Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, December 23, 2010

Nyanyian Akhir Tahun

Satu minggu menuju tahun yang baru. Belum tahu jadinya apa. Bisa seru, bisa haru. Biar lebih penuh makna, ada baiknya kita lakukan refleksi kaca. Mulai dari mana?


2010 TOP 3 ALBUMS
Bukan album musik yang baru dirilis, tapi yang baru saya dengar tahun ini.

The Doors - The Very Best of The Doors
Mencari kesana-kemari tidak kunjung temu, akhirnya tega mengunduh melalui torrent saja (maaf wahai Manzarek, nanti kalau ada yang asli saya beli). Benar-benar album yang membuka telinga dari segenap musik setengah hati yang lalu lalang di radio dan televisi. Desain sampul depannya juga semakin mengukuhkan posisi Jim Morrison sebagai ujung tombak yang kian mati kian tajam. Favourite tracks: People Are Strange; Hello, I Love You; Touch Me.


Jamie Cullum - The Pursuit
Saya beli asli! Edisi paket sekaligus DVD lagi! Tidak mengecewakan. Sama sekali. Yang saya tangkap adalah suara-suara yang semakin modern, tapi tetap cocok didengar sambil minum teh hangat di hari mendung. Piano meledak di cover depan? Jawara. Favourite tracks: Grace Is Gone; I'm All Over It, Love Ain't Gonna Let You Down.


Maliq & D'essentials - Mata Hati Telinga
Album ini minjam dari teman adik saya. Lengkap ya? Ada album hasil download ilegal, album asli versi premium, sampai album hasil pinjaman. Isi album ini hanya 6 tembang. Dahsyat semua. Desain albumnya juga istimewa. Selain gayanya yang kontemporer, juga bisa dibuka-buka dan dilipat-lipat sedemikian rupa. Yang punya pasti sudah coba-coba. Favourite tracks: Luluh; Coba Katakan; Mata Hati Telinga.



2010 TOP 3 MOVIES
Keterangan sama seperti di atas. Mungkin judul-judul yang muncul belum diseleksi dengan seksama, hanya yang muncul cepat di benak saja. Akan tetapi bukankah itu artinya mereka benar-benar berkesan?

Before Sunrise
Revolusi. Seratus menit kurang isinya seputar sepasang manusia belaka, tapi tidak terbuang sia-sia. Setiap kata bermakna, setiap kala terasa indahnya. Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy), hampir bisa menggeser Harry (Billy Crystal) dan Sally (Meg Ryan) - dari When Harry Met Sally... - dari jajaran pasangan favorit saya. Favourite moment: Keseluruhan film. Jika harus diingat sebagiannya, mungkin scene pujangga jalanan yang mencipta puisi di pinggir sungai, "Don't you know me? Don't you know me by now?"


12 Angry Men
Seusai film ini, rasanya saya seperti sudah berhasil menemukan obat penyembuh kanker. Film ini adalah salah satu item di dalam bucket list saya, layaknya Carter (Morgan Freeman) ingin mendaki Everest dalam 'The Bucket List'. Tidak lebih dari 94 menit, sebanyak dua belas orang juri melakukan diskusi penuh drama untuk menentukan hidup-mati seorang bocah yang disangka melakukan pembunuhan. Beyond reasonable doubt, sebuah pelajaran berharga. Favourite moment: Ketika Juri #10 berkoar kasar dan sebelas orang juri lainnya berdiri dari kursi, menjauh tanda tidak peduli. (lihat di atas)


Scott Pilgrim vs. The World
Kalau dibandingkan dengan dua film sebelumnya mungkin saya terdengar seperti orang yang tidak punya selera. Nyatanya, saya hanya tidak peduli selera. Saya suka, saya terima. Terlebih lagi ada Mary Elizabeth Winstead sebagai Ramona, jelas sebuah 1UP (bila Anda sudah menonton, pasti tidak bingung lagi). Michael Cera masih cemerlang seperti biasa, ditandem dengan dialog cepat nan lucu dan Kieran Culkin yang sangat natural sebagai seorang sobat gay (atau memang karena benaran gay?) yang entah kenapa tetap terkesan gentle. Sisanya, efek-efek video game yang spektakuler. Oh, have I told you about the amazing interactive trailer? Favourite moment: "Wow. Girl number." Atau mungkin ketika Crash and The Boys menyanyikan lagu berdurasi 13 detik. Atau mungkin "Do you want to keep going?" yang ditanyakan Knives Chau (Ellen Wong) pada Scott yang bingung akan kelanjutan hubungan mereka. (lihat di atas) Atau, atau, atau. This movie is just too epic.







This is an unfinished post. Will update soon, cool people. Before New Year, I hope. Hang on there.

Sunday, December 19, 2010

Over The Rainbow

I should be studying now, shouldn't I? Fundamental Methods of Mathematics for Business and Economics; Volume 1. Alpha C. Chiang, Kevin Wainwright, Budi Frensidy, Mahyus Ekananda, Telisa Aulia Falianty. McGraw-Hill, Penerbit Salemba Empat. Optimization, Exponential and Logarithms, Integrals.

I'm a kind of person that always do something with a plan, a bunch of back-up plans, but a low self-esteem; not to say it in a bad way. I may have a lack of confidence in doing something, but that's only to make me more aware of threats around. How I used the term "low self-esteem" before is just a proof of my low self-esteem. Now to make it sounds more appealing, let's just say I'm a perfectionist, and an idealist. Maybe not a pure one, but there's no such thing as a pure idealist either, so.

One of my idealism is not to tell people to do what I'm not doing. Put it in a simple phrase: I don't want to be a hypocrite. This, my mate, is the roots of all the master plan, the back-up plans and the low self-esteem.

I'm not into taking chances, I'm not into surprises. I have a big obsession to always be in control; of myself and of everything I'm doing. A bit distortion on my envisioned path would make me turn from a lion into a rabbit. Fortunately, with a bunch of back-up plans, that kind of occasion is a mere hundred to one. And even when I am a rabbit, I won't be asking for mercy and forgiveness like a rabbit. I believe in my friends, but I won't sound so helpless I'll make them feel sorry. I'll stand tall and roar once again. Always have, always will.

An example. I won't be seen teaching a subject to other people until I'm at least 100% sure about what I'm talking about. I don't want to be caught doing wrong or not in control - a perfectionist, as you can see. Sounds egoistic? Non, Madame et Monsieur. This is a better way to put it: you'll never see me teaching you; we'll always be discussing things as an equal.

I'm not a chap who goes around thinking he's the almighty one. I'm proud, but I always try to assure myself that I'm not out of line. If, once or twice, you've seen me being a prick, scold, kick, slap, punch me in the face. That, is my idealism.

That's me. This is my problem.

Two of my colleagues, Fajar Mahdi and Adinda Khairina (click on their names to vote) is rolling for La Joie de Montréal, an international summer school contest. Wow. Good God. What a courage, I'll say. In my deepest heart, I kind of want to try for it too.

Studying abroad means using English as your primary language. Wow. Good God. I'm not saying that I'm not fluent in English, that would be a self-discrimination. And saying so will also make me an ungrateful being, for my parents have been letting me learning it since a little boy that I was. All I could say is that I don't think I'm fluent. A state of mind. Being a perfectionist and an idealist sure makes me have a low self-esteem.

For me, fluent means no mistakes. Not literally of course, since time can't be undone. Just, no flaws. In order to do and test my capability, I'll have to live that. Means I should use English more. Here comes my other idealism.

All this time I've been preserving the usage of my native language, Indonesia. Is it worth it?

Should I set aside that love of Indonesia language? I'm not an extremist that restrict the use of non-Indonesia languages. I love English, even though I never read a single literature like Moby Dick. I love French, even though I don't know a thing about it. But maybe I just love Indonesia more. I thought that maybe if I use it more - with my KBBI modified style a.k.a. Volgorian Cabalsette style - I'll help it to grow, or at least survive, for I don't want it to extinct.

You may say this cynically after reading my problem: "Oh come on, don't make it a big deal."

It is a big deal. I don't want to be a hypocrite. Setting aside that idealism means that I should not going around telling people to love Indonesia language more. Not like a half-hearted environmentalist that's angry about mother nature's health while using air conditioner all day long, or those politicians who talk about society welfare but creeping behind the stone wall stealing people's money.

I am a perfectionist. That is my idealism. Now that makes me have a low self-esteem.




Cheers, mate. :)

Saturday, December 11, 2010

Jangan Bakar Buku

Merujuk kepada tulisan Adinda Khairina di sini, saya juga jadi memikirkan soal masa depan buku. Bukannya tidak pernah, hanya saja kala itu saya tidak anggap peduli juga. Mungkin saja karena saya sudah punya jawaban sendiri dari pertanyaan yang muncul. Belum pernah saya publikasikan, jadi mungkin sebagai pengisi waktu istirahat dari pengetahuan dasar tentang bisnis yang bertubi-tubi menyerang saya dari tadi ada baiknya saya coba berbagi pandangan di sini.

Pertanyaannya sederhana:

Apa jadi masa depan buku?

Ha! Kalau Anda terkaget dengan pola kalimat di atas pasti Anda bukan pembaca lama blog saya. Coba dibalik-balik lagi halamannya, dibaca, terutama tulisan-tulisan mengenai bahasa. Kalau sudah bisa menerima (atau tidak peduli menerima) akan tutur tulisan saya, ayo kita lanjutkan bahasan.

Buku pada awalnya juga pasti berbentuk tidak seperti yang ada di toko buku masa kini - cover depan, cover belakang, kadang berhadiah cangkir atau stiker warna-warni untuk promosi. Kalau mundur ke belakang kita bisa bertemu dengan perkamen yang mudah rusak jika kena keringat. Ada juga gulungan yang susah dibaca karena ketika dibuka ingin buru-buru kembali ke posisi semual. Kalau kita ke belakang lagi malah bisa-bisa ditemukan catatan terukir di batang kayu dan terpahat di batu-batu. Bisa saja sih saya coba cek evolusinya dengan sumber tak berbatas dari dunia maya, tapi kalau iya tulisan ini terbengkalai jadinya.

Sekarang ini muncul yang namanya eBook. Sialnya, saya tidak yakin pembaca mau beralih hati. Ada banyak sekali alasan untuk tidak berpindah, mulai dari segi biaya hingga kebiasaan lama.

1. eBook mahal
Kalau dipikir jangka panjang, mungkin memang jadi lebih murah. Perangkat eBook sekarang sudah seberapa turun harganya. Isinya? Tinggal download. Benarkah?

