Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, August 24, 2010

Anissa Paramita

Nah ini dia. Dia adalah saingan saya yang membuat saya gagal menjadi juara kelas semester ganjil karena kalah 1 poin saja. Dia adalah kebanggaan saya yang berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui jalur PPKB. Dia adalah teman saya yang saya tahu akan selalu ada di sana ketika saya bahagia ataupun muram.
Saya menyatakan perasaan - dan diterima, langsung, yes - kepada Anissa pada sore hari (setelah sekolah bubaran) tanggal 28 April 2009 di depan kelas Matematika lantai 2. Beberapa hari sebelumnya kami juga sempat berjalan-jalan ke Planetarium TIM (gagal, lalu pindah ke Taman Menteng) bersama Beler, Gilang, Bidi, Andra, Gisha. Tadinya mau jadian saat itu saja, tapi saya harus disiplin untuk menepati janji yang saya buat kepada diri sendiri. Alhamdulillah sampai detik ini masih bersama setelah melalui pertengkaran-pertengkaran kecil maupun besar, tawa canda dan senda gurau, masalah yang dihadapi bersama dalam berbagai keadaan, kecemburuan dan persaingan, satu setengah bulan Ramadhan dan satu tahun baru serta 15 bulan. Hey, I mean, how many times would you find love at an accounting competition?

Kelas 12 bersama Saptraka isinya masih beringas terlepas dari ujian negara dan ujian masuk universitas yang membayangi setiap harinya. Dimulai dari kegilaan karya tulis pada semester 1 dan berakhir dengan gegap gempita kelulusan di akhir semester 2. Sebenarnya Sky Avenue juga diadakan saat sudah duduk di kelas 12, tapi berhubung saya ingin membuat pandangan bahwa kelas 12 isinya akademis melulu, saya tarik keluar acara besutan Imo dan Channi itu dan malah mengajak masuk pengerjaan kartul yang sebagian terjadi di kelas 11.

Kalau bicara soal karya tulis, yang terpikir itu ada dua: cabut dan bu Epy. Seru deh pokoknya. Cabut paling ikonik bagi saya adalah cabutnya Punk dan Afghan - sudah dimulai sejak kelas 11 - karena alasannya selalu sama: pergi ke bank. Saya sendiri termasuk orang yang lebih suka bekerja di rumah (memang belum punya laptop) daripada bersusah payah di sekolah (memang pemalas). Karena itu saya cukup kagum dengan upaya mereka yang giat melakukan penelitian mereka di bank mana pun itu.
Sidang karya tulis saya pun berlangsung wajar. Bu Yuni, Pak Risang, dan Pak Ali berlaku santai dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya perkirakan sehingga tidak membuat saya menjadi kelabakan. Saya dengar banyak yang bermasalah di bidang Ekonomi, tapi nampaknya Saptraka pada akhirnya tidak ada yang tersandung karena masalah karya tulis. Mengulang dan merevisi ada beberapa, tapi nampaknya tumpukan hard cover di meja bu Epy pada akhir tahun ajaran sudah cukup menjelaskan.

Di semester 2, tidak ada satu kejadian spesifik yang benar-benar bisa saya ingat karena setiap harinya adalah potongan-potongan penting yang jika dirangkai barulah menjadi satu kejadian, yaitu kelas 12 itu sendiri. Setiap harinya dipenuhi dengan harapan, doa, kecemasan, belajar, peluh, tapi masih diselingi senyum, tawa, cerita, dan kebersamaan. Belajar efektif yang dikelompokkan sesuai daya tangkap dan dikondisikan ulang durasinya, tryout rutin yang diadakan di kelas yang dingin, merelakan waktu untuk belajar sampai malam di bimbingan, memulai pekerjaan untuk Buken dan prom night pelan-pelan, tapi karena dihadapi bersama rasanya masih menyenangkan. To live that moment with Saptraka is one experience among the other.

Jujur sampai sekarang saya belum benar-benar merasakan perpisahan, makanya tulisan tahun ketiga ini juga mungkin tidak akan terlalu seru (tidak banyak kata-kata yang ditebalkan) dan akan berakhir sebentar lagi. Saya sadar sepenuhnya bahwa jarang lagi akan terjadi tegur sapa antara semua, tapi saya masih bisa berkata, "Lalu apa?" Mungkin karena saya saat ini belajar di Depok dan bukan di Bogor, Bandung, Jogja, Surabaya, Semarang, Aceh, Bali, Kalimantan, Lombok, Papua, Malaysia, Australia, Jepang, Jerman, Belanda, ataupun Amerika. Mungkin juga karena saya tahu bahwa dunia sekarang adalah sebuah desa kecil yang saling terhubung dengan hadirnya Facebook, Twitter, Skype, BlackBerry, Foursquare, dan komplotannya. Ataukah mungkin ini karena saya memang belum benar-benar memutar ulang setiap detil yang sudah terjadi selama tiga tahun ke belakang?

Untuk sekarang saya cuma bisa berharap kehadiran Buken yang sedang mengalami masalah di urusan perizinan (doakan kami, tapi jangan tanya mengenai) dapat memberi saya pencerahan. Sampai saat itu datang saya harus mengakhiri tulisan ini dan akan mencoba menutup mata dan mengingat lagi apa yang sudah terjadi. Ketika sudah mampu, saya akan beri.




Cheers, mate. :)

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.