Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Friday, January 30, 2009

Jogja Bersahaja (Seharusnya) - hari pertama

26 Jan 2009 - sore hari

Double-check terakhir kemudian langsung berangkat. Mampir dulu di Sarinah beli roti sobek, arem-arem, dan berbagai cemilan lainnya terus ke Hoka-Hoka Bento di Sabang. Makan sampe kenyang, barulah saya menuju Stasiun Gambir. Tidak disangka tidak dinyana, pihak panitia membagikan seporsi KFC untuk makan malam. Tentu saja tidak saya makan, 
memangnya saya sapi?
Menuggu kereta=membosankan. Perjalanan dengan kereta=berisik dan tidak terlalu menyenangkan. Bangun tiada kerjaan, tidur tiada guna. Atau mungkin karena saya tidak punya teman bicara dan tidak terlalu suka keramaian saja. Another guess, karena saya tidak fokus. Selama di Jogjakarta saya tidak bisa fokus, it's her again.

Turun dari kereta tanpa basa-basi langsung menuju bus. Tentu saja beda bus, karena beda kelas dan beda jurusan. Mati saja lah. First destination, Grafika.
Sampah banget lah. Baru pengen nambah udah ga ada makanannya. Bahkan kerupuk pun entah dimana padahal masih banyak. Kamar mandi kualitas sangat minim ga memungkinkan untuk menyegarkan badan. Mushola sekecil uprit ga menjamin masuk surga. Grafika Jogja mati aja.

Dari Grafika tanpa istirahat langsung ke Madukismo. Penjelasan awal sangat membosankan dan menyita tenaga, tapi perjalanan di pabrik lumayan asyik. Menggunakan kereta yang berjalan dengan kecepatan siput, anak-anak XI IPS 2 banyak yang menempati gerbong terbelakang(maksudnya paling belakang, bukan idiot). Apa daya, beberapa saat setelah memasuki area pabrik, gerbong yang sudah terlalu tua itu lepas dengan sendirinya. Semua panik dan berteriak-teriak histeris seperti babi. Akhirnya setelah keadaan cukup mereda, semua yang ada di gerbong paling belakang turun dan mengejar kereta tua nan lambat yang sudah berada jauh di depan.

Dari Madukismo bus meluncur ke Kraton Ngayogyakarta. Isinya begitu-begitu saja ternyata. Sekali lagi, mungkin saya berpikir seperti itu karena SAYA TIDAK FOKUS. Bajingan, the trip wasn't that fun when it should be. Hanya karena pikiran saya terpecah, fuck. Di Kraton sempat beberapa kali bertemu mata, namun begitu saja. Ditambah lagi, ketika keluar dari Kraton dan mengambil *nananana censored biip* ada sebuah pembicaraan yang sangat makan hati.

A: Lihat *nananana censored biiip*nya, B
B: Apaan?
C: Lihat dong ini, ****
A: Terus kenapa? ****?
C: Iya pikir dong.
B: Iya pikir dong, ****..*
A: Oh *****. Kenapa emang?
B & C: Ihi ihi

Mati aja lah. Nampaknya antara A atau C menyukai Italic. Biarkan saja lah. *mumble*

On to the next fuckin' relievin' destination, the hotel. Ibis merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. It totally fits me. Ga neko-neko tapi lengkap fasilitasnya. Tidak perlulah kemewahan itu, yang penting nyaman. Sebagai hotel transit, Ibis telah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Kekurangannya hanya 1, kurang lift. Hanya tersedia 2 lift dengan kapasitas masing-masing lift 12 orang, menyebabkan saya harus menggunakan tangga darurat untuk naik turun dari lantai 1 ke lantai 6. Sebenarnya 2 lift itu hal yang wajar, karena tidak ada rombongan lain yang memboyong 200 orang lebih ke dalam satu hotel. Jadi, sampai sekarang pun saya tidak menemukan kekurangan dari Ibis sebetulnya.
Setelah beres-beres kamar dan segala tetek bengeknya saya langsung istirahat. Bas dan Wildan yang menjadi teman sekamar saya juga melakukan hal yang sama, bahkan sempat tertidur. 3 jam berlalu, kami turun ke lantai 1 untuk berangkat ke Sendratari Ramayana.

