Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, December 29, 2009

Curtain Call

Istilah di atas artinya sebagai berikut: an appearance by actors or performers at the end of the concert or play in order to acknowledge the applause of the audience. (The Free Dictionary)

Pertanyaannya mudah saja, tidak jauh dari apa yang ditanyakan Morgan Freeman kepada Jack Nicholson pada Jack Nicholson dalam film 'The Bucket List' - atau tepatnya apa yang dikatakan penjaga surga menurut kepercayaan Mesir kuno. Bagi yang belum menontonnya, lekaslah. Bagi yang sudah, mari kita ulang bersama:

1. Have you found joy in your life? (Apakah Anda telah menemukan kebahagiaan?)
2. Has your life brought joy to others? (Apakah Anda telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain?)

Bisakah Anda menjawab kedua pertanyaan tersebut dengan dada dibusungkan? Tiada usah berpikir jauh hingga tujuh belas tahun lamanya ke belakang sana, pikirkan saja tahun ini. Selama satu tahun ke belakang, selama tahun 2009. Bagaimanakah?

Pertanyaan pertama rasanya adalah sebuah perkara mudah. "Saya menonton konser band favorit saya", "Saya dibelikan mobil baru", "Diet saya berhasil", "Tinggi saya bertambah 5 cm", "Saya dapat pacar", "Saya mendapat penghargaan", dan berbagai macam hal lain yang bisa membuat Anda lemessssh (mengutip ungkapan populer di lingkungan sekitar saya).

Namun demikian memang juga tidak bisa diremehkan. Pertanyaan ini sesungguhnya bertujuan agar Anda melupakan (saya lebih suka menyebutnya simpan-dan-pelajari) hal-hal buruk yang telah terjadi. "Pacar saya selingkuh dengan kasir toko swalayan dekat rumah", "Anjing saya ditabrak delman", "Timbangan saya rusak", "Bumi ini semakin luluh karena ulah manusia", "Saya kehilangan keperawanan", dan seterusnya hingga kalau diratapi bisa sampai 2011 sudah di depan mata.

Sekarang ayo bangkit, cari kesenangan yang telah terjadi, dan jadikan motivasi untuk menjadi lebih baik. Jika sudah, mari menuju pertanyaan kedua.

Pertanyaan kedua sedikit lebih menjebak. Ada sebagian Anda yang terlalu takut menjawab ya, sedangkan sebagian lain terlalu percaya diri menjawab ya. Mereka yang takut sungguh kasihan, kepercayaan dirinya bisa makin menguap. Mengakui saja tidak bisa, tapi kemudian juga tidak ada yang memberitahu bagaimana dia begitu berharga. Makanya, sekarang yang Anda harus lakukan ada dua: 1. Ingat-ingat senyuman yang terlontar kepada Anda dan yakinkan bahwa Anda telah membawa kebahagiaan kepada dunia, dan 2. Beritahukan kepada mereka yang telah memberikan Anda kebahagiaan bahwa mereka adalah orang yang menakjubkan.

Namun jika memang Anda harus menjawab tidak, jangan. Tahun 2009 masih bersisa dua hari lagi. Pergi ke luar sana, sebarkan senyuman, dan jika perlu sekuntum bunga!


Happy New Year!




Cheers, mate.

Wednesday, December 9, 2009

Hidup Yang Disia-sia

Miris rasanya setelah lama tidak menyentuh keyboard untuk menulis, melihat betapa banyak yang telah terlewatkan dari dunia blog.

Tapi apa daya, naganya saya juga terkena imbas Twitter yang berhasil menangkap intisari manusia modern: instan. Namun saya berhijrah ke Twitter pun ada alasannya. Saya tidak mau menulis tanpa mengetik, atau tanpa menulis secara harafiah. Mencatat via handphone sering, tapi ketika harus di-publish ke khalayak rasanya malu kalau tidak serius. Seperti merendahkan rekan blogger masa lama. Begitulah asal mulanya, dan kenapa begitu? Karena kesibukan kelas XII SMA.

Kelas XII SMA rasanya seperti hidup yang disia-sia. Belajar memang tidak percuma, tapi "You can't be alive if you're not living!" begitu kata Rich Munsch. Bagi saya belajar itu ada di urutan entah berapa dari hal-hal yang membuat saya merasa hidup, dan rasanya begitu juga bagi Anda.

Rasanya saya sudah cukup kehilangan berbagai bagian dari esensi menulis. Saya lupa tata bahasa saya, saya lupa bagaimana berkata, tapi setidaknya saya tidak lupa kata sandi untuk mengakses situs ini!

Untuk sekarang saya membuang sementara kegiatan menulis demi cita-cita. Cita-cita ini yang nantinya akan membuat saya merasa hidup dan kemudian menulis kembali, walaupun gaya saya mungkin akan sedikit berbeda. Menulis itu bagus!




Cheers, mate.

Wednesday, September 2, 2009

Tantra dan Jalur Neraka

Selamat pagi semua! Cerita pendek di bawah ini adalah tugas Bahasa Indonesia yang diberikan oleh Bu Epidayatni tercinta. Saya hanya mem-paste apa yang saya copy dari program Microsoft Word. Jadi kalau formatnya agak berbeda dengan sebelumnya, mohon maaf. Suka atau tidak, nikmati saja. Silahkan!


Di komplek saya dahulu, bagi seorang anak lelaki berumur 5 hingga 10 tahun bersepeda pada sore hari adalah sebuah keharusan. Anda bisa dianggap sebagai anak yang sombong bila tidak mengikuti peraturan tak tertulis tersebut. Lebih jauh lagi, Anda bisa dianggap takut pada sinar matahari dan diberi julukan bocah gila.

Namun sore itu nampaknya Tantra menyesal karena tidak tinggal di rumah saja walaupun akan disebut bocah gila. Seperti hari lainnya, sore itu dia berangkat dari rumah setelah memastikan sepedanya dalam kondisi prima untuk diajak berkompromi dengan jalanan sekitar rumah. Lalu dia merasakan desiran angin menerpa wajahnya seraya mengayuh sepedanya menuju lapangan di tengah-tengah komplek, yang biasa dijadikan tempat berkumpul atau starting point dari segala kegilaan sore hari.

Biasanya kami berkumpul pukul empat, lalu membicarakan kebodohan macam apa yang akan kita perbuat bersama-sama. Anda tahu? Banyak yang bisa dilakukan dengan sebuah sepeda dan serombongan teman masa kecil. Kami pernah menerobos masuk ke dalam toko swalayan dengan sepeda, lalu kabur sambil cengengesan. Hari lainnya, kami konvoi ke daerah perkampungan sambil berteriak bersahut-sahutan seperti perompak gunung. Kalau sekedar balapan mengelilingi lapangan sih, sudah biasa.

Hari ini otak kecil dari setiap kami memikirkan sebuah ide gila. Ada sebuah course di komplek kami yang biasa disebut jalur neraka. Jalur neraka terdiri dari 3 bagian yang sama menegangkannya. Sebuah kuburan dengan jalan yang peyot di sana-sini, sebuah lereng agak curam setinggi sekitar 7 meter, dan terakhir turunan maut yang licin. Jika saya ke jalur tersebut lagi hari ini, ternyata tidak sebegitu neraka juga. Mungkin jalur tersebut hanya menjadi sulit bagi bocah-bocah yang belum akil baligh, namun itulah indahnya masa kecil. Anda bisa mempersulit hal apapun, tanpa merasa sulit ataupun terbebani.

Setelah mencapai kata mufakat kami segera konvoi ke jalur neraka; seperti biasa, dengan heboh. Masih kecil tapi lagaknya sudah seperti hendak berperang. Memalukan, tapi namanya juga bocah. Sampai di sana, kami memulai petualangan kecil kami bersama-sama dengan diawali oleh aba-aba. Mulanya kami berjalan serentak dan seirama, namun ketika salah satu dari kami mengayuh lebih cepat dari yang lain, secara tak sadar semua jadi bersemangat. Ini mulai terlihat seperti sebuah balapan!

Ada yang terjatuh karena tak bisa menahan stang sepeda pada posisinya ketika berhadapan dengan jalanan rusak di kuburan, dan banyak yang kehilangan keseimbangan ketika menuruni lereng curam yang jalurnya cuma muat satu sepeda. Dengan segala kecelakaan tersebut, yang bisa sampai pada bagian terakhir hanya 3 orang. Saya, Tantra, dan seorang lagi yang saya hanya bisa ingat samar-samar.

