Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, February 26, 2009

Self-Introducing Basic

Sampai beberapa saat lalu saya masih menganggap memperkenalkan diri sendiri itu hal yang konyol dan narsis. Namun setelah memikirkannya berulang lagi sembari menunggu bus datang, saya kemudian menganggapnya sebagai sebuah tantangan yang tidak setiap orang bisa melaksanakannya. Setelah mengkajinya dalam pikiran, saya menyimpulkan ada 3 hal yang idealnya diutarakan dalam sebuah perkenalan diri:

1. Data diri Anda. Intinya adalah semua yang biasa Anda tuliskan pada formulir administratif. Mungkin terdengar mudah dan sederhana, namun saya menemukan setiap orang mengisinya secara berbeda.

Sebagian mencantumkan kode area pada kolom nomor telepon, sedangkan sisanya tidak. Sebagian memberikan “-“ sebagai pembatas (misal: 0856-77-xxxx) sedangkan banyak yang tidak. Bahkan beberapa orang harus menanyakan nomor telepon mereka sendiri kepada teman!

Hal lainnya misalnya mengenai alamat. Sebagian mengisi alamat rumah dengan sangat singkat sehingga hanya supir taksi senior(baca: sudah bekerja lebih dari 30 tahun ditambah lagi merupakan pekerjaan yang turun- emurun) yang dapat mengetahuinya, sedangkan yang lainnya mengisi alamat rumah dengan sangat detil hingga Anda akan ditertawakan bila menanyakan keberadaan alamat yang dimaksud.

Lebih simpel lagi adalah penulisan nama. Beberapa orang bangga akan namanya hingga menuliskannya lengkap tanpa kurang sedikitpun (misal: Raden Ajeng Timun Mas Kusumawidjajadiningrat binti Abu Husein Khomariah Kusumawidjajadiningrat), namun tidak sedikit yang entah malu atau malas hingga menulisnya dalam singkatan dan tak jarang hanya menyisakan 1 nama (misal: M. Robby I. A. F. yang seharusnya Munijem Robby Internasional Akovi Fitamin). Atau yang lebih sederhana, beberapa orang menggunakan huruf kapital (RAMADHAN PUTERA), beberapa menggunakan huruf kapital pada huruf pertama saja (Ramadhan Putera), beberapa menggunakan huruf kecil (ramadhan putera), dan sisanya menggunakan huruf besar kecil dan kadang disertai tanda (r@MaDHaN PuT3R@). Tahukah Anda penggunaan huruf kapital lebih efisien dan mengurangi kesalahan pendataan karena mudah dibaca karena tidak ada perbedaan seperti antara ‘a’ dan ‘a? Sekali ‘A’ ya ‘A’!

Masih menganggap ini mudah dan sederhana?

2. Kelebihan Anda. Menurut saya, ini adalah bagian yang paling sulit dalam mendeskripsikan diri sendiri. Di bagian ini kita harus mampu menjelaskan bagaimana kita bisa bermanfaat maupun dimanfaatkan bagi orang lain tanpa terdengar narsis. Di bagian ini pula kita harus mampu membuat orang tergugah akan prestasi kita tanpa dianggap tinggi hati. Ketika Anda berkata “Saya cukup pintar untuk membantu kita keluar dari penjara ini karena selama sekolah saya selalu berada di urutan pertama dan saya mendapat gelar bergengsi dari 3 universitas ternama” pasti ada saja yang mencerca, padahal tujuan kita adalah menawarkan diri agar dimanfaatkan. Sungguh tega.

Dan bahkan yang lebih susah lagi, menilai diri sendiri. Katakan saja tidak akan ada yang mencerca karena para pendengar Anda adalah kaum beradab semua. Lalu Anda berkata “Saya cukup mahir dalam bidang fotografi” di depan mereka. Ke depannya, akan ada saja setidaknya 1 orang pendengar Anda saat itu yang mendatangi Anda dan mulai berbincang mengenai fotografi, ataupun mengajak ikut ke dalam suatu klub fotografi, maupun meminta Anda mengajarinya fotografi. Dan ketika itu terjadi dan Anda kurang berhasil melaksanakan apa yang diharapkan olehnya, dia akan kecewa – walaupun kembali ke sifat orangnya apakah dia toleran atau tidak, namun sesedikit apapun kecewa ya tetap kecewa! – terhadap perkataan Anda. Dan Anda akan menyesal mengatakan bahwa Anda cukup mahir dalam fotografi.

Jadi ada 2 tahap pada bagian ini, menakar diri sendiri dan lalu menyampaikannya dengan baik dan benar. Tahap pertama penting dilakukan agar orang lain dapat mengerti bagaimana cara memanfaatkan kita dan tahap kedua lebih penting lagi karena penyampaian yang tepat dapat membuat orang hormat dan enggan memanfaatkan kita.

3. Kekurangan Anda. Bagi banyak orang, bagian terakhir ini mungkin relatif lebih sukar dilakukan dibanding bagian 2 karena pada dasarnya manusia itu ingin sempurna. Dan kalaupun kita tidak malu untuk memberitahukannya, acapkali kita tidak dapat menyampaikannya dengan baik dan benar, membuat kita dianggap remeh oleh orang lain.

Berhubung pada kebanyakan pengenalan diri jarang sekali bagian 3 ini dilakukan, saya akan langsung ke intinya saja. Yang paling penting dari bagian 3 ini adalah mengutarakan kelemahan kita tanpa memelas meminta keringanan dan dianggap remeh oleh orang lain. Gunakan kata-kata pendukung atau bahkan terangkan sebagai lelucon. Anda baiknya tidak berkata “Saya adalah orang yang pelupa, jangan sering-sering memberi saya tugas mengingat” ataupun “Saya adalah orang yang pelupa” saja. Kalimat-kalimat tersebut mungkin bisa diganti dengan “Saya pelupa, namun saya punya catatan kecil untuk membantu saya” ataupun “Saya pelupa, tapi tidak separah kakek saya, hahaha”. Dengan demikian orang lain tidak akan terlalu kecewa jika Anda melakukan keburukan Anda, namun juga tidak terlalu merendahkan Anda akan apa yang menjadi kelemahan Anda.

Sekiranya itu saja yang bisa saya bagi di sini, dan sekali lagi saya tidak berkata saya yang paling benar. Pendapat selalu mempunyai sisi pro dan kontra, tidak ada yang mutlak benar. Kecuali Islam tentunya. Islam paling benar! Allahu Akbar! Oh dan terkadang matematika(ya, terkadang, apa Anda tahu 1+1 tidak selamanya berjumlah 2?) serta ilmu-ilmu eksakta lainnya juga. Namun untuk hal selain di atas, dan mungkin beberapa hal lain yang saya belum tahu karena keterbatasan saya, siapa yang mengatakan sesuatu adalah kebenaran absolut, dia lah kesesatan yang sesungguhnya.


Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.