Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, February 6, 2010

Something We Don't (Want To) Understand

Ah, Twitter. Lagi-lagi Twitter. Gara-gara Twitter blog saya jadi terbengkalai, terdiam lunglai. Namun demikian, tulisan kali ini adalah berkat Twitter juga. Beberapa minggu lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan yang saya kira tidak akan terlalu reaktif, tapi kenyataan memang acapkali bertolak belakang. Saya lupa tepatnya macam apa, tapi intinya adalah masalah memberikan harapan kepada seseorang.

Dan, ya, akhirnya saya menulis sesuatu yang berbau cinta lagi. I mean, it's February. I like it. On the 14th, we have the Valentine's, and yeah February is nice. What can you do with 28 days instead of 31?

Baiklah, kita mulai saja ke pokok permasalahannya.

Ini pernyataan pertama:
Pria lebih suka diberi harapan dan mencoba, walau akhirnya gagal.

Ini pernyataan kedua:
Wanita lebih baik tidak diberi kesempatan dari semula, daripada sakit nantinya.

Saya tidak berkata ini pasti, karena memang jarang sekali hal yang pasti di dunia ini. Setidaknya inilah yang saya dapat dari lapangan, dari pengamatan dan dari tanggapan. Sedikit menyedihkan bukan? Sekarang kita tahu kenapa sebuah hubungan antarseks gagal sebelum dimulai adalah hal yang lumrah.


Ini cerita satu, dimana yang dikecewakan adalah wanita. Kenapa? Ladies first, mate. Ah, betapa mulianya wanita.

Cerita I: Arif, Tania, dan Aida Si Orang Ketiga
Kita panggil teman kita dari Bandung, Arif namanya. Hobi bermain basket dan kebut-kebutan, suka cimol, dan anak tunggal. Lalu untuk lawan mainnya, siapa kira-kira, ah wanita Jakarta, si Tania. Cantik, baik, dan suka Jonas Brothers. Sudah tentu kita paham bahwa Arif adalah seorang pria dan Tania adalah seorang wanita. Itulah masalahnya.
Tania - dan layaknya semua wanita pada tribun penonton juga - langsung jatuh hati pada Arif yang melakukan three-point penentu kemenangan pada suatu final kejuaraan basket antar SMA se-Nusantara. Ketika pertandingan usai, Tania terdorong oleh seorang remaja histeris ketika hendak turun dari tribun. Ah saya yakin Anda tahu kelanjutannya: Arif membantu Tania, lalu berangsur ke unit kesehatan dan kantin. Mereka bertukar nomor telepon seluler - atau Facebook dan Twitter, tergantung tingkat ketergantungan Anda kepada dunia maya - dan pulang ke rumah masing-masing dengan rasa bahagia serta sedikit bangga.
Tiga bulan (baca: tiga bulan penuh kemesraan) berlalu membuat Tania merasa bahwa pertemuan berikutnya akan mempersatukan mereka. Walau demikian, sebagai seorang wanita (lihat pernyataan kedua di atas) dia selalu khawatir dan curiga. Kemudian tibalah sebuah pesan di wall Facebooknya - ya ya saya akui saya cinta dunia maya - dari Arif, "Tan, minggu depan gue ke Jakarta. Temenin ya. " Dagdigdug kompor mledug. Ah kenapa cinta harus begitu rumitnya, kawan.
Hari itu hari Sabtu, Tania - seperti biasa - bersolek terlalu lama sehingga Arif terpaksa mengirim SMS yang menanyakan keberadaannya. Disadarkan oleh Arif, Tania bergegas menuju mal yang ada 1 dan 2 yang dihubungkan oleh jembatan (bukan, bukan mal yang tiap minggu Anda datangi kok). Das, Tania datang dan langsung patah hatinya. Arif berdiri di depan bioskop dengan seorang wanita dan beberapa temannya. Selanjutnya seperti di komik-komik cinta, "Kenalkan, ini Aida. Cantik kan?" Tania berkata lirih, "Boleh gue ke toilet?" Selanjutnya, menangis dan pulang tanpa bilang-bilang.
Malamnya, Arif menelepon Tania, "Kok lo tiba-tiba pulang tadi? Padahal gue pengen ngenalin temen gue ke lo, loh." "Lo pikirin aja sendiri! Kenapa lo jahat banget sih ngasih harapan palsu?!" Telepon ditutup, tapi layaknya seorang pria biasa, Arif dan teman-temannya serta Aida meluncur ke klub malam dan teler hingga pagi.

Menyedihkan ya? Tidak juga. Ini cuma masalah persepsi. Arif, seorang pria, menganggap tiada mengapa bersikap baik kepada setiap wanita. Bahkan, saya yakin dia tidak bermaksud untuk mempermainkan Tania. Buktinya dia bermaksud memperkenalkan seorang temannya. Inilah satu lagi sifat pria, terutama yang fokus sekali kepada sesuatu: kurang peka. Di lain sisi, Tania, seorang wanita, malam itu akan terjaga dan menyesal, "Kenapa sejak awal lo ngasih harapan? Kenapa? Arif bodoh.." Keesokan paginya - siapa sangka - matanya sudah tidak ada pada tempatnya.