Ketika sampai di bawah lereng 7 meter, yang sekaligus merupakan check point dari bagian ketiga jalur neraka, kami berhenti dan menunggu satu sama lain. Menyejajarkan posisi, menatap satu sama lain, lalu tersenyum. Tantra bahkan tertawa agak keras sambil mendongak ke langit sore, mungkin dia bangga. Setelah itu, tanpa banyak bicara teman saya yang seorang lagi yang saya lupa siapa dia langsung saja menuruni turunan maut nan licin itu. Dia melaju cepat hingga sampai ujung turunan dan kemudian mengerem pada kecepatan tinggi sambil memutar sepedanya sehingga menatap ke arah kita yang masih di atas, seolah menantang. Banyak sekali lagaknya!

Saya yang merasa terpacu oleh aksi pamer itu langsung bersiap untuk maju. Namun ternyata Tantra sudah lebih dahulu diliputi gairah untuk berkompetisi. Sayangnya dia melesat terlalu cepat. Kakinya lepas dari pedal hingga konsentrasinya buyar dan tidak bisa menahan kedudukan stang sepeda dan menjaga lajunya agar tetap lurus. Sepeda Tantra melaju dengan liar ke arah pos satpam di ujung kanan turunan. Lalu yang terjadi selanjutnya sungguh mencekam, walaupun lucu juga. Tantra terlempar dari sadel setelah laju sepedanya terhenti oleh pos tersebut. Benar-benar terlempar, benar-benar terlontar ke depan. Kalau Anda masih belum bisa memvisualisasikan kata-kata saya dengan jelas, adegan seperti ini biasa juga ditemukan di film aksi, dimana sang jagoan mengerem ban depan sepeda motornya sehingga ban belakang naik. Biasanya adegan dilanjutkan dengan acara tebar pesona atau ledakan di sana-sini. Sungguh menawan. Namun dalam kasus Tantra, tidak ada yang seperti itu.

Awalnya kami sempat terdiam, bahkan ada yang tertawa, tapi atas nama persahabatan masa kecil kami langsung mendekatinya. Untung tidak ada cedera berarti pada seluruh tubuh Tantra, hanya sedikit lecet di lengan kanan. Sungguh bocah yang beruntung. Seingat saya dia juga tidak menangis. Entah karena memang dia kuat, atau malu terhadap kami. Yang pasti, bahkan sejak kejadian itu kami tidak pernah berhenti untuk bersepeda ataupun melakukan hal-hal bodoh lainnya. Teman masa kecil, teman sebenarnya.




Cheers, mate.

Monday, August 17, 2009

Bold & Italic Epilogue - Finish What You Have Started

Sebenarnya episode 9 dari seri ini sudah lebih dari cukup untuk mengakhiri semua (apalagi dengan disertakannya sebuah foto hantu yang sedap dipandang). Namun kata 'epilog' menjadi sedemikian indahnya malam ini hingga saya ingin mengakhiri seri ini dengan embel-embel 'Epilogue' tersebut.

Sebagaimana telah disebut sebelumnya, munculnya seorang wanita - yang saya sebut Forward sebelumnya biar sok-sok misteri - memutarbalik banyak hal. Dan sekarang sudah pastinya Anda tahu siapa dia. Ya, Anissa Paramita. Tidak kenal? Dia dikenal juga sebagai donat, anpar, nispar, anissape, atau panggilan-panggilan lain yang semakin menjamur semakin hari.

Intinya kali ini saya memang tidak ingin berkata apa-apa, tidak bisa, tidak perlu. I'm just finishing what I have started. This is the finish line, the destination point (for that, Amen). And when you reach the end, you stop there.




Cheers, mate.

Thursday, August 13, 2009

Wanita II

Hello people. Saya kehabisan bahasan. Atau mungkin tepatnya kehabisan tenaga untuk memutar otak demi mencari bahasan. Kehidupan kelas XII menyita lebih dari 80% tenaga dari jiwa, raga, dan pikiran saya. Every night, we dine in hell. Anyway, di saat seperti ini kenapa kita tidak bangkitkan lagi tulisan 'Wanita' beberapa saat lalu? Lumayan untuk menyegarkan kembali diri dari segala rutinitas. Kali ini saya akan menampilkan 4 lagi wanita yang menurut saya menarik. Kebanyakan memang sudah bukan wanita-wanita yang memang jadi patokan makna 'cantik' untuk saya, melainkan wanita-wanita yang saya lihat belakangan ini hingga saya terpukau oleh daya tariknya. Sekali lagi maaf bila selera saya agak absurd. Tapi, nikmati saja!

Dan kali ini saya enggan memberi komentar, maaf saja.


daftar di bawah tidak disusun secara peringkat



Marion Cotillard



Emma Watson



Scarlett Johansson



Kristen Stewart






Cheers, mate.

Monday, July 27, 2009

Hidden Diamonds

Halo, kawan sekalian. Sudah lama tak bersua, nampaknya saya sedianya meng-update blog ini sekali-kali. Maka daripadanya, saya akan berbagi sedikit saja kesan saya terhadap 21st Century Breakdown, album teranyar dari Green Day.

Anda mungkin terbuai oleh '21 Guns' yang nyaris sempurna itu. Atau Anda senantiasa mengangguk-anggukkan kepala ketika 'Know Your Enemy' menghentak. Tapi coba telisik lebih dalam album ini, cari track 7, alunkan!


Last Night On Earth - Green Day
I text a postcard, sent to you
Did it go through?
Sending all my love to you.
You are the moonlight of my life every night
Giving all my love to you
My beating heart belongs to you
I walked for miles 'til I found you
I'm here to honor you
If I lose everything in the fire
I'm sending all my love to you.

With every breath that I am worth
Here on Earth
I'm sending all my love to you.
So if you dare to second guess
You can rest assured
That all my love's for you

My beating heart belongs to you
I walked for miles 'til I found you
I'm here to honor you
If I lose everything in the fire
I'm sending all my love to you.

My beating heart belongs to you
I walked for miles 'til I found you
I'm here to honor you
If I lose everything in the fire
Did I ever make it through?




Cheers, mate.

Sunday, July 19, 2009

Wednesday, July 15, 2009

(Just Like) Starting Over

Mulai dengan John Lennon! (bukan Michael Jackson, bung)


(Just Like) Starting Over - John Lennon

Our life together is so precious together
We have grown, we have grown
Although our love is still special
Let's take a chance and fly away somewhere alone

It's been too long since we took the time
No-one's to blame, I know time flies so quickly
But when I see you darling
It's like we both are falling in love again
It'll be just like starting over, starting over

Everyday we used to make it love
Why can't we be making love nice and easy
It's time to spread our wings and fly
Don't let another day go by my love
It'll be just like starting over, starting over

Why don't we take off alone
Take a trip somewhere far, far away
We'll be together all alone again
Like we used to in the early days
Well, well, well darling

It's been too long since we took the time
No-one's to blame, I know time flies so quickly
But when I see you darling
It's like we both are falling in love again
It'll be just like starting over, starting over

Our life together is so precious together
We have grown, we have grown
Although our love is still special
Let's take a chance and fly away somewhere

Starting over



Saking lamanya tidak menulis, rasanya saya sudah kehilangan esensi menulis itu sendiri. Namun demikian semoga tidak. Dan karena hari sudah larut pun saya tidak akan berbicara panjang lebar sekarang. Sekedar sekilat kilas balik dan segelintir rencana ke depannya.

Beberapa hari lalu (walau sudah tidak pantas disebut beberapa lagi) sang King of Pop, Michael Jackson meninggal dunia. Kabar baiknya, saya tidak terhentak ataupun berduka. Di mata saya, kematian beliau kira-kira setara dengan kematian Rekti The S.I.G.I.T - tidak, Rekti belum meninggal - saja. Wajar saja, saya sama sekali tidak besar dengan lagu-lagu beliau. Walau demikian saya tetap mengagumi sang Jacko - okay, mungkin lebih kagum ketimbang kagum saya dengan Rekti - karena dia itu one of a kind. Suaranya magical, tariannya menawan, dan sepatu anti-gravitasinya adalah sebuah temuan yang sangat brilian. Tapi itulah, ini masalah lagu apa yang membuat Anda menjadi Anda yang sekarang. Bahkan saya baru sekali ini melihat video klip Billie Jean! Sadis.

