Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, September 30, 2010

Sedikit Soal Demonstrasi

Karena unjuk rasa adalah isu sensitif di antara sesama mahasiswa, saya hanya akan berujar singkat saja.

Saya selalu ingin turun ke jalan jika tidak menyusahkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika memang suara pelan sudah tidak lagi didengarkan. Saya selalu ingin turun ke jalan jika semua dengan rapi direncanakan.

Sayangnya, ibu saya belum setuju.

Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin menginap satu malam di rumah teman. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin tinggal saja di kostan. Sama dengan tidak setujunya beliau ketika saya ingin bergabung dengan pencinta alam dan pergi ke hutan-hutan.

Cukup satu alasan itu untuk mengurungkan niat saya. Bukan karena terpaksa, bukan karena manja. Semua karena alasan logis dan pertimbangan empiris. Ke depannya, semoga bisa.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 29, 2010

Kembali Ke Alam Bebas

Buat almarhum Soe Hok Gie, gunung adalah pengasingannya dari kemunafikan ibu kota. Buat almarhum Christopher McCandless, walaupun pada akhirnya ingin kembali kepada peradaban, bersatu dengan alam adalah pilihan tanpa penyesalan. Kalau buat saya, cukup malam hari kota Jakarta.

Ada suatu nafas yang hanya bisa dirasa saat matahari sudah tidak nampang di langit biru muda. Ada suatu ritme yang hanya bisa dirasa saat lampu kendaraan dan lampu jalan mulai menyinari muka-muka para penglaju. Ada suatu bau yang hanya bisa dihirup saat dingin angin berhembus dengan santai menerpa pagar besi dan tembok beton. Ada suatu suara yang hanya bisa didengar saat suara klakson beraduan dengan mesin bus tua dan sepeda motor kredit tiga bulan. Ada suatu yang lain dari malam hari di Jakarta, ibu kota Indonesia pusaka.

Berdesakan dengan para Jakartan di dalam angkutan Koperasi Wahana Kalpika. Menunggu bus patas di antara muka-muka kelelahan. Mendengarkan keluh kesah dan priwitan para petugas berseragam. Menikmati indah sengaunya suara pengamen berbaju compang. Merekam bokeh-bokeh hasil bias di sepanjang mata memandang. Memberi kursi reyot bus kepada ibu yang nampaknya sudah hampir pingsan. Berdiri di aspal hitam dingin dan merasakan bahwa semua unsur berputar seirama dalam suatu harmoni. Ada suatu yang istimewa dari malam hari di Jakarta, ibu kota yang padat penumpang.

Ini hidup. Cobalah jika belum pernah.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 22, 2010

Jika Anda Adalah Saya

Jika Anda adalah saya, mungkin dunia akan terasa makin absurdnya. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin semua hal akan jadi lebih berharga. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin angin malam kian menyengat hawanya. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.

Jika Anda adalah saya, mungkin Anda bisa sedikit lebih mengerti. Sayangnya Anda adalah Anda dan bukan saya.




Cheers, mate. :)

Wednesday, September 15, 2010

Good Is Better Than Better

Selamat datang Anda. Ayo bermain kata lagi dengan saya.

"Good" itu "pleasing and welcome" atau dalam bahasa Indonesianya mudahnya "bagus" atau "baik". "Better" itu "more appropriate", kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: "lebih bagus" atau "lebih baik".

Ambil misal pemilihan umum ketua Perkumpulan Perampok Gigi Hijau. Jangan dicari di Google karena ini hanya fiksi belaka, wahai para penggila dunia maya. Di sana ada tiga calon yang tersedia. Ada Anro, si bengis yang selalu memberi susu basi kepada setiap korban-korbannya. Ada Rogi, si lalim yang tidak pernah lupa membersihkan muka anak kecil yang dia ambil permennya. Ada Hone, si kejam yang memberi kata-kata mutiara kepada wanita-wanita yang dia perkosa. Tidak ada yang baik dari antara mereka; The Good.

Apakah ada yang lebih baik?

Kalau Anda benci anak kecil, Anda pasti memberikan suara untuk Rogi. Kalau Anda sering patah hati karena perempuan, Anda pasti angkat tangan untuk Hone. Kalau Anda punya banyak persediaan susu basi, silakan pilih Anro. Paham?

Itu baru dalam pengertian "good" dalam arti "good deeds" atau perbuatan-perbuatan yang secara moral adalah benar. Sangat mudah membedakannya dengan "better" karena dalam pemilihan ketua rampok, yang "better" adalah yang lebih biadab. Sebuah lawan dari "good" itu sendiri. Ayo masuk ke kejadian kedua.

Coba sekarang liat pemilu negara A. Ada tiga calon juga. Yang pertama adalah Andi, seorang bapak berbadan agak tambun yang sopan dan santun. Yang kedua adalah Namia, seorang ibu yang juga berbadan agak bulat dan punya semangat berapi-api. Yang terakhir adalah Kimo, seorang paman berkacamata yang suka bergerak cepat.

