Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, May 26, 2009

Wanita

Bukan, di tulisan ini saya bukan akan menulis. Sudah lelah saya, mana besok ulangan matematika. Turunan! Harusnya tidak terlalu sukar, tapi tidak tahu lah. Kembali ke awal, kali ini saya hanya akan berbagi selera. Ada 9 wanita di bawah, mulai dari yang sekarang sudah tua hingga yang masih gadis, yang menurut selera saya (yang seringkali cukup absurd) paling baik di zamannya. Enjoy.


daftar di bawah tidak disusun secara peringkat



Kat Dennings



Drew Barrymore



Ellen Page



Mandy Moore



Ashley Tisdale



Katy Perry



Meg Ryan



Anne Hathaway



Gita Gutawa


Mari mulai dari Meg Ryan terlebih dahulu. Saya pertama kali melihat dia melalui film When Harry Met Sally, dan saat itu juga saya menganggap dia menarik. Tata rambutnya memang seperti Duff McKagan dari Guns N' Roses, namun tak ayal lagi bahwa Meg Ryan itu sungguh menawan. Begitu juga aksinya di Sleepless In Seattle, sungguh menarik.

Sekarang Drew Barrymore. Saya mengenal Drew Barrymore dari Charlie's Angels namun baru menganggap dia cantik pada Music & Lyrics, yang saya tonton kira-kira 3 tahun setelahnya. Komposisi mukanya sedikit aneh, tapi kata rekan saya Nadya Fitri mukanya itu "angelic banget", and that's the exact quote.

Hmm, lalu Mandy Moore. Satu-satunya yang saya tahu dari Mandy Moore adalah Jamie Sullivan pada A Walk To Remember, jadi saya tidak akan banyak cingcong.

Selanjutnya Katy Perry! Terima kasih kepada majalah Hai yang pernah mensandingkan Katy Perry dengan Miley Cyrus dalam sebuah perbandingan pada sebuah rubrik di tahun 2008. Sejak itu saya mencoba mencari tahu siapakah gerangan seorang Katy Perry. Ketika orang sekitar saya baru mendengar I Kissed A Girl saya sudah mendengar Lost, ketika khalayak baru mendengar Hot N Cold saya sudah hafal lirik Thinking of You. Hurrah for Katy Perry!

Lanjut ke Ellen Page. Sekali lagi saya hanya pernah melihat dia berlaga di Juno, dan dia brilian di sana. Disaster Movie mengejek karakter Juno dengan membuat versi kacangan dari dirinya lengkap dengan gaya bicara sangat cepat serta gerakan tangan yang khas serta perut besar karena hamil, tapi itu semua tidak berpengaruh. Kalau cantik ya cantik, sekali cantik ya tetap cantik.

Anne Hathaway! Yang ini juga sekaligus kesukaan Wildan Ahmad Adani, rekan saya yang dijuluki cuties karena mukanya seperti bayi. Memang hebat wanita yang satu ini. Sudah tidak perlu lah saya komentari lagi.

Mungkin Anda sedikit aneh melihat saya menganggap Ashley Tisdale itu menarik. Tapi memang benar adanya. Percaya atau tidak saya sudah melahap High School Musical 1 hingga 3. Alasan utamanya karena saya suka film musikal, apapun bentuknya; yang kedua mungkin karena Sharpay Evans ini. Tidak tahu lah kenapa, intinya saya suka.

Yang ke-8, Kat Dennings. Satu lagi wanita yang saya langsung anggap menarik hanya karena satu penampilan. Di Nick & Norah's Infinite Playlist Kat Dennings berhasil memukau saya. Mukanya memang terlihat agak besar, apalagi setelah didampingkan dengan Michael Cera yang notabene mukanya kecil, namun sisanya dia memang menawan.

Last but not least, Gita Gutawa! Sudahlah, cukup sampai sini saja. Banyak rekan saya yang punya cukup akses untuk mencapai dia, nanti saya malah dihina-hina. Saya rasa Anda semua juga sudah tahu mengenai hal ini. Ah, omong-omong saya minta maaf karena ada label KapanLagi.com pada foto di atas sana.


"Kenapa di atas tidak ada Megan Fox?!", "Kenapa di atas tidak ada Aura Kasih?!", "Kenapa di atas tidak ada Elisha Cuthbert?!", "Kenapa di atas tidak ada Liv Tyler?!", "Kenapa di atas tidak ada Julia Roberts?!", "Kenapa tidak ada Indra L. Bruggman?!", dan selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat jamak muncul di benak Anda setelah membaca tulisan saya kali ini. Namun santai lah, ini masalah selera. Kalau terlalu menarik secara seksual saya malah tidak bisa fokus pada arti cantik yang sesungguhnya. Makanya, coba pampang juga versi Anda. Mari berbagi selera!