Sampai di Sendratari makan lagi, catering yang sama lagi, sendirian lagi. Selesai makan(selesai paling pertama, lagi) dokumentasi lagi. Nampaknya memang tujuan saya ke Jogja ini hanya mendokumentasikan Saptraka, secara keseluruhan dan bukan hanya beberapa orang seperti yang dilakukan oleh para pengguna kamera lainnya. Selesai makan semua menuju ruangan indoor.
Indoor sucks, outdoor rocks. Sangat tidak menyenangkan menonton Ramayana di dalam ruangan. Saya pikir setelah pertunjukan tari Saman dari Saptraka dan Barongsai dari entah siapa mereka kami akan berpindah ke panggung outdoor, ternyata tidak. CUPU. Hal lainnya, saya tidak diperbolehkan berpindah-pindah tempat untuk mengambil gambar, MATI SAJA. Dramanya pun jadi kurang dramatis karena dipentaskan di dalam ruangan, BAJINGAN. Hanya ada 1 hal yang dapat membuat saya cukup terhibur, Italic duduk di seberang sana. Jadi daripada menyaksikan Ramayana saya lebih tepat menyaksikan Rama*blahblah censored biip* kalau kata Acchan, yang notabene memang lebih menyenangkan. Dia sempat terlihat melihat ke arah tribun tempat saya duduk, namun nampaknya tidak tertuju kepada saya. Biarlah. *mumble*

Pulang dari Sendratari badan tidak lelah, namun pikiran cukup lesu. Setelah izin untuk keluar dan membeli 2 buah McD's Double Cheeseburger serta Cup Noodle dan air mineral ukuran besar di Circle K saya langsung menuju kamar. Memakan itu semua, menyalakan TV agar suasana tidak terlalu sepi, kemudian terlelap ditelan oleh malam yang pekat.

Saturday, January 24, 2009

Hunting On The Trip 2009 Report Part 2

Jan 18 2009

Ada satu hal yang tertinggal dari 17 Januari. Sebuah kisah yang mahatolol, sebuah kisah mengenai seorang anak yang tidak membawa celana dalam lain selain yang dia pakai. Alasannya: tidak tertera pada list barang yang harus dibawa. Hey panitia, catat itu! Lain kali tulis "celana dalam" pada list barang-barang yang harus dibawa.

Mari lanjut. Hari ini saya terbangun(membangunkan diri tepatnya) pada pukul 05.00 tepat. Setelah semalaman terbangun dan tertidur tiap jamnya, bukan hal yang aneh bahwa saya juga bisa bangun tepat waktu. Setelah bangun, saya membangunkan Gilang yang meminta saya untuk membangunkannya untuk jogging. Akhirnya dia bangkit dengan terpaksa, berbeda dengan saya yang sangat bersahaja. Baru 15 menit berolahraga, dia sudah tidak punya tenaga. Kembali ke kamar, langsung tidur pulas. Apa daya, saya yang sudah tidak bisa tidur tidak punya pilihan lain selain tetap menguras keringat.
Pukul 05.30 mulai banyak peserta lain yang berkeliaran. Mulai dari Yasmin sampai Odie, dari Avicenna sampai Adit Punk. Pukul 05.45 sudah terlalu banyak yang membuka mata, bila saya melanjutkan olahraga saya hanya akan terlihat norak. Maka dari itu saya berhenti, menuju kamar dan mandi pagi. Bla bla bla bla bla, lalu workshop lagi. Kurang menarik dibandingkan workshop malam, tapi tetap lumayan. Bla bla bla bla bla. Beres-beres, check out, langsung cabut ke Tangkuban Perahu.

Bisa dibilang Tangkuban Perahu ini harapan terakhir untuk mendapatkan objek foto yang bagus, karena pada tempat-tempat sebelumnya saya belum dapat menemukan apapun yang unik. Jadilah.. Jepret sana, jepret sini. Jalan ke sana, jalan ke sini. Kata orang-orang dingin, padahal saya pakai kaos biasa(kaos HOTT saya kekecilan karena kesalahan pendataan oleh panitia) dan celana pendek saja masih keringatan. Saya yang aneh atau mereka?
Setelah dapat beberapa foto, saya kembali tidak bersemangat. Akhirnya nongkrong di suatu warung di pinggir tebing bersama anak-anak lainnya, mayoritas anak-anak Skyblitz angkatan Hastara. Ada yang ngopi, ada yang makan mie, ada yang hampir jatuh ke kawah, ada yang gila-gilaan. Biasa lah, aktivitas remaja jaman sekarang. Selesai dari sana, turun ke bawah naik mobil yang menyerupai kereta yang dikemudikan dengan liar padahal di samping kanan dan kiri tidak ada pembatas(waktu naik juga sama saja). Sampai di bawah, sebelum naik bus jajan-jajan terlebih dahulu padahal di bus diberikan(lagi) beberapa makanan ringan dan tujuan berikutnya rumah makan Grafika. Udara dingin memang membuat lapar.

