Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Wednesday, April 22, 2009

Sinema Elektronik

Anda merasa aneh dengan kata Sinema Elektronik? Coba dipikirkan lagi.. SINema elEkTRONik. Mengerti? Sinetron. Jujur saja, saya baru tahu ada kepanjangan yang cukup nikmat didengar dari sebuah tontonan terlalu dramatis yang diartikan sebagai "sandiwara bersambung yang disiarkan oleh stasiun televisi" menurut Wikipedia Indonesia. Untuk beberapa detail lainnya mengenai acara televisi yang sudah menjadi jati diri bangsa ini, klik di sini!

Sinetron itu tidak mendidik. Titik. Hanya 1 golongan yang sekiranya mendapat pendidikan di sana: anak muda(atau terkadang juga balita, bahkan bayi!) yang ingin mengejar ketenaran instan dengan cara menjadi bintang sinetron. Kehidupan remaja dengan intrik-intrik cinta segitiga, kehidupan keluarga yang penuh kekerasan, bahkan kehidupan alam ghaib disorot dalam sinetron Indonesia. Tidak lupa disertai efek-efek yang membuat hati miris karena mengingatkan betapa Indonesia masih merupakan negara berkembang. Terkadang sedih juga.

Namun demikian, pagi ini saya menyalakan TV, berharap mendapatkan tayangan yang bisa menyegarkan pikiran di pagi hari. Dan di sana lah keluarga Si Doel sedang makan malam, di dalam layar kaca. Awalnya saya hanya tertawa, lalu pergi ke ruang makan untuk menikmati sarapan. Saat saya kembali untuk mematikan TV, saya terhenti, benar-benar terhenti karena suatu adegan yang mengharukan. Di adegan itu, Mandra sedang duduk di teras rumahnya sambil membaca koran. FYI, Mandra tidak bisa membaca dengan baik dan benar. Dia membaca "kolusi" dengan sangat terbata-bata dan mengartikannya sebagai "kok elu sih". Dia mengartikan "kurs" sebagai "kurus" dan "kurs dollar" sebagai "dollar jadi kurus" kemudian berkomentar, "Mampus lo kurus! Dollar naek mulu sih!"

Jujur saja saya merasakan perasaan sedih di adegan tersebut, perasaan yang tidak jauh berbeda dengan perasaan ketika saya menonton adegan akhir Armageddon ketika Bruce Willis menggantikan siapalah-namanya-itu untuk tetap tinggal di meteor yang sedang meluncur ke bumi dengan kecepatan luar biasa. Menyedihkan, sungguh.

Setelah Mandra selesai berkomentar tentang dollar yang kurus, terlihat Emak keluar dari rumah dan menghampiri Mandra. Mereka kemudian berbincang. Dialog yang akan saya tulis setelah ini bukan exact quote, tapi kira-kira begitu lah.

Emak: "Ndra, elo marah ya gara-gara gue ga ngelamarin si A(saya lupa namanya)?"
Mandra: "Enggak kok Mpok, A-nya juga kayaknya masih ragu-ragu. Kalo cuma nyupir koplet takutnya ga bisa ngenafkahin keluarga katanya."
Emak: "Lah katanya elu mau narik angkot?"
Mandra: "Ya narik angkot juga nyupir-nyupir juga. Makanya, Mandra mau ngejar Paket A. Terus cari kerja yang bener."

Sekali lagi saya sungguh merasa iba. Anda harus melihat ekspresi Mandra yang sangat merana, sangat melas, sungguh merana, seperti baru saja ditendang kemaluannya. Wajahnya harusnya lucu, namun entah kenapa saya tidak bisa tertawa kala itu.

Entah otak saya sudah menjadi tidak beres karena dengan sukses menonton Saw 1-5 berturut-turut, atau saya sudah mulai paham seni sandiwara/drama. Lagipula, setelah disuguhi sinetron jaman sekarang yang terlalu dramatis(oh jangan lupakan juga reality show), saya rasa tidak akan ada yang lebih tulus daripada Si Doel. Menonton Si Doel lebih seperti menonton sebuah film ketimbang sinetron. Si Doel adalah sebuah tayangan yang sangat tulus, seperti film. Oke, mungkin film Indonesia akhir-akhir ini tidaklah tulus karena dibumbui dengan sex, lalu sex, dan sex lagi untuk terakhir kalinya. Tapi coba tengok AADC atau Mengejar Matahari, kira-kira seperti itulah arti kata "film" di 2 kalimat sebelum ini. Film adalah keseimbangan. Keseimbangan antara casts dan crew. Tidak ada yang lebih menonjol dibanding yang lain, semuanya harmonis. Berbeda dengan sinetron yang ingin terlihat seru. Akting tidak perlu terlalu sempurna, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menutupinya, misalnya dengan menangis.

Sinetron jaman sekarang sangat mengedepankan background musik yang menggelegar dan teknik kamera yang zooming out dan zooming in. Percayalah, itu terlihat seperti Saw, dengan kualitas minim dan tidak sesuai tempatnya. Kalau mau heboh, buatlah film action. Drama itu harus tulus. Drama juga jangan terlalu dramatis! Hal lain yang menyedihkan, sinetron jaman sekarang mengambil musik, bukan mencipta. Ketika tokoh utama menangis atau hampir menangis(bisa lebih dari 10 kali dalam 1 episode) lagi-lagi theme song sinetron tersebut yang diputar, yang merupakan lagu populer masa kini. Beda aransemen mungkin, tapi tetap satu akar. Maksud saya, sekarang ini dengan program yang kompeten sepupu saya yang berumur 10 tahun pun bisa membuat 50 aransemen berbeda hanya dengan beberapa klik. Buatlah sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang awam, tolong!

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya komentari, tapi itu dulu. Maaf bila ada kesalahan, mohon dikoreksi secepatnya. Thanks.





Cheers, mate.

7 comments:

Ichi said...

berhubung saya akhir-akhir ini hanya mendengarkan tv, soal musiknya saya setuju kak

Paramezwari Sugandi said...

betul djaf. sinetron selain terlalu dramatis, pakem ceritanya juga nggak berkembang. formula yang sama dipakai berkali-kali sampai basi. begitu juga musik. sekarang band mainstream yang menjamur musiknya sama semua, suara vokalisnya sama-sama pas-pasan, liriknya sama-sama cengeng.

Anggrya's said...

duh gila gua ngakak gila liat dollar yang kurus, hahahaaha

Kania said...

iya ah anggy udah komen padal mau komen itujuga. kemaren gue jg ntn djaf tp pas mandra mau ngelamar si A itu, terus si zaenab cemburu sama siapa lupa tuh si cornelia agatha, seru ya buehehehe mana lucu bgt

dijelennon said...

ah gile minggu depan udah ga bisa nonton Si Doel lagi

arin said...

gue juga liat tuh yang si Doel yang pas bagian Mandra salah baca itu. Gue setuju Dan, hm.. ngeliat ini semua kesimpulannya tu, penurunan. Ya, jaman dulu, masih banyak banget seniman-seniman yang menghasilkan karya bagus, tapi jaman sekarang, gak ada yang namanya seniman adanya penjual. Penjual karya. Makanya jangan heran kalo hasilnya sampah. Hm.. gue pikir kita butuh lebih banyak seniman idealis.

Kevin Aditya said...

haha mengejar matahari emang sebener-benernya film indonesia. blogwalkin!

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.