Cheers, mate.

Sunday, May 24, 2009

Berbicara Politik Hanya Akan Berakhir Di Kubangan

Definisi kubangan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia: tanah lekuk yg berisi air dan lumpur (tempat kerbau berendam diri atau berguling-guling). Ya jadi begitulah. Politik dimana juga selalu penuh trik dan intrik. Tidak selalu bejat mungkin, tapi selalu penuh muslihat.

Dimulai dari hari Rabu (20 Mei), 3 calon presiden RI untuk masa jabat 2009-2014 berturut-turut hadir dalam acara Presiden Pilihan di TVOne. Bapak Jusuf Kalla dengan semangat nasionalisme radikal dan (maaf) sikap terlalu humoris, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dengan sikap santun dan lelucon tentang Kadin yang sedikit sulit dicerna, dan Ibu Megawati Soekarnoputri dengan (maaf sekali, tapi ini benar, setidaknya bagi saya) bahasanya yang terlalu berputar-putar khas politisi hingga tidak bisa memberi jawaban yang presisi. Dari penjabaran saya mungkin Anda sudah bisa melihat saya condong ke arah mana. Tentu saja Pak SBY!

Saya tidak pernah bilang bahwa Pak SBY itu suci dari segala najis dunia politik, tapi setidaknya kubangannya tidak sekotor kubangan-kubangan politisi lainnya, setidaknya untuk saya. Guru sejarah saya, Bapak Ali Fikri Pane, berkata bahwa alasan SBY memilih Boediono sebagai wakilnya adalah demi kekuasaan. Kata beliau, SBY takut jika wakilnya adalah orang partai, dia akan haus kekuasaan lagi seperti JK sehingga akan "bercerai" dan menjungkirbalikan SBY pada pemilu berikutnya. Ketika saya berkata bahwa masa pemerintahan presiden di Indonesia hanya 2 mandat, Pak Ali berkata "tapi setidaknya presiden berikutnya bisa datang dari Partai Demokrat". Itulah, muslihat. Pak SBY bermuslihat - "muslihat" di sini maksudnya "bersiasat", bukan "menipudaya" (arti muslihat menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia: 1. daya upaya, tipu daya; 2. siasat, taktik) - agar beliau tetap berada di puncak kekuasaan. Tentu saja sah, tentu saja halal, ini dunia politik bung. Lagipula, saya tidak pernah bilang beliau ingin berkuasa agar bisa menyelewengkan jabatan. Saya percaya pada Pak SBY sepenuhnya, lanjutkan!

Namun demikian, golput ataupun menjadi apolitis itu ujungnya bukan cuma kubangan, tapi comberan. Menjadi tidak peduli bukan solusi yang benar. Yang paling benar itu ya cari politisi yang kubangannya paling bersih. Kubangan yang rasio air dan lumpurnya 5:1, kubangan yang kerbaunya kuat untuk membajak sawah, kubangan yang dirawat dan dipelihara. Pokoknya begitulah.






Cheers, mate.

Saturday, May 16, 2009

Have A Nice Day!

Pagi ini tidur pulas saya dibangunkan oleh Arya Yudhistira. "Djaff, jadinya kita butuh mic berapa?" "3 lagi, seinget gue ada 2 di kotak mixer hall lantai 4 yang di backstage" "Ok thanks" *trek*. Okay, have a nice day!

Kemudian saya menelpon Anissa Paramita Gunarso, sekedar menanyakan kabarnya dan izin untuk pergi mengambil SIM. Lalu saya turun ke bawah, sarapan bubur, lalu istirahat sebentar di depan televisi. Sebuah telepon masuk, Ayah saya mengangkatnya. *the conversation goes..* "Oh, jadi diundur ke Sabtu depan? Ok ok" Bagus sekali, saya sudah merelakan tidak datang ke sekolah pada pukul 7 untuk melanjutkan pekerjaan sebagai koordinator seksi produksi untuk mengambil SIM pagi ini. Namun apa? Ternyata diundur pula. Okay, have a nice day!

