Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Friday, June 5, 2009

"Hey moon, please forget to fall down"

Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Fariz Razi selaku pemilik Vampibots - walaupun sebenarnya bukan secara langsung karena dia juga - akhirnya saya ingin mencoba untuk bersegmentasi, atau tepatnya membuat sebuah label tersegmentasi karena saya malas membuat blog baru lagi. Dan garis besarnya masih review, tapi kali ini album musik. Saya tidak akan sedetil maupun mencoba sedetil Vampibots, tergantung mood saja, jadi mari kita simak saja bersama-sama.

click the image to go to our beloved Wikipedia, the free encyclopedia!


And just why I picked this album? Secara acak saja sebenarnya. Shuffle my songs, and there it was, track pertama dari album di atas, We're So Starving. Akhirnya malah keterusan. Dan lalu karena sudah lama tidak meng-update blog, timbul keinginan saya untuk me-review album yang bisa dibilang isinya enak didengar semua ini selain album-album seperti The Black Parade dan Revolver. Seperti 2 album yang disebut tadi juga, mungkin ini album lama, tapi bagi saya tenaganya masih sangat berasa. Ketika berpikir demikian saya mencoba label macam mana yang sekiranya tepat untuk review di Volgorian Cabalsette ini, ternyata belum ada. Dari situ lah, saya ke depannya mungkin akan bersegmentasi juga pada 1 label yang akan saya beri tajuk 'telisik musik'.

Track by track by me:
1. We're So Starving - (1:22)
"You don't have to worry, 'cause we're still the same band"? Screw it mate, you're much better. Dengan mendengar lagu pembuka ini saja saya sudah tahu album ini jauh lebih baik dibanding 'A Fever You Can't Sweat Out'! (bagi saya 'A Fever You Can't Sweat Out' hanya bernilai 2.8/5)

2. Nine In The Afternoon - (3:12)
Lagu yang cocok sebagai single pertama dari sebuah muka yang baru. 'The Only Difference Between Martyrdom and Suicide Is Press Coverage' terdengar seperti lagu tradisional rakyat terpencil di hadapan lagu yang bertengger di nomor 44 pada Rolling Stone's List of the 100 Best Songs of 2008 ini.

3. She's A Handsome Woman - (3:12)
Saya tidak akan banyak berbicara pada track ini. Tapi saya akan menunjuk "Go on, film the world before it happens" sebagai line terfavorit saya dan intro sekaligus riff utama dari lagu ini sebagai unsur yang mengesankan.

4. Do You Know What I'm Seeing? - (4:14)
Awalnya rada suram, namun semua itu sirna sebentar saja pada bagian chorus. Karena saya tidak terlalu suka mematenkan makna sebuah lagu - yang seringkali malah mengurangi kesenangan dalam menikmatinya - maka langsung saja kami menuju line favorit lagi. Tentu saja "I know it's mad, but if I go to hell will you come with me or just leave?" langsung terpilih. Coba tanyakan itu kepada orang yang Anda cinta dan cinta Anda, kira-kira apa jawabannya?

5. That Green Gentleman (Things Have Changed) - (3:15)
Rasanya ini termasuk lagu yang bisa membuat saya meneteskan air mata bila diputar pada saat yang benar-benar tepat. Entah kenapa, lagu ini sangat gila pengaruhnya pada jiwa saya. Pantas saja dijadikan sebagai single ke-3. Secara sederhana saja saya mengartikan lagu ini adalah mengenai perubahan, perubahan apapun. Dan karena saya pernah punya beberapa cerita tentang perubahan juga lah mungkin lagu ini berarti. Makanya bahkan sekedar "Things have changed for me, and that's okay" saja sudah cukup untuk membuat saya terharu.

6. I Have Friends In Holy Spaces - (1:56)
Tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan kecuali atmosfernya yang terasa menyenangkan di telinga saya. Lalu "Well that all depends what you qualify as friends" itu genius.