Di Grafika juga tidak terlalu menarik, biasa saja. Tapi itulah, dengan teman semua menjadi lebih seru. Makan, jalan-jalan, nontonin orang main ATV(A-Te-Ep kalau kata penyanyi di atas panggung Grafika), ngetawain orang yang jatuh pas main ATV, ngeliatin peserta HOTT lain yang berparas cantik, disuruh foto-fotoin panitia terus "Upload semua ya!", dan akhirnya naik bus untuk kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, pihak bus sebagai sponsor yaitu Blue Star(noh saya bantu promosi) meminta HOTT didokumentasikan bersama bus tersebut. Naik bus, dan sekali lagi makanan ringan dibagikan. Walaupun begitu, entah kenapa tetap saja dimakan. Perjalanan dari Grafika ke Jakarta isinya hanya tidur saja ditemani Katy Perry yang terus berkumandang dari iPod Touch Acchan. Saya difoto saat tidur, untungnya tidak mangap-mangap aneh yang seperti bajingan.

Hal lain, supir Bus 1 mengendarai busnya layaknya Jason Statham di film The Transporter. Kalau tidak tidur, saya pasti sudah muntah.

Sampai sekolah, apel dan kawan-kawannya, standar prosedur acara Labschool. Selesai semua langsung pulang, capek.


Di post ini saya agak ogah-ogahan karena pikiran saya tidak bisa fokus karena berbagai hal:
1. Italic
2. Italic
3. Italic
4. Italic
5. Teler gara-gara begadang
6. Italic
7. Italic
8. Italic
...
312387139048. Italic

I'm in love. Well, I know I always in love with her, but this time it's getting worse. Jadi maaf kalau laporannya agak ngaco.




Cheers,mate.

Sunday, January 18, 2009

Hunting On The Trip 2009 Report Part 1

Why 2 parts? Because I'm going to school tomorrow and life goes fast.

Let's just start our first day..

Jan 17 2009
Bangun pagi kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Meluangkan waktu sejenak untuk periksa ulang barang bawaan dan langsung berangkat, ngangkut Alvi dulu di halte Feeder Busway Trans Kemang Pratama kemudian meluncur ke Labschool Kebayoran.
Sampai di lokasi, langsung prosedur standar Labschool. Apel, briefing, do'a, blah blah. Naik ke bus 1 langsung ke tempat duduk paling belakang. Duduk bersebelahan sama Beler dan juga sejajar dengan Gilang dan Wildan.

1 hal yang harus diingat, perjalanan bus ke Bandung membuat Anda bertambah gemuk. Terutama jika Anda berada dalam sebuah acara yang para panitia-nya sangat baik sekali. Mereka akan terus memasok Anda dengan makanan ringan yang selalu disertai aqua gelas. What a trip.

Sampai di Braga, mulai acara hunting foto. Jujur saja, ga terlalu banyak yang bisa diambil. Entah saya yang kurang kreatif atau memang Braga tidak semenarik itu, terutama di bawah teriknya matahari. Kendala lain, waktu yang tersedia kurang lama.
Next, Museum KAA. Not much to capture in there too. Ada beberapa, tapi entah kenapa agak sulit untuk dibuat dramatis. Walaupun begitu, hidangan dari Hoka-Hoka Bento yang dipasok oleh panitia sebagai makan siang cukup menghibur.
Next stop, Trunojoyo. Again, not much things there. But yeah, with friends, everything is great. Lots of fun with few photos.

Ah, now the hotel. Tipe-tipe ekonomis yang sering disinggahi rombongan, tapi tidak murahan. Bahkan sejauh ini, Hotel Bumi Makmur Indah adalah hotel untuk rombongan yang paling bagus yang pernah saya singgahi. Salut buat panitia.
Acara yang dibuat pun dijalankan secara disiplin. Dari mulai workshop sampai makan malam dan sebagainya, semua sesuai dengan yang tertera. Bahkan mengenai masalah teknis pada workshop pun dapat ditanggulangi seakan tidak terjadi apa-apa. Salut lagi buat panitia.