15 menit berikutnya saya sudah mengendara mobil ke arah kantor pembayaran air. Belum buka! Gila saja! Lalu saya berputar di sekitar perumahan, menghamburkan bensin yang seharusnya berharga. Setelah semua selesai selanjutnya pembayaran PBB. Lama sekali, saya harusnya bisa mengambil feeder busway pukul 10:00 sehingga saya bisa tiba di sekolah pukul 11:00. Namun apa daya, saya terpaksa datang pukul 12:30 karena mengambil feeder busway pukul 11:00. Okay, have a nice day!

Sampai di sekolah saya teringat harus membetulkan HT yang sedikit cacat. Berhasil! Hore! Selanjutnya seperti biasa, suka duka seksi produksi. Selesainya acara, beres-beres sampai lemas. Terima kasih kepada panitia lain yang membantu dan bukan hanya sekedar membatu. Setelah shalat maghrib, nyatanya saya tidak jadi dijemput. Ke Circle K beli susu karton Ultra, menyewa ojek hingga Bundaran Senayan, lalu tunggu saja di sana. Saya menelpon Anissa Paramita Gunarso lagi, lalu dia menelpon saya. Kemudian saya bermain api dengan pemantik, saya biarkan tetap menyala selama 5 menit. Lalu saya tempelkan ke lengan saya, berbekas ternyata! Sungguh perih rasanya! Okay, have a nice day!

Patas AC 05 jurusan Bekasi Barat berhenti di depan saya, jangan lupa naik dengan kaki kanan untuk keberuntungan. Seperti yang sudah disangka dan dinyana, saya harus berdiri di lorong bus. Untung saja ini sore di hari Sabtu, jalanan belum terlalu sesak. Cukup 45 menit saja dari Jakarta, lalu naik Koasi(Koperasi Angkutan Bekasi) hingga gerbang perumahan. Jalan barangkali 100m, kaki pegal pun sudah tidak terasa! Okay, have a nice day!


Ketika ada yang ingin Anda keluhkan, jangan pernah lakukan. Dunia ini saja tidak pernah mengeluhkan keberadaan Anda. Katakan saja, have a nice day!






Cheers, mate.

Masih Ada Langit Di Atas Langit

Jangan pernah merasa jadi yang paling hebat, masih ada langit di atas langit. Mari mulai analogi perjalanan seorang insan dalam suatu bidang baru! Sebut saja fotografi!

1. Newbie
Pada fase ini, Anda bukan siapa-siapa, bukan apa-apa. Menyalakan kamera saja tidak mampu. Namun semangat belajar Anda ada di sana, di koordinat (1,2.000.000.000). Sangat jauh hingga butuh kertas ukuran A0 dengan skala sangat kecil dalam pembuatan grafiknya untuk mencapai titik tersebut. Hal lainnya, Anda dalam keadaan euforia! Ketika Anda bisa mengganti ISO, Anda berteriak kegirangan. Ketika Anda sukses zooming in dan zooming out foto-foto pada layar preview, Anda berguling-guling bagai kambing. Ah betapa nikmatnya ketika Anda belum tahu apa yang ada di depan Anda. Yang ada hanya belajar, belajar, belajar!

2. Rookie
Anda sudah bisa mengkombinasikan kecepatan rana dan bukaan diafragma dengan baik dan benar. Saatnya belajar Depth of Field dan Speed Action! Ketika foto Anda yang dihiasi background blur sehingga tampak artistik itu dipuji teman sebaya, pikiran Anda menjadi blur pula. Foto panning TransJakarta Anda sempurna, tapi cobalah terapkan teknik panning pada capung. Niscaya Anda jadi pening pula. Lihat foto itu! Night scene sempurna(yang didapat dengan menggunakan tripod serta ratusan percobaan) dengan latar belakang Bundaran HI yang membuat mobil-mobil Jakarta terlihat seperti cacing neon! Hebat! Jangan lupa, hidup tidak berhenti sampai di situ, hidup tidak berhenti sampai di cacing neon! Ayo terus lanjutkan.

3. Intermediate
Teknik panning bisa Anda lakukan sambil nungging, foto night scene sudah seremeh ikan asin. Sekarang apa lagi? Anda mulai memikirkan bagaimana ini bisa menghasilkan. Puluhan lomba Anda ikuti, belasan workshop Anda hampiri, dan 3 pameran fotografi Anda sambangi. Hasilnya bagus! Juara 2, lalu 3. Lomba lainnya 1, 1 lagi, lalu 3. Seterusnya tidak juara, namun lalu 3 lagi. Di luar itu Anda mulai menerima job sebagai fotografer amatiran untuk acara-acara teman. Hasilnya lumayan, bisa untuk mencuri hati gebetan. Uang, penghargaan, ketenaran. Hidup indah nian! Jeprat jepret, dapat uang. Jeprat jepret, wanita datang. Asyik!

