Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, September 7, 2010

Ikut OPK, Bikin Semangat

Sabtu lalu, Orientasi Pengenalan Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (OPK FEUI) 2010 - maaf, kebiasaan bikin tugas essay jadinya tidak langsung disingkat saja - resmi ditutup oleh Project Officernya sendiri, Kak Luthfian (atau Lutfian?). Ini cerita saya.

Petang hari itu, makara abu-abu yang seharusnya berdiri kokoh malah tumbang tidak karuan. Semua juga tahu itu berkat renovasi di saat yang kurang tepat, tapi apa memang begitu? Beberapa kakak dari Komisi Disiplin menyuarakan pendapatnya (baca: berteriak bersahut-sahutan) bahwa makara jatuh karena kami, mahasiswa baru angkatan 2010, adalah pemuda-pemuda penyakitan, plagiat, dan manja. Seorang realis acuh mungkin akan menganggapnya sebuah bluff kosong yang cuma bisa dipercaya oleh anak di bawah umur. Seorang yang memang tidak ingin berada di situ bahkan otaknya sudah di mal-mal besar bersama teman-teman sepergaulannya. Saya, demi Allah, menangis. Setiap kata "kecewa", "mengecewakan", dan kata sifat lain yang memalukan serta beragam petuah terlontar dari mulut kak Luthfian, setiap itu juga terasa ada beban yang ditambahkan.

Kemudian pernyataan resmi penutupan OPK FEUI 2010 pun dikumandangkan. Air mancur bermancuran. Beban kembali ditambahkan. Di antara ratusan rekan yang menyanyikan 'Economy Goes Marching In', di antara riuh, di antara peluh, saya cuma bisa berdiam. Jauh dari bangga, saya malu dan kecewa. Lalu sekali lagi saya menoleh ke arah makara abu-abu yang terlelap di pinggir kolam. Perasaan bersalah semacam ini terakhir saya dapat ketika menatap ke bendera Indonesia di tengah malam bolong saat agenda Bintama (Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa) malam terakhir di markas Kopassus, Serang. Suasananya serupa. Di antara lantunan lagu 'Padamu Negri' dan letupan senapan api, sebuah kecupan untuk sang saka merah putih membebaskan segala rasa.

Saya tidak berharap Anda yang realis ikut meresapinya dengan seksama. Anda yang tidak suka mengingat masa lampau juga silakan berlalu saja. Saya hanya membukakan pikiran saya, suatu alam yang Anda silakan masuk di dalamnya.

Bagaimana kalau ada tangan-tangan tak tampak yang menyebabkan jatuhnya jadwal renovasi bertepatan dengan pelaksanaan penutupan OPK FEUI 2010? Bisa saja, entah dari mana, para pembuat keputusan yang saya juga tidak tahu siapa, tiba-tiba dibuat lupa akan jatuhnya acara penutupan OPK di hari 4 September itu.

Bagaimana kalau makara abu-abu kebanggaan FEUI itu memang punya kekuatan magis seperti sorting hat di seri Harry Potter? Bisa saja, layaknya Universitas Indonesia yang memang punya banyak cerita mistis, kolam makara bukan hanya wujud arsitektur biasa yang bukan hanya punya nilai estetika, tapi juga dapat menilai kualitas para Maba?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat penyakitan?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat plagiat?

Bagiamana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat manja?

Kemudian rombongan dibubarkan untuk segera bertolak ke Pertamina Hall. Sambil berbalik kanan, sekali lagi saya arahkan pandangan ke makara abu-abu yang tergeletak lesu.

Maaf dan terima kasih kepada seluruh panitia OPK FEUI 2010.




Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.