Soal tahun ajaran baru, tiada usah lah dibahas lagi. Kelas XII, tumpukan buku-buku tebal, 20 rim lembaran soal, ratusan kadar tekanan internal maupun eksternal, dan puluhan juta uang pendaftaran PTN. Selama berusaha dan berdo'a, tidak mungkin Yang Maha Kuasa mengkhianati Anda. Saya sendiri ingin sekali bergabung dengan Universitas Indonesia pada tahun 2010 nanti. Akuntansi atau psikologi, yang manapun boleh lah saya ikuti. Marilah berdo'a demi kesuksesan kita semua dan Anda semua. Berdo'a mulai, dan selesai. Amin.

Kira-kira itu saja lah dulu. Bila ada waktu, insyaAllah saya akan menuliskan jurnal perjalanan saya ke Thailand pada liburan lalu di Volgorian Cabalsette sini. Kita lihat saja nanti, semoga diizinkan.

Anissa Paramita, aku sayang kamu.




Cheers, mate.

Friday, June 12, 2009

Make A Difference

Siang tadi rekan saya Gilang Pangestu dan Muhammad Fadhil Mudjiono diwawancara dan difoto-foto sebagai wakil anak SMA untuk Parkour Indonesia oleh majalah Hai. Ada beberapa hal. Pertama, saya ingin mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada mereka. Kedua, saya ingin menghimbau untuk jangan lupa membeli Hai edisi khusus Komunitas (kata Fadhil) yang beredar 2 minggu lagi. Ketiga, ternyata fotografer yang tadi menangani mereka adalah Ilham Anas (Barack Obama palsu).

Berangkat dari cerita itu saya ingin mengangkat tema tulisan ini. Let's make a difference, mari buat perubahan. Saya beruntung punya beberapa rekan hebat yang sudah, sedang, ataupun akan melakukan perubahan. Mulai saja dari Moris Semuaji dan kawan-kawan dari Trackers (Saptraka Community Bikers) yang konon katanya pelopor gerakan Bike To School, lalu ya itu tadi si Gilang dan si Fadhil yang termasuk anak SMA pertama yang bergabung dengan Parkour Indonesia khususnya Parkour Jakarta. Ada juga Paramezwari Atila Sugandi dan Ozora Kharunia dan Maudy Alvi yang cerewet soal lingkungan (walau kadang tingkah mereka malah merusak), kemudian jangan lupakan Lamuru yang - walaupun sudah agak lama beritanya - sekiranya wajar dikatakan sebagai pionir grup perkusi anak SMA. Demikian halnya juga dengan Sky Nation, lomba baris berbaris - seperti yang kita tahu, ini bukan bidang yang biasa dilombakan anak SMA - yang tidak jadi diadakan sebagai rangkaian Sky Battle 2008 ini akhirnya terealisasikan di bawah komando Seksi Bela Negara OSIS Diwakara Balasena. Dan masih banyak lagi contoh lainnya, misalnya Rifqi Kasyidi yang bisa menyetir sepeda motor dengan menggunakan lidah ataupun Iman Satriaputra yang berhasil meretas database Friendster (kedua hal ini fiktif).

Saya sendiri belum terlalu banyak melakukan perubahan nampaknya. Kalau apa yang terjadi pada Skyblitz pada masa kepengurusan saya - seperti: boleh dipakainya ruang ekstrakurikuler, kebangkitan kembali materi cetak film sendiri, penghilangan batasan antar angkatan, pameran intern kecil-kecilan - memang bisa masuk kategori perubahan, alhamdulillah. Tapi selain itu saya ternyata belum memberikan dampak yang besar kepada dunia, baik dunia semesta maupun dunia saya sendiri. Walau demikian saya tetap berjalan ke arah sana setidaknya.

Jadi ya kembali lagi, marilah buat perubahan. Mungkin tulisan dan pengalaman yang saya curahkan di sini belum bisa menginspirasi dan memotivasi. Namun tidak mengapa, karena setidaknya itu semua memotivasi diri saya hanya dengan mengingat dan menulisnya kembali.

Masih ragu untuk membuat perubahan? Dengar tembang ini, kawan.




Everybody - Raul Midon

Picture yourself in world where there's no one else.
Nobody anywhere.
A moment ago there were voices and faces to look upon,
Can't see them anywhere.
Nothing more to say and no one left to say it to anyway.
Please listen to what i say.

Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference.
Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference in this world.

Picture a world where the people all feel there worth.
Children are everywhere.
There is a reason for everyone's time on earth.
Wondering why you should care.
Nothing more to say.
And only love can see us through anyway.
Please listen to what i say.

Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference.
Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference.

You don't have to be a big celebrity.
To feel the power, the power in your soul
You don't have to be a big star on mtv
To realize that in your eyes there's a view
That only you can see.

Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference.
Everybody can be somebody.
Everybody is free to make a difference in this world.








Cheers, mate.

Wednesday, June 10, 2009

Buset, Puji Tuhan, Subhanallah!

Perhatian, ini hanya tulisan iseng belaka di tengah serbuan UKK.

Saya baru tadi pertama melihat video klip Gita Gutawa menyanyikan Aku Cinta Dia. Dan reaksi saya: Buset! Puji Tuhan! Subhanallah! Sudahlah, bujut, ngaco, gila, nangis, nangis darah. Skala 1 sampai 10 sama dengan 2 juta. Lemas, letih, lesu.

Sekalian saya tampilkan saja kalau begitu. Thanks to YouTube for providing it.



Dan lalu ternyata saya juga menemukan video klip Parasit di situs mahadewa tersebut. Jadi, ya sekalian, mari.





Cheers, mate.

Tuesday, June 9, 2009

50 First Things

Sembari mengistirahatkan pikiran dari lalu lintas ilmu pengetahuan, mari coba games asal yang saya dapat dari bang Dito Wijanarko! Katanya cukup isi saja secepatnya.


1. Beer: Bintang
2. Food: Onigiri
3. Relationship: Anissa Paramita
4. Crush: Crush Gear
5. Power Rangers: Red
6. Life: Damai
7. The President: SBY!
8. Yummy: KFC's Chicken Fillet
9. Car: Nissan Livina
10. Movie: Juno
11. Halloween: Orange
12. Sex: Drugs
13. Religion: Islam
14. Hate: Kupret
15. Fear: Factor
16. Marriage: Ayo aja
17. Blondes: Paris Hilton
18. Slippers: Swallow
19. Shoes: Puma
20. Asians: Gerakan A3
21. Pastime: My Chemical Romance
22. One night stand: Kuburan
23. My cell phone: 5310
24. Smoke: Marlboro
25. Fantasy: Dragon
27. High school Life: Cakep bener!
28. Pyjamas: Non-sense
29. Stars: Aries
30. Center: Beauty Center
31. Alcohol: Khamar
32. The word LOVE: LOL (Love Out Loud)
33. Friends: Friendster
34. Money: Hijau
35. Heartache: Fractura hepatica
36. Time: http://timetravel-agent.blogspot.com
37. Divorce: Keyboard
38. Dogs: Wolf
39. Undies: Cuplis
40. Parents: Fockers
41. Babies: Bulet
42. Ex: Caelah
43. Song: Eight Days A Week
44. Color: Transparent
45. Weddings: Nyantai
46. Pizza: Paprika!
47. Hangout: Teh dan Buku
48. Rest: sehabis UKK!
49. Goal: Goal 2
50. Inspiration: David Foster





Cheers, mate.

Friday, June 5, 2009

"Hey moon, please forget to fall down"

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Fariz Razi selaku pemilik Vampibots - walaupun sebenarnya bukan secara langsung karena dia juga - akhirnya saya ingin mencoba untuk bersegmentasi, atau tepatnya membuat sebuah label tersegmentasi karena saya malas membuat blog baru lagi. Dan garis besarnya masih review, tapi kali ini album musik. Saya tidak akan sedetil maupun mencoba sedetil Vampibots, tergantung mood saja, jadi mari kita simak saja bersama-sama.

click the image to go to our beloved Wikipedia, the free encyclopedia!