Sudah cukup dari sisi wanita, sekarang pria yang kecewa!

Cerita II: Soni dan Aida Si Orang Ketiga
Aida sudah putus hubungan dengan Arif ceritanya. Putusnya klise, "Kamu berhak dapat yang lebih baik dari aku." Satu semester berikutnya, Aida yang sudah mulai haus cinta bertemu Roni. Saat itu, Roni sedang mencari model untuk sebuah job fotografi. Aida, yang kerap menjadi model bagi klub fotografi tempat Roni bernaung, disewa karena mukanya yang dewasa cocok untuk produk yang hendak dipasarkan. Itu pertama kali Roni menggunakan Aida sebagai model, tapi dia langsung ketagihan. Mulai dari pemilihan pose hingga pembicaraan dan candaan setelah kerja, mereka berdua saling melengkapi. Berlandaskan "untuk job-job berikutnya" akhirnya mereka bertukar nomor telepon - kali ini tidak mungkin Facebook dan Twitter, karena Aida sedikit buta teknologi.
Mereka makin sering bertemu, baik atas nama pekerjaan ataupun sekedar minum kopi di petang hari. Hingga suatu hari, Aida yang seorang wanita dengan peka menyadari bahwa pandangan mata Roni sudah berubah menjadi lebih dari pandangan seorang teman biasa. Awalnya hal kecil ini tidak ditanggapi besar oleh Aida - walaupun sebenarnya dia khawatir, layaknya wanita umumnya - tapi makin lama dia yakin harus berbuat sesuatu. Maka tibalah hari itu. Hari ketika Aida menjadi model dan Roni menjadi fotografer, tapi semuanya berlangsung begitu datar dan tanpa tawa. Bahkan setelah selesai Aida langsung pergi keluar dan memanggil taksi. Malamnya, Roni tidak tinggal diam. Tak peduli sisa tenaga, Roni menyambar teleponnya.

*telepon tersambung*
Roni: "Assalamu'alaikum. Ini Aida?"
Aida: "Ya."
Roni: "Hey, tumben tadi diem aja? Kangen orangtua di Surabaya ya?" *layaknya seorang pria, Roni mencoba memecahkan suasana*
Aida: "Gak kok." *...dan Roni gagal selayaknya banyak pria lainnya*
Roni: "Oh gitu. Anyway, tadi hasilnya bagus loh, kita dipuji. Besok mau nonton buat merayakan? Ada film bar.." *ga nyambung tapi dipaksakan nyambung, tapi itulah pria*
Aida: "Sorry Ron, kita harus bicara." *...dan sang pria gagal lagi*
Roni: "Hmm kenapa?" *here comes the fear*
Aida: "..."
Roni: "Hey?"
Aida: "Mmm.. Gak.."
Roni: "Damn I know it."
Aida: "Hah? Mmm.."
Roni: "Oke gue ngaku gue yang waktu itu nyuri tanktop pink lo. Maaf ya." *see how a man would die to make the woman he likes smile?*
Aida: "Bu.. Bukan.."
Roni: "Gue tau kok. Gue pikir lelucon tadi bisa menghentikan lo untuk bilang yang akan gue bilang. Hehe."
Aida: "..."
Roni: "Lo ga mau kita jadi lebih dari temen kan? Gue cukup peka kok soal beginian."
Aida: "Tapi, bukan berarti lo gimana. Gue udah nyaman banget kita begini, gue jadi berasa punya kakak. Lo inget kan waktu ki.."
Roni: "Yeah, yeah I remember. Well then, I hope everything never change. Good night."
Aida: "Ya. Amin. Maaf Ron, gue ga bermak.."
*telepon diputus sebelom Aida sempat berkata maaf*

Kenapa Roni berbicara dengan cepat dan memutuskan telepon? Karena detik berikutnya setelah telepon terputus dia menangis. Sambil berjalan ke rak CD dia menangis, sambil mencari CD The Cure dia menangis, sambil memutar 'Boys Don't Cry' dia menangis. Salah siapa? Tiada. Aida, seorang wanita, hanya mau memperlakukan orang lain - yang sayangnya kali ini seorang pria - sebagaimana dia mau diperlakukan: tidak diberi harapan palsu. Padahal Roni, seorang pria, akan lebih memilih mati ketika berusaha ketimbang tidak diberi kesempatan sama sekali. Beberapa hari ke depan akan dihabiskannya bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa kesalahan gue? Apa gue tidak cukup baik?" Lalu kemudian hubungan mereka tidak pernah seperti sediakala.


Semoga uraian saya di atas sudah cukup jelas. Kalau belum, komentar saja. Pasti nantinya akan saya berikan jawaban mendalam. Marilah kita - pria dan wanita - saling mengerti, layaknya Mars dan Venus berputar bersama mengelilingi matahari.




Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.