Setelah makan malam di Kafe Jasmine yang juga nyaman banget, ada acara hunting lagi di sekitar lingkungan kafe yang malah cenderung digunakan sebagai dokumentasi acara(baca:foto sambil bergaya). Not much things to capture, again. Beberapa hal yang menarik di otak saya kira-kira: suasana lapangan parkir yang seperti festival minus wahana dan stand-stand, pohon besar di pinggir jalan, dan night scene di jalan itu sendiri. Akhirnya, yang saya dapat esensinya pun hanya pohon besar di pinggir jalan.
Dari situ semua kembali ke hotel, beberapa istirahat di kamar, dan sebagian besar keluyuran kemana-mana. Saya sendiri berjalan-jalan di sekitar hotel, menuju Alfa Mart untuk membeli beberapa minuman instan, kemudian nongkrong di warung depan hotel. Makan Indomie rebus, minum kopi susu, bersenda gurau. Aktivitas-aktivitas khas anak muda lah pokoknya. Dan yang lebih menyenangkan saya tidak perlu membayar apa yang saya pesan. Faris Arifin yang membayar semuanya. Ironisnya, itu dilakukan karena dia baru saja mengalami hal buruk. That's life.

Setelah lelah, tak perlu lagi begadang layaknya anak-anak muda jaman sekarang. Saya langsung tidur, walaupun terbangun setiap jamnya.


berlanjut lain kali..




Cheers, mate.

Saturday, January 10, 2009

Hunting On The Trip 2009

OSIS Diwakara Balasena SMA Labschool Kebayoran presents..



Participate and win the shit out of it!

1st 1,000,000 IDR + Darwis Triadi School of Photography voucher 1,000,000 + trophy
2nd 750,000 IDR + Darwis Triadi School of Photography voucher 1,000,000 + trophy
3rd 500,000 IDR + Darwis Triadi School of Photography voucher 1,000,000 + trophy

Registration on Dec 15 2008 - Jan 14 2009 (don't come on Sundays or Holidays)
12.00 - 16.00 WIB (Mon - Fri) & 10.00 - 13.00 (Sat)
@SMA Labschool Kebayoran
@200,000 IDR/person

Contact Person: Dea (08151821824)



Cheers, mate.

Wednesday, January 7, 2009

Go International

I'm thinking about making this blog to be readable worldwide,  so there will be more English-flavoured posts. However, I can't stop using Bahasa Indonesia. There are some expressions that can only be expressed in Bahasa Indonesia. Besides, it's my country's language, and I'm kind of a nationalist. So, all I want to do is following the Sumpah Pemuda:
  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

For you who don't speak Indonesian: the one that says us, Indonesians, speak one language, is the third line.

Other reason, I was asked by my EF teacher to translate this bloody blog into English. So yeah, why not? Learning by doing saves time and money, and that sounds nice.



Cheers, mate.

eRepublik - The New World

Join us as the citizen of The New World. Play yourself as a citizen of eIndonesia(or eWhateverelse for non-Indonesians) and make your country the greatest in the new world.

Start as a citizen and climb up to the highest level, The President. Your country, your control. It's the new world, mate.




JOIN US, YOU WON'T REGRET IT




Cheers, mate.

Friday, January 2, 2009

7 Rules

Saya menonton sebuah film berjudul I'm Not There beberapa hari lalu. Film biografi yang terinspirasi oleh kehidupan Bob Dylan. Film yang cukup rumit, karena di dalamnya terdapat 6 karakter yang mewakili Dylan dengan 6 cerita yang berbeda pula. Untuk Anda yang bukan pencinta Bob Dylan atau musik folk, ini bukan film yang lebih menarik dari tayangan tentang bagaimana kuda bereproduksi di National Geographic Channel. Jadi, trust me, film ini bagus, tapi jujur saja kurang enak(lain waktu, saya akan bahas perbedaan bagus dan enak).

Film ini penuh filosofi, dan puisi. Bersama tulisan ini saya ingin menyertakan 7 Simple Rules of Going Into Hiding yang menurut saya sangat indah dan menawan. 7 peraturan sederhana tentang bagaimana cara menjadi orang yang biasa saja dan tidak akan dikenang oleh siapa-siapa. 7 peraturan indah tentang hidup dalam persembunyian.

1. Never trust a cop in a raincoat.
2. Beware of enthusiasm and of love, both are temporary and quick to sway.
3. If asked if you care about the world's problems, look deep into the eyes of he who asks, he will never ask you again.
4. Never give your real name.
5. If ever asked to look at yourself, don't.
6. Never do anything the person standing in front of you cannot understand.
7. Never create anything, it will be misinterpreted, it will chain you and follow you for the rest of your life.

sumber: IMDB



I just love those rules. So beautiful, yet so true.


Cheers.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.