4. Advanced
Tinggal selangkah saja untuk menjadi profesional. Anda sudah sadar bahwa menjadi profesional = menjual nama. Foto saja pengemis-pengemis kota Jakarta, cantumkan nama Anda, 20 juta! Bukan berarti asal-asalan juga, namun tiada perlu lagi eksperimen-eksperimen aneh yang menyenangkan seperti di masa lalu. Foto saja yang diinginkan media, 5 juta! Foto saja sebuah keluarga bahagia, 2 juta! Apa Anda mulai lupa kesenangan dari fotografi? Bukan uang, bukan yang berjuta-juta. Saya pun lupa, karena saya menjiwai fase ini terlalu dalam ketika menulis ini. Sudahlah, lanjut saja.

5. Tutor
Mungkin Anda kira Anda akan menemukan sesuatu yang lebih gila lagi di fase kelima ini, namun tidak, bukan dalam versi saya. Semua akan kembali ke awal, seperti sebuah siklus. Lagu yang diawali dengan C akan terdengar indah bila diakhiri di C pula. Manusia awalnya dari tanah, wafatnya ke tanah lagi. Ketika Anda berhasil melewati fase ke-4, saya harap Anda bisa menjadi suci kembali. Di fase ini Anda mengerti ada yang lebih penting dari menjadi yang paling hebat, karena masih ada langit di atas langit. Jika Anda terus ingin menjadi paling hebat, Anda tidak akan berhasil karena masih ada langit di atas langit. Di sini Anda sadar, bahwa yang terpenting adalah regenerasi, karenanya Anda mulai berbagi cerita kepada para pemula. Pohon yang berguna bukan pohon yang menjulang hingga angkasa, tapi yang dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Dan tentu saja beregenerasi juga, hasilnya adalah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya hingga tiada habisnya.


One last thing, kenapa fotografi? Tidak ada maksud khusus, hanya karena saya terlibat di dalamnya cukup jauh hingga saya mengerti beberapa istilah. Saya sempat berniat mengangkat parkour, tapi nampaknya saya hanya akan berakhir menjadi pecundang.





Cheers, mate.

Monday, May 11, 2009

Segmented

Karena hari sudah larut malam, saya akan menulis inti dari tulisan saya kali ini terlebih dahulu:

Kunjungi VAMPIBOTS untuk review-review paling ciamik masa kini.

Sekarang, karena saya masih punya sedikit tenaga, dan jari jemari saya belum mati rasa, saya akan bercerita sedikit dahulu mengenai segmentasi. Menurut akal saya, arti dari segmentasi adalah pengelompokan. Sesuatu yang segmented adalah yang terkelompok. Contoh paling bagus, dan mungkin memang satu-satunya di Indonesia, adalah Metro TV. Stasiun televisi lokal tersebut dengan konsisten menyajikan berita dan beberapa program sejenis selama hampir 9 tahun, tanpa lelah tanpa henti. Tanpa sedikit pun berniat menyajikan sinetron kacangan yang notabene memang menyedot banyak pemirsa. Yang saya tahu, pada periode awal diluncurkannya, Metro TV berjalan bukan hanya dengan merangkak, tapi mengesot. Bayangkan saja, rakyat Indonesia yang biasa hidup dengan hiburan dan berita simpang siur (baca:gosip) tiba-tiba disajikan sebuah saluran yang isinya berita melulu. Ingin muntah rasanya. Namun, seperti yang kita lihat sekarang, Metro TV telah menjelma menjadi stasiun televisi yang cukup dicari (terutama saat ada berita heboh yang wajib diketahui demi eksistensi) dan mempunyai pemirsa yang loyal. Karena apa? Karena Metro TV adalah stasiun televisi yang segmented. Mereka berani hanya bekerja di bidang berita, pertama kalinya di Indonesia!

Dan jika Anda bertanya kenapa saya menggunakan Metro TV sebagai contoh, jawabnya cukup 2 saja: 1.Swadesi, cintailah produk lokal, kata Mahatma Gandhi; 2.Akan susah mencari referensi untuk Al-Jazeera, CNN, BBC, Fox News, dan kawan-kawannya. Kalau ada yang mudah, jangan cari yang susah!

