Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, December 2, 2010

"Like heaven needs more to come in"

Di saat pojok ini hampir mati, seorang Ardelia Apti (Vice PO Maker FEUI 2011) membuat saya kembali berhasrat untuk menulis. Berhubung hasrat ini insidentil, hasilnya saya tidak bisa memberikan topik segar dan terkini. Untungnya saja label 'telisik musik' belum masuk kategori sampah terlupakan sehingga masih bisa dimanfaatkan di masa seperti ini.


And just why I picked this album? Percaya tidak percaya saya baru menikmati Copeland lebih kurang sebulan lamanya. Bahkan mereka sudah bubar jalannya. Tidak tahu salah siapa hingga saya tidak tahu menahu sebelumnya mengenai band ini. Terduga pertama mungkin Suryo Rudito, krucil sial yang mewarnai jaman SMP saya dengan The Beatles, Led Zeppelin, Queen, Guns N Roses, dan Nirvana hingga tuli terhadap musik milenium baru. Anyway, setelah sebulan berkenalan Copeland tidak banyak munculkan rasa kecewa, beda halnya dengan Vampire Weekend atau The Trees and The Wild misalnya.

Track by track by me:
1. Brightest - (2:06)
Baru mulai mereka sudah galau! "And I just know that she warms my heart and knows what all my imperfections are" dinyanyikan sepenuh jiwa layaknya seorang pengembara di ujung air terjun Niagara dengan latar bintang malam dan suara daun.

2. Testing The Strong Ones - (3:37)
Least favourite. May we go to the next song?

3. Priceless (For Eleanor) - (4:50)
Baru sampai di lagu ketiga saja saya sudah paham bahwa ciri Copeland dalam departemen lirik adalah pengulangan, yang untungnya tidak membuat bosan dan malah membuat pendengar ingin terus mengulangnya hingga hapal mati untuk kemudian dinyanyikan dalam sebuah lantunan massal saat konser pembubaran atau reuni nantinya, mengharapkan band ini tidak akan pernah punah, "And all of the world and all its power couldn't keep your love from me now, 'cause I need you."

4. Take Care - (4:11)
Kalau band terlalu bagus saat menyanyikan lagu yang membius, konsekuensinya adalah kurang nyaman didengarkan ketika mereka bermain sedikit bersemangat. Namun tetap saja hal itu tidak membuat baris macam "Keep that sweet heart of yours beating, I'll be right there" menjadi kurang puitis daripada semestinya.

5. When Paula Sparks - (4:55)
Ini lagu kedua yang paling panjang durasinya pada album Beneath Medicine Tree. Lagi-lagi mereka terdengar bersemangat. Walaupun dibilang bersemangat, jangan harapkan semacam rock modern karena vokal Aaron Marsh jelas-jelas seperti orang pasrah yang ada di altar eksekusi. Secara umum masih nikmat didengar, tapi bagi saya lagu ini kurang istimewa. Indahnya, lagu ini medley dengan lagu berikutnya, yang merupakan lagu berdurasi terlama dan jauh lebih lovable!

6. California - (5:26)
Kalau ada orang yang masih ogah pulang kampung setelah mendengar lagu ini, artinya antara hatinya terbekukan atau tidak punya ongkos untuk naik kendaraan. Coba disimak saja bagian chorus lagu ini, "All of us here in Florida are starved for your attention, we're starved for your attention." Copeland mampu membuat sebuah bujukan untuk pulang menjadi begitu puitis, tapi masih penuh kesederhanaan. Klimaksnya jelas sekali rintihan sang vokalis yang menyuarakan ajakan singkat dengan sepenuh rasa, "So come back from California."

7. She Changes Your Mind - (3:48)
Ini salah satu lagu semangat Copeland yang cukup empuk masuk ke telinga. But still, nothing is really special. Bagian terbaik mungkin hanya line pembuka lagu, "She changes your mind when you see the joy in her eyes." Segala lirik yang mengandung kata "mata" akan selalu bermakna.

8. There Cannot Be A Close Second - (3:38)
Lagi-lagi lagu semangat lagi. Saya hanya akan berkomentar mengenai sepotong lirik bagian tengah, "When you look at me there can be no hesitation" yang sangat polos dan mudah dimasukkan ke dalam pembicaraan sehari-hari.

9. Coffee - (4:46)
Akhirnya kembali masuk ke zona mendayu. Jenis lagu yang tiada banding ketika didengarkan pada petang menjelang gelap atau malam menjelang hitam. Nadanya mengajak untuk bermalasan, tapi masih ada sisi optimis yang mencegah diri untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh khas fase depresi. Kemudian rasanya tidak akan ada yang lupa bagian, "If it's not too late for coffee, I'll be at your place in ten."

10. Walking Downtown - (3:06)
Another least favourite. Sorry, guys.

11. When Finally Set Free - (3:56)
Terlepas dari drumline yang sedikit berbeda dari lagu lainnya pada bagian pembuka, nampaknya tidak ada aspek lain yang bisa saya berikan tanggapan lebih lanjut. Liriknya yang terus sama sejalan dengan musiknya yang juga serupa dari awal hingga akhir. Penutupan yang cukup rapi sebenarnya, dengan barisan lirik semacam, "Feel the pain teaching us how much more we can take, reminding us how far we've come."


3.7/5


Cheers, mate. :)

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.