And just why I picked this album? Secara acak saja sebenarnya. Shuffle my songs, and there it was, track pertama dari album di atas, We're So Starving. Akhirnya malah keterusan. Dan lalu karena sudah lama tidak meng-update blog, timbul keinginan saya untuk me-review album yang bisa dibilang isinya enak didengar semua ini selain album-album seperti The Black Parade dan Revolver. Seperti 2 album yang disebut tadi juga, mungkin ini album lama, tapi bagi saya tenaganya masih sangat berasa. Ketika berpikir demikian saya mencoba label macam mana yang sekiranya tepat untuk review di Volgorian Cabalsette ini, ternyata belum ada. Dari situ lah, saya ke depannya mungkin akan bersegmentasi juga pada 1 label yang akan saya beri tajuk 'telisik musik'.

Track by track by me:
1. We're So Starving - (1:22)
"You don't have to worry, 'cause we're still the same band"? Screw it mate, you're much better. Dengan mendengar lagu pembuka ini saja saya sudah tahu album ini jauh lebih baik dibanding 'A Fever You Can't Sweat Out'! (bagi saya 'A Fever You Can't Sweat Out' hanya bernilai 2.8/5)

2. Nine In The Afternoon - (3:12)
Lagu yang cocok sebagai single pertama dari sebuah muka yang baru. 'The Only Difference Between Martyrdom and Suicide Is Press Coverage' terdengar seperti lagu tradisional rakyat terpencil di hadapan lagu yang bertengger di nomor 44 pada Rolling Stone's List of the 100 Best Songs of 2008 ini.

3. She's A Handsome Woman - (3:12)
Saya tidak akan banyak berbicara pada track ini. Tapi saya akan menunjuk "Go on, film the world before it happens" sebagai line terfavorit saya dan intro sekaligus riff utama dari lagu ini sebagai unsur yang mengesankan.

4. Do You Know What I'm Seeing? - (4:14)
Awalnya rada suram, namun semua itu sirna sebentar saja pada bagian chorus. Karena saya tidak terlalu suka mematenkan makna sebuah lagu - yang seringkali malah mengurangi kesenangan dalam menikmatinya - maka langsung saja kami menuju line favorit lagi. Tentu saja "I know it's mad, but if I go to hell will you come with me or just leave?" langsung terpilih. Coba tanyakan itu kepada orang yang Anda cinta dan cinta Anda, kira-kira apa jawabannya?

5. That Green Gentleman (Things Have Changed) - (3:15)
Rasanya ini termasuk lagu yang bisa membuat saya meneteskan air mata bila diputar pada saat yang benar-benar tepat. Entah kenapa, lagu ini sangat gila pengaruhnya pada jiwa saya. Pantas saja dijadikan sebagai single ke-3. Secara sederhana saja saya mengartikan lagu ini adalah mengenai perubahan, perubahan apapun. Dan karena saya pernah punya beberapa cerita tentang perubahan juga lah mungkin lagu ini berarti. Makanya bahkan sekedar "Things have changed for me, and that's okay" saja sudah cukup untuk membuat saya terharu.

6. I Have Friends In Holy Spaces - (1:56)
Tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan kecuali atmosfernya yang terasa menyenangkan di telinga saya. Lalu "Well that all depends what you qualify as friends" itu genius.

7. Northern Downpour - (4:08)
Lagu kesukaan saya nampaknya. Tidak tahu juga sih, susah menentukan 1 lagu kesukaan di antara 15 lagu-lagu brilian. Namun nampaknya memang ini yang terbaik buat saya. Dan jika dihubungkan dengan konteks UKK pada hari Senin (8/6) mendatang, line terbaiknya adalah "Hey moon, please forget to fall down". Maknanya mudah saja, semoga hari terus menjadi hari Jum'at 5 Juni 2009 saja. Hari terakhir kelas XI, hari terakhir pengumpulan tugas, hari terakhir penyelesaian nilai, hari terakhir pembayaran biaya administrasi sekolah, dan lain-lain. Jadi terharu rasanya.

8. When The Day Met The Night - (4:54)
Apa ya? Sudah lagu ke-8 saya mulai kehabisan kosa kata. Yang pasti lagu ini memancarkan keresahan sekaligus kesejahteraan secara bersamaan. Untuk line favorit, rasanya "When the sun found the moon, she was drinking tea in a garden" yang metaforik itu sangat menarik. Yang saya kurang setuju: kenapa bulan harus diidentikkan dengan wanita?

9. Pas De Cheval - (2:39)
Punya semacam aura yang mirip 'Route 66' karena tabuhan snare drum-nya memaksa kami untuk melakukan "pedal to the metal", kalau mengutip perkataan rekan saya Muhammad Fadhil Mudjiono. Saya kurang memperhatikan lirik lagu ini karena kepala saya terlanjur bergoyang, tapi setelah saya cermati lagi "Give your feet a chance they'll do all the thinking" itu terdengar lucu juga.

10. The Piano Knows Something I Don't Know - (2:39)
Ini lagu yang mengerikan awalnya, dan aneh di sepanjang lagu. Tapi cukup menyenangkan untuk didengarkan setelah hari yang penat. Liriknya pun begitu, tapi waktu Urie menyanyikan "I won't cut my beard, and I won't change my hair" dia terdengar sungguh-sungguh.

11. Behind The Sea - (3:33)
Ini lagu seru! Teatrikal! Dan auranya jauh lebih menyenangkan dari 'I Write Sins Not Tragedies' yang didaulat teatrikal itu! Apalagi ada suasana baru karena Ryan Ross mengisi vokal. "And we're all too small to talk to God" juga kadang mengingatkan saya untuk selalu berbuat kebajikan.

12. Folkin' Around - (1:56)
Namanya juga sudah folkin' around, mari main yang ringan. Ayo istirahat sebentar dari kegeniusan, karena menjadi genius itu melelahkan. Karena itu juga saya sekali lagi tidak memperhatikan lirik. Akhirnya saya google saja, dan saya tentukan "Your melody sounds as sweet as the first time it was sung" sebagai line yang manis.

13. She Had The World - (3:47)
Lagu kesukaan saya yang kedua! Saya selalu suka lagu mengenai wanita, bahkan walaupun saya juga tidak tahu apa benar 'she' yang dimaksud mereka di sini adalah wanita. Suasana dari lagu ini juga fantastis, mengaduk-ngaduk pikiran. Kalau soal line favorit, dari dulu selalu sama, "When I look in her eyes, I just see the sky" dan "I don't love you I'm just passing the time".

14. From A Mountain In The Middle Of The Cabins - (3:02)
Wah ini lagu aneh lagi. Lagu yang paling tidak saya suka dari album ini, walaupun ada siulan yang cukup ciamik digabungkan dengan aransemennya yang aneh. Jadi saya juga tidak akan berbicara banyak. Line favorit juga palingan "If you're goin' then go" yang diucapkan berulang-ulang.

15. Mad As Rabbits - (3:48)
Sejujurnya saya baru tahu bahwa ini adalah single kedua setelah melihat di Wikipedia. Wow. Tapi pantas saja sih karena dirilisnya via iTunes. Ketimbang mengakhiri album ini dengan lemah lesu ternyata Panic At The Disco ingin menyisakan sedikit semangat kepada para pendengar. Dan pemilihan "We must reinvent love!" untuk akhir lagu meninggalkan kesan tersendiri yang susah dilupakan.


4.6/5


Cheers, mate.

Tuesday, May 26, 2009

Wanita

Bukan, di tulisan ini saya bukan akan menulis. Sudah lelah saya, mana besok ulangan matematika. Turunan! Harusnya tidak terlalu sukar, tapi tidak tahu lah. Kembali ke awal, kali ini saya hanya akan berbagi selera. Ada 9 wanita di bawah, mulai dari yang sekarang sudah tua hingga yang masih gadis, yang menurut selera saya (yang seringkali cukup absurd) paling baik di zamannya. Enjoy.


daftar di bawah tidak disusun secara peringkat



Kat Dennings



Drew Barrymore



Ellen Page



Mandy Moore



Ashley Tisdale



Katy Perry



Meg Ryan



Anne Hathaway



Gita Gutawa


Mari mulai dari Meg Ryan terlebih dahulu. Saya pertama kali melihat dia melalui film When Harry Met Sally, dan saat itu juga saya menganggap dia menarik. Tata rambutnya memang seperti Duff McKagan dari Guns N' Roses, namun tak ayal lagi bahwa Meg Ryan itu sungguh menawan. Begitu juga aksinya di Sleepless In Seattle, sungguh menarik.