Sesuatu yang segmented itu mungkin bukan yang terbaik, tapi jelas yang paling hebat. Lihat Google! Lihat Wikipedia! Mungkin mereka tidak semakmur Yahoo! dalam hal materi (sejujurnya saya juga tidak tahu kebenaran akan hal ini, namun kalau saya salah artinya mereka yang segmented itu juga sekaligus yang terbaik!), tapi mereka yang paling hebat. Segmentasi!

Dan terakhir lihatlah Vampibots yang saya taruh link-nya di atas. Terdapat beberapa hal yang selain review pada Vampibots, tapi tidak mengapa. Setidaknya, seorang Fariz Razi mempunyai visi untuk menuju ke ujung corong yang sempit, sebuah segmentasi. Salut untuk mereka yang berani bersegmentasi! Bersulang!




Cheers, mate.

Friday, May 8, 2009

"I love you so much it's retarded!"

Penggunaan tanda kutip pada judul bukan lantas berarti saya akan me-review sebuah film layaknya saudara Fariz Razi lakukan sebagai rutinitas dengan sangat ciamik. Saya hanya secara spontan memikirkan dialog tersebut, and here we are, a new post!

Bilamana Anda tidak mengetahui asal quote tersebut, saya akan menjelaskan dengan sukarela. Pada film Nick & Norah's Infinite Playlist, ada sebuah adegan dimana Yugo kuning bobrok Nick dinaiki secara paksa oleh seorang pasangan yang sudah terlanjur berbirahi tinggi. Dengan tanpa banyak bicara mereka sudah berada dalam lautan asmara dan dipenuhi gairah bercinta. And that's when. Setelah beberapa desahan dan desisan, dialog itu muncul, diucapkan oleh sang pria dengan nada dan warna suara yang sangat mesum. Ironisnya, ketika Anda mendengar kata-kata di atas tanpa mengetahui adegan tersebut, tidak terasa adanya unsur pornografi di sana. Malah menjadi cukup romantis, setidaknya untuk saya.

Dan nyatanya memang saya cinta kepada Anissa Paramita Gunarso, so much it's retarded. Inti tulisan ini sesungguhnya hanya itu saja. I am Robin Hood, she is Maid Marian.

Now, a song! It's been a long time, so here we go again.



What A Difference A Day Made - Jamie Cullum

What a difference a day made, twenty four little hours
Brought the sun and the flowers where there used to be rain
My yesterday was blue dear
Today I'm a part of you dear
My lonely nights are through dear
Since you said you were mine
Oh, what a difference a day made
There's a rainbow before me
Skies above can't be stormy since that moment of bliss
That thrilling kiss
It's heaven when you find romance on your menu
What a difference a day made
And the difference is you

My yesterday was blue dear
Still I'm a part of you dear
My lonely nights are through dear
Since you said you were mine
Oh, what a difference a day makes
There's a rainbow before me
Skies above can't be stormy since that moment of bliss
That thrilling kiss
It's heaven when you find romance on your menu
What a difference a day made
And the difference is you






Cheers, mate.

Friday, May 1, 2009

The Bucket List

Ide saya belum muncul padahal saya baru melahap habis 111 Kolom Bahasa KOMPAS yang berisikan tulisan-tulisan genius mengenai kritik kepada Bahasa Indonesia, kepada kebiasaan berbahasa, dan kepada pengguna bahasa. Anda tertarik? Hampiri perpustakaan SMA Labschool Kebayoran dan pinjam. Jangan lupa kembalikan.

Di saat buntu ide seperti ini saya teringat akan 1 hal yang belum pernah saya buat di Volgorian Cabalsette sebelumnya, wish list. Hal-hal yang ada di wish list saya nantinya juga mungkin akan ajaib(baca: susah tercapai), tapi saya rasa tidak mengapa.

Tidak usah bertele-tele, ide saya makin terkikis. Mari kawan kita lanjutkan.

Entah kenapa akhir-akhir ini saya jadi demen Nissan Livina


Chevrolet Camaro, terinspirasi Bumblebee dan keluarga Cobain!


Volkswagen Beetle, dari pertama kali mengenal mobil memang sudah jatuh cinta



Canon EF 15mm FishEye, buat gila-gilaan bersama teman-teman



Kalau mampu beli Canon EF 70-300mm IS USM ini saya tidak akan beli 55-250


Saya hampir menjadi pengguna Fender Telecaster kalau tidak melihat Slash


Bah, saya kehabisan akal sekarang. Nanti saya akan coba update lagi. Siapa kira malaikat sedang blogwalking lalu mengabulkan permintaan saya. Amen.






Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.