Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Wednesday, April 28, 2010

Bludakan Informasi

Saya sendiri tidak yakin "bludakan" adalah sebuah kata. Saya hanya mencomot "bludak" dari "membludak" sebagaimana banyak kita mencomot "ledak" dari "meledak" dan kemudian menambahkan akhiran -an seperti saat membentuk kata "ledakan". Cukup adil bukan? Maksud saya, kalau hal itu dilarang artinya saya - dan Anda - telah melakukan diskriminasi pada si Bludak. Bersama kita telah melahirkan sebuah cabang baru dari rasisme: kataisme. (jika Anda menganggap kata ini tidak nyata, lagi-lagi Anda melakukan diskriminasi - menjadi seorang katais!)

Anyway, malam ini saya bukan ingin membahas lebih jauh perihal tetek bengek - bukan tetek asma - semacam itu. Harus saya katakan, dengan sangat menahan segala haru, bahwa saya rindu kepada biang kerok bludakan informasi: si burung biru.


Saya mulai kangen pada luapan - baiklah, sekarang saya sengaja menggunakan kata ini sebagai pengganti "bludakan" untuk menghindari komentar pedas para katais - informasi yang membuat Twitter menampilkan pesan over-capacity. Saya mulai gatel untuk kembali lagi mencibir @ohjustlike si pahlawan remaja masa kini. Saya mulai kehabisan bahan omongan untuk dibahas di tongkrongan. Saya mulai tidak menganggap bahwa Justin Bieber hanya karakter rekaan yang hidup di daftar Trending Topics. Saya mulai tidak yakin bahwa demam K-Pop masih mewabah. Saya mulai tidak kehabisan baterai BlackBerry di saat penting.

Ah, Twitter. Debat-debat asal lewat yang merusak persepsi, ringisan fangirl yang bikin nangis karena kesal, kritik intelektual yang banyak salahnya, berita diskon di mal sebelah, dan lainnya. Ah, Twitter. Si gadis yang selalu bercerita akan cintanya yang berkedip sebelah mata, si pemuda yang tidak suka tingkah remaja sebayanya, si mata yang hanya menyimak bersama si kuping yang hanya mendengar, dan lainnya. Ah, Twitter.

Jadi, dalam waktu dekat nampaknya saya akan kembali ke dunia sana. Dengan nama baru tentunya, karena ketika itu saya lupa mengganti nama @ramadhanputera menjadi nama aneh apa saja agar tidak bisa dilacak dan dapat dipakai lagi. Mungkin kali ini akan lebih ringkas, semisal @ramadjaffri, @rpdjaffri, @jabee, atau @maddax. Oh, dan jangan anggap saya remaja-labil-lainnya-yang-sok-mau-menonaktifkan-akunnya-tapi-kemudian-tidak-tahan-sendiri. Tujuan awal saya pergi memang untuk kembali, eh, maksudnya untuk menghapus tweet-tweet lama saya. Sayang sekali Twitter tidak mempunyai fitur delete all, what a shame. Atau dia punya? Kalau benar, what a shame.

Go to sleep, anyone? #labil




Cheers, mate. :)

Sunday, April 25, 2010

Prologue: Bonjour

Hello, I'm Ben and my last name is not necessary for you to know. This is the story of how I see the world and how I deal with it. They said this spot is the right place to keep a journal, so I'll do.

This place is called Bonjour. Wide open from 5 AM to 1 AM and located at the centre of this city, they never run out of costumer. Five to nine in the morning you will mostly see neat people in suit carrying a briefcase (or two), walking, talking, eating, drinking in a hurry. Morning tempo often makes me dizzy even when I'm just sitting on this corner. Then, until four in the afternoon the tempo is getting slower. The neat morning people often come again for lunch, but not that often. What might attract you during this interval is a girl who visits Bonjour to buy her breakfast at 1 PM on weekdays and 11 AM on weekends. This, I'll tell you later.

So, here comes the evening shift. It's as busy as the morning shift, but fortunately it doesn't make me sick. Evening tempo is much friendlier. Maybe it's because these neat people come for a different purpose; to relax, not to hunt. During this time of the day, you'll find even more interesting personas. Local musicians come at 6 and started playing - after a glass of beer or a cup of coffee - at 7.30. It's not scheduled, but I'm surprised of how conformity made it like it is now. Monday and Wednesday are blues nights. On Tuesdays, they play Top 40. Thursday and Saturday are a bit random, but mostly they got rock music blaring. Fridays - my favourite - bring you jazz and finally Sunday, the karaoke night.

The crowd usually stays until 11, leaving the midnight shift alone. A few neat people - that have lost their neatness because of alcohol consumption - stay at the bar, sleeping. Bonjour locks his doors on 1 AM, but let the KO-ed costumers to sleep inside to prevent them on getting robbed or murdered. That pretty much tells you about this incredible place, right? Let's review.

Bonjour (Open 5 AM - 1 AM)Italic
Monday: Blues
Tuesday: Top 40
Wednesday: Blues
Thursday: Rock
Friday: Jazz
Saturday: Rock
Sunday: Karaoke

Clear enough? It should be crystal now.

P.S. Sorry for the bad grammar, I'm not anything closer to your school brainiacs.

Sunday, April 18, 2010

Tertuju Kepada Yang Terutama, Anissa Paramita

Oh, why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now

Don't be ashamed to cry
Let me see you through
'Cause I've seen the dark side too

When the night falls on you
You don't know what to do
Nothing you confess, could make me love you less

I'll stand by you, I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you

So, if you're mad, get mad
Don't hold it all inside
Come on and talk to me now

Hey, what you got to hide?
I get angry too
Well I'm a lot like you

When you're standing at the crossroads, don't know which path to choose
Let me come along
'Cause even if you're wrong

I'll stand by you, I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you

Take me in, into your darkest hour
And I'll never desert you
I'll stand by you

And when, when the night falls on you, baby
You feeling all alone
You won't be on your own

I'll stand by you, I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you

Take me in, into your darkest hour
And I'll never desert you

I'll stand by you, I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you

And I'll never desert you

I'll stand by you, I'll stand by you
Won't let nobody hurt you
I'll stand by you

-I'll Stand By You, Finn version of The Pretenders' song
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.