Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, November 29, 2008

Shall We Dance?

Anda tahu film 'Shall We Dance?'? Sebuah film remake versi Amerika dari film berjudul hampir sama yang diproduksi di Jepang, 'Shall We Dansu?'. Untuk informasi lebih lengkapnya silakan kunjungi Wikipedia.

Pertama, saya ingin meninjau dari segi teknis dahulu. Tidak seperti film-film remake Jepang ke Amerika jaman sekarang yang bisa dibilang selalu tidak lebih bagus dari film aslinya (dan hampir semuanya horor), 'Shall We Dance?' ini mempunyai soul-nya sendiri. Seperti yang dikatakan Roger Ebert kepada Chicago Sun Times, "I enjoyed the Japanese version so much I invited it to my Overlooked Film Festival a few years ago, but this remake offers pleasures of its own."

Sekarang lupakan teknis, saya sendiri kurang ingin membicarakan hal-hal tersebut di sini. Hei, ini bukan ekstrakurikuler sinematografi.

'Shall We Dance?' adalah salah satu film yang dapat membuat saya hampir mengeluarkan air mata dari sedikit film yang pernah saya tonton. Mungkin film ini tidak sesedih 'Titanic', atau jika Anda lebih suka barang lokalan, 'Ayat-Ayat Cinta'. Mungkin juga Anda akan menganggap film ini bukan sesuatu yang istimewa, terutama jika Anda seorang pria. Film ini bisa masuk kategori film wanita, yang hanya akan Anda tonton bersama kekasih. Tapi, saya suka film ini. Saya cinta film ini, dan tidak malu akan hal tersebut.

Setelah menonton film ini saya menjadi resah, namun bahagia. Tak ragu untuk maju, terutama dalam urusan Bold and Italic(baca post-post saya yang berlabel demikian). Dan seperti tertantang oleh judulnya; after you watch the movie, you'll be in the mood for dance. Belum cukup, taglinenya pun memantapkan pilihan Anda(terutama jika pilihan Anda tergolong absurd); "Step out of the ordinary". Jangan malu akan apa yang Anda suka.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya utarakan. Tapi saya sendiri tidak tahu bagaimana. Saat Anda bingung, tontonlah film ini. Anda akan temukan jawabannya. Setidaknya, it works for me.

Sekali lagi, jangan malu akan apa yang Anda suka. Apalagi bila hal tersebut bukanlah sebuah dosa.


Cheers.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.