Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Monday, August 23, 2010

Skyblitz

Tahun kedua! Skyblitz 08! The year of the geeks! Mulai dari hunting rutin yang rutenya itu-itu lagi, tapi tidak lekang dihabis jaman sampai ngobrol ngalor ngidul selama dua jam setiap Jumat siang. Mulai dari Labs Phylosofi di Monas yang berbintang saya dan Thomy sampai Hunting On The Trip yang membawa Aldo jadi juara dua. Mulai dari cetak manual di kamar gelap jadi-jadian sampai fotonya Yasmin yang "dicuri" tukang cetak depan Mayestik. Time of my life, man. I'm glad I was there, I'm proud of being a part of us. Daripada dijelaskan dengan kata-kata, sehubung kita klub fotografi, langsung saja 1000 kata.


Hunting Inisiasi, Kota Tua


Hunting On The Trip, Tangkuban Perahu


Rally Photo Labs Phylosofi, Monas


Kalau berbicara kelas 11, yang ada hanya kepanitiaan, kepanitiaan, dan kepanitiaan yang bikin sibuk dan kelelahan (not to mention that my grade was, *cough*, good enough those two long semesters). Kalau tidak salah ingat, kepanitiaan pertama saya adalah Sky Battle 09 sebagai seksi produksi, karena Tarash berhasil merebut saya dari Wanda. Saat saya berpikir saya dapat menjadi dokumentasi di kemudian hari, saya salah, besar. Sekali produksi, tetap produksi. Produksi. Pekerja balik layar yang bukan hanya bekerja sebelum hari H dan saat hari H, tapi juga setelah hari H. Pekerjaannya yang ada di ujung rangkaian sangat bergantung kepada tiga seksi lainnya: Desain, Sponsorship, dan Bendahara. Desain belum ada, apa yang mau dicetak? Desain sudah ada, ada sponsor nambah minta dipajang logonya di ujung-ujung, cetak ulang sampai semaput. Untungnya Bendahara, si DP, bukan jenis pelit yang menagih rincian setiap butuh uang keluar (walaupun masih mengharap biaya keluar sedikit-dikitnya). Tetap saja tapinya, kalau disuruh memproses 400 kaos panitia berkualitas bagus dalam 2 minggu kurang dengan dana yang harus ditekan, maaf saja kalau hasilnya tidak selembut sutra.
Kalau mau bicara soal Sky Battle, garis besarnya itu benar-benar kejar-kejaran desain dengan Gilang. Mulai dari baju sampai piagam, dari spanduk sampai big banner. Ada satu kejadian menyedihkan soal kejar tayang big banner. Di sore hujan, saya dan Gilang berjalan kaki untuk mengambil big banner (disebut 'big' karena ukurannya lebih dari 5mx3m) di Jumbo dekat (baca: lebih jauh dari sekadar jarak 10 rumah) sekolah. Ketika membopong gulungan berat tersebut menggunakan bahu di tengah hujan menuju kembali, saya terperosok ke dalam selokan yang tidak ditutup dengan sempurna oleh para pekerja (mungkin karena hujan menerpa). Kalau basah saja tiada apa. Sialnya, di sana ada pasak sebesar gaban yang mencuat, merobek daging saya hingga memuncratkan darah segar. Miris, Gilang dan pengguna jalan lainnya malah menertawakan saya yang meringis kesakitan.
Itu baru peristiwa sebelum hari H. Di hari H ada juga konflik-konflik kecil yang menumpuk. Salah satu contohnya adalah cerita tentang tidak tersedianya rol kabel yang berujung dengan saya membuang (baca: melempar dengan keras dari jauh ke dalam tong sampah sehingga menimbulkan suara keras yang menarik perhatian) sebuah rol kabel kutu yang tidak berfungsi dan keluar dari GOR Bulungan setelah berteriak kepada Aryus dan langsung bersegera menuju Hero untuk membeli sebuah rol kabel baru yang layak pakai. Kalau dongkol-dongkol dalam hati lainnya pasti ada, tapi kalau emosi dituruti bukan profesional namanya.

Selanjut-lanjutnya ya begitu juga isinya kelas 11. Jadi koordinator seksi produksi Sky Fest 09 yang kerja dan timnya termasuk enak kalau menurut saya, balik lagi jadi stafnya Tarash dan Derza pas Sky Avenue 09 yang supercapek dan superberantakan karena berbagai kendala menghujam, menggodok foto-foto Skyblitz untuk lelang Sky Lite yang sampai sekarang belum dibayar-bayar hasilnya (maaf ya kawan-kawan yang terjual begitu saja fotonya). Di antara kepanitiaan-kepanitiaan ada juga cerita-cerita bersama 11 IPS 2: gerbong lepas di Madukismo, diketawain habis-habisan sama Bidi cs. hanya karena dipanggil Punjabi, main dotkom-dotkoman sama Nana dkk. di bus selepas kunjungan ke Taruna Nusantara, main perang tutup botol di kelas kosong bareng cowo-cowo, dimarahin Diandra gara-gara berteriak, "Diandra gila!", berantem triple threat di belakang masjid sama Gilang, Beler, Wildan, wah pokoknya tipikal kelas 11 sekali.

Pada kelas 11 ini juga lah saya pertama kali berkenalan dengan Anissa Paramita. Walaupun bertegur sapa dan berbagi cerita baru ketika Accombat Atma Jaya 2009, tapi saya sudah tahu dia sedari sebelumnya. Pertama kali benar-benar bertegur sapa pun sudah agak lama, di awal tahun ajaran - yang tidak disadarinya - ketika kelas kosong dan Gilang memainkan sebuah game cowboy di laptop bersama Bidi, Baskara, dan Beler. Penutup tahun kedua ini adalah dia. Kalau Anda suka (dalam artian sering, bukan harus menggemari) membaca Volgorian Cabalsette, pasti Anda tahu momen-momennya.




Cheers, mate. :)

2 comments:

ADL said...

skyblitz! mainan turunan yang waktu itu di mana ya kak? hahaha

Ais said...

iiih ada labs phylosofi :3

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.