Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, August 28, 2010

Independen

Kalau menuruti New Oxford American Dictionary yang disertakan oleh Steve Jobs dalam setiap pembelian Macbook, arti pertama dari "independent" adalah "free from outside control; not depending on another's authority".

Pun kali ini yang akan dibahas bukan "independen" dalam artian "mandiri", tapi cenderung kepada "berbeda" atau "merdeka", tapi bukan "kemerdekaan".

Independen bukan selalu film 78 menit berbudget rendah dengan dialog unik, musik-musik galau atmosferik berbahasa Skandinavia, atau program studi yang jarang penumpangnya. Menjadi seorang yang indie juga bukan berarti jadi skeptis terhadap arus besar dunia, menolak kemapanan, dan/atau duduk di pojokan ogah untuk berteman. Yang paling penting, independensi bukan ada untuk dipaksakan.

Kebanyakan - jika 'semua' terlalu memaksa - dari kita rasanya pernah masuk ke dalam tahap indie wannabe. Idealisme itu memang kepunyaannya anak muda. Namun kemudian, idealisme siapa? Jangan jadi idealisme dia menginvasi Anda, jangan jadi idealisme mereka mengubah Anda, jangan jadi idealisme saya membayangi Anda. Siapa juga berkata yang sudah ada itu pasti tidak ideal?

Setelah beberapa pengkajian berdasar pengalaman sendiri (tidak absah) dan logika (seadanya), sekarang saya melihat sikap independen lebih kepada pendekatan how daripada what. Maksudnya, saya lebih tergugah melihat cara yang berbeda dibanding sesuatu yang memang berbeda. Karena di usia tua, sudah tidak banyak yang bisa dibuat baru di bumi. Pun yang sudah ada seharusnya sudah tatanan terbaik dengan berbagai perbaikan dari kekurangan masa lampau. Sudah bukan saatnya lagi membuat api atau mencipta roda.

Daftar hal yang saya dulu anggap sangat indie: The Raconteurs (band), Little Miss Sunshine (film), Vernon God Little (buku), Kriminologi (program studi), dan parkour (hobi).

Well, mereka masih indie karena nyatanya memang saya tertarik tanpa pengaruh siapa-siapa - free from outside control. Bedanya, sekarang saya lebih cenderung "Oke lah, saya suka ini, selesai," dan bukan lagi, "Payah kalian, ini baru keren, dasar mainstream." Contoh-contoh di atas menjadi sesuatu yang indie karena sesuai dengan diri saya, bukan karena tidak sesuai dengan diri kebanyakan orang. Memang faktor tidak-sesuai-kebanyakan juga berpengaruh dalam membuat hal-hal di atas menjadi indie, tapi tidak dominan.

Daftar hal yang sekarang sangat indie: jurusan Manajemen Keuangan, Miley Cyrus, dan naik mobil pribadi.

Dulu saya selalu berminat untuk masuk konsentrasi SDM (dan fakultas Psikologi), tapi setelah perbincangan dengan orang tua yang menyadarkan saya akan salah satu lagi strength saya, akhirnya finance terlihat begitu menariknya. Dengan pendekatan berbeda, saya bisa melakukan hal yang dipilih oleh 50% mahasiswa Manajemen menjadi sesuatu yang sesuai dengan diri saya, dan mungkin hanya sesuai dengan diri saya.
Sama halnya dengan Miley Cyrus (tapi tidak Hannah Montana). Temannya Jonas Brothers dan Demi Lovato - yang tidak saya suka - ini nyatanya adalah seorang idola. Tampilannya, suaranya, liriknya, semua saya suka. I'm free from outside control, there is no such thing as a guilty pleasure. Banggalah akan apa yang Anda suka. Saya suka Miley Cyrus! Saya suka Gita Gutawa!
Mobil pribadi adalah termasuk hal yang saya cukup hindari ketika dulu masih bersepeda ria kemana-mana. Yang terjadi adalah kemudian saya sadar bahwa jarak 20 km lebih di Indonesia itu penuh rintangan. Lainnya, ada juga masalah efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Saya tidak akan buang 1 jam yang bisa berguna untuk asistensi, sejumlah kalori untuk membuat makalah, dan beberapa juta untuk membayar sepeda lipat.

Daftar hal yang sekarang saya pikir tidak indie: bersepeda.