Pikiran kita sudah terbentuk dengan konsep bahwa apa yang ada di internet itu punya sesama dan tidak ada harganya. Kalau biasa dimanjakan dengan 4shared, Google, Facebook, YouTube, Kaskus, IDWS, dan sekawannya memang rasanya demikian. Nyatanya tidak begitu. Coba tengok ke situs Apple sebagai contoh. Saya juga semakin sadar bahwa segala itu masih ada harganya, bahwa there is no such thing as a free lunch, setelah memiliki laptop ini.

Di iTunes, beragam konten macam lagu dan film itu berbayar. Terkadang ada tawaran gratisan di awal bulan, tapi tetap saja kita harus mengambilnya menggunakan sebuah ID yang mengharuskan kita mengisi formulir tanda setia sebelumnya.

Buku juga demikian adanya. Terutama buku. Have you ever wrote a book? I have not, but I bet it's a pretty harsh world. Kalau memang eBook sedemikian gratisnya, tidak ada lagi yang mau menulis buku sebagai mata pencaharian.

2. eBook susah
Di atas sudah disebut bahwa untuk mendapatkan sesuatu secara legal dari internet, kita harus membayar juga. Baiklah, coba kita hapus variabel harga itu. Apa yang tersisa? Teknologi.

Mungkin memang susah dipercaya, tapi nyatanya di dunia ini pasti masih ada yang tidak tahu cara mengoperasikan internet. Bahkan saya sangsi semua orang sudah bisa menyalakan komputer. Bagi sebagian besar rakyat dunia, pergi ke Gramedia, Kwitang, dan Kinokuniya, mengeluarkan sejumlah uang dari dompet atau kantong celana, dan pulang ke rumah dengan sekeranjang buku dan senyum di muka masih lebih mudah ketimbang harus bercokol dengan internet dan formulir-formulir serta birokrasinya.

Itu masih masalah pribadi, bagaimana dengan koneksi? Kalau tinggal di Jepang yang download satu episode serial TV sudah secepat mengunduh laporan keuangan dari situs IDX, mungkin hal itu tidak jadi masalah. Sayangnya, masih banyak sudut dunia yang menggunakan koneksi dial-up saja kadang harus pakai baca doa.

Belum lagi masalah berbagi. Jatuhnya jadi seperti diskriminasi.

3. eBook
Masalah ketiga adalah eBook itu sendiri. Banyak kebiasaan lama dan fungsi-fungsi lainnya yang tidak bisa dinilai harganya jika buku-buku itu harus dibuang ke luar jendela. Di bawah ini adalah sebagian dari hal-hal tersebut.
- eBook tidak bisa dibolak-balik seperti buku biasa
- eBook tidak nyaman dibaca sambil berendam di bath tub atau buang air di kloset
- eBook tidak bisa dibakar saat cuaca dingin menghadang
- eBook tidak bisa dimakan saat lapar melanda karena terjebak di gunung saat dipelonco
- eBook tidak bisa dibaui halamannya
- eBook tidak bisa dibaca selama 24 jam karena layarnya akan meredup kemudian mati
- eBook tidak bisa dicoret-coret ketika butuh catatan mendadak
- eBook tidak bisa dirobek saat kesal karena pacar direbut orang
- eBook tidak bisa dipakai untuk mengganjal pintu atau kaki meja


Intinya, eBook tidak membawa keuntungan secara langsung bagi kebanyakan umat manusia. Padahal, idealnya setiap perubahan itu harus memberikan kemudahan dan sekaligus mengalahkan kelebihan-kelebihan pendahulunya. Kayu bisa menggantikan batu karena lebih ringan. Perkamen dan gulungan bisa mengalahkan kayu karena jauh lebih ringkas dan gaya. Buku bisa mengalahkan itu semua karena lebih tahan lama. I just can't see what eBook bring to the table that's not already there. And don't mention the trees.




Cheers, mate. :)

Sunday, December 5, 2010

Dahaga

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada akhirnya
Atau berakhir lelah saja?

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada yang sapa
Atau cuma tersisa kecewa?

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada indahnya
Atau hampa percuma?




Cheers, mate. :)

Can you read my mind?

Tell me what you find, when you read my mind.




Cheers, mate. :)

Friday, December 3, 2010

Sampaikan Dengan Tulisan

Saya bukan orang yang mudah - dan mungkin suka - bercerita ataupun bertutur tentang hal apa saja dengan suatu antusiasme yang seperti mengada-ada. Apalagi kepada muka-muka baru yang senantiasa berarti kepribadian-kepribadian yang mungkin baru juga. Setidaknya tidak secara lisan. Karenanya saya menjadi orang yang sangat menghargai segala bentuk tulisan, dan akhirnya bahasa secara umumnya.

Dengan term "segala bentuk" berarti yang saya maksud adalah sampai tingkat dimana yang terjadi adalah benar-benar perubahan sebuah benda menjadi kata saja. Misalkan bunga. Sampaikan cintamu dengan bunga kata mereka. Kebanyakan kita akan langsung pergi tancap gas atau nebeng teman yang berkendara untuk membeli bunga merah merekah berharga sekali makan siang seorang mahasiswa.
Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa bunga itu bisa diwujudkan oleh secarik kertas bertuliskan BUNGA berwarna merah yang ditoreh dengan sepenuh hati? Mungkin tidak begitu bisa diterima sebagai momen manis oleh khalayak, tapi jujur saja itu hal yang indah bagi saya. Bila saya mendapat kesempatan untuk menerimanya, akan saya pajang di kamar agar saya selalu ingat akan kekuatan kata dan bahasa. Ini bukan dibuat-buat agar terdengar intelek, ini kenyataan, ini genuine feeling.

Tentu saja saya bukan ekstremis yang menganggap CHEVROLET OPTRA sebagai Optra asli yang bisa dikendarai keliling di jalan raya sambil bergaya. Dari sini muncul makna kedua "segala bentuk", yaitu benda itu harus tidak berubah kegunaannya. Pada contoh bunga di alinea sebelumnya, tujuan semula tidak mengalami pergeseran. Diberikan sebagai wujud rasa kasih sayang, sama-sama bisa disimpan untuk mengingatkan momen yang terlewatkan, dan sama-sama indah bagi yang memahami makna di dalamnya.

Rasanya memang masih banyak constraint yang membatasi perubahan benda menjadi kata belaka. Karena sebenarnya tanpa aturan saklek saja realisasi konsep ini susah dilaksanakan dan kebanyakan hanya bersifat metafor, misalnya ketika memberikan CINTA yang notabene adalah sesuatu yang abstrak.
Kabar baiknya, saya tidak ada di sini untuk menggurui sesama, tapi untuk mengungkapkan sebuah pemicu untuk dipertimbangkan dengan segenap akal sehat dan kemudian didiskusikan jika memang memungkinkan. Jika Anda suka, boleh sebarkan konsep ini kepada rekan dan sejawat, dan mungkin beri sedikit komentar melalui berbagai sarana. Jika Anda tidak suka, ayo berdiskusi panjang lebar, jangan cuma bisa kritik tanpa memberikan solusi. Akan tetapi mungkin lewat tulisan saja, saya bukan orang yang mudah bercerita dengan antusias.




Cheers, mate. :)

Thursday, December 2, 2010

"Like heaven needs more to come in"

Di saat pojok ini hampir mati, seorang Ardelia Apti (Vice PO Maker FEUI 2011) membuat saya kembali berhasrat untuk menulis. Berhubung hasrat ini insidentil, hasilnya saya tidak bisa memberikan topik segar dan terkini. Untungnya saja label 'telisik musik' belum masuk kategori sampah terlupakan sehingga masih bisa dimanfaatkan di masa seperti ini.


And just why I picked this album? Percaya tidak percaya saya baru menikmati Copeland lebih kurang sebulan lamanya. Bahkan mereka sudah bubar jalannya. Tidak tahu salah siapa hingga saya tidak tahu menahu sebelumnya mengenai band ini. Terduga pertama mungkin Suryo Rudito, krucil sial yang mewarnai jaman SMP saya dengan The Beatles, Led Zeppelin, Queen, Guns N Roses, dan Nirvana hingga tuli terhadap musik milenium baru. Anyway, setelah sebulan berkenalan Copeland tidak banyak munculkan rasa kecewa, beda halnya dengan Vampire Weekend atau The Trees and The Wild misalnya.

Track by track by me:
1. Brightest - (2:06)
Baru mulai mereka sudah galau! "And I just know that she warms my heart and knows what all my imperfections are" dinyanyikan sepenuh jiwa layaknya seorang pengembara di ujung air terjun Niagara dengan latar bintang malam dan suara daun.

2. Testing The Strong Ones - (3:37)
Least favourite. May we go to the next song?

3. Priceless (For Eleanor) - (4:50)
Baru sampai di lagu ketiga saja saya sudah paham bahwa ciri Copeland dalam departemen lirik adalah pengulangan, yang untungnya tidak membuat bosan dan malah membuat pendengar ingin terus mengulangnya hingga hapal mati untuk kemudian dinyanyikan dalam sebuah lantunan massal saat konser pembubaran atau reuni nantinya, mengharapkan band ini tidak akan pernah punah, "And all of the world and all its power couldn't keep your love from me now, 'cause I need you."

4. Take Care - (4:11)
Kalau band terlalu bagus saat menyanyikan lagu yang membius, konsekuensinya adalah kurang nyaman didengarkan ketika mereka bermain sedikit bersemangat. Namun tetap saja hal itu tidak membuat baris macam "Keep that sweet heart of yours beating, I'll be right there" menjadi kurang puitis daripada semestinya.

5. When Paula Sparks - (4:55)
Ini lagu kedua yang paling panjang durasinya pada album Beneath Medicine Tree. Lagi-lagi mereka terdengar bersemangat. Walaupun dibilang bersemangat, jangan harapkan semacam rock modern karena vokal Aaron Marsh jelas-jelas seperti orang pasrah yang ada di altar eksekusi. Secara umum masih nikmat didengar, tapi bagi saya lagu ini kurang istimewa. Indahnya, lagu ini medley dengan lagu berikutnya, yang merupakan lagu berdurasi terlama dan jauh lebih lovable!

6. California - (5:26)
Kalau ada orang yang masih ogah pulang kampung setelah mendengar lagu ini, artinya antara hatinya terbekukan atau tidak punya ongkos untuk naik kendaraan. Coba disimak saja bagian chorus lagu ini, "All of us here in Florida are starved for your attention, we're starved for your attention." Copeland mampu membuat sebuah bujukan untuk pulang menjadi begitu puitis, tapi masih penuh kesederhanaan. Klimaksnya jelas sekali rintihan sang vokalis yang menyuarakan ajakan singkat dengan sepenuh rasa, "So come back from California."