Sekarang Drew Barrymore. Saya mengenal Drew Barrymore dari Charlie's Angels namun baru menganggap dia cantik pada Music & Lyrics, yang saya tonton kira-kira 3 tahun setelahnya. Komposisi mukanya sedikit aneh, tapi kata rekan saya Nadya Fitri mukanya itu "angelic banget", and that's the exact quote.

Hmm, lalu Mandy Moore. Satu-satunya yang saya tahu dari Mandy Moore adalah Jamie Sullivan pada A Walk To Remember, jadi saya tidak akan banyak cingcong.

Selanjutnya Katy Perry! Terima kasih kepada majalah Hai yang pernah mensandingkan Katy Perry dengan Miley Cyrus dalam sebuah perbandingan pada sebuah rubrik di tahun 2008. Sejak itu saya mencoba mencari tahu siapakah gerangan seorang Katy Perry. Ketika orang sekitar saya baru mendengar I Kissed A Girl saya sudah mendengar Lost, ketika khalayak baru mendengar Hot N Cold saya sudah hafal lirik Thinking of You. Hurrah for Katy Perry!

Lanjut ke Ellen Page. Sekali lagi saya hanya pernah melihat dia berlaga di Juno, dan dia brilian di sana. Disaster Movie mengejek karakter Juno dengan membuat versi kacangan dari dirinya lengkap dengan gaya bicara sangat cepat serta gerakan tangan yang khas serta perut besar karena hamil, tapi itu semua tidak berpengaruh. Kalau cantik ya cantik, sekali cantik ya tetap cantik.

Anne Hathaway! Yang ini juga sekaligus kesukaan Wildan Ahmad Adani, rekan saya yang dijuluki cuties karena mukanya seperti bayi. Memang hebat wanita yang satu ini. Sudah tidak perlu lah saya komentari lagi.

Mungkin Anda sedikit aneh melihat saya menganggap Ashley Tisdale itu menarik. Tapi memang benar adanya. Percaya atau tidak saya sudah melahap High School Musical 1 hingga 3. Alasan utamanya karena saya suka film musikal, apapun bentuknya; yang kedua mungkin karena Sharpay Evans ini. Tidak tahu lah kenapa, intinya saya suka.

Yang ke-8, Kat Dennings. Satu lagi wanita yang saya langsung anggap menarik hanya karena satu penampilan. Di Nick & Norah's Infinite Playlist Kat Dennings berhasil memukau saya. Mukanya memang terlihat agak besar, apalagi setelah didampingkan dengan Michael Cera yang notabene mukanya kecil, namun sisanya dia memang menawan.

Last but not least, Gita Gutawa! Sudahlah, cukup sampai sini saja. Banyak rekan saya yang punya cukup akses untuk mencapai dia, nanti saya malah dihina-hina. Saya rasa Anda semua juga sudah tahu mengenai hal ini. Ah, omong-omong saya minta maaf karena ada label KapanLagi.com pada foto di atas sana.


"Kenapa di atas tidak ada Megan Fox?!", "Kenapa di atas tidak ada Aura Kasih?!", "Kenapa di atas tidak ada Elisha Cuthbert?!", "Kenapa di atas tidak ada Liv Tyler?!", "Kenapa di atas tidak ada Julia Roberts?!", "Kenapa tidak ada Indra L. Bruggman?!", dan selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat jamak muncul di benak Anda setelah membaca tulisan saya kali ini. Namun santai lah, ini masalah selera. Kalau terlalu menarik secara seksual saya malah tidak bisa fokus pada arti cantik yang sesungguhnya. Makanya, coba pampang juga versi Anda. Mari berbagi selera!






Cheers, mate.

Sunday, May 24, 2009

Berbicara Politik Hanya Akan Berakhir Di Kubangan

Definisi kubangan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia: tanah lekuk yg berisi air dan lumpur (tempat kerbau berendam diri atau berguling-guling). Ya jadi begitulah. Politik dimana juga selalu penuh trik dan intrik. Tidak selalu bejat mungkin, tapi selalu penuh muslihat.

Dimulai dari hari Rabu (20 Mei), 3 calon presiden RI untuk masa jabat 2009-2014 berturut-turut hadir dalam acara Presiden Pilihan di TVOne. Bapak Jusuf Kalla dengan semangat nasionalisme radikal dan (maaf) sikap terlalu humoris, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dengan sikap santun dan lelucon tentang Kadin yang sedikit sulit dicerna, dan Ibu Megawati Soekarnoputri dengan (maaf sekali, tapi ini benar, setidaknya bagi saya) bahasanya yang terlalu berputar-putar khas politisi hingga tidak bisa memberi jawaban yang presisi. Dari penjabaran saya mungkin Anda sudah bisa melihat saya condong ke arah mana. Tentu saja Pak SBY!

Saya tidak pernah bilang bahwa Pak SBY itu suci dari segala najis dunia politik, tapi setidaknya kubangannya tidak sekotor kubangan-kubangan politisi lainnya, setidaknya untuk saya. Guru sejarah saya, Bapak Ali Fikri Pane, berkata bahwa alasan SBY memilih Boediono sebagai wakilnya adalah demi kekuasaan. Kata beliau, SBY takut jika wakilnya adalah orang partai, dia akan haus kekuasaan lagi seperti JK sehingga akan "bercerai" dan menjungkirbalikan SBY pada pemilu berikutnya. Ketika saya berkata bahwa masa pemerintahan presiden di Indonesia hanya 2 mandat, Pak Ali berkata "tapi setidaknya presiden berikutnya bisa datang dari Partai Demokrat". Itulah, muslihat. Pak SBY bermuslihat - "muslihat" di sini maksudnya "bersiasat", bukan "menipudaya" (arti muslihat menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia: 1. daya upaya, tipu daya; 2. siasat, taktik) - agar beliau tetap berada di puncak kekuasaan. Tentu saja sah, tentu saja halal, ini dunia politik bung. Lagipula, saya tidak pernah bilang beliau ingin berkuasa agar bisa menyelewengkan jabatan. Saya percaya pada Pak SBY sepenuhnya, lanjutkan!

Namun demikian, golput ataupun menjadi apolitis itu ujungnya bukan cuma kubangan, tapi comberan. Menjadi tidak peduli bukan solusi yang benar. Yang paling benar itu ya cari politisi yang kubangannya paling bersih. Kubangan yang rasio air dan lumpurnya 5:1, kubangan yang kerbaunya kuat untuk membajak sawah, kubangan yang dirawat dan dipelihara. Pokoknya begitulah.






Cheers, mate.

Saturday, May 16, 2009

Have A Nice Day!

Pagi ini tidur pulas saya dibangunkan oleh Arya Yudhistira. "Djaff, jadinya kita butuh mic berapa?" "3 lagi, seinget gue ada 2 di kotak mixer hall lantai 4 yang di backstage" "Ok thanks" *trek*. Okay, have a nice day!

Kemudian saya menelpon Anissa Paramita Gunarso, sekedar menanyakan kabarnya dan izin untuk pergi mengambil SIM. Lalu saya turun ke bawah, sarapan bubur, lalu istirahat sebentar di depan televisi. Sebuah telepon masuk, Ayah saya mengangkatnya. *the conversation goes..* "Oh, jadi diundur ke Sabtu depan? Ok ok" Bagus sekali, saya sudah merelakan tidak datang ke sekolah pada pukul 7 untuk melanjutkan pekerjaan sebagai koordinator seksi produksi untuk mengambil SIM pagi ini. Namun apa? Ternyata diundur pula. Okay, have a nice day!

15 menit berikutnya saya sudah mengendara mobil ke arah kantor pembayaran air. Belum buka! Gila saja! Lalu saya berputar di sekitar perumahan, menghamburkan bensin yang seharusnya berharga. Setelah semua selesai selanjutnya pembayaran PBB. Lama sekali, saya harusnya bisa mengambil feeder busway pukul 10:00 sehingga saya bisa tiba di sekolah pukul 11:00. Namun apa daya, saya terpaksa datang pukul 12:30 karena mengambil feeder busway pukul 11:00. Okay, have a nice day!

Sampai di sekolah saya teringat harus membetulkan HT yang sedikit cacat. Berhasil! Hore! Selanjutnya seperti biasa, suka duka seksi produksi. Selesainya acara, beres-beres sampai lemas. Terima kasih kepada panitia lain yang membantu dan bukan hanya sekedar membatu. Setelah shalat maghrib, nyatanya saya tidak jadi dijemput. Ke Circle K beli susu karton Ultra, menyewa ojek hingga Bundaran Senayan, lalu tunggu saja di sana. Saya menelpon Anissa Paramita Gunarso lagi, lalu dia menelpon saya. Kemudian saya bermain api dengan pemantik, saya biarkan tetap menyala selama 5 menit. Lalu saya tempelkan ke lengan saya, berbekas ternyata! Sungguh perih rasanya! Okay, have a nice day!