Sewaktu SD dan SMP (dan SMA, walau hanya untuk pergi kursus) bersepeda adalah lifestyle saya. Main ke rumah teman, bertualang ke kampung-kampung, balapan liar, bahkan menuju sekolah saat kelas 7 hingga 9. Tanya saja penggila sepeda angkatan 8 SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama kalau tidak percaya. Sekarang? Sudah tidak bisa, tidak efisien tepatnya. Apalagi mahalnya menggila. Bike to work atau work to get a bike? Kalau sekadar beli telur di warung sih menggowes sepeda lama saya masih menyenangkan.

Lain hari, jadilah diri sendiri bukan karena berbeda dari orang lain. Keep yourself to yourself.




Cheers, mate. :)

Wednesday, August 25, 2010

Tiga Tahun Untuk Selamanya

Di hati kecil saya, setiap ada yang berteriak apa saja, baik itu "Hidup mahasiswa" atau sekadar "1 2 3", saya masih bersiap dan berharap itu adalah "Sapta Garuda" untuk kemudian saya balas dengan sekuat tenaga.

Happy 3rd birthday, Saptraka!




Cheers, mate. :)

Tuesday, August 24, 2010

Anissa Paramita

Nah ini dia. Dia adalah saingan saya yang membuat saya gagal menjadi juara kelas semester ganjil karena kalah 1 poin saja. Dia adalah kebanggaan saya yang berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui jalur PPKB. Dia adalah teman saya yang saya tahu akan selalu ada di sana ketika saya bahagia ataupun muram.
Saya menyatakan perasaan - dan diterima, langsung, yes - kepada Anissa pada sore hari (setelah sekolah bubaran) tanggal 28 April 2009 di depan kelas Matematika lantai 2. Beberapa hari sebelumnya kami juga sempat berjalan-jalan ke Planetarium TIM (gagal, lalu pindah ke Taman Menteng) bersama Beler, Gilang, Bidi, Andra, Gisha. Tadinya mau jadian saat itu saja, tapi saya harus disiplin untuk menepati janji yang saya buat kepada diri sendiri. Alhamdulillah sampai detik ini masih bersama setelah melalui pertengkaran-pertengkaran kecil maupun besar, tawa canda dan senda gurau, masalah yang dihadapi bersama dalam berbagai keadaan, kecemburuan dan persaingan, satu setengah bulan Ramadhan dan satu tahun baru serta 15 bulan. Hey, I mean, how many times would you find love at an accounting competition?

Kelas 12 bersama Saptraka isinya masih beringas terlepas dari ujian negara dan ujian masuk universitas yang membayangi setiap harinya. Dimulai dari kegilaan karya tulis pada semester 1 dan berakhir dengan gegap gempita kelulusan di akhir semester 2. Sebenarnya Sky Avenue juga diadakan saat sudah duduk di kelas 12, tapi berhubung saya ingin membuat pandangan bahwa kelas 12 isinya akademis melulu, saya tarik keluar acara besutan Imo dan Channi itu dan malah mengajak masuk pengerjaan kartul yang sebagian terjadi di kelas 11.

Kalau bicara soal karya tulis, yang terpikir itu ada dua: cabut dan bu Epy. Seru deh pokoknya. Cabut paling ikonik bagi saya adalah cabutnya Punk dan Afghan - sudah dimulai sejak kelas 11 - karena alasannya selalu sama: pergi ke bank. Saya sendiri termasuk orang yang lebih suka bekerja di rumah (memang belum punya laptop) daripada bersusah payah di sekolah (memang pemalas). Karena itu saya cukup kagum dengan upaya mereka yang giat melakukan penelitian mereka di bank mana pun itu.
Sidang karya tulis saya pun berlangsung wajar. Bu Yuni, Pak Risang, dan Pak Ali berlaku santai dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya perkirakan sehingga tidak membuat saya menjadi kelabakan. Saya dengar banyak yang bermasalah di bidang Ekonomi, tapi nampaknya Saptraka pada akhirnya tidak ada yang tersandung karena masalah karya tulis. Mengulang dan merevisi ada beberapa, tapi nampaknya tumpukan hard cover di meja bu Epy pada akhir tahun ajaran sudah cukup menjelaskan.

