Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Wednesday, September 29, 2010

Kembali Ke Alam Bebas

Buat almarhum Soe Hok Gie, gunung adalah pengasingannya dari kemunafikan ibu kota. Buat almarhum Christopher McCandless, walaupun pada akhirnya ingin kembali kepada peradaban, bersatu dengan alam adalah pilihan tanpa penyesalan. Kalau buat saya, cukup malam hari kota Jakarta.

Ada suatu nafas yang hanya bisa dirasa saat matahari sudah tidak nampang di langit biru muda. Ada suatu ritme yang hanya bisa dirasa saat lampu kendaraan dan lampu jalan mulai menyinari muka-muka para penglaju. Ada suatu bau yang hanya bisa dihirup saat dingin angin berhembus dengan santai menerpa pagar besi dan tembok beton. Ada suatu suara yang hanya bisa didengar saat suara klakson beraduan dengan mesin bus tua dan sepeda motor kredit tiga bulan. Ada suatu yang lain dari malam hari di Jakarta, ibu kota Indonesia pusaka.

Berdesakan dengan para Jakartan di dalam angkutan Koperasi Wahana Kalpika. Menunggu bus patas di antara muka-muka kelelahan. Mendengarkan keluh kesah dan priwitan para petugas berseragam. Menikmati indah sengaunya suara pengamen berbaju compang. Merekam bokeh-bokeh hasil bias di sepanjang mata memandang. Memberi kursi reyot bus kepada ibu yang nampaknya sudah hampir pingsan. Berdiri di aspal hitam dingin dan merasakan bahwa semua unsur berputar seirama dalam suatu harmoni. Ada suatu yang istimewa dari malam hari di Jakarta, ibu kota yang padat penumpang.

Ini hidup. Cobalah jika belum pernah.




Cheers, mate. :)

1 comment:

Tongki Ari Wibowo said...

selalu ada pengalaman pertama :)

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.