Patas AC 05 jurusan Bekasi Barat berhenti di depan saya, jangan lupa naik dengan kaki kanan untuk keberuntungan. Seperti yang sudah disangka dan dinyana, saya harus berdiri di lorong bus. Untung saja ini sore di hari Sabtu, jalanan belum terlalu sesak. Cukup 45 menit saja dari Jakarta, lalu naik Koasi(Koperasi Angkutan Bekasi) hingga gerbang perumahan. Jalan barangkali 100m, kaki pegal pun sudah tidak terasa! Okay, have a nice day!


Ketika ada yang ingin Anda keluhkan, jangan pernah lakukan. Dunia ini saja tidak pernah mengeluhkan keberadaan Anda. Katakan saja, have a nice day!






Cheers, mate.

Masih Ada Langit Di Atas Langit

Jangan pernah merasa jadi yang paling hebat, masih ada langit di atas langit. Mari mulai analogi perjalanan seorang insan dalam suatu bidang baru! Sebut saja fotografi!

1. Newbie
Pada fase ini, Anda bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Menyalakan kamera saja tidak mampu. Namun semangat belajar Anda ada di sana, di koordinat (1,2.000.000.000). Sangat jauh hingga butuh kertas ukuran A0 dengan skala sangat kecil dalam pembuatan grafiknya untuk mencapai titik tersebut. Hal lainnya, Anda dalam keadaan euforia! Ketika Anda bisa mengganti ISO, Anda berteriak kegirangan. Ketika Anda sukses zooming in dan zooming out foto-foto pada layar preview, Anda berguling-guling bagai kambing. Ah betapa nikmatnya ketika Anda belum tahu apa yang ada di depan Anda. Yang ada hanya belajar, belajar, belajar!

2. Rookie
Anda sudah bisa mengkombinasikan kecepatan rana dan bukaan diafragma dengan baik dan benar. Saatnya belajar Depth of Field dan Speed Action! Ketika foto Anda yang dihiasi background blur sehingga tampak artistik itu dipuji teman sebaya, pikiran Anda menjadi blur pula. Foto panning TransJakarta Anda sempurna, tapi cobalah terapkan teknik panning pada capung. Niscaya Anda jadi pening pula. Lihat foto itu! Night scene sempurna(yang didapat dengan menggunakan tripod serta ratusan percobaan) dengan latar belakang Bundaran HI yang membuat mobil-mobil Jakarta terlihat seperti cacing neon! Hebat! Jangan lupa, hidup tidak berhenti sampai di situ, hidup tidak berhenti sampai di cacing neon! Ayo terus lanjutkan.

3. Intermediate
Teknik panning bisa Anda lakukan sambil nungging, foto night scene sudah seremeh ikan asin. Sekarang apa lagi? Anda mulai memikirkan bagaimana ini bisa menghasilkan. Puluhan lomba Anda ikuti, belasan workshop Anda hampiri, dan 3 pameran fotografi Anda sambangi. Hasilnya bagus! Juara 2, lalu 3. Lomba lainnya 1, 1 lagi, lalu 3. Seterusnya tidak juara, namun lalu 3 lagi. Di luar itu Anda mulai menerima job sebagai fotografer amatiran untuk acara-acara teman. Hasilnya lumayan, bisa untuk mencuri hati gebetan. Uang, penghargaan, ketenaran. Hidup indah nian! Jeprat jepret, dapat uang. Jeprat jepret, wanita datang. Asyik!

4. Advanced
Tinggal selangkah saja untuk menjadi profesional. Anda sudah sadar bahwa menjadi profesional = menjual nama. Foto saja pengemis-pengemis kota Jakarta, cantumkan nama Anda, 20 juta! Bukan berarti asal-asalan juga, namun tiada perlu lagi eksperimen-eksperimen aneh yang menyenangkan seperti di masa lalu. Foto saja yang diinginkan media, 5 juta! Foto saja sebuah keluarga bahagia, 2 juta! Apa Anda mulai lupa kesenangan dari fotografi? Bukan uang, bukan yang berjuta-juta. Saya pun lupa, karena saya menjiwai fase ini terlalu dalam ketika menulis ini. Sudahlah, lanjut saja.

5. Tutor
Mungkin Anda kira Anda akan menemukan sesuatu yang lebih gila lagi di fase kelima ini, namun tidak, bukan dalam versi saya. Semua akan kembali ke awal, seperti sebuah siklus. Lagu yang diawali dengan C akan terdengar indah bila diakhiri di C pula. Manusia awalnya dari tanah, wafatnya ke tanah lagi. Ketika Anda berhasil melewati fase ke-4, saya harap Anda bisa menjadi suci kembali. Di fase ini Anda mengerti ada yang lebih penting dari menjadi yang paling hebat, karena masih ada langit di atas langit. Jika Anda terus ingin menjadi paling hebat, Anda tidak akan berhasil karena masih ada langit di atas langit. Di sini Anda sadar, bahwa yang terpenting adalah regenerasi, karenanya Anda mulai berbagi cerita kepada para pemula. Pohon yang berguna bukan pohon yang menjulang hingga angkasa, tapi yang dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Dan tentu saja beregenerasi juga, hasilnya adalah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya hingga tiada habisnya.


One last thing, kenapa fotografi? Tidak ada maksud khusus, hanya karena saya terlibat di dalamnya cukup jauh hingga saya mengerti beberapa istilah. Saya sempat berniat mengangkat parkour, tapi nampaknya saya hanya akan berakhir menjadi pecundang.





Cheers, mate.

Monday, May 11, 2009

Segmented

Karena hari sudah larut malam, saya akan menulis inti dari tulisan saya kali ini terlebih dahulu:

Kunjungi VAMPIBOTS untuk review-review paling ciamik masa kini.

Sekarang, karena saya masih punya sedikit tenaga, dan jari jemari saya belum mati rasa, saya akan bercerita sedikit dahulu mengenai segmentasi. Menurut akal saya, arti dari segmentasi adalah pengelompokan. Sesuatu yang segmented adalah yang terkelompok. Contoh paling bagus, dan mungkin memang satu-satunya di Indonesia, adalah Metro TV. Stasiun televisi lokal tersebut dengan konsisten menyajikan berita dan beberapa program sejenis selama hampir 9 tahun, tanpa lelah tanpa henti. Tanpa sedikit pun berniat menyajikan sinetron kacangan yang notabene memang menyedot banyak pemirsa. Yang saya tahu, pada periode awal diluncurkannya, Metro TV berjalan bukan hanya dengan merangkak, tapi mengesot. Bayangkan saja, rakyat Indonesia yang biasa hidup dengan hiburan dan berita simpang siur (baca:gosip) tiba-tiba disajikan sebuah saluran yang isinya berita melulu. Ingin muntah rasanya. Namun, seperti yang kita lihat sekarang, Metro TV telah menjelma menjadi stasiun televisi yang cukup dicari (terutama saat ada berita heboh yang wajib diketahui demi eksistensi) dan mempunyai pemirsa yang loyal. Karena apa? Karena Metro TV adalah stasiun televisi yang segmented. Mereka berani hanya bekerja di bidang berita, pertama kalinya di Indonesia!

Dan jika Anda bertanya kenapa saya menggunakan Metro TV sebagai contoh, jawabnya cukup 2 saja: 1.Swadesi, cintailah produk lokal, kata Mahatma Gandhi; 2.Akan susah mencari referensi untuk Al-Jazeera, CNN, BBC, Fox News, dan kawan-kawannya. Kalau ada yang mudah, jangan cari yang susah!

Sesuatu yang segmented itu mungkin bukan yang terbaik, tapi jelas yang paling hebat. Lihat Google! Lihat Wikipedia! Mungkin mereka tidak semakmur Yahoo! dalam hal materi (sejujurnya saya juga tidak tahu kebenaran akan hal ini, namun kalau saya salah artinya mereka yang segmented itu juga sekaligus yang terbaik!), tapi mereka yang paling hebat. Segmentasi!