Di semester 2, tidak ada satu kejadian spesifik yang benar-benar bisa saya ingat karena setiap harinya adalah potongan-potongan penting yang jika dirangkai barulah menjadi satu kejadian, yaitu kelas 12 itu sendiri. Setiap harinya dipenuhi dengan harapan, doa, kecemasan, belajar, peluh, tapi masih diselingi senyum, tawa, cerita, dan kebersamaan. Belajar efektif yang dikelompokkan sesuai daya tangkap dan dikondisikan ulang durasinya, tryout rutin yang diadakan di kelas yang dingin, merelakan waktu untuk belajar sampai malam di bimbingan, memulai pekerjaan untuk Buken dan prom night pelan-pelan, tapi karena dihadapi bersama rasanya masih menyenangkan. To live that moment with Saptraka is one experience among the other.

Jujur sampai sekarang saya belum benar-benar merasakan perpisahan, makanya tulisan tahun ketiga ini juga mungkin tidak akan terlalu seru (tidak banyak kata-kata yang ditebalkan) dan akan berakhir sebentar lagi. Saya sadar sepenuhnya bahwa jarang lagi akan terjadi tegur sapa antara semua, tapi saya masih bisa berkata, "Lalu apa?" Mungkin karena saya saat ini belajar di Depok dan bukan di Bogor, Bandung, Jogja, Surabaya, Semarang, Aceh, Bali, Kalimantan, Lombok, Papua, Malaysia, Australia, Jepang, Jerman, Belanda, ataupun Amerika. Mungkin juga karena saya tahu bahwa dunia sekarang adalah sebuah desa kecil yang saling terhubung dengan hadirnya Facebook, Twitter, Skype, BlackBerry, Foursquare, dan komplotannya. Ataukah mungkin ini karena saya memang belum benar-benar memutar ulang setiap detil yang sudah terjadi selama tiga tahun ke belakang?

Untuk sekarang saya cuma bisa berharap kehadiran Buken yang sedang mengalami masalah di urusan perizinan (doakan kami, tapi jangan tanya mengenai) dapat memberi saya pencerahan. Sampai saat itu datang saya harus mengakhiri tulisan ini dan akan mencoba menutup mata dan mengingat lagi apa yang sudah terjadi. Ketika sudah mampu, saya akan beri.




Cheers, mate. :)

Monday, August 23, 2010

Skyblitz

Tahun kedua! Skyblitz 08! The year of the geeks! Mulai dari hunting rutin yang rutenya itu-itu lagi, tapi tidak lekang dihabis jaman sampai ngobrol ngalor ngidul selama dua jam setiap Jumat siang. Mulai dari Labs Phylosofi di Monas yang berbintang saya dan Thomy sampai Hunting On The Trip yang membawa Aldo jadi juara dua. Mulai dari cetak manual di kamar gelap jadi-jadian sampai fotonya Yasmin yang "dicuri" tukang cetak depan Mayestik. Time of my life, man. I'm glad I was there, I'm proud of being a part of us. Daripada dijelaskan dengan kata-kata, sehubung kita klub fotografi, langsung saja 1000 kata.


Hunting Inisiasi, Kota Tua


Hunting On The Trip, Tangkuban Perahu


Rally Photo Labs Phylosofi, Monas


Kalau berbicara kelas 11, yang ada hanya kepanitiaan, kepanitiaan, dan kepanitiaan yang bikin sibuk dan kelelahan (not to mention that my grade was, *cough*, good enough those two long semesters). Kalau tidak salah ingat, kepanitiaan pertama saya adalah Sky Battle 09 sebagai seksi produksi, karena Tarash berhasil merebut saya dari Wanda. Saat saya berpikir saya dapat menjadi dokumentasi di kemudian hari, saya salah, besar. Sekali produksi, tetap produksi. Produksi. Pekerja balik layar yang bukan hanya bekerja sebelum hari H dan saat hari H, tapi juga setelah hari H. Pekerjaannya yang ada di ujung rangkaian sangat bergantung kepada tiga seksi lainnya: Desain, Sponsorship, dan Bendahara. Desain belum ada, apa yang mau dicetak? Desain sudah ada, ada sponsor nambah minta dipajang logonya di ujung-ujung, cetak ulang sampai semaput. Untungnya Bendahara, si DP, bukan jenis pelit yang menagih rincian setiap butuh uang keluar (walaupun masih mengharap biaya keluar sedikit-dikitnya). Tetap saja tapinya, kalau disuruh memproses 400 kaos panitia berkualitas bagus dalam 2 minggu kurang dengan dana yang harus ditekan, maaf saja kalau hasilnya tidak selembut sutra.
Kalau mau bicara soal Sky Battle, garis besarnya itu benar-benar kejar-kejaran desain dengan Gilang. Mulai dari baju sampai piagam, dari spanduk sampai big banner. Ada satu kejadian menyedihkan soal kejar tayang big banner. Di sore hujan, saya dan Gilang berjalan kaki untuk mengambil big banner (disebut 'big' karena ukurannya lebih dari 5mx3m) di Jumbo dekat (baca: lebih jauh dari sekadar jarak 10 rumah) sekolah. Ketika membopong gulungan berat tersebut menggunakan bahu di tengah hujan menuju kembali, saya terperosok ke dalam selokan yang tidak ditutup dengan sempurna oleh para pekerja (mungkin karena hujan menerpa). Kalau basah saja tiada apa. Sialnya, di sana ada pasak sebesar gaban yang mencuat, merobek daging saya hingga memuncratkan darah segar. Miris, Gilang dan pengguna jalan lainnya malah menertawakan saya yang meringis kesakitan.
Itu baru peristiwa sebelum hari H. Di hari H ada juga konflik-konflik kecil yang menumpuk. Salah satu contohnya adalah cerita tentang tidak tersedianya rol kabel yang berujung dengan saya membuang (baca: melempar dengan keras dari jauh ke dalam tong sampah sehingga menimbulkan suara keras yang menarik perhatian) sebuah rol kabel kutu yang tidak berfungsi dan keluar dari GOR Bulungan setelah berteriak kepada Aryus dan langsung bersegera menuju Hero untuk membeli sebuah rol kabel baru yang layak pakai. Kalau dongkol-dongkol dalam hati lainnya pasti ada, tapi kalau emosi dituruti bukan profesional namanya.