Terutama bagi mereka yang antipemerintah, pastinya tiga calon ini tak ubah beda dengan rampok-rampok di atas. Buat mereka yang tidak pernah tahu berita malah lebih parah, masuk golongan putih atau sekadar ikut-ikutan teman. Saya sendiri tidak tahu mana yang orang baik karena masih seorang pemilih pemula.

Namun demikian pasti ada yang lebih baik. Bisa jadi yang lebih cepat. Bisa jadi yang bersemangat. Bisa jadi yang sudah berpengalaman dan ingin melanjutkan perjuangan. Tapi yakinkah mereka "bagus", "baik", "good"?

Mulai berpikir bahwa "better" memang lebih baik dari "good" sebagaimana mestinya? Tabahkan diri Anda.

Ini contoh ketiga.

Sebuah perlombaan matematika. Juara 1-nya bisa sedikit berbangga karena menjawab benar 5 soal dari 100 tersedia. Juara 2 hanya mampu memecahkan 3 soal, mengalahkan juara 3 yang dengan sukses salah hitung dan tidak mengisi 98 soal.

Jelas kan?

Memikirkan hal yang sama dengan saya? Kalau saya sih sedang memikirkan ujian-ujian masuk Perguruan Tinggi, terutama SIMAK dan UTUL yang saya ikuti. Bukan UAN, karena UAN tidak peduli apakah Anda lebih baik dari sesama pelajar seluruh Indonesia. UAN hanya peduli apakah Anda cukup baik untuk berhasil melewati batas nilai yang tersedia.
Berbeda dengan ujian masuk Perguruan Tinggi. Saya tidak tahu memang sistem aslinya seperti apa, tapi dari sosialisasi-sosialisasi yang ada di sekolah dan bimbingan nampaknya yang digunakan adalah hukum rimba. Berdoa saja, "Jadikan mereka lebih tidak bisa dibanding saya!" dan bukan "Jadikan saya bisa mengerjakan soal-soal tersedia!" Atau alternatif lainnya cukup pilih saja program studi yang kurang diminati. Beruntung kalau Anda memang suka, kalau tidak? Sedih ya?

Sekarang coba pikir ulang. Are you really that good? Are we really that good? Apakah Anda dan saya bisa berada di sini dan sana karena memang hebat? Ataukah sekadar lebih hebat, lebih mujur dari yang lainnya?

Jangan cuma mau jadi sekadar "better" dibanding orang lain, jadilah orang yang "good" seutuhnya.

Masih berpikir "better" lebih tinggi beberapa derajat dibanding "good"? Bagus, jika Anda memang sudah bersikap kritis dan punya pendirian yang teguh. Silakan, jika Anda masih ingin mencari-cari sumber lainnya untuk menentukan keputusan. Jangan, jika Anda cuma skeptikal dan hanya tahu menjadi oposisi.

*oh ya, saya ternyata masih hidup! (baca post sebelumnya) terima kasih ya Allah!*




Cheers, mate. :)

Sunday, September 12, 2010

Once, Twice, Thrice

Intinya sih saya (masih) cukup cemas sekarang.

Hari Jumat, dua hari lalu, ada kejadian yang sungguh menyeramkan. Saya dan keluarga baru pulang setelah berkeliling Bekasi dan Jakarta untuk bertemu dengan sanak saudara. Jam 10 malam jika tidak salah mengingat. Alih-alih langsung mendirikan shalat isya seperti ayah saya, saya malah duduk saja. Ayah saya selesai berdoa, berganti dengan adik saya. Kembali, saya malah tidur telungkup. Maka terjadilah.

Saya mulai tidak bisa menarik napas, bersamaan dengan munculnya niat saya untuk bangkit dan mengambil air wudhu. Saya kira itu pengaruh bantal yang menutupi seluruh kepala saya, karenanya saya coba gerakkan tangan untuk lontarkan sekaligus juga untuk melihat apakah ada sebuah gaya - force, bukan pose - di atas saya. Apa daya, sekarang tangan yang dilumpuhkan. Perlahan seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuh saya. Dari ujung kaki, ujung tangan, seluruh lubang, dan ujung kepala. Sakit. Di samping saya ada ayah yang lega setelah menunaikan kewajiban ibadahnya dan adik yang sedang khusyu berdoa. Ironis sekali. Maka saya coba teriakkan. Suara saya tertahan. Sekarang rasa sakit terkumpul di kepala. Terdengar bunyi melengking seperti feedback pengeras suara ukuran giga yang menulikan pendengaran. Saya berkedip. Saya terbangun. Saya lemas, tapi tidak lelah.

Penjelasan ilmiah mungkinlah ini peristiwa yang disebut ditindih/ditiban - sleep paralysis? - yang marak di kalangan Anda sekalian. Nyatanya, saya belum pernah