7. Northern Downpour - (4:08)
Lagu kesukaan saya nampaknya. Tidak tahu juga sih, susah menentukan 1 lagu kesukaan di antara 15 lagu-lagu brilian. Namun nampaknya memang ini yang terbaik buat saya. Dan jika dihubungkan dengan konteks UKK pada hari Senin (8/6) mendatang, line terbaiknya adalah "Hey moon, please forget to fall down". Maknanya mudah saja, semoga hari terus menjadi hari Jum'at 5 Juni 2009 saja. Hari terakhir kelas XI, hari terakhir pengumpulan tugas, hari terakhir penyelesaian nilai, hari terakhir pembayaran biaya administrasi sekolah, dan lain-lain. Jadi terharu rasanya.

8. When The Day Met The Night - (4:54)
Apa ya? Sudah lagu ke-8 saya mulai kehabisan kosa kata. Yang pasti lagu ini memancarkan keresahan sekaligus kesejahteraan secara bersamaan. Untuk line favorit, rasanya "When the sun found the moon, she was drinking tea in a garden" yang metaforik itu sangat menarik. Yang saya kurang setuju: kenapa bulan harus diidentikkan dengan wanita?

9. Pas De Cheval - (2:39)
Punya semacam aura yang mirip 'Route 66' karena tabuhan snare drum-nya memaksa kami untuk melakukan "pedal to the metal", kalau mengutip perkataan rekan saya Muhammad Fadhil Mudjiono. Saya kurang memperhatikan lirik lagu ini karena kepala saya terlanjur bergoyang, tapi setelah saya cermati lagi "Give your feet a chance they'll do all the thinking" itu terdengar lucu juga.

10. The Piano Knows Something I Don't Know - (2:39)
Ini lagu yang mengerikan awalnya, dan aneh di sepanjang lagu. Tapi cukup menyenangkan untuk didengarkan setelah hari yang penat. Liriknya pun begitu, tapi waktu Urie menyanyikan "I won't cut my beard, and I won't change my hair" dia terdengar sungguh-sungguh.

11. Behind The Sea - (3:33)
Ini lagu seru! Teatrikal! Dan auranya jauh lebih menyenangkan dari 'I Write Sins Not Tragedies' yang didaulat teatrikal itu! Apalagi ada suasana baru karena Ryan Ross mengisi vokal. "And we're all too small to talk to God" juga kadang mengingatkan saya untuk selalu berbuat kebajikan.

12. Folkin' Around - (1:56)
Namanya juga sudah folkin' around, mari main yang ringan. Ayo istirahat sebentar dari kegeniusan, karena menjadi genius itu melelahkan. Karena itu juga saya sekali lagi tidak memperhatikan lirik. Akhirnya saya google saja, dan saya tentukan "Your melody sounds as sweet as the first time it was sung" sebagai line yang manis.

13. She Had The World - (3:47)
Lagu kesukaan saya yang kedua! Saya selalu suka lagu mengenai wanita, bahkan walaupun saya juga tidak tahu apa benar 'she' yang dimaksud mereka di sini adalah wanita. Suasana dari lagu ini juga fantastis, mengaduk-ngaduk pikiran. Kalau soal line favorit, dari dulu selalu sama, "When I look in her eyes, I just see the sky" dan "I don't love you I'm just passing the time".

14. From A Mountain In The Middle Of The Cabins - (3:02)
Wah ini lagu aneh lagi. Lagu yang paling tidak saya suka dari album ini, walaupun ada siulan yang cukup ciamik digabungkan dengan aransemennya yang aneh. Jadi saya juga tidak akan berbicara banyak. Line favorit juga palingan "If you're goin' then go" yang diucapkan berulang-ulang.

15. Mad As Rabbits - (3:48)
Sejujurnya saya baru tahu bahwa ini adalah single kedua setelah melihat di Wikipedia. Wow. Tapi pantas saja sih karena dirilisnya via iTunes. Ketimbang mengakhiri album ini dengan lemah lesu ternyata Panic At The Disco ingin menyisakan sedikit semangat kepada para pendengar. Dan pemilihan "We must reinvent love!" untuk akhir lagu meninggalkan kesan tersendiri yang susah dilupakan.


4.6/5


Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.