Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Sunday, September 12, 2010

Once, Twice, Thrice

Intinya sih saya (masih) cukup cemas sekarang.

Hari Jumat, dua hari lalu, ada kejadian yang sungguh menyeramkan. Saya dan keluarga baru pulang setelah berkeliling Bekasi dan Jakarta untuk bertemu dengan sanak saudara. Jam 10 malam jika tidak salah mengingat. Alih-alih langsung mendirikan shalat isya seperti ayah saya, saya malah duduk saja. Ayah saya selesai berdoa, berganti dengan adik saya. Kembali, saya malah tidur telungkup. Maka terjadilah.

Saya mulai tidak bisa menarik napas, bersamaan dengan munculnya niat saya untuk bangkit dan mengambil air wudhu. Saya kira itu pengaruh bantal yang menutupi seluruh kepala saya, karenanya saya coba gerakkan tangan untuk lontarkan sekaligus juga untuk melihat apakah ada sebuah gaya - force, bukan pose - di atas saya. Apa daya, sekarang tangan yang dilumpuhkan. Perlahan seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuh saya. Dari ujung kaki, ujung tangan, seluruh lubang, dan ujung kepala. Sakit. Di samping saya ada ayah yang lega setelah menunaikan kewajiban ibadahnya dan adik yang sedang khusyu berdoa. Ironis sekali. Maka saya coba teriakkan. Suara saya tertahan. Sekarang rasa sakit terkumpul di kepala. Terdengar bunyi melengking seperti feedback pengeras suara ukuran giga yang menulikan pendengaran. Saya berkedip. Saya terbangun. Saya lemas, tapi tidak lelah.

Penjelasan ilmiah mungkinlah ini peristiwa yang disebut ditindih/ditiban - sleep paralysis? - yang marak di kalangan Anda sekalian. Nyatanya, saya belum pernah sekalipun merasakan sehingga tidak bisa berikan jawaban. Hal lainnya, ketimbang diberi beban berat dari atas, saya merasakan perasaan seperti disedot yang amat sangat.
Kemungkinan lain adalah sebuah fase lucid dreaming. Sama seperti ditindih, saya belum pernah merasakannya sebelumnya. Apapun itu, saya senang masih sempat shalat setelahnya.

Hari Sabtu, satu hari lalu, ada kejadian yang sungguh menegangkan. Saya dan keluarga besar yang menyewa sebuah bus kecil sedang dalam perjalanan pulang menuju Bekasi dari arah Subang. Masih pukul delapan di segenap kilometer tol Cikampek. Di tengah renungan di kursi paling kanan dan paling belakang, terjadilah.

Sebuah bus warna putih berinisial PJ - raja tol yang serampangan - melesat cepat dari kanan, langsung ambil kiri saat tiba momen yang tepat. Bus buatan Cina malang yang kami tumpangi terpaksa mengelak ke kiri juga. Seketika sarana ini menjadi wahana. Setelah mengelak dengan susah payah ke kiri sampai terasa terangkat dari jalanan, si pengemudi kembali membalikkan kendali ke kanan. Mulai terdengar teriakan dari para ibu dan para balita yang cukup mengancam. Kembali lagi bus mengangkang, roda kirinya tidak ingin berteman dengan aspal jalan. Lalu akhirnya, setelah banting kiri sekali, lajur bus lurus kembali. Ketimbang berdetak kencang saat kejadian atau setelah kejadian, jantung saya baru berontak sekitar tiga menit setelahnya.

Baru diketahui kemudian, bus kami memang tidak dalam kondisi prima. Rem anginnya sering bocor, bautnya banyak yang lepas, bagian luar rodanya sudah ada yang terkoyak, stirnya sendiri tidak bisa langsung berbelok karena ada bagian yang hilang. Ini serius. Sekarang saya sedikit punya gambaran tentang perasaan mereka yang masuk berita.
Untungnya pendingin udaranya bekerja dengan sangat baik.

Hari ini hari Minggu. Masih pagi. Jika saja memang akan terjadi sesuatu, saya harap saya bisa berbagi lagi.

"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!" -Truman (Jim Carrey)




Cheers, mate. :)

2 comments:

sabrinaa said...

djaf itu pas ketindihan ilang sendiri sakitnya terus bisa gerak lagi?
serem deh. ngomong pun ga bisa ya?

dijelennon said...

ih enak kalo ilang. ini masih ngawang kayak ada yang hilang sampe sekitar 30 menit.

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.