Saya selalu ingin turun ke jalan jika tidak menyusahkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika memang suara pelan sudah tidak lagi didengarkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika semua dengan rapi direncanakan.
Sayangnya, ibu saya belum setuju.
Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin menginap satu malam di rumah teman. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin tinggal saja di kostan. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin bergabung dengan pencinta alam dan pergi ke hutan-hutan.
Cukup satu alasan itu untuk mengurungkan niat saya. Bukan karena terpaksa, bukan karena manja. Semua karena alasan logis dan pertimbangan empiris. Ke depannya, semoga bisa.
Cheers, mate. :)


3 complains:
Sama. Tapi yang tidak membolehkan adalah ayah. Bersyukurlah punya orang tua yang peduli dan protektif. Tapi akan ada saatnya nanti, gua turun ke jalan. Nanti kalo gua udah bisa menemukan ritme yang sesuai di lingkungan baru dunia perkuliahan. Sekarang sih, bentuk kontribusi gua untuk negara adalah dengan menjadi mahasiswa yang mandiri dan sadar akan hak dan kewajiban. Hehe.
setuju sama nyokap lo kok ram hehe. ada kalanya "turun ke jalan" semakin tidak didengarkan. alasan lainnya, "turun ke jalan" hanya salah satu cara dari penyampaian aspirasi. selama tujuan masih sama, semua alternatif harus dicoba satu per satu.
@ghalila: sekarang kontribusi lo (baca: kita) adalah mendatangkan Manajemen 2010 ke Welpar hahaha
@wanda: ga mau, maunya turun asal ga nyusahin pengguna jalan haha
Post a Comment