Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Friday, May 14, 2010

Monday: Tell Me Why

There she comes. She's a bit early, it's only 12:40. Anyway, now I'll tell you about this girl.

Her name was Martha and on Mondays she comes alone. The first thing she - always - does is washing her hands at the sink on the left of the entrance. Then, she would walk steadily to the counter to order two cups of hot cappuccino - one for her, one for her fiance. I know it's for her fiance because once she happened to talk on the phone and saying a guy name, Rod, passionately. And that's it. Two cups weren't that much a waiting, so it won't be long until she disappears. See you tomorrow, Martha. Sometimes I wish she would lose her balance and spill the coffee so I could help a bit, but I guess she's better than that.

The rest of the hours was uneventful, until the sun went down. The Blue Hogs were supposed to be playing tonight, but it's already 8.00 and not even their most punctual member, Brad, the bass player, was there. As the result, some drunken gentlemen in suit stepped to the stage and started their own show. At first, I thought it would turn out to be a disaster, but it's quite good actually. All was alright except for the dude on drums who fainted after a 6-minute solo at the end of the show.

"Ben, we're closing. Heh."

That was Vince. Well, I guess that's Monday. I hope the next Monday will be better.



P.S. Martha didn't wear a skirt today. Tell me why?

Wednesday, May 12, 2010

Universitas Indonesia atau University of Indonesia?

Nasionalisme itu memang sempit. Ketika topik semacam ini muncul di permukaan, saya harus berterima kasih kepada Universitas Gadjah Mada - bukan Gadjah Mada University! - yang memantapkan penggunaan bahasa asli untuk institusi mereka. Pada studi lapangan kelas 11, saya masih ingat jelas, dengan semangat yang tinggi pengisi materi di FEB UGM berkoar bahwa UGM adalah UGM dan bukan GMU.

Coba saja buka website resmi UI dan baca apa yang tertera di atasnya: UNIVERSITAS INDONESIA. Dahsyat sekali ya. Kemudian jika Anda mencari "Universitas Indonesia" di Google, link pertama dari hasil pencarian berbunyi seperti berikut: "Universitas Indonesia (UI) is a modern, comprehensive, open-minded, multi-culture, and humanism campus in the capital of Indonesia. Waduh, bangga sekali melihatnya - walaupun saya agak ragu apakah 'humanism' tepat penggunaannya. Sekalipun penjelasannya menggunakan bahasa Inggris agar dapat dimengerti penduduk dunia, namanya masih memakai satu bahasa kita, bahasa Indonesia.

Lantas apa gunanya kita meng-Inggris-kan universitas menjadi university dan kemudian menambahkan "of" segala di tengah-tengahnya? Terlihat lebih elit rasanya tidak juga, karena "universitas" bunyinya cenderung lebih berkesan ilmiah - seperti civitas, setidaknya bagi saya. Lebih mudah diucapkan juga tidak terlalu, karena mengucap "ti" bikin bibir jadi monyong. Lebih singkat jelas tidak, Universitas Indonesia mempunyai sepuluh suku kata, sedangkan University of Indonesia memiliki sebelas!

Bukannya tidak boleh kok, hanya sedikit sentilan saja buat Anda dan buat saya. Saya juga paham nasionalisme kecil seperti ini mungkin tidak berarti banyak, tapi lumayan. Kita sudah terlalu sering mencibir musik dan banyak hal lainnya ciptaan anak bangsa dan memuja-muji produk-produk luar negeri. Kenapa tidak berusaha sedikit saja dan mengucap Universitas Indonesia?

Terakhir, layaknya blog-blog tetangga, mumpung tulisan kali ini ada hubungannya dengan Universitas Indonesia, saya ingin bersyukur kepada Allah karena mengabulkan permohonan saya. Terima kasih.


Untuk yang tahun depan akan berjuang, satu wejangan: ini berawal dari kegagalan.




Cheers, mate. :)

Monday, May 3, 2010

I'm (still) Glad I'm Weird

Selepas membaca sebuah post Andara Shastika di Tumblr-nya, kacamata saya berganti sedikit komposisinya, bukan berarti menjadi seperti yang dimaksudnya. Adapun dampaknya adalah berubahnya pandangan saya mengenai kata aneh (dalam bahasa Inggris, weird), maknanya, dan artinya bagi orang yang diberikan cap seperti demikian. (Anda tahu masing-masing "nya" di alinea ini mewakili siapa saja kan?)

Beberapa hari lalu saya meng-update Twitter saya dengan "I'm glad I'm weird." Waktu itu saya berpikir, "Saya aneh" karena "Saya tidak seperti kebanyakan." (kebanyakan: orang di sekitar kita, bukan seluruh dunia). Saya bukan akan introspeksi dan mengatakan saya tidak seperti kebanyakan lalu berhenti bersikap menjadi seorang yang - merasa - eksklusif, tapi saya jadi sadar: kenapa saya yang jadi aneh? Kenapa yang aneh itu adalah saya dan bukan mereka?