Dan terakhir lihatlah Vampibots yang saya taruh link-nya di atas. Terdapat beberapa hal yang selain review pada Vampibots, tapi tidak mengapa. Setidaknya, seorang Fariz Razi mempunyai visi untuk menuju ke ujung corong yang sempit, sebuah segmentasi. Salut untuk mereka yang berani bersegmentasi! Bersulang!




Cheers, mate.

Friday, May 8, 2009

"I love you so much it's retarded!"

Penggunaan tanda kutip pada judul bukan lantas berarti saya akan me-review sebuah film layaknya saudara Fariz Razi lakukan sebagai rutinitas dengan sangat ciamik. Saya hanya secara spontan memikirkan dialog tersebut, and here we are, a new post!

Bilamana Anda tidak mengetahui asal quote tersebut, saya akan menjelaskan dengan sukarela. Pada film Nick & Norah's Infinite Playlist, ada sebuah adegan dimana Yugo kuning bobrok Nick dinaiki secara paksa oleh seorang pasangan yang sudah terlanjur berbirahi tinggi. Dengan tanpa banyak bicara mereka sudah berada dalam lautan asmara dan dipenuhi gairah bercinta. And that's when. Setelah beberapa desahan dan desisan, dialog itu muncul, diucapkan oleh sang pria dengan nada dan warna suara yang sangat mesum. Ironisnya, ketika Anda mendengar kata-kata di atas tanpa mengetahui adegan tersebut, tidak terasa adanya unsur pornografi di sana. Malah menjadi cukup romantis, setidaknya untuk saya.

Dan nyatanya memang saya cinta kepada Anissa Paramita Gunarso, so much it's retarded. Inti tulisan ini sesungguhnya hanya itu saja. I am Robin Hood, she is Maid Marian.

Now, a song! It's been a long time, so here we go again.



What A Difference A Day Made - Jamie Cullum

What a difference a day made, twenty four little hours
Brought the sun and the flowers where there used to be rain
My yesterday was blue dear
Today I'm a part of you dear
My lonely nights are through dear
Since you said you were mine
Oh, what a difference a day made
There's a rainbow before me
Skies above can't be stormy since that moment of bliss
That thrilling kiss
It's heaven when you find romance on your menu
What a difference a day made
And the difference is you

My yesterday was blue dear
Still I'm a part of you dear
My lonely nights are through dear
Since you said you were mine
Oh, what a difference a day makes
There's a rainbow before me
Skies above can't be stormy since that moment of bliss
That thrilling kiss
It's heaven when you find romance on your menu
What a difference a day made
And the difference is you






Cheers, mate.

Friday, May 1, 2009

The Bucket List

Ide saya belum muncul padahal saya baru melahap habis 111 Kolom Bahasa KOMPAS yang berisikan tulisan-tulisan genius mengenai kritik kepada Bahasa Indonesia, kepada kebiasaan berbahasa, dan kepada pengguna bahasa. Anda tertarik? Hampiri perpustakaan SMA Labschool Kebayoran dan pinjam. Jangan lupa kembalikan.

Di saat buntu ide seperti ini saya teringat akan 1 hal yang belum pernah saya buat di Volgorian Cabalsette sebelumnya, wish list. Hal-hal yang ada di wish list saya nantinya juga mungkin akan ajaib(baca: susah tercapai), tapi saya rasa tidak mengapa.

Tidak usah bertele-tele, ide saya makin terkikis. Mari kawan kita lanjutkan.

Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi demen Nissan Livina


Chevrolet Camaro, terinspirasi Bumblebee dan keluarga Cobain!


Volkswagen Beetle, dari pertama kali mengenal mobil memang sudah jatuh cinta



Canon EF 15mm FishEye, buat gila-gilaan bersama teman-teman



Kalau mampu beli Canon EF 70-300mm IS USM ini saya tidak akan beli 55-250


Saya hampir menjadi pengguna Fender Telecaster kalau tidak melihat Slash


Bah, saya kehabisan akal sekarang. Nanti saya akan coba update lagi. Siapa kira malaikat sedang blogwalking lalu mengabulkan permintaan saya. Amen.






Cheers, mate.

Wednesday, April 22, 2009

Sinema Elektronik

Anda merasa aneh dengan kata Sinema Elektronik? Coba dipikirkan lagi.. SINema elEkTRONik. Mengerti? Sinetron. Jujur saja, saya baru tahu ada kepanjangan yang cukup nikmat didengar dari sebuah tontonan terlalu dramatis yang diartikan sebagai "sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi" menurut Wikipedia Indonesia. Untuk beberapa detail lainnya mengenai acara televisi yang sudah menjadi jati diri bangsa ini, klik di sini!

Sinetron itu tidak mendidik. Titik. Hanya 1 golongan yang sekiranya mendapat pendidikan di sana: anak muda(atau terkadang juga balita, bahkan bayi!) yang ingin mengejar ketenaran instan dengan cara menjadi bintang sinetron. Kehidupan remaja dengan intrik-intrik cinta segitiga, kehidupan keluarga yang penuh kekerasan, bahkan kehidupan alam ghaib disorot dalam sinetron Indonesia. Tidak lupa disertai efek-efek yang membuat hati miris karena mengingatkan betapa Indonesia masih merupakan negara berkembang. Terkadang sedih juga.

Namun demikian, pagi ini saya menyalakan TV, berharap mendapatkan tayangan yang bisa menyegarkan pikiran di pagi hari. Dan di sana lah keluarga Si Doel sedang makan malam, di dalam layar kaca. Awalnya saya hanya tertawa, lalu pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan. Saat saya kembali untuk mematikan TV, saya terhenti, benar-benar terhenti karena suatu adegan yang mengharukan. Di adegan itu, Mandra sedang duduk di teras rumahnya sambil membaca koran. FYI, Mandra tidak bisa membaca dengan baik dan benar. Dia membaca "kolusi" dengan sangat terbata-bata dan mengartikannya sebagai "kok elu sih". Dia mengartikan "kurs" sebagai "kurus" dan "kurs dollar" sebagai "dollar jadi kurus" kemudian berkomentar, "Mampus lo kurus! Dollar naek mulu sih!"

Jujur saja saya merasakan perasaan sedih di adegan tersebut, perasaan yang tidak jauh berbeda dengan perasaan ketika saya menonton adegan akhir Armageddon ketika Bruce Willis menggantikan siapalah-namanya-itu untuk tetap tinggal di meteor yang sedang meluncur ke bumi dengan kecepatan luar biasa. Menyedihkan, sungguh.

Setelah Mandra selesai berkomentar tentang dollar yang kurus, terlihat Emak keluar dari rumah dan menghampiri Mandra. Mereka kemudian berbincang. Dialog yang akan saya tulis setelah ini bukan exact quote, tapi kira-kira begitu lah.

Emak: "Ndra, elo marah ya gara-gara gue ga ngelamarin si A(saya lupa namanya)?"
Mandra: "Enggak kok Mpok, A-nya juga kayaknya masih ragu-ragu. Kalo cuma nyupir koplet takutnya ga bisa ngenafkahin keluarga katanya."
Emak: "Lah katanya elu mau narik angkot?"
Mandra: "Ya narik angkot juga nyupir-nyupir juga. Makanya, Mandra mau ngejar Paket A. Terus cari kerja yang bener."

Sekali lagi saya sungguh merasa iba. Anda harus melihat ekspresi Mandra yang sangat merana, sangat melas, sungguh merana, seperti baru saja ditendang kemaluannya. Wajahnya harusnya lucu, namun entah kenapa saya tidak bisa tertawa kala itu.

Entah otak saya sudah menjadi tidak beres karena dengan sukses menonton Saw 1-5 berturut-turut, atau saya sudah mulai paham seni sandiwara/drama. Lagipula, setelah disuguhi sinetron jaman sekarang yang terlalu dramatis(oh jangan lupakan juga reality show), saya rasa tidak akan ada yang lebih tulus daripada Si Doel. Menonton Si Doel lebih seperti menonton sebuah film ketimbang sinetron. Si Doel adalah sebuah tayangan yang sangat tulus, seperti film. Oke, mungkin film Indonesia akhir-akhir ini tidaklah tulus karena dibumbui dengan sex, lalu sex, dan sex lagi untuk terakhir kalinya. Tapi coba tengok AADC atau Mengejar Matahari, kira-kira seperti itulah arti kata "film" di 2 kalimat sebelum ini. Film adalah keseimbangan. Keseimbangan antara casts dan crew. Tidak ada yang lebih menonjol dibanding yang lain, semuanya harmonis. Berbeda dengan sinetron yang ingin terlihat seru. Akting tidak perlu terlalu sempurna, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menutupinya, misalnya dengan menangis.

