Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Monday, January 11, 2010

Selku Istanaku

Tidak kaget rasanya melihat berita tadi petang bahwa beberapa tahanan - yang berduit tentunya - mendapat perlakuan khusus di dalam Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sudah menjadi sebuah rahasia umum bahwa penjara tidak selamanya seperti neraka. Semua bisa diatur selama duit berbicara lantang.

Namun demikian, ketika fasilitas-fasilitas tersebut disorot satu per satu saya berhasil tercengang dibuatnya. Bayangkan saja, ruangan "sel"nya bahkan lebih besar daripada kamar tidur saya. Ranjangnya bagus, tersedia televisi layar datar segala. Komputer sudah pasti harus ada, lengkap dengan monitor layar datarnya juga. Masih kurang puas, tersedia juga fasilitas ruangan karaoke yang dihias dengan elegan. Si empunya pun tertangkap basah sedang facial dengan dokter kecantikan pribadinya. Sungguh dahsyat tiada tara.

Ketika pertama mendengarnya rasanya kita semua pasti akan menggelengkan kepala. Mana keadilan, mana persamaan derajat di mata hukum? Akan tetapi setelah saya berpikir lebih dalam saya sepertinya menemukan sebuah sudut pandang yang agak berbeda. Pandangan yang cukup nyeleneh, walau saya yakin tidak sepenuhnya salah.

Menurut saya membayar demi mendapatkan sebuah fasilitas tambahan adalah hal yang lumrah. Kita mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang kita keluarkan, apa yang kita korbankan. Hal ini wajar saja kemudian diterapkan di dalam penjara. Siapa yang membayar lebih akan mendapatkan fasilitas yang lebih pula. Apa salahnya "menikmati" penjara? Apalagi terkadang - walaupun cukup jarang - para tahanan yang mendekam di dalam penjara justru merupakan korban dari suatu proses hukum atau peradilan yang tidak sempurna. Sekarang ini kita bisa lihat betapa mudahnya sebuah gugatan diajukan ke pengadilan, betapa mudahnya seseorang dihukum dengan hukuman yang berlebihan, dan betapa mudahnya seseorang dijebloskan ke dalam penjara.

Dalam konsep "bayar untuk dapat lebih" di atas yang penting diperhatikan adalah kemana uang yang dibayarkan itu mengalir. Konsep yang saya ajukan tersebut akan menjadi bermanfaat bila uang yang dibayarkan itu kemudian masuk ke kas rutan yang notabene kemudian akan dikembalikan lagi kepada tahanan lain untuk kesejahteraan mereka. Sistem seperti demikian menjadi tidak jauh berbeda dibanding sistem subsidi silang, dimana mereka yang mampu membayar bagian dari yang kurang mampu. Hal ini menciptakan sebuah simbiosis mutualisme yang sehat. Atau bisa juga uang tersebut dimasukkan ke dalam kas negara, sehingga pemerintah mendapatkan tambahan pendapatan yang dapat digunakan untuk kemajuan bangsa dan negara. Sudah terdengar cukup adil? Belum tentu.

Sistemnya mungkin terdengar menguntungkan bagi semua pihak kecuali oknum-oknum Rutan yang tidak bisa mengantongi uang-uang liar tersebut, tapi bagaimana jika ditilik dari sisi kemanusiaan? Rencana tersebut dapat berjalan lancar jika kita semua dapat bertangan besi dan tidak peduli dengan sisi kemanusiaan dari sistem tersebut. Namun nyatanya, apa benar kita semua bisa bersikap seperti demikian? Secara tidak disadari pasti akan timbul kecemburuan sosial karena perbedaan perlakuan seperti tersebut. Uang yang disalurkan kembali kepada penghuni rutan lainnya bisa jadi tidak dianggap ketika pandangan mereka sudah bias. Hal ini bukan mustahil dapat menimbulkan sebuah keributan yang justru malah menghasilkan masalah baru. Sudah cukup bingung? Baguslah kalau begitu.

Sekarang Anda yang menentukan mana konsep yang paling Anda sukai. Apa Anda orang yang rela sedikit membuang rasa kemanusiaan demi sesuatu yang mungkin lebih baik? Ataukah Anda orang yang menganggap semua orang harus merasakan hal yang sama terlepas dari apa yang mereka lakukan dan korbankan? Ingat, adil itu belum tentu sama.





Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.