Sebelumnya, saya ingin minta maaf dulu kepadanya (hayo "nya" ini siapa?) karena saya termasuk yang menyebutnya (lagi, siapa?) aneh. Kalau soal ini, saya harap hanya perbedaan kacamata. Selama ini saya menganggap "aneh" itu bukan sesuatu yang bersifat menyudutkan, dan tidak selalu bersifat positif juga, hanya sebuah kata. Maknanya? Ya yang tadi saya utarakan, "tidak seperti kebanyakan". Seperti ketika saya melihat ada seekor macan tutul di toko ikan. Itu aneh, tidak seperti kebanyakan. Menghina? Tentu saja tidak. Memuji? Ya tidak juga. Sudah mengertikah, Shas? (ini dia si "nya"!)

Namun kemudian, sekarang saya semakin kacau, karena saya tidak mau lagi menyebut diri saya sendiri aneh. Ketika mulut saya yang berbicara, mata saya seharusnya melihat saya sebagai "kebanyakan" dan melihat orang lain sebagai "aneh"! Ini baru keadilan, ini baru kewarasan. Kenapa saya harus merelakan diri saya menjadi aneh agar orang lain terlihat normal? Sekali lagi, bagi saya "aneh" masih tetap tidak bersifat menyudutkan dan tidak tentu pujian. Ini hanya masalah sikap diri saja.

Lain halnya dengan dipanggil aneh. Saya harus rela - dan memang tidak alasan untuk tidak rela - dianggap aneh oleh orang lain, karena saya sendiri mungkin menganggap mereka demikian. Toh baik dengan niat apapun mereka berkata, ketika hinggap di saya "aneh" itu akan menjadi "tidak seperti kebanyakan" (dalam hal ini, "kebanyakan" artinya "mereka"). Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ofensif, bukan juga sebuah pujian. Kalau saya aneh menurut Anda, berarti Anda aneh menurut saya. Karena saya tidak seperti Anda, secara otomatis Anda tidak seperti saya! Bagaimana mungkin seorang A tidak seperti seorang B, tapi kemudian seorang B seperti seorang A? Bagaimana mungkin seorang A aneh bagi seorang B, tapi kemudian seorang B tidak aneh bagi seorang A?

Namun kemudian, sekali lagi, di saat saya asik-asikan memaksakan idealisme, kenyataan selalu sradak-sruduk masuk ke hidup saya. Setiap orang pasti pernah berbeda - dalam kata lain, aneh! - bagi orang lainnya. Saya tidak mungkin menyisipkan defini "aneh" milik saya ke dalam kepala setiap orang yang saya kenal. Kalau saya hampiri tukang jualan siomay di halte Ratu Plaza dan berkata, "Bang, abang aneh deh!" (karena di halte itu hanya dia sendiri yang jualan siomay; tidak seperti kebanyakan) bisa-bisa besok dia beralih dari penjual siomay ikan menjadi penjual siomay Djaffri. Itu buruk sekali, saya akan gagal meraih mimpi saya untuk punya blog dengan 100 posts lebih.

Hal lainnya, mau tidak mau, pada beberapa pemakaian kata "aneh" saya berkata di dalam hati - atau otak, bagi Anda-Anda para realis - bahwa "aneh" adalah aneh sebagaimana mestinya. Tidak sampai berarti "menjijikkan", tentu saja tidak "jelek", hanya sedikit menyerempet "anak-SD-yang-pipis-di-celana" (sungguh, saya bingung harus mendeskripsikan "aneh" sebagai apa lagi karena memang "aneh" itu sudah artian terkecil). Kemudian juga sebaliknya, pada beberapa penggunaan saya tanpa sengaja memaknakan "aneh" sebagai "eksentrik", alias "aneh dalam arti yang baik" - well, okay, ini yang saya maksudkan ketika tanpa sengaja atau disengaja memanggil Shasti aneh. Alam bawah sadar melahap habis idealisme saya sendiri.

Jadi, inti dari tulisan ini apa? Awalnya saya memaksakan kehendak, tapi akhirnya kecut sendiri. Bukan, ini bukan inkonsistensi, tapi objektivitas. Saya selalu mencoba melihat suatu masalah dari - setidaknya - dua sisi: sisi saya dan sisi Anda. Saya bisa saja mengganti paragraf 6 dan 7 menjadi sebuah paragraf pendukung pemikiran awal saya, tapi tidak ada gunanya. Buat apa memaksakan kehendak untuk sebuah kata "aneh"? Nanti saya dibilang aneh!




Cheers, mate. :)
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.