Sinetron jaman sekarang sangat mengedepankan background musik yang menggelegar dan teknik kamera yang zooming out dan zooming in. Percayalah, itu terlihat seperti Saw, dengan kualitas minim dan tidak sesuai tempatnya. Kalau mau heboh, buatlah film action. Drama itu harus tulus. Drama juga jangan terlalu dramatis! Hal lain yang menyedihkan, sinetron jaman sekarang mengambil musik, bukan mencipta. Ketika tokoh utama menangis atau hampir menangis(bisa lebih dari 10 kali dalam 1 episode) lagi-lagi theme song sinetron tersebut yang diputar, yang merupakan lagu populer masa kini. Beda aransemen mungkin, tapi tetap satu akar. Maksud saya, sekarang ini dengan program yang kompeten sepupu saya yang berumur 10 tahun pun bisa membuat 50 aransemen berbeda hanya dengan beberapa klik. Buatlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang awam, tolong!

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya komentari, tapi itu dulu. Maaf bila ada kesalahan, mohon dikoreksi secepatnya. Thanks.





Cheers, mate.

Tuesday, April 21, 2009

"Most people are so ungrateful to be alive. But not you, not anymore."

5 things about watching 5 Saw film series continuously:

First time, it tortures your eyes
Second time, it tortures your stomach
Third time, it tortures your whole body
Fourth time, it tortures your mind
Fifth time, it tortures your soul

And the 6th film is on progress. Hurrah.




Cheers, mate.

Thursday, April 16, 2009

Bold & Italic Episode 9 - Moving To Forward

Bukan, grammar saya tidak salah karena menambahkan 'to' diantara 'moving' dan 'forward'. Karena yang ingin saya sampaikan memang pindah ke forward. Another codename, I guess. Episode ini sekaligus mengakhiri serial Bold & Italic yang selama ini sudah menjadi salah satu motivasi terbesar saya dalam membuat blog. Thank God I've done this blog thingy until my 50th post. FYI, dulu saya pernah 2 kali berhenti menulis blog karena tidak tersedianya motivasi. Jadi, saya benar-benar bersyukur di sini.

Dan sekali lagi untuk menegaskan maksud awal saya, I'm moving. Say good bye to the past, say hello to the future. Good night!




dan foto di atas ini sama sekali tidak ada hubungannya, hanya iseng saja

Monday, March 30, 2009

Girl, You're Attractive

Tidak mudah mencintai orang yang sama dalam waktu yang relatif lama. Atau lebih tepatnya, menjaga agar perasaan tersebut tetap sama kadarnya seperti ketika pertama kali muncul. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika Anda seorang yang mudah jatuh hati, mudah terpikat pada kecantikan seorang wanita. Masih belum cukup, hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa Anda menilai kecantikan wanita bukan hanya dari penampilan luar saja namun juga aura dan belasan faktor lainnya. Unfortunately, that’s me.

 

I could judge a girl as attractive in less than a minute, or maybe two. I don’t know, I guess I consider 1 out of 5 girls that I have met in my whole life as attractive. Saya rasa saya punya semacam perspektif berbeda dari pria lain, atau mungkin kebanyakan manusia, dalam menilai kecantikan seorang wanita. And it’s more than face and breast. Bukan saya ingin menjadi sok berbeda dari pria lain, namun saya berani bertaruh 8 dari 10 pria memandang wajah dan tubuh sebagai alasan utama dalam menentukan mana yang menarik dan mana yang tidak. It’s not like I could easily consider (sorry) an ugly-faced girl as attractive, of course no, that’s bullshit. Saya juga acapkali memperhatikan wajah, tentu saja. Namun, banyak juga wanita berparas cantik yang saya anggap kurang menarik dibandingkan wanita yang mempunyai karakter yang kuat. Muka itu nomor 1 peringkatnya, namun dibandingkan dengan karakter, muka hanyalah bumbu. Analoginya seperti ini: Seorang wanita cantik tanpa karakter yang kuat akan lebih tidak menarik di mata saya apabila dibandingkan dengan seorang wanita biasa dengan karakter yang kuat. Namun, jika dibandingkan dengan wanita yang (maaf) berparas lebih jelek dari wanita biasa saja namun tetap mempunyai karakter yang kuat, seorang wanita cantik tanpa karakter yang kuat akan tetap lebih menarik. Got it?

 

Baiklah, mari kita bahas lebih detil lagi.

A adalah seorang wanita cantik, namun tidak mempunyai karakter yang kuat. Jika Anda meminta contoh, mungkin A ini adalah tipe wanita yang selalu mengekor pada tren terkini, ataupun tren dalam komunitasnya. Ya dia cantik, ya dia (terlihat) menarik, namun itu bukan murni dari dirinya.

B adalah seorang wanita dengan muka yang biasa saja, namun mempunyai karakter yang kuat. Contohnya adalah wanita yang independen, tegas, mengetahui ke mana arah hidupnya.

C adalah seorang wanita dengan muka yang (maaf) cenderung jelek, namun mempunyai karakter yang kuat. Contohnya adalah wanita yang independen, tegas, mengetahui ke mana arah hidupnya, namun dengan muka yang (maaf) lebih jelek dari B.

Dengan ini, Anda sudah tahu bagaimana urutannya bukan?

Ya, tentu saja. B adalah yang paling menarik. A adalah yang kedua, dan C adalah yang terakhir. Aneh? Jangan salahkan saya.

 

Anyway, pesan awal yang ingin saya sampaikan sudah mulai bergeser nampaknya. Awalnya, dengan tulisan ini saya hendak menceritakan kisah kasih saya yang bertaburan rasa perih dan pedih, which is a waste of time. Namun, seiring dengan perkembangan tulisan, saya malah membahas mengenai kecantikan seorang wanita, apa yang membuat wanita menjadi menarik di mata saya. Karenanya mungkin kata-kata pada paragraf awal yang saya gunakan sebagai pembuka akan sedikit kontradiktif dengan pembahasan saya.

 

Kemudian, saya rasa film When Harry Met Sally yang saya tonton kira-kira 2 jam lalu juga membantu dalam pembuatan tulisan ini. Setelah menonton film tersebut, saya mulai menyukai kata ‘attractive’. Dan saya juga setuju dengan kalimat yang Harry lontarkan yang mengatakan bahwa tidak salah menganggap seorang wanita menarik tanpa bermaksud apa-apa. Bukan berarti ketika seorang pria menganggap seorang wanita menarik itu artinya si pria jatuh hati kepada sang wanita. Bisa saja pria itu sekedar mengagumi wanita tersebut. Walaupun begitu, saya sendiri tidak yakin kasus seperti itu terjadi lebih dari 5 kali dalam hidup seorang pria. I mean, a man adoring a woman without falling in love with her? That’s a bit magnificent. Apalagi kalau wanita tersebut hanyalah seorang teman, bukan idola layar kaca ataupun seseorang yang susah diraih.

 

Beberapa kalimat terakhir untuk menutup tulisan ini. Saya rasa setiap wanita menarik, setidaknya di mata saya. Karena kecantikan itu lebih dari sekedar mata, hidung, bibir, rambut, kuping, payudara, pinggul, bokong, paha, kepintaran, keterampilan, kepribadian, kebiasaan, ataupun hal lainnya yang bisa dibayangkan umat manusia. Kecantikan jauh lebih dalam dari itu.

 

 

 

 

 

Cheers, mate.

Saturday, March 28, 2009

Every Vote Counts

Hello people. Saya bermaksud mengganti banner blog saya dengan sebuah banner baru, karena dengan noraknya saya baru menemukan beberapa font yang agak menarik (walaupun sudah cukup banyak berkeliaran) dari dunia maya. Untuk itu, saya mohon kesediaan Anda untuk ikut menentukan banner mana yang akan terpampang.

Ada 3 jenis yang dapat Anda pilih:


Banner 1: Font > Borgnine by mieps


Banner 2: Font > Action Jackson


Banner 3: Font > Green Piloww by Billy Argel Fonts


Saya akan menaruh polling pada bagian paling atas dari jajaran gadget yang terdapat di sisi kiri blog ini. So please, do me a favour and vote. Thank you very much.





Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.