7. She Changes Your Mind - (3:48)
Ini salah satu lagu semangat Copeland yang cukup empuk masuk ke telinga. But still, nothing is really special. Bagian terbaik mungkin hanya line pembuka lagu, "She changes your mind when you see the joy in her eyes." Segala lirik yang mengandung kata "mata" akan selalu bermakna.

8. There Cannot Be A Close Second - (3:38)
Lagi-lagi lagu semangat lagi. Saya hanya akan berkomentar mengenai sepotong lirik bagian tengah, "When you look at me there can be no hesitation" yang sangat polos dan mudah dimasukkan ke dalam pembicaraan sehari-hari.

9. Coffee - (4:46)
Akhirnya kembali masuk ke zona mendayu. Jenis lagu yang tiada banding ketika didengarkan pada petang menjelang gelap atau malam menjelang hitam. Nadanya mengajak untuk bermalasan, tapi masih ada sisi optimis yang mencegah diri untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh khas fase depresi. Kemudian rasanya tidak akan ada yang lupa bagian, "If it's not too late for coffee, I'll be at your place in ten."

10. Walking Downtown - (3:06)
Another least favourite. Sorry, guys.

11. When Finally Set Free - (3:56)
Terlepas dari drumline yang sedikit berbeda dari lagu lainnya pada bagian pembuka, nampaknya tidak ada aspek lain yang bisa saya berikan tanggapan lebih lanjut. Liriknya yang terus sama sejalan dengan musiknya yang juga serupa dari awal hingga akhir. Penutupan yang cukup rapi sebenarnya, dengan barisan lirik semacam, "Feel the pain teaching us how much more we can take, reminding us how far we've come."


3.7/5


Cheers, mate. :)

Wednesday, October 20, 2010

Macbook 13"

Ini cerita untuk mereka yang masih tidak percaya kekuatan impian dan harapan.

Kembali ke April 2010 lalu, ketika saya hendak dibelikan sebuah Macbook oleh kedua orang tua. Setelah melewati berbagai perbandingan logis dan bukan egoistis - menolak Macbook Pro aluminium yang kokoh itu karena saya anggap over feature dan hanya buang uang misalnya - akhirnya pilihan jatuh pada Macbook 13" yang suara tuts keyboardnya ketika digunakan untuk mengetik secara barbar sangat saya cinta. Daripada buang waktu, langsung saja atur segala macam di tempat yang notabene dilengkapi dengan koneksi internet berkecepatan kuda pacuan.

Saya tidak ingat secara pasti apa nama dari isian yang harus dilengkapi, tapi kira-kira dua teratas - layaknya segala jenis isian authentication - adalah seperti berikut:

Name:
Company:

Saat itu saya sudah diterima di jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, tapi dengan sembari menyebut nama Allah saya dengan cepat malah menuliskan "Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia". Kurang ajar. Bukan kemungkinan lain dari hasil SIMAK mendatang yaitu FH UI atau FISIP UI (saya pilih Fiskal) dan bukan hasil yang sudah ada di depan mata yang adalah FEB UGM.

Ayah dan ibu saya yang melihat tingkah itu langsung tersenyum seolah merestui, tapi sekaligus terlihat menantang. Ada sedikit rasa takut sebelum menekan tombol submit/enter/OK/apapun itu yang saya tidak terlalu ingat untuk benar-benar mendaftarkan perangkat ini secara permanen, but in the end I dare to dream. Yang terjadi, terjadilah.

Sisanya hanya hari penuh cemas dan malam penuh harap. Now here I stand. Now, I dare you.




Cheers, mate. :)

Thursday, September 30, 2010

Sedikit Soal Demonstrasi

Karena unjuk rasa adalah isu sensitif di antara sesama mahasiswa, saya hanya akan berujar singkat saja.

Saya selalu ingin turun ke jalan jika tidak menyusahkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika memang suara pelan sudah tidak lagi didengarkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika semua dengan rapi direncanakan.

Sayangnya, ibu saya belum setuju.

Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin menginap satu malam di rumah teman. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin tinggal saja di kostan. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin bergabung dengan pencinta alam dan pergi ke hutan-hutan.

Cukup satu alasan itu untuk mengurungkan niat saya. Bukan karena terpaksa, bukan karena manja. Semua karena alasan logis dan pertimbangan empiris. Ke depannya, semoga bisa.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 29, 2010

Kembali Ke Alam Bebas

Buat almarhum Soe Hok Gie, gunung adalah pengasingannya dari kemunafikan ibu kota. Buat almarhum Christopher McCandless, walaupun pada akhirnya ingin kembali kepada peradaban, bersatu dengan alam adalah pilihan tanpa penyesalan. Kalau buat saya, cukup malam hari kota Jakarta.

Ada suatu nafas yang hanya bisa dirasa saat matahari sudah tidak nampang di langit biru muda. Ada suatu ritme yang hanya bisa dirasa saat lampu kendaraan dan lampu jalan mulai menyinari muka-muka para penglaju. Ada suatu bau yang hanya bisa dihirup saat dingin angin berhembus dengan santai menerpa pagar besi dan tembok beton. Ada suatu suara yang hanya bisa didengar saat suara klakson beraduan dengan mesin bus tua dan sepeda motor kredit tiga bulan. Ada suatu yang lain dari malam hari di Jakarta, ibu kota Indonesia pusaka.

Berdesakan dengan para Jakartan di dalam angkutan Koperasi Wahana Kalpika. Menunggu bus patas di antara muka-muka kelelahan. Mendengarkan keluh kesah dan priwitan para petugas berseragam. Menikmati indah sengaunya suara pengamen berbaju compang. Merekam bokeh-bokeh hasil bias di sepanjang mata memandang. Memberi kursi reyot bus kepada ibu yang nampaknya sudah hampir pingsan. Berdiri di aspal hitam dingin dan merasakan bahwa semua unsur berputar seirama dalam suatu harmoni. Ada suatu yang istimewa dari malam hari di Jakarta, ibu kota yang padat penumpang.

Ini hidup. Cobalah jika belum pernah.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 22, 2010

Jika Anda Adalah Saya

Jika Anda adalah saya, mungkin dunia akan terasa makin absurdnya. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin semua hal akan jadi lebih berharga. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin angin malam kian menyengat hawanya. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin Anda bisa sedikit lebih mengerti. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 15, 2010

Good Is Better Than Better

Selamat datang Anda. Ayo bermain kata lagi dengan saya.

"Good" itu "pleasing and welcome" atau dalam bahasa Indonesianya mudahnya "bagus" atau "baik". "Better" itu "more appropriate", kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: "lebih bagus" atau "lebih baik".

Ambil misal pemilihan umum ketua Perkumpulan Perampok Gigi Hijau. Jangan dicari di Google karena ini hanya fiksi belaka, wahai para penggila dunia maya. Di sana ada tiga calon yang tersedia. Ada Anro, si bengis yang selalu memberi susu basi kepada setiap korban-korbannya. Ada Rogi, si lalim yang tidak pernah lupa membersihkan muka anak kecil yang dia ambil permennya. Ada Hone, si kejam yang memberi kata-kata mutiara kepada wanita-wanita yang dia perkosa. Tidak ada yang baik dari antara mereka; The Good.

Apakah ada yang lebih baik?

Kalau Anda benci anak kecil, Anda pasti memberikan suara untuk Rogi. Kalau Anda sering patah hati karena perempuan, Anda pasti angkat tangan untuk Hone. Kalau Anda punya banyak persediaan susu basi, silakan pilih Anro. Paham?

Itu baru dalam pengertian "good" dalam arti "good deeds" atau perbuatan-perbuatan yang secara moral adalah benar. Sangat mudah membedakannya dengan "better" karena dalam pemilihan ketua rampok, yang "better" adalah yang lebih biadab. Sebuah lawan dari "good" itu sendiri. Ayo masuk ke kejadian kedua.

Coba sekarang liat pemilu negara A. Ada tiga calon juga. Yang pertama adalah Andi, seorang bapak berbadan agak tambun yang sopan dan santun. Yang kedua adalah Namia, seorang ibu yang juga berbadan agak bulat dan punya semangat berapi-api. Yang terakhir adalah Kimo, seorang paman berkacamata yang suka bergerak cepat.

Terutama bagi mereka yang antipemerintah, pastinya tiga calon ini tak ubah beda dengan rampok-rampok di atas. Buat mereka yang tidak pernah tahu berita malah lebih parah, masuk golongan putih atau sekadar ikut-ikutan teman. Saya sendiri tidak tahu mana yang orang baik karena masih seorang pemilih pemula.

Namun demikian pasti ada yang lebih baik. Bisa jadi yang lebih cepat. Bisa jadi yang bersemangat. Bisa jadi yang sudah berpengalaman dan ingin melanjutkan perjuangan. Tapi yakinkah mereka "bagus", "baik", "good"?

Mulai berpikir bahwa "better" memang lebih baik dari "good" sebagaimana mestinya? Tabahkan diri Anda.

Ini contoh ketiga.

Sebuah perlombaan matematika. Juara 1-nya bisa sedikit berbangga karena menjawab benar 5 soal dari 100 tersedia. Juara 2 hanya mampu memecahkan 3 soal, mengalahkan juara 3 yang dengan sukses salah hitung dan tidak mengisi 98 soal.

Jelas kan?

Memikirkan hal yang sama dengan saya? Kalau saya sih sedang memikirkan ujian-ujian masuk Perguruan Tinggi, terutama SIMAK dan UTUL yang saya ikuti. Bukan UAN, karena UAN tidak peduli apakah Anda lebih baik dari sesama pelajar seluruh Indonesia. UAN hanya peduli apakah Anda cukup baik untuk berhasil melewati batas nilai yang tersedia.
Berbeda dengan ujian masuk Perguruan Tinggi. Saya tidak tahu memang sistem aslinya seperti apa, tapi dari sosialisasi-sosialisasi yang ada di sekolah dan bimbingan nampaknya yang digunakan adalah hukum rimba. Berdoa saja, "Jadikan mereka lebih tidak bisa dibanding saya!" dan bukan "Jadikan saya bisa mengerjakan soal-soal tersedia!" Atau alternatif lainnya cukup pilih saja program studi yang kurang diminati. Beruntung kalau Anda memang suka, kalau tidak? Sedih ya?

