"Good" itu "pleasing and welcome" atau dalam bahasa Indonesianya mudahnya "bagus" atau "baik". "Better" itu "more appropriate", kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: "lebih bagus" atau "lebih baik".
Ambil misal pemilihan umum ketua Perkumpulan Perampok Gigi Hijau. Jangan dicari di Google karena ini hanya fiksi belaka, wahai para penggila dunia maya. Di sana ada tiga calon yang tersedia. Ada Anro, si bengis yang selalu memberi susu basi kepada setiap korban-korbannya. Ada Rogi, si lalim yang tidak pernah lupa membersihkan muka anak kecil yang dia ambil permennya. Ada Hone, si kejam yang memberi kata-kata mutiara kepada wanita-wanita yang dia perkosa. Tidak ada yang baik dari antara mereka; The Good.
Apakah ada yang lebih baik?
Kalau Anda benci anak kecil, Anda pasti memberikan suara untuk Rogi. Kalau Anda sering patah hati karena perempuan, Anda pasti angkat tangan untuk Hone. Kalau Anda punya banyak persediaan susu basi, silakan pilih Anro. Paham?
Itu baru dalam pengertian "good" dalam arti "good deeds" atau perbuatan-perbuatan yang secara moral adalah benar. Sangat mudah membedakannya dengan "better" karena dalam pemilihan ketua rampok, yang "better" adalah yang lebih biadab. Sebuah lawan dari "good" itu sendiri. Ayo masuk ke kejadian kedua.
Coba sekarang liat pemilu negara A. Ada tiga calon juga. Yang pertama adalah Andi, seorang bapak berbadan agak tambun yang sopan dan santun. Yang kedua adalah Namia, seorang ibu yang juga berbadan agak bulat dan punya semangat berapi-api. Yang terakhir adalah Kimo, seorang paman berkacamata yang suka bergerak cepat.
Terutama bagi mereka yang antipemerintah, pastinya tiga calon ini tak ubah beda dengan rampok-rampok di atas. Buat mereka yang tidak pernah tahu berita malah lebih parah, masuk golongan putih atau sekadar ikut-ikutan teman. Saya sendiri tidak tahu mana yang orang baik karena masih seorang pemilih pemula.
Namun demikian pasti ada yang lebih baik. Bisa jadi yang lebih cepat. Bisa jadi yang bersemangat. Bisa jadi yang sudah berpengalaman dan ingin melanjutkan perjuangan. Tapi yakinkah mereka "bagus", "baik", "good"?
Mulai berpikir bahwa "better" memang lebih baik dari "good" sebagaimana mestinya? Tabahkan diri Anda.
Ini contoh ketiga.
Sebuah perlombaan matematika. Juara 1-nya bisa sedikit berbangga karena menjawab benar 5 soal dari 100 tersedia. Juara 2 hanya mampu memecahkan 3 soal, mengalahkan juara 3 yang dengan sukses salah hitung dan tidak mengisi 98 soal.
Jelas kan?
Memikirkan hal yang sama dengan saya? Kalau saya sih sedang memikirkan ujian-ujian masuk Perguruan Tinggi, terutama SIMAK dan UTUL yang saya ikuti. Bukan UAN, karena UAN tidak peduli apakah Anda lebih baik dari sesama pelajar seluruh Indonesia. UAN hanya peduli apakah Anda cukup baik untuk berhasil melewati batas nilai yang tersedia.
Berbeda dengan ujian masuk Perguruan Tinggi. Saya tidak tahu memang sistem aslinya seperti apa, tapi dari sosialisasi-sosialisasi yang ada di sekolah dan bimbingan nampaknya yang digunakan adalah hukum rimba. Berdoa saja, "Jadikan mereka lebih tidak bisa dibanding saya!" dan bukan "Jadikan saya bisa mengerjakan soal-soal tersedia!" Atau alternatif lainnya cukup pilih saja program studi yang kurang diminati. Beruntung kalau Anda memang suka, kalau tidak? Sedih ya?
Sekarang coba pikir ulang. Are you really that good? Are we really that good? Apakah Anda dan saya bisa berada di sini dan sana karena memang hebat? Ataukah sekadar lebih hebat, lebih mujur dari yang lainnya?
Jangan cuma mau jadi sekadar "better" dibanding orang lain, jadilah orang yang "good" seutuhnya.
Masih berpikir "better" lebih tinggi beberapa derajat dibanding "good"? Bagus, jika Anda memang sudah bersikap kritis dan punya pendirian yang teguh. Silakan, jika Anda masih ingin mencari-cari sumber lainnya untuk menentukan keputusan. Jangan, jika Anda cuma skeptikal dan hanya tahu menjadi oposisi.
*oh ya, saya ternyata masih hidup! (baca post sebelumnya) terima kasih ya Allah!*
Cheers, mate. :)


0 complains:
Post a Comment