Pun kali ini yang akan dibahas bukan "independen" dalam artian "mandiri", tapi cenderung kepada "berbeda" atau "merdeka", tapi bukan "kemerdekaan".
Independen bukan selalu film 78 menit berbudget rendah dengan dialog unik, musik-musik galau atmosferik berbahasa Skandinavia, atau program studi yang jarang penumpangnya. Menjadi seorang yang indie juga bukan berarti jadi skeptis terhadap arus besar dunia, menolak kemapanan, dan/atau duduk di pojokan ogah untuk berteman. Yang paling penting, independensi bukan ada untuk dipaksakan.
Kebanyakan - jika 'semua' terlalu memaksa - dari kita rasanya pernah masuk ke dalam tahap indie wannabe. Idealisme itu memang kepunyaannya anak muda. Namun kemudian, idealisme siapa? Jangan jadi idealisme dia menginvasi Anda, jangan jadi idealisme mereka mengubah Anda, jangan jadi idealisme saya membayangi Anda. Siapa juga berkata yang sudah ada itu pasti tidak ideal?
Setelah beberapa pengkajian berdasar pengalaman sendiri (tidak absah) dan logika (seadanya), sekarang saya melihat sikap independen lebih kepada pendekatan how daripada what. Maksudnya, saya lebih tergugah melihat cara yang berbeda dibanding sesuatu yang memang berbeda. Karena di usia tua, sudah tidak banyak yang bisa dibuat baru di bumi. Pun yang sudah ada seharusnya sudah tatanan terbaik dengan berbagai perbaikan dari kekurangan masa lampau. Sudah bukan saatnya lagi membuat api atau mencipta roda.
Daftar hal yang saya dulu anggap sangat indie: The Raconteurs (band), Little Miss Sunshine (film), Vernon God Little (buku), Kriminologi (program studi), dan parkour (hobi).
Well, mereka masih indie karena nyatanya memang saya tertarik tanpa pengaruh siapa-siapa - free from outside control. Bedanya, sekarang saya lebih cenderung "Oke lah, saya suka ini, selesai," dan bukan lagi, "Payah kalian, ini baru keren, dasar mainstream." Contoh-contoh di atas menjadi sesuatu yang indie karena sesuai dengan diri saya, bukan karena tidak sesuai dengan diri kebanyakan orang. Memang faktor tidak-sesuai-kebanyakan juga berpengaruh dalam membuat hal-hal di atas menjadi indie, tapi tidak dominan.
Daftar hal yang sekarang sangat indie: jurusan Manajemen Keuangan, Miley Cyrus, dan naik mobil pribadi.
Dulu saya selalu berminat untuk masuk konsentrasi SDM (dan fakultas Psikologi), tapi setelah perbincangan dengan orang tua yang menyadarkan saya akan salah satu lagi strength saya, akhirnya finance terlihat begitu menariknya. Dengan pendekatan berbeda, saya bisa melakukan hal yang dipilih oleh 50% mahasiswa Manajemen menjadi sesuatu yang sesuai dengan diri saya, dan mungkin hanya sesuai dengan diri saya.
Sama halnya dengan Miley Cyrus (tapi tidak Hannah Montana). Temannya Jonas Brothers dan Demi Lovato - yang tidak saya suka - ini nyatanya adalah seorang idola. Tampilannya, suaranya, liriknya, semua saya suka. I'm free from outside control, there is no such thing as a guilty pleasure. Banggalah akan apa yang Anda suka. Saya suka Miley Cyrus! Saya suka Gita Gutawa!
Mobil pribadi adalah termasuk hal yang saya cukup hindari ketika dulu masih bersepeda ria kemana-mana. Yang terjadi adalah kemudian saya sadar bahwa jarak 20 km lebih di Indonesia itu penuh rintangan. Lainnya, ada juga masalah efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Saya tidak akan buang 1 jam yang bisa berguna untuk asistensi, sejumlah kalori untuk membuat makalah, dan beberapa juta untuk membayar sepeda lipat.
Daftar hal yang sekarang saya pikir tidak indie: bersepeda.
Sewaktu SD dan SMP (dan SMA, walau hanya untuk pergi kursus) bersepeda adalah lifestyle saya. Main ke rumah teman, bertualang ke kampung-kampung, balapan liar, bahkan menuju sekolah saat kelas 7 hingga 9. Tanya saja penggila sepeda angkatan 8 SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama kalau tidak percaya. Sekarang? Sudah tidak bisa, tidak efisien tepatnya. Apalagi mahalnya menggila. Bike to work atau work to get a bike? Kalau sekadar beli telur di warung sih menggowes sepeda lama saya masih menyenangkan.
Lain hari, jadilah diri sendiri bukan karena berbeda dari orang lain. Keep yourself to yourself.
Cheers, mate. :)


0 complains:
Post a Comment