Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, May 16, 2009

Masih Ada Langit Di Atas Langit

Jangan pernah merasa jadi yang paling hebat, masih ada langit di atas langit. Mari mulai analogi perjalanan seorang insan dalam suatu bidang baru! Sebut saja fotografi!

1. Newbie
Pada fase ini, Anda bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Menyalakan kamera saja tidak mampu. Namun semangat belajar Anda ada di sana, di koordinat (1,2.000.000.000). Sangat jauh hingga butuh kertas ukuran A0 dengan skala sangat kecil dalam pembuatan grafiknya untuk mencapai titik tersebut. Hal lainnya, Anda dalam keadaan euforia! Ketika Anda bisa mengganti ISO, Anda berteriak kegirangan. Ketika Anda sukses zooming in dan zooming out foto-foto pada layar preview, Anda berguling-guling bagai kambing. Ah betapa nikmatnya ketika Anda belum tahu apa yang ada di depan Anda. Yang ada hanya belajar, belajar, belajar!

2. Rookie
Anda sudah bisa mengkombinasikan kecepatan rana dan bukaan diafragma dengan baik dan benar. Saatnya belajar Depth of Field dan Speed Action! Ketika foto Anda yang dihiasi background blur sehingga tampak artistik itu dipuji teman sebaya, pikiran Anda menjadi blur pula. Foto panning TransJakarta Anda sempurna, tapi cobalah terapkan teknik panning pada capung. Niscaya Anda jadi pening pula. Lihat foto itu! Night scene sempurna(yang didapat dengan menggunakan tripod serta ratusan percobaan) dengan latar belakang Bundaran HI yang membuat mobil-mobil Jakarta terlihat seperti cacing neon! Hebat! Jangan lupa, hidup tidak berhenti sampai di situ, hidup tidak berhenti sampai di cacing neon! Ayo terus lanjutkan.

3. Intermediate
Teknik panning bisa Anda lakukan sambil nungging, foto night scene sudah seremeh ikan asin. Sekarang apa lagi? Anda mulai memikirkan bagaimana ini bisa menghasilkan. Puluhan lomba Anda ikuti, belasan workshop Anda hampiri, dan 3 pameran fotografi Anda sambangi. Hasilnya bagus! Juara 2, lalu 3. Lomba lainnya 1, 1 lagi, lalu 3. Seterusnya tidak juara, namun lalu 3 lagi. Di luar itu Anda mulai menerima job sebagai fotografer amatiran untuk acara-acara teman. Hasilnya lumayan, bisa untuk mencuri hati gebetan. Uang, penghargaan, ketenaran. Hidup indah nian! Jeprat jepret, dapat uang. Jeprat jepret, wanita datang. Asyik!

4. Advanced
Tinggal selangkah saja untuk menjadi profesional. Anda sudah sadar bahwa menjadi profesional = menjual nama. Foto saja pengemis-pengemis kota Jakarta, cantumkan nama Anda, 20 juta! Bukan berarti asal-asalan juga, namun tiada perlu lagi eksperimen-eksperimen aneh yang menyenangkan seperti di masa lalu. Foto saja yang diinginkan media, 5 juta! Foto saja sebuah keluarga bahagia, 2 juta! Apa Anda mulai lupa kesenangan dari fotografi? Bukan uang, bukan yang berjuta-juta. Saya pun lupa, karena saya menjiwai fase ini terlalu dalam ketika menulis ini. Sudahlah, lanjut saja.

5. Tutor
Mungkin Anda kira Anda akan menemukan sesuatu yang lebih gila lagi di fase kelima ini, namun tidak, bukan dalam versi saya. Semua akan kembali ke awal, seperti sebuah siklus. Lagu yang diawali dengan C akan terdengar indah bila diakhiri di C pula. Manusia awalnya dari tanah, wafatnya ke tanah lagi. Ketika Anda berhasil melewati fase ke-4, saya harap Anda bisa menjadi suci kembali. Di fase ini Anda mengerti ada yang lebih penting dari menjadi yang paling hebat, karena masih ada langit di atas langit. Jika Anda terus ingin menjadi paling hebat, Anda tidak akan berhasil karena masih ada langit di atas langit. Di sini Anda sadar, bahwa yang terpenting adalah regenerasi, karenanya Anda mulai berbagi cerita kepada para pemula. Pohon yang berguna bukan pohon yang menjulang hingga angkasa, tapi yang dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Dan tentu saja beregenerasi juga, hasilnya adalah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya hingga tiada habisnya.


One last thing, kenapa fotografi? Tidak ada maksud khusus, hanya karena saya terlibat di dalamnya cukup jauh hingga saya mengerti beberapa istilah. Saya sempat berniat mengangkat parkour, tapi nampaknya saya hanya akan berakhir menjadi pecundang.





Cheers, mate.

4 comments:

Dito Wijanarko said...

yang gua heran fotografi itu aneh, ada aja orang baru beli kamera 3 bulan bisa mengalahkan orang yang udah 1 tahun punya kamera sama kursus sana sini. hum.....fotografi buat gua itu untuk dinikmati ajah deh..jadi setiap abis melihat LCD kamera mereview kamera selalu menyisakan senyum2 najong hahaha berasa jago padahal nggak.

Ozora Kharunia said...

I'm still a rookie then :D

Andra said...

i agree with Dito Wijanarko... and I'm also like Ozora, I don't expect to get the highest level, I just enjoy what I know I can do with my camera, and adore my own results :)

dijelennon said...

sekedar catatan, untuk menjadi fase 5 kita ga perlu jadi fase 3 dan 4. dan kalopun kita udah fase 4, belom tentu kita bisa jadi fase 5.

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.