Selanjut-lanjutnya ya begitu juga isinya kelas 11. Jadi koordinator seksi produksi Sky Fest 09 yang kerja dan timnya termasuk enak kalau menurut saya, balik lagi jadi stafnya Tarash dan Derza pas Sky Avenue 09 yang supercapek dan superberantakan karena berbagai kendala menghujam, menggodok foto-foto Skyblitz untuk lelang Sky Lite yang sampai sekarang belum dibayar-bayar hasilnya (maaf ya kawan-kawan yang terjual begitu saja fotonya). Di antara kepanitiaan-kepanitiaan ada juga cerita-cerita bersama 11 IPS 2: gerbong lepas di Madukismo, diketawain habis-habisan sama Bidi cs. hanya karena dipanggil Punjabi, main dotkom-dotkoman sama Nana dkk. di bus selepas kunjungan ke Taruna Nusantara, main perang tutup botol di kelas kosong bareng cowo-cowo, dimarahin Diandra gara-gara berteriak, "Diandra gila!", berantem triple threat di belakang masjid sama Gilang, Beler, Wildan, wah pokoknya tipikal kelas 11 sekali.

Pada kelas 11 ini juga lah saya pertama kali berkenalan dengan Anissa Paramita. Walaupun bertegur sapa dan berbagi cerita baru ketika Accombat Atma Jaya 2009, tapi saya sudah tahu dia sedari sebelumnya. Pertama kali benar-benar bertegur sapa pun sudah agak lama, di awal tahun ajaran - yang tidak disadarinya - ketika kelas kosong dan Gilang memainkan sebuah game cowboy di laptop bersama Bidi, Baskara, dan Beler. Penutup tahun kedua ini adalah dia. Kalau Anda suka (dalam artian sering, bukan harus menggemari) membaca Volgorian Cabalsette, pasti Anda tahu momen-momennya.




Cheers, mate. :)

Sunday, August 22, 2010

You and I Both

Karena tiga hari dari sekarang - 25 Agustus 2011 - Saptraka (Sapta Garuda Adhikara) akan berulang tahun yang keempat (salah, kata Acil ketiga, untung saya tidak jadi masuk Akuntansi), saya menetapkan selama tiga hari ke depan saya akan membuat tulisan yang setiap harinya mewakili setiap tahun yang saya habisi bersama Saptraka. Judul dari setiap tahun adalah hal yang pertama kali muncul ketika saya memikirkan tahun itu. Di detik saya menulis kalimat ini, saya sudah tetapkan tiga judul tersebut. Judul-judul yang akan muncul bukan tentu hal yang terpenting dari tahun itu, tapi kemungkinan demikian. Satu yang pasti, mereka bukan pilihan. Semua sama penting, hanya saja mereka muncul lebih awal, berdiri lebih tinggi, dan terlihat lebih menonjol.