Sekarang coba pikir ulang. Are you really that good? Are we really that good? Apakah Anda dan saya bisa berada di sini dan sana karena memang hebat? Ataukah sekadar lebih hebat, lebih mujur dari yang lainnya?

Jangan cuma mau jadi sekadar "better" dibanding orang lain, jadilah orang yang "good" seutuhnya.

Masih berpikir "better" lebih tinggi beberapa derajat dibanding "good"? Bagus, jika Anda memang sudah bersikap kritis dan punya pendirian yang teguh. Silakan, jika Anda masih ingin mencari-cari sumber lainnya untuk menentukan keputusan. Jangan, jika Anda cuma skeptikal dan hanya tahu menjadi oposisi.

*oh ya, saya ternyata masih hidup! (baca post sebelumnya) terima kasih ya Allah!*




Cheers, mate. :)

Sunday, September 12, 2010

Once, Twice, Thrice

Intinya sih saya (masih) cukup cemas sekarang.

Hari Jumat, dua hari lalu, ada kejadian yang sungguh menyeramkan. Saya dan keluarga baru pulang setelah berkeliling Bekasi dan Jakarta untuk bertemu dengan sanak saudara. Jam 10 malam jika tidak salah mengingat. Alih-alih langsung mendirikan shalat isya seperti ayah saya, saya malah duduk saja. Ayah saya selesai berdoa, berganti dengan adik saya. Kembali, saya malah tidur telungkup. Maka terjadilah.

Saya mulai tidak bisa menarik napas, bersamaan dengan munculnya niat saya untuk bangkit dan mengambil air wudhu. Saya kira itu pengaruh bantal yang menutupi seluruh kepala saya, karenanya saya coba gerakkan tangan untuk lontarkan sekaligus juga untuk melihat apakah ada sebuah gaya - force, bukan pose - di atas saya. Apa daya, sekarang tangan yang dilumpuhkan. Perlahan seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuh saya. Dari ujung kaki, ujung tangan, seluruh lubang, dan ujung kepala. Sakit. Di samping saya ada ayah yang lega setelah menunaikan kewajiban ibadahnya dan adik yang sedang khusyu berdoa. Ironis sekali. Maka saya coba teriakkan. Suara saya tertahan. Sekarang rasa sakit terkumpul di kepala. Terdengar bunyi melengking seperti feedback pengeras suara ukuran giga yang menulikan pendengaran. Saya berkedip. Saya terbangun. Saya lemas, tapi tidak lelah.

Penjelasan ilmiah mungkinlah ini peristiwa yang disebut ditindih/ditiban - sleep paralysis? - yang marak di kalangan Anda sekalian. Nyatanya, saya belum pernah sekalipun merasakan sehingga tidak bisa berikan jawaban. Hal lainnya, ketimbang diberi beban berat dari atas, saya merasakan perasaan seperti disedot yang amat sangat.
Kemungkinan lain adalah sebuah fase lucid dreaming. Sama seperti ditindih, saya belum pernah merasakannya sebelumnya. Apapun itu, saya senang masih sempat shalat setelahnya.

Hari Sabtu, satu hari lalu, ada kejadian yang sungguh menegangkan. Saya dan keluarga besar yang menyewa sebuah bus kecil sedang dalam perjalanan pulang menuju Bekasi dari arah Subang. Masih pukul delapan di segenap kilometer tol Cikampek. Di tengah renungan di kursi paling kanan dan paling belakang, terjadilah.

Sebuah bus warna putih berinisial PJ - raja tol yang serampangan - melesat cepat dari kanan, langsung ambil kiri saat tiba momen yang tepat. Bus buatan Cina malang yang kami tumpangi terpaksa mengelak ke kiri juga. Seketika sarana ini menjadi wahana. Setelah mengelak dengan susah payah ke kiri sampai terasa terangkat dari jalanan, si pengemudi kembali membalikkan kendali ke kanan. Mulai terdengar teriakan dari para ibu dan para balita yang cukup mengancam. Kembali lagi bus mengangkang, roda kirinya tidak ingin berteman dengan aspal jalan. Lalu akhirnya, setelah banting kiri sekali, lajur bus lurus kembali. Ketimbang berdetak kencang saat kejadian atau setelah kejadian, jantung saya baru berontak sekitar tiga menit setelahnya.

Baru diketahui kemudian, bus kami memang tidak dalam kondisi prima. Rem anginnya sering bocor, bautnya banyak yang lepas, bagian luar rodanya sudah ada yang terkoyak, stirnya sendiri tidak bisa langsung berbelok karena ada bagian yang hilang. Ini serius. Sekarang saya sedikit punya gambaran tentang perasaan mereka yang masuk berita.
Untungnya pendingin udaranya bekerja dengan sangat baik.

Hari ini hari Minggu. Masih pagi. Jika saja memang akan terjadi sesuatu, saya harap saya bisa berbagi lagi.

"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!" -Truman (Jim Carrey)




Cheers, mate. :)

Thursday, September 9, 2010

Berlebar

Lebaran telah tiba, selamat berlebar! (layaknya berlibur saat liburan)

Banyak SMS, MMS, BM, email, tweet, wall post, video, berisi ucapan maaf dan sekawannya beredar di udara malam ini. Agak sedih juga, kartu ucapan yang kreatif sudah langka kehadirannya. Yaa, tapi setidaknya THR masih diberikan dalam bentuk fisik yang bisa dikeplak-keplak dan bukan berupa sederet angka dan huruf tertera di buku tabungan atau tanda terima transfer uang dari mesin ATM.

Soal ucapan, ini dari halaman profil Twitter saya:

Puasa belum usai buat jutaan jiwa yang hidup di jalan. Buka mata, hati, telinga. Hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia.

Setelah satu bulan penuh kegiatan mahasiswa baru, nampaknya itu hasilnya. Mahasiswa. Kalau Anda perhatikan, di atas sana "Berpikir subjektif tidak membantu" juga sudah ubah nama jadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan". Akhirnya tiba saatnya untuk bisa mulai didengar. Tinggal tunggu saja ke depannya. Kekhawatiran ibu melawan semangat aktivis ayah.

Itu saja. Robert H. Frank dengan 'The Economic Naturalist'-nya yang ada di urutan teratas tumpukan buku di ujung meja sukses menggoda saya.




Cheers, mate. :)

Tuesday, September 7, 2010

Ikut OPK, Bikin Semangat

Sabtu lalu, Orientasi Pengenalan Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (OPK FEUI) 2010 - maaf, kebiasaan bikin tugas essay jadinya tidak langsung disingkat saja - resmi ditutup oleh Project Officernya sendiri, Kak Luthfian (atau Lutfian?). Ini cerita saya.

Petang hari itu, makara abu-abu yang seharusnya berdiri kokoh malah tumbang tidak karuan. Semua juga tahu itu berkat renovasi di saat yang kurang tepat, tapi apa memang begitu? Beberapa kakak dari Komisi Disiplin menyuarakan pendapatnya (baca: berteriak bersahut-sahutan) bahwa makara jatuh karena kami, mahasiswa baru angkatan 2010, adalah pemuda-pemuda penyakitan, plagiat, dan manja. Seorang realis acuh mungkin akan menganggapnya sebuah bluff kosong yang cuma bisa dipercaya oleh anak di bawah umur. Seorang yang memang tidak ingin berada di situ bahkan otaknya sudah di mal-mal besar bersama teman-teman sepergaulannya. Saya, demi Allah, menangis. Setiap kata "kecewa", "mengecewakan", dan kata sifat lain yang memalukan serta beragam petuah terlontar dari mulut kak Luthfian, setiap itu juga terasa ada beban yang ditambahkan.

Kemudian pernyataan resmi penutupan OPK FEUI 2010 pun dikumandangkan. Air mancur bermancuran. Beban kembali ditambahkan. Di antara ratusan rekan yang menyanyikan 'Economy Goes Marching In', di antara riuh, di antara peluh, saya cuma bisa berdiam. Jauh dari bangga, saya malu dan kecewa. Lalu sekali lagi saya menoleh ke arah makara abu-abu yang terlelap di pinggir kolam. Perasaan bersalah semacam ini terakhir saya dapat ketika menatap ke bendera Indonesia di tengah malam bolong saat agenda Bintama (Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa) malam terakhir di markas Kopassus, Serang. Suasananya serupa. Di antara lantunan lagu 'Padamu Negri' dan letupan senapan api, sebuah kecupan untuk sang saka merah putih membebaskan segala rasa.

Saya tidak berharap Anda yang realis ikut meresapinya dengan seksama. Anda yang tidak suka mengingat masa lampau juga silakan berlalu saja. Saya hanya membukakan pikiran saya, suatu alam yang Anda silakan masuk di dalamnya.

Bagaimana kalau ada tangan-tangan tak tampak yang menyebabkan jatuhnya jadwal renovasi bertepatan dengan pelaksanaan penutupan OPK FEUI 2010? Bisa saja, entah dari mana, para pembuat keputusan yang saya juga tidak tahu siapa, tiba-tiba dibuat lupa akan jatuhnya acara penutupan OPK di hari 4 September itu.

Bagaimana kalau makara abu-abu kebanggaan FEUI itu memang punya kekuatan magis seperti sorting hat di seri Harry Potter? Bisa saja, layaknya Universitas Indonesia yang memang punya banyak cerita mistis, kolam makara bukan hanya wujud arsitektur biasa yang bukan hanya punya nilai estetika, tapi juga dapat menilai kualitas para Maba?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat penyakitan?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat plagiat?

Bagiamana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat manja?

Kemudian rombongan dibubarkan untuk segera bertolak ke Pertamina Hall. Sambil berbalik kanan, sekali lagi saya arahkan pandangan ke makara abu-abu yang tergeletak lesu.

Maaf dan terima kasih kepada seluruh panitia OPK FEUI 2010.




Cheers, mate.

Monday, September 6, 2010

Feedback

Bukan suara ngikngok melengking indah mengganggu pendengaran saat pick-up gitar elektrik didekatkan dengan amplifier - black amplifier! amplifier, amplifier! - yang dimaksud oleh saya dengan feedback di sini. Feedback (|ˈfēdˌbak|), menurut New Oxford American Dictionary, adalah "information about reactions to a product, a person's performance of a task, etc., used as a basis for improvement."

Apakah yang saya tulis di sini ternyata memang ada yang membaca?

Mohon beri tahu saya. Tinggalkan di sana. Mention di Twitter dalam 140 kata, berikan komentar di bawah sini terutama, penuhi wall Facebook dengan surat pembaca. Pujian, cacian, sanggahan, hadiah, uang, makanan, sarung. Apa saja. Tapi yang lebih penting adalah apa adanya.

