Petang hari itu, makara abu-abu yang seharusnya berdiri kokoh malah tumbang tidak karuan. Semua juga tahu itu berkat renovasi di saat yang kurang tepat, tapi apa memang begitu? Beberapa kakak dari Komisi Disiplin menyuarakan pendapatnya (baca: berteriak bersahut-sahutan) bahwa makara jatuh karena kami, mahasiswa baru angkatan 2010, adalah pemuda-pemuda penyakitan, plagiat, dan manja. Seorang realis acuh mungkin akan menganggapnya sebuah bluff kosong yang cuma bisa dipercaya oleh anak di bawah umur. Seorang yang memang tidak ingin berada di situ bahkan otaknya sudah di mal-mal besar bersama teman-teman sepergaulannya. Saya, demi Allah, menangis. Setiap kata "kecewa", "mengecewakan", dan kata sifat lain yang memalukan serta beragam petuah terlontar dari mulut kak Luthfian, setiap itu juga terasa ada beban yang ditambahkan.
Kemudian pernyataan resmi penutupan OPK FEUI 2010 pun dikumandangkan. Air mancur bermancuran. Beban kembali ditambahkan. Di antara ratusan rekan yang menyanyikan 'Economy Goes Marching In', di antara riuh, di antara peluh, saya cuma bisa berdiam. Jauh dari bangga, saya malu dan kecewa. Lalu sekali lagi saya menoleh ke arah makara abu-abu yang terlelap di pinggir kolam. Perasaan bersalah semacam ini terakhir saya dapat ketika menatap ke bendera Indonesia di tengah malam bolong saat agenda Bintama (Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa) malam terakhir di markas Kopassus, Serang. Suasananya serupa. Di antara lantunan lagu 'Padamu Negri' dan letupan senapan api, sebuah kecupan untuk sang saka merah putih membebaskan segala rasa.
Saya tidak berharap Anda yang realis ikut meresapinya dengan seksama. Anda yang tidak suka mengingat masa lampau juga silakan berlalu saja. Saya hanya membukakan pikiran saya, suatu alam yang Anda silakan masuk di dalamnya.
Bagaimana kalau ada tangan-tangan tak tampak yang menyebabkan jatuhnya jadwal renovasi bertepatan dengan pelaksanaan penutupan OPK FEUI 2010? Bisa saja, entah dari mana, para pembuat keputusan yang saya juga tidak tahu siapa, tiba-tiba dibuat lupa akan jatuhnya acara penutupan OPK di hari 4 September itu.
Bagaimana kalau makara abu-abu kebanggaan FEUI itu memang punya kekuatan magis seperti sorting hat di seri Harry Potter? Bisa saja, layaknya Universitas Indonesia yang memang punya banyak cerita mistis, kolam makara bukan hanya wujud arsitektur biasa yang bukan hanya punya nilai estetika, tapi juga dapat menilai kualitas para Maba?
Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat penyakitan?
Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat plagiat?
Bagiamana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat manja?
Kemudian rombongan dibubarkan untuk segera bertolak ke Pertamina Hall. Sambil berbalik kanan, sekali lagi saya arahkan pandangan ke makara abu-abu yang tergeletak lesu.
Maaf dan terima kasih kepada seluruh panitia OPK FEUI 2010.
Cheers, mate.


0 complains:
Post a Comment