Judul tahun pertama ini 'You and I Both', sebuah judul lagu dari Jason Mraz, yang dinyanyikan oleh Eros dan Gote di pentas seni MOS 2007 Saptraka. Sebelum lagu ini, memang Figra tampil dengan bombastis diiringi lagu Project Pop (kalau tidak salah ingat, mengingat pertunjukan dari Figra sangat memecah konsentrasi). Saat mereka naik panggung dan mulai bersenandung, saya tahu pasti X-B adalah kelas dengan penampilan terbaik. Chemistry yang mereka tampilkan bukan chemistry dua anak SMA yang baru kenal beberapa hari, chemistry yang mereka sajikan itu bagaikan chemistry antara Sid Vicious dan Nancy Spungen, Julius Caesar dan Cleopatra, John Lennon dan Yoko Ono, Nicholas Saputra dan Dian Sastro, Ichsan Akbar dan Melanie Ricardo, Atun dan Mandra, Hans dan Gretel, Ash dan Pikachu, Daisuke dan Veemon, Doraemon dan Nobita, Shizuka dan mandi, roti dan selai, Jack dan pohon kacang; Eros dan Gote.

Setelah salah satu penampilan paling dahsyat sepanjang hidup saya tersebut, tibalah Paskib 17. Sekumpulan orang yang diambil secara acak - setidaknya orang itu adalah saya dan Arman, yang ikut tanpa tahu pernah meminta - untuk menjadi petugas upacara 17 Agustus sebelum peserta Lalinju 2007 datang untuk melantik dan dilantik. Tanpa dinyana kegiatan yang awalnya saya piir akan sedikit melelahkan ini (memang melelahkan sih), ternyata menjadi sebuah kenangan yang menyenangkan. Tidak akan ada banyak cerita yang akan saya tulis di sini karena akan cukup panjang padahal saya hanya ingin sekadar memutar balik sekilas kehidupan SMA. Lagipula, saya hanya jadi pembaca Pembukaan UUD 1945.

Selain itu ada Trip Observasi. Terima kasih Madura 12 (yang membuat saya tidak pernah mandi kecuali sehabis penjelajahan), terutama Ilin yang jadi suster ngesot, tapi malah digebugin anak-anak yang lain. Kalo soal Bold, saya rasa baca ulang saja Volgorian Cabalsette ini.

Kalau Bintama masuk di mana ya? Karena nampaknya di tahun kedua saya akan banyak bercerita, saya masukkan di sini saja ya. Di Bintama, yang paling saya ingat - terlepas dari Sapta Satria Adhikara yang diiringi suara senapan di tengah malam bolong di antara lagu nasionalisme yang membuat saya cecunggukan menahan tangis - adalah "Hanya dongkol dalam hati", sebuah penggalan lirik lagu yang selalu dinyanyikan dengan keras oleh Dito Adhitama dan Odi Rohdwiasmoro yang satu pleton dengan saya setiap kali ada mobilisasi, baik malam maupun siang hari. Semenjak itu, ketika emosi hendak menguasai diri, tiba-tiba terdengar kalimat itu di udara. Jika Anda ingin tahu apa arti Bintama bagi saya, itulah dia. That's the essence of my Bintama experience.
Ada satu lagi hal yang sesuatu, tapi tidak perlu diumbar lah.

Oh ya, satu lagi yang sangat berkesan adalah 400D kesayangan saya: Cayman Dunne. Ketika acara expo ekskul berlangsung, saya langsung memilih Skyblitz karena waktu latihannya yang hari Jum'at tidak membuat saya yang seorang pengguna bus lintas provinsi ini lelah berlebihan. Ketika saya menorehkan tanda tangan, saya langsung memikirkan bagaimana cara membujuk orang tua saya untuk membelikan kamera. Nyatanya, ketika sampai di rumah, ada sebuah kamera 400D yang dibungkus dengan rapi oleh orang tua saya. Bagaikan ahli nujum, mereka tahu saya berniat mengikuti sebuah ekskul fotografi. Anehnya, ayah saya sebelumnya menyuruh saya bergabung dengan softball atau bulu tangkis. Pertanyaan ini belum terjawab sampai sekarang.
Hal inilah yang menjadi jawaban bagi Anda yang bingung kenapa saya begitu mencintai Skyblitz. Hadir tiada pernah absen, mencoba menghilangkan jarak antara dua angkatan, membuatkan group di Facebook; bersemangat lah intinya. Here it is, mates. That camera is not just a camera. It's something that my parents gave me out of the blue.




Cheers, mate. :)
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.