"Rather than love, than money, than fame, give me truth." -Thoreau

Terima kasih kepada orang yang belakangan memberi saya feedback, semisal saat saya menulis sebuah kalimat panjang dua baris untuk Saptraka, seorang teman dari Anissa yang saya temui di halte Masjid UI, Aditya yang suka mencuplik tulisan-tulisan saya tanpa sengaja, dan yang paling baru adalah Kania dan Uthi yang angkat bicara masalah indie.


*maaf hanya berbincang sebentar, Nickels mulai tak bisa tahan sabarnya*




Cheers, mate. :)

Saturday, August 28, 2010

Independen

Kalau menuruti New Oxford American Dictionary yang disertakan oleh Steve Jobs dalam setiap pembelian Macbook, arti pertama dari "independent" adalah "free from outside control; not depending on another's authority".

Pun kali ini yang akan dibahas bukan "independen" dalam artian "mandiri", tapi cenderung kepada "berbeda" atau "merdeka", tapi bukan "kemerdekaan".

Independen bukan selalu film 78 menit berbudget rendah dengan dialog unik, musik-musik galau atmosferik berbahasa Skandinavia, atau program studi yang jarang penumpangnya. Menjadi seorang yang indie juga bukan berarti jadi skeptis terhadap arus besar dunia, menolak kemapanan, dan/atau duduk di pojokan ogah untuk berteman. Yang paling penting, independensi bukan ada untuk dipaksakan.

Kebanyakan - jika 'semua' terlalu memaksa - dari kita rasanya pernah masuk ke dalam tahap indie wannabe. Idealisme itu memang kepunyaannya anak muda. Namun kemudian, idealisme siapa? Jangan jadi idealisme dia menginvasi Anda, jangan jadi idealisme mereka mengubah Anda, jangan jadi idealisme saya membayangi Anda. Siapa juga berkata yang sudah ada itu pasti tidak ideal?

Setelah beberapa pengkajian berdasar pengalaman sendiri (tidak absah) dan logika (seadanya), sekarang saya melihat sikap independen lebih kepada pendekatan how daripada what. Maksudnya, saya lebih tergugah melihat cara yang berbeda dibanding sesuatu yang memang berbeda. Karena di usia tua, sudah tidak banyak yang bisa dibuat baru di bumi. Pun yang sudah ada seharusnya sudah tatanan terbaik dengan berbagai perbaikan dari kekurangan masa lampau. Sudah bukan saatnya lagi membuat api atau mencipta roda.

Daftar hal yang saya dulu anggap sangat indie: The Raconteurs (band), Little Miss Sunshine (film), Vernon God Little (buku), Kriminologi (program studi), dan parkour (hobi).

Well, mereka masih indie karena nyatanya memang saya tertarik tanpa pengaruh siapa-siapa - free from outside control. Bedanya, sekarang saya lebih cenderung "Oke lah, saya suka ini, selesai," dan bukan lagi, "Payah kalian, ini baru keren, dasar mainstream." Contoh-contoh di atas menjadi sesuatu yang indie karena sesuai dengan diri saya, bukan karena tidak sesuai dengan diri kebanyakan orang. Memang faktor tidak-sesuai-kebanyakan juga berpengaruh dalam membuat hal-hal di atas menjadi indie, tapi tidak dominan.

Daftar hal yang sekarang sangat indie: jurusan Manajemen Keuangan, Miley Cyrus, dan naik mobil pribadi.

Dulu saya selalu berminat untuk masuk konsentrasi SDM (dan fakultas Psikologi), tapi setelah perbincangan dengan orang tua yang menyadarkan saya akan salah satu lagi strength saya, akhirnya finance terlihat begitu menariknya. Dengan pendekatan berbeda, saya bisa melakukan hal yang dipilih oleh 50% mahasiswa Manajemen menjadi sesuatu yang sesuai dengan diri saya, dan mungkin hanya sesuai dengan diri saya.
Sama halnya dengan Miley Cyrus (tapi tidak Hannah Montana). Temannya Jonas Brothers dan Demi Lovato - yang tidak saya suka - ini nyatanya adalah seorang idola. Tampilannya, suaranya, liriknya, semua saya suka. I'm free from outside control, there is no such thing as a guilty pleasure. Banggalah akan apa yang Anda suka. Saya suka Miley Cyrus! Saya suka Gita Gutawa!
Mobil pribadi adalah termasuk hal yang saya cukup hindari ketika dulu masih bersepeda ria kemana-mana. Yang terjadi adalah kemudian saya sadar bahwa jarak 20 km lebih di Indonesia itu penuh rintangan. Lainnya, ada juga masalah efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Saya tidak akan buang 1 jam yang bisa berguna untuk asistensi, sejumlah kalori untuk membuat makalah, dan beberapa juta untuk membayar sepeda lipat.

Daftar hal yang sekarang saya pikir tidak indie: bersepeda.

Sewaktu SD dan SMP (dan SMA, walau hanya untuk pergi kursus) bersepeda adalah lifestyle saya. Main ke rumah teman, bertualang ke kampung-kampung, balapan liar, bahkan menuju sekolah saat kelas 7 hingga 9. Tanya saja penggila sepeda angkatan 8 SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama kalau tidak percaya. Sekarang? Sudah tidak bisa, tidak efisien tepatnya. Apalagi mahalnya menggila. Bike to work atau work to get a bike? Kalau sekadar beli telur di warung sih menggowes sepeda lama saya masih menyenangkan.

Lain hari, jadilah diri sendiri bukan karena berbeda dari orang lain. Keep yourself to yourself.




Cheers, mate. :)

Wednesday, August 25, 2010

Tiga Tahun Untuk Selamanya

Di hati kecil saya, setiap ada yang berteriak apa saja, baik itu "Hidup mahasiswa" atau sekadar "1 2 3", saya masih bersiap dan berharap itu adalah "Sapta Garuda" untuk kemudian saya balas dengan sekuat tenaga.

Happy 3rd birthday, Saptraka!




Cheers, mate. :)

Tuesday, August 24, 2010

Anissa Paramita

Nah ini dia. Dia adalah saingan saya yang membuat saya gagal menjadi juara kelas semester ganjil karena kalah 1 poin saja. Dia adalah kebanggaan saya yang berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui jalur PPKB. Dia adalah teman saya yang saya tahu akan selalu ada di sana ketika saya bahagia ataupun muram.
Saya menyatakan perasaan - dan diterima, langsung, yes - kepada Anissa pada sore hari (setelah sekolah bubaran) tanggal 28 April 2009 di depan kelas Matematika lantai 2. Beberapa hari sebelumnya kami juga sempat berjalan-jalan ke Planetarium TIM (gagal, lalu pindah ke Taman Menteng) bersama Beler, Gilang, Bidi, Andra, Gisha. Tadinya mau jadian saat itu saja, tapi saya harus disiplin untuk menepati janji yang saya buat kepada diri sendiri. Alhamdulillah sampai detik ini masih bersama setelah melalui pertengkaran-pertengkaran kecil maupun besar, tawa canda dan senda gurau, masalah yang dihadapi bersama dalam berbagai keadaan, kecemburuan dan persaingan, satu setengah bulan Ramadhan dan satu tahun baru serta 15 bulan. Hey, I mean, how many times would you find love at an accounting competition?

Kelas 12 bersama Saptraka isinya masih beringas terlepas dari ujian negara dan ujian masuk universitas yang membayangi setiap harinya. Dimulai dari kegilaan karya tulis pada semester 1 dan berakhir dengan gegap gempita kelulusan di akhir semester 2. Sebenarnya Sky Avenue juga diadakan saat sudah duduk di kelas 12, tapi berhubung saya ingin membuat pandangan bahwa kelas 12 isinya akademis melulu, saya tarik keluar acara besutan Imo dan Channi itu dan malah mengajak masuk pengerjaan kartul yang sebagian terjadi di kelas 11.

Kalau bicara soal karya tulis, yang terpikir itu ada dua: cabut dan bu Epy. Seru deh pokoknya. Cabut paling ikonik bagi saya adalah cabutnya Punk dan Afghan - sudah dimulai sejak kelas 11 - karena alasannya selalu sama: pergi ke bank. Saya sendiri termasuk orang yang lebih suka bekerja di rumah (memang belum punya laptop) daripada bersusah payah di sekolah (memang pemalas). Karena itu saya cukup kagum dengan upaya mereka yang giat melakukan penelitian mereka di bank mana pun itu.
Sidang karya tulis saya pun berlangsung wajar. Bu Yuni, Pak Risang, dan Pak Ali berlaku santai dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya perkirakan sehingga tidak membuat saya menjadi kelabakan. Saya dengar banyak yang bermasalah di bidang Ekonomi, tapi nampaknya Saptraka pada akhirnya tidak ada yang tersandung karena masalah karya tulis. Mengulang dan merevisi ada beberapa, tapi nampaknya tumpukan hard cover di meja bu Epy pada akhir tahun ajaran sudah cukup menjelaskan.

Di semester 2, tidak ada satu kejadian spesifik yang benar-benar bisa saya ingat karena setiap harinya adalah potongan-potongan penting yang jika dirangkai barulah menjadi satu kejadian, yaitu kelas 12 itu sendiri. Setiap harinya dipenuhi dengan harapan, doa, kecemasan, belajar, peluh, tapi masih diselingi senyum, tawa, cerita, dan kebersamaan. Belajar efektif yang dikelompokkan sesuai daya tangkap dan dikondisikan ulang durasinya, tryout rutin yang diadakan di kelas yang dingin, merelakan waktu untuk belajar sampai malam di bimbingan, memulai pekerjaan untuk Buken dan prom night pelan-pelan, tapi karena dihadapi bersama rasanya masih menyenangkan. To live that moment with Saptraka is one experience among the other.

Jujur sampai sekarang saya belum benar-benar merasakan perpisahan, makanya tulisan tahun ketiga ini juga mungkin tidak akan terlalu seru (tidak banyak kata-kata yang ditebalkan) dan akan berakhir sebentar lagi. Saya sadar sepenuhnya bahwa jarang lagi akan terjadi tegur sapa antara semua, tapi saya masih bisa berkata, "Lalu apa?" Mungkin karena saya saat ini belajar di Depok dan bukan di Bogor, Bandung, Jogja, Surabaya, Semarang, Aceh, Bali, Kalimantan, Lombok, Papua, Malaysia, Australia, Jepang, Jerman, Belanda, ataupun Amerika. Mungkin juga karena saya tahu bahwa dunia sekarang adalah sebuah desa kecil yang saling terhubung dengan hadirnya Facebook, Twitter, Skype, BlackBerry, Foursquare, dan komplotannya. Ataukah mungkin ini karena saya memang belum benar-benar memutar ulang setiap detil yang sudah terjadi selama tiga tahun ke belakang?

Untuk sekarang saya cuma bisa berharap kehadiran Buken yang sedang mengalami masalah di urusan perizinan (doakan kami, tapi jangan tanya mengenai) dapat memberi saya pencerahan. Sampai saat itu datang saya harus mengakhiri tulisan ini dan akan mencoba menutup mata dan mengingat lagi apa yang sudah terjadi. Ketika sudah mampu, saya akan beri.




Cheers, mate. :)

Monday, August 23, 2010

Skyblitz

Tahun kedua! Skyblitz 08! The year of the geeks! Mulai dari hunting rutin yang rutenya itu-itu lagi, tapi tidak lekang dihabis jaman sampai ngobrol ngalor ngidul selama dua jam setiap Jumat siang. Mulai dari Labs Phylosofi di Monas yang berbintang saya dan Thomy sampai Hunting On The Trip yang membawa Aldo jadi juara dua. Mulai dari cetak manual di kamar gelap jadi-jadian sampai fotonya Yasmin yang "dicuri" tukang cetak depan Mayestik. Time of my life, man. I'm glad I was there, I'm proud of being a part of us. Daripada dijelaskan dengan kata-kata, sehubung kita klub fotografi, langsung saja 1000 kata.


Hunting Inisiasi, Kota Tua


Hunting On The Trip, Tangkuban Perahu


Rally Photo Labs Phylosofi, Monas


Kalau berbicara kelas 11, yang ada hanya kepanitiaan, kepanitiaan, dan kepanitiaan yang bikin sibuk dan kelelahan (not to mention that my grade was, *cough*, good enough those two long semesters). Kalau tidak salah ingat, kepanitiaan pertama saya adalah Sky Battle 09 sebagai seksi produksi, karena Tarash berhasil merebut saya dari Wanda. Saat saya berpikir saya dapat menjadi dokumentasi di kemudian hari, saya salah, besar. Sekali produksi, tetap produksi. Produksi. Pekerja balik layar yang bukan hanya bekerja sebelum hari H dan saat hari H, tapi juga setelah hari H. Pekerjaannya yang ada di ujung rangkaian sangat bergantung kepada tiga seksi lainnya: Desain, Sponsorship, dan Bendahara. Desain belum ada, apa yang mau dicetak? Desain sudah ada, ada sponsor nambah minta dipajang logonya di ujung-ujung, cetak ulang sampai semaput. Untungnya Bendahara, si DP, bukan jenis pelit yang menagih rincian setiap butuh uang keluar (walaupun masih mengharap biaya keluar sedikit-dikitnya). Tetap saja tapinya, kalau disuruh memproses 400 kaos panitia berkualitas bagus dalam 2 minggu kurang dengan dana yang harus ditekan, maaf saja kalau hasilnya tidak selembut sutra.
Kalau mau bicara soal Sky Battle, garis besarnya itu benar-benar kejar-kejaran desain dengan Gilang. Mulai dari baju sampai piagam, dari spanduk sampai big banner. Ada satu kejadian menyedihkan soal kejar tayang big banner. Di sore hujan, saya dan Gilang berjalan kaki untuk mengambil big banner (disebut 'big' karena ukurannya lebih dari 5mx3m) di Jumbo dekat (baca: lebih jauh dari sekadar jarak 10 rumah) sekolah. Ketika membopong gulungan berat tersebut menggunakan bahu di tengah hujan menuju kembali, saya terperosok ke dalam selokan yang tidak ditutup dengan sempurna oleh para pekerja (mungkin karena hujan menerpa). Kalau basah saja tiada apa. Sialnya, di sana ada pasak sebesar gaban yang mencuat, merobek daging saya hingga memuncratkan darah segar. Miris, Gilang dan pengguna jalan lainnya malah menertawakan saya yang meringis kesakitan.
Itu baru peristiwa sebelum hari H. Di hari H ada juga konflik-konflik kecil yang menumpuk. Salah satu contohnya adalah cerita tentang tidak tersedianya rol kabel yang berujung dengan saya membuang (baca: melempar dengan keras dari jauh ke dalam tong sampah sehingga menimbulkan suara keras yang menarik perhatian) sebuah rol kabel kutu yang tidak berfungsi dan keluar dari GOR Bulungan setelah berteriak kepada Aryus dan langsung bersegera menuju Hero untuk membeli sebuah rol kabel baru yang layak pakai. Kalau dongkol-dongkol dalam hati lainnya pasti ada, tapi kalau emosi dituruti bukan profesional namanya.

Selanjut-lanjutnya ya begitu juga isinya kelas 11. Jadi koordinator seksi produksi Sky Fest 09 yang kerja dan timnya termasuk enak kalau menurut saya, balik lagi jadi stafnya Tarash dan Derza pas Sky Avenue 09 yang supercapek dan superberantakan karena berbagai kendala menghujam, menggodok foto-foto Skyblitz untuk lelang Sky Lite yang sampai sekarang belum dibayar-bayar hasilnya (maaf ya kawan-kawan yang terjual begitu saja fotonya). Di antara kepanitiaan-kepanitiaan ada juga cerita-cerita bersama 11 IPS 2: gerbong lepas di Madukismo, diketawain habis-habisan sama Bidi cs. hanya karena dipanggil Punjabi, main dotkom-dotkoman sama Nana dkk. di bus selepas kunjungan ke Taruna Nusantara, main perang tutup botol di kelas kosong bareng cowo-cowo, dimarahin Diandra gara-gara berteriak, "Diandra gila!", berantem triple threat di belakang masjid sama Gilang, Beler, Wildan, wah pokoknya tipikal kelas 11 sekali.

Pada kelas 11 ini juga lah saya pertama kali berkenalan dengan Anissa Paramita. Walaupun bertegur sapa dan berbagi cerita baru ketika Accombat Atma Jaya 2009, tapi saya sudah tahu dia sedari sebelumnya. Pertama kali benar-benar bertegur sapa pun sudah agak lama, di awal tahun ajaran - yang tidak disadarinya - ketika kelas kosong dan Gilang memainkan sebuah game cowboy di laptop bersama Bidi, Baskara, dan Beler. Penutup tahun kedua ini adalah dia. Kalau Anda suka (dalam artian sering, bukan harus menggemari) membaca Volgorian Cabalsette, pasti Anda tahu momen-momennya.




Cheers, mate. :)

Sunday, August 22, 2010

You and I Both

Karena tiga hari dari sekarang - 25 Agustus 2011 - Saptraka (Sapta Garuda Adhikara) akan berulang tahun yang keempat (salah, kata Acil ketiga, untung saya tidak jadi masuk Akuntansi), saya menetapkan selama tiga hari ke depan saya akan membuat tulisan yang setiap harinya mewakili setiap tahun yang saya habisi bersama Saptraka. Judul dari setiap tahun adalah hal yang pertama kali muncul ketika saya memikirkan tahun itu. Di detik saya menulis kalimat ini, saya sudah tetapkan tiga judul tersebut. Judul-judul yang akan muncul bukan tentu hal yang terpenting dari tahun itu, tapi kemungkinan demikian. Satu yang pasti, mereka bukan pilihan. Semua sama penting, hanya saja mereka muncul lebih awal, berdiri lebih tinggi, dan terlihat lebih menonjol.

Judul tahun pertama ini 'You and I Both', sebuah judul lagu dari Jason Mraz, yang dinyanyikan oleh Eros dan Gote di pentas seni MOS 2007 Saptraka. Sebelum lagu ini, memang Figra tampil dengan bombastis diiringi lagu Project Pop (kalau tidak salah ingat, mengingat pertunjukan dari Figra sangat memecah konsentrasi). Saat mereka naik panggung dan mulai bersenandung, saya tahu pasti X-B adalah kelas dengan penampilan terbaik. Chemistry yang mereka tampilkan bukan chemistry dua anak SMA yang baru kenal beberapa hari, chemistry yang mereka sajikan itu bagaikan chemistry antara Sid Vicious dan Nancy Spungen, Julius Caesar dan Cleopatra, John Lennon dan Yoko Ono, Nicholas Saputra dan Dian Sastro, Ichsan Akbar dan Melanie Ricardo, Atun dan Mandra, Hans dan Gretel, Ash dan Pikachu, Daisuke dan Veemon, Doraemon dan Nobita, Shizuka dan mandi, roti dan selai, Jack dan pohon kacang; Eros dan Gote.

Setelah salah satu penampilan paling dahsyat sepanjang hidup saya tersebut, tibalah Paskib 17. Sekumpulan orang yang diambil secara acak - setidaknya orang itu adalah saya dan Arman, yang ikut tanpa tahu pernah meminta - untuk menjadi petugas upacara 17 Agustus sebelum peserta Lalinju 2007 datang untuk melantik dan dilantik. Tanpa dinyana kegiatan yang awalnya saya piir akan sedikit melelahkan ini (memang melelahkan sih), ternyata menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan. Tidak akan ada banyak cerita yang akan saya tulis di sini karena akan cukup panjang padahal saya hanya ingin sekadar memutar balik sekilas kehidupan SMA. Lagipula, saya hanya jadi pembaca Pembukaan UUD 1945.

Selain itu ada Trip Observasi. Terima kasih Madura 12 (yang membuat saya tidak pernah mandi kecuali sehabis penjelajahan), terutama Ilin yang jadi suster ngesot, tapi malah digebugin anak-anak yang lain. Kalo soal Bold, saya rasa baca ulang saja Volgorian Cabalsette ini.

Kalau Bintama masuk di mana ya? Karena nampaknya di tahun kedua saya akan banyak bercerita, saya masukkan di sini saja ya. Di Bintama, yang paling saya ingat - terlepas dari Sapta Satria Adhikara yang diiringi suara senapan di tengah malam bolong di antara lagu nasionalisme yang membuat saya cecunggukan menahan tangis - adalah "Hanya dongkol dalam hati", sebuah penggalan lirik lagu yang selalu dinyanyikan dengan keras oleh Dito Adhitama dan Odi Rohdwiasmoro yang satu pleton dengan saya setiap kali ada mobilisasi, baik malam maupun siang hari. Semenjak itu, ketika emosi hendak menguasai diri, tiba-tiba terdengar kalimat itu di udara. Jika Anda ingin tahu apa arti Bintama bagi saya, itulah dia. That's the essence of my Bintama experience.
Ada satu lagi hal yang sesuatu, tapi tidak perlu diumbar lah.

Oh ya, satu lagi yang sangat berkesan adalah 400D kesayangan saya: Cayman Dunne. Ketika acara expo ekskul berlangsung, saya langsung memilih Skyblitz karena waktu latihannya yang hari Jum'at tidak membuat saya yang seorang pengguna bus lintas provinsi ini lelah berlebihan. Ketika saya menorehkan tanda tangan, saya langsung memikirkan bagaimana cara membujuk orang tua saya untuk membelikan kamera. Nyatanya, ketika sampai di rumah, ada sebuah kamera 400D yang dibungkus dengan rapi oleh orang tua saya. Bagaikan ahli nujum, mereka tahu saya berniat mengikuti sebuah ekskul fotografi. Anehnya, ayah saya sebelumnya menyuruh saya bergabung dengan softball atau bulu tangkis. Pertanyaan ini belum terjawab sampai sekarang.
Hal inilah yang menjadi jawaban bagi Anda yang bingung kenapa saya begitu mencintai Skyblitz. Hadir tiada pernah absen, mencoba menghilangkan jarak antara dua angkatan, membuatkan group di Facebook; bersemangat lah intinya. Here it is, mates. That camera is not just a camera. It's something that my parents gave me out of the blue.




Cheers, mate. :)

Friday, July 30, 2010

Tak Kenal Maka....

Di dunia ini ada dua tipe orang (bisa lebih, mustahil kurang): orang yang makin dikenal makin menyenangkan dan orang yang makin tidak dikenal makin menyenangkan (sekadar mengingatkan, 'orang yang makin dikenal makin tidak menyenangkan' itu ungkapan yang kasar, karenanya kata 'tidak' lebih baik diubah letaknya).

Entah tidak disadari, entah tidak ingin disadari, kita semua harusnya pernah merasakan hal ini. Teman baru yang awalnya tampak menyebalkan, namun seiring waktu malah jadi kawan. Si jelita yang ditemui di acara off-air radio kawula muda yang buat kita kecewa karena nyatanya adalah seorang waria. Guru baru supergalak yang murah nilai setelah setahun berlalu. Si tampan yang di puncak kasmaran mengaku bahwa dia suka sesama jenis. Saingan kerja yang kemudian berakhir menjadi rekan bisnis di hari tua. If you haven't taste one, you should get out more. (by 'one', it doesn't have to be the examples given)

Jadi, salah satu maksud dari tulisan ini adalah sekali lagi membuktikan bahwa apa-apa itu jangan ditelan begitu saja. 'Tak kenal maka tak sayang' tidak selalu tepat sasaran.

Contoh yang agak sederhana misalnya negara X. Negara X adalah negara dengan kekayaan alam berlimpah, berpenduduk ramah, dan cukup stabil kancah politik, ekonomi, dan serba-serbinya. Benarkah? Jika langsung percaya, berarti Anda agak naif, seperti turis yang sedang berlibur untuk 4 hari 3 malam.
Berbeda dengan turis, si A yang sudah tinggal di negara X seumur hidupnya sudah tahu setiap sudut-sudut kotor tanah airnya. Bagaimana kekayaan alam yang berlimpah itu nyatanya diraup habis-habisan oleh orang berduit dan bukan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, bagaimana penduduk yang ramah itu setelah dua botol miras berubah jadi beringas, bagaimana berdarahnya setiap unjuk rasa, bagaimana mahalnya cabai merah dan telur asin, dan seterusnya.
Terkadang nampaknya kita harus menjadi sekadar turis untuk benar-benar mencintai sesuatu.

Contoh lainnya adalah si bintang idola Y. Bintang idola Y adalah seorang insan yang nyaris sempurna: rupawan, relawan, dermawan, cinta wartawan, dan wan-wan lainnya. Benarkah? Jika langsung percaya, berarti Anda agak naif, seperti penggemar baru yang belum kenal sang idola lebih dari setahun.
Berbeda dengan penggemar, si B yang sekarang bekerja sebagai kru Y atas kefanatisannya dahulu sudah hapal borok-borok sang idola. Bagaimana kerupawanannya itu bernilai puluhan juta, bagaimana kerelawanannya itu suatu upaya promosi diri tersembunyi, bagaimana kedermawanannya itu tidak lebih dari sebuah alat penarik simpati, dan seterusnya.
Terkadang nampaknya kita harus menjadi sekadar penggemar untuk benar-benar mencintai sesuatu.

Benarkah?

Ilustrasi kedua sebenarnya sudah cukup untuk membantu.

Kena Anda.

Tadi bukannya sudah saya katakan bahwa apa-apa itu jangan ditelan begitu saja? Apakah kalimat setelahnya yang saya beri aksen bold membuat Anda melewatinya?

Versi optimistis dari A adalah C dan B adalah D.
C sama seperti A yang mengetahui seluk-beluk negara X, namun sesuai asas 'Tak kenal maka tak sayang', C yang sudah kenal benar menjadi sangat sayang kepada negara X. Dia menunjukkan rasa cintanya dengan menuntut ilmu untuk kemudian membantu memperbaiki negara yang dia sayang karena dia kenal dengan sangat baik. Tidak seperti A, C adalah seorang warga negara yang baik.
D sama seperti B yang mengetahui sifat-sifat Y karena sudah bekerja sebagai kru dalam waktu lama, namun sesuai asas 'Tak kenal maka tak sayang', D yang sudah kenal benar menjadi sangat sayang kepada Y. Dia menunjukkan rasa cintanya dengan selalu menasehati dan menuntun Y agar menjadi sosok yang lebih baik. Tidak seperti B, D adalah seorang penggemar setia nampaknya.

Peribahasa itu bukan sesuatu yang bisa ditolak kebenarannya.

Benarkah?

(Saya masih punya argumen bahwa 'Tak kenal maka tak sayang' itu tidak selalu tepat guna, tapi kalau dilanjutkan di sini, tulisan ini jadi tidak menggantung akhirannya; seperti bukan blog saya!)




Cheers, mate. :)

Wednesday, July 21, 2010

For God's Sake

Andi berkata, "Budi berkata, "Cico berkata, "Dani berkata, "Emil berkata, "Fahri berkata, "Hari berkata, "Indra berkata, "Janus berkata, "Kurnia berkata, "Laura berkata, "Maria berkata, "Nino berkata, "Omar berkata, "Parmin berkata, "Qisthi berkata, "Ramon berkata, "Susan berkata, "Toni berkata, "Uma berkata, "Viki berkata, "Wendy berkata, "Yoyo berkata, "Zumi berkata, "Andi hebat.""""""""""""""""""""""""""

We're the future.




Cheers, mate. :)

Friday, May 14, 2010

Monday: Tell Me Why

There she comes. She's a bit early, it's only 12:40. Anyway, now I'll tell you about this girl.

Her name was Martha and on Mondays she comes alone. The first thing she - always - does is washing her hands at the sink on the left of the entrance. Then, she would walk steadily to the counter to order two cups of hot cappuccino - one for her, one for her fiance. I know it's for her fiance because once she happened to talk on the phone and saying a guy name, Rod, passionately. And that's it. Two cups weren't that much a waiting, so it won't be long until she disappears. See you tomorrow, Martha. Sometimes I wish she would lose her balance and spill the coffee so I could help a bit, but I guess she's better than that.

The rest of the hours was uneventful, until the sun went down. The Blue Hogs were supposed to be playing tonight, but it's already 8.00 and not even their most punctual member, Brad, the bass player, was there. As the result, some drunken gentlemen in suit stepped to the stage and started their own show. At first, I thought it would turn out to be a disaster, but it's quite good actually. All was alright except for the dude on drums who fainted after a 6-minute solo at the end of the show.

"Ben, we're closing. Heh."

That was Vince. Well, I guess that's Monday. I hope the next Monday will be better.



P.S. Martha didn't wear a skirt today. Tell me why?

Wednesday, May 12, 2010

Universitas Indonesia atau University of Indonesia?

Nasionalisme itu memang sempit. Ketika topik semacam ini muncul di permukaan, saya harus berterima kasih kepada Universitas Gadjah Mada - bukan Gadjah Mada University! - yang memantapkan penggunaan bahasa asli untuk institusi mereka. Pada studi lapangan kelas 11, saya masih ingat jelas, dengan semangat yang tinggi pengisi materi di FEB UGM berkoar bahwa UGM adalah UGM dan bukan GMU.

Coba saja buka website resmi UI dan baca apa yang tertera di atasnya: UNIVERSITAS INDONESIA. Dahsyat sekali ya. Kemudian jika Anda mencari "Universitas Indonesia" di Google, link pertama dari hasil pencarian berbunyi seperti berikut: "Universitas Indonesia (UI) is a modern, comprehensive, open-minded, multi-culture, and humanism campus in the capital of Indonesia. Waduh, bangga sekali melihatnya - walaupun saya agak ragu apakah 'humanism' tepat penggunaannya. Sekalipun penjelasannya menggunakan bahasa Inggris agar dapat dimengerti penduduk dunia, namanya masih memakai satu bahasa kita, bahasa Indonesia.

Lantas apa gunanya kita meng-Inggris-kan universitas menjadi university dan kemudian menambahkan "of" segala di tengah-tengahnya? Terlihat lebih elit rasanya tidak juga, karena "universitas" bunyinya cenderung lebih berkesan ilmiah - seperti civitas, setidaknya bagi saya. Lebih mudah diucapkan juga tidak terlalu, karena mengucap "ti" bikin bibir jadi monyong. Lebih singkat jelas tidak, Universitas Indonesia mempunyai sepuluh suku kata, sedangkan University of Indonesia memiliki sebelas!

Bukannya tidak boleh kok, hanya sedikit sentilan saja buat Anda dan buat saya. Saya juga paham nasionalisme kecil seperti ini mungkin tidak berarti banyak, tapi lumayan. Kita sudah terlalu sering mencibir musik dan banyak hal lainnya ciptaan anak bangsa dan memuja-muji produk-produk luar negeri. Kenapa tidak berusaha sedikit saja dan mengucap Universitas Indonesia?

Terakhir, layaknya blog-blog tetangga, mumpung tulisan kali ini ada hubungannya dengan Universitas Indonesia, saya ingin bersyukur kepada Allah karena mengabulkan permohonan saya. Terima kasih.


Untuk yang tahun depan akan berjuang, satu wejangan: ini berawal dari kegagalan.




Cheers, mate. :)

Monday, May 3, 2010

I'm (still) Glad I'm Weird

Selepas membaca sebuah post Andara Shastika di Tumblr-nya, kacamata saya berganti sedikit komposisinya, bukan berarti menjadi seperti yang dimaksudnya. Adapun dampaknya adalah berubahnya pandangan saya mengenai kata aneh (dalam bahasa Inggris, weird), maknanya, dan artinya bagi orang yang diberikan cap seperti demikian. (Anda tahu masing-masing "nya" di alinea ini mewakili siapa saja kan?)

Beberapa hari lalu saya meng-update Twitter saya dengan "I'm glad I'm weird." Waktu itu saya berpikir, "Saya aneh" karena "Saya tidak seperti kebanyakan." (kebanyakan: orang di sekitar kita, bukan seluruh dunia). Saya bukan akan introspeksi dan mengatakan saya tidak seperti kebanyakan lalu berhenti bersikap menjadi seorang yang - merasa - eksklusif, tapi saya jadi sadar: kenapa saya yang jadi aneh? Kenapa yang aneh itu adalah saya dan bukan mereka?

Sebelumnya, saya ingin minta maaf dulu kepadanya (hayo "nya" ini siapa?) karena saya termasuk yang menyebutnya (lagi, siapa?) aneh. Kalau soal ini, saya harap hanya perbedaan kacamata. Selama ini saya menganggap "aneh" itu bukan sesuatu yang bersifat menyudutkan, dan tidak selalu bersifat positif juga, hanya sebuah kata. Maknanya? Ya yang tadi saya utarakan, "tidak seperti kebanyakan". Seperti ketika saya melihat ada seekor macan tutul di toko ikan. Itu aneh, tidak seperti kebanyakan. Menghina? Tentu saja tidak. Memuji? Ya tidak juga. Sudah mengertikah, Shas? (ini dia si "nya"!)

Namun kemudian, sekarang saya semakin kacau, karena saya tidak mau lagi menyebut diri saya sendiri aneh. Ketika mulut saya yang berbicara, mata saya seharusnya melihat saya sebagai "kebanyakan" dan melihat orang lain sebagai "aneh"! Ini baru keadilan, ini baru kewarasan. Kenapa saya harus merelakan diri saya menjadi aneh agar orang lain terlihat normal? Sekali lagi, bagi saya "aneh" masih tetap tidak bersifat menyudutkan dan tidak tentu pujian. Ini hanya masalah sikap diri saja.

Lain halnya dengan dipanggil aneh. Saya harus rela - dan memang tidak alasan untuk tidak rela - dianggap aneh oleh orang lain, karena saya sendiri mungkin menganggap mereka demikian. Toh baik dengan niat apapun mereka berkata, ketika hinggap di saya "aneh" itu akan menjadi "tidak seperti kebanyakan" (dalam hal ini, "kebanyakan" artinya "mereka"). Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ofensif, bukan juga sebuah pujian. Kalau saya aneh menurut Anda, berarti Anda aneh menurut saya. Karena saya tidak seperti Anda, secara otomatis Anda tidak seperti saya! Bagaimana mungkin seorang A tidak seperti seorang B, tapi kemudian seorang B seperti seorang A? Bagaimana mungkin seorang A aneh bagi seorang B, tapi kemudian seorang B tidak aneh bagi seorang A?

Namun kemudian, sekali lagi, di saat saya asik-asikan memaksakan idealisme, kenyataan selalu sradak-sruduk masuk ke hidup saya. Setiap orang pasti pernah berbeda - dalam kata lain, aneh! - bagi orang lainnya. Saya tidak mungkin menyisipkan defini "aneh" milik saya ke dalam kepala setiap orang yang saya kenal. Kalau saya hampiri tukang jualan siomay di halte Ratu Plaza dan berkata, "Bang, abang aneh deh!" (karena di halte itu hanya dia sendiri yang jualan siomay; tidak seperti kebanyakan) bisa-bisa besok dia beralih dari penjual siomay ikan menjadi penjual siomay Djaffri. Itu buruk sekali, saya akan gagal meraih mimpi saya untuk punya blog dengan 100 posts lebih.

Hal lainnya, mau tidak mau, pada beberapa pemakaian kata "aneh" saya berkata di dalam hati - atau otak, bagi Anda-Anda para realis - bahwa "aneh" adalah aneh sebagaimana mestinya. Tidak sampai berarti "menjijikkan", tentu saja tidak "jelek", hanya sedikit menyerempet "anak-SD-yang-pipis-di-celana" (sungguh, saya bingung harus mendeskripsikan "aneh" sebagai apa lagi karena memang "aneh" itu sudah artian terkecil). Kemudian juga sebaliknya, pada beberapa penggunaan saya tanpa sengaja memaknakan "aneh" sebagai "eksentrik", alias "aneh dalam arti yang baik" - well, okay, ini yang saya maksudkan ketika tanpa sengaja atau disengaja memanggil Shasti aneh. Alam bawah sadar melahap habis idealisme saya sendiri.

Jadi, inti dari tulisan ini apa? Awalnya saya memaksakan kehendak, tapi akhirnya kecut sendiri. Bukan, ini bukan inkonsistensi, tapi objektivitas. Saya selalu mencoba melihat suatu masalah dari - setidaknya - dua sisi: sisi saya dan sisi Anda. Saya bisa saja mengganti paragraf 6 dan 7 menjadi sebuah paragraf pendukung pemikiran awal saya, tapi tidak ada gunanya. Buat apa memaksakan kehendak untuk sebuah kata "aneh"? Nanti saya dibilang aneh!




Cheers, mate. :)

Wednesday, April 28, 2010

Bludakan Informasi

Saya sendiri tidak yakin "bludakan" adalah sebuah kata. Saya hanya mencomot "bludak" dari "membludak" sebagaimana banyak kita mencomot "ledak" dari "meledak" dan kemudian menambahkan akhiran -an seperti saat membentuk kata "ledakan". Cukup adil bukan? Maksud saya, kalau hal itu dilarang artinya saya - dan Anda - telah melakukan diskriminasi pada si Bludak. Bersama kita telah melahirkan sebuah cabang baru dari rasisme: kataisme. (jika Anda menganggap kata ini tidak nyata, lagi-lagi Anda melakukan diskriminasi - menjadi seorang katais!)

Anyway, malam ini saya bukan ingin membahas lebih jauh perihal tetek bengek - bukan tetek asma - semacam itu. Harus saya katakan, dengan sangat menahan segala haru, bahwa saya rindu kepada biang kerok bludakan informasi: si burung biru.


Saya mulai kangen pada luapan - baiklah, sekarang saya sengaja menggunakan kata ini sebagai pengganti "bludakan" untuk menghindari komentar pedas para katais - informasi yang membuat Twitter menampilkan pesan over-capacity. Saya mulai gatel untuk kembali lagi mencibir @ohjustlike si pahlawan remaja masa kini. Saya mulai kehabisan bahan omongan untuk dibahas di tongkrongan. Saya mulai tidak menganggap bahwa Justin Bieber hanya karakter rekaan yang hidup di daftar Trending Topics. Saya mulai tidak yakin bahwa demam K-Pop masih mewabah. Saya mulai tidak kehabisan baterai BlackBerry di saat penting.

Ah, Twitter. Debat-debat asal lewat yang merusak persepsi, ringisan fangirl yang bikin nangis karena kesal, kritik intelektual yang banyak salahnya, berita diskon di mal sebelah, dan lainnya. Ah, Twitter. Si gadis yang selalu bercerita akan cintanya yang berkedip sebelah mata, si pemuda yang tidak suka tingkah remaja sebayanya, si mata yang hanya menyimak bersama si kuping yang hanya mendengar, dan lainnya. Ah, Twitter.

Jadi, dalam waktu dekat nampaknya saya akan kembali ke dunia sana. Dengan nama baru tentunya, karena ketika itu saya lupa mengganti nama @ramadhanputera menjadi nama aneh apa saja agar tidak bisa dilacak dan dapat dipakai lagi. Mungkin kali ini akan lebih ringkas, semisal @ramadjaffri, @rpdjaffri, @jabee, atau @maddax. Oh, dan jangan anggap saya remaja-labil-lainnya-yang-sok-mau-menonaktifkan-akunnya-tapi-kemudian-tidak-tahan-sendiri. Tujuan awal saya pergi memang untuk kembali, eh, maksudnya untuk menghapus tweet-tweet lama saya. Sayang sekali Twitter tidak mempunyai fitur delete all, what a shame. Atau dia punya? Kalau benar, what a shame.

Go to sleep, anyone? #labil




Cheers, mate. :)

Sunday, April 25, 2010

Prologue: Bonjour

Hello, I'm Ben and my last name is not necessary for you to know. This is the story of how I see the world and how I deal with it. They said this spot is the right place to keep a journal, so I'll do.

This place is called Bonjour. Wide open from 5 AM to 1 AM and located at the centre of this city, they never run out of costumer. Five to nine in the morning you will mostly see neat people in suit carrying a briefcase (or two), walking, talking, eating, drinking in a hurry. Morning tempo often makes me dizzy even when I'm just sitting on this corner. Then, until four in the afternoon the tempo is getting slower. The neat morning people often come again for lunch, but not that often. What might attract you during this interval is a girl who visits Bonjour to buy her breakfast at 1 PM on weekdays and 11 AM on weekends. This, I'll tell you later.

So, here comes the evening shift. It's as busy as the morning shift, but fortunately it doesn't make me sick. Evening tempo is much friendlier. Maybe it's because these neat people come for a different purpose; to relax, not to hunt. During this time of the day, you'll find even more interesting personas. Local musicians come at 6 and started playing - after a glass of beer or a cup of coffee - at 7.30. It's not scheduled, but I'm surprised of how conformity made it like it is now. Monday and Wednesday are blues nights. On Tuesdays, they play Top 40. Thursday and Saturday are a bit random, but mostly they got rock music blaring. Fridays - my favourite - bring you jazz and finally Sunday, the karaoke night.

The crowd usually stays until 11, leaving the midnight shift alone. A few neat people - that have lost their neatness because of alcohol consumption - stay at the bar, sleeping. Bonjour locks his doors on 1 AM, but let the KO-ed costumers to sleep inside to prevent them on getting robbed or murdered. That pretty much tells you about this incredible place, right? Let's review.

Bonjour (Open 5 AM - 1 AM)Italic
Monday: Blues
Tuesday: Top 40
Wednesday: Blues
Thursday: Rock
Friday: Jazz
Saturday: Rock
Sunday: Karaoke

Clear enough? It should be crystal now.

P.S. Sorry for the bad grammar, I'm not anything closer to your school brainiacs.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.