknya jika saya salah akan apa yang Dia impikan, dia masih bisa melihat saya dengan bodoh berguling di tangga. Saya tidak mau melihat dia sedih seutuhnya, karena saya sayang Dia, walaupun dia tidak begitu.

Akhirnya saya kalah, tapi saya tidak berguling seperti orang bodoh. Dia meringankan hukumannya menjadi push-up kepal 3 seri. Yang kemudian dihentikan oleh dirinya sendiri setelah saya baru menyelesaikan 1 seri. Apa dia tidak tega? Atau malas saja melihat saya berada di dekatnya? Pilihan pertama terdengar lebih baik.

Remembering her, February 20th - May 3rd, I still love her, a lot.


Cheers.

2 comments:

dede said...

aaaaaaaaaaah ramaaaaaaaaa. (speechless ga tau mau ngmg apa sbnrny)

ecchan-disinii said...

Angsty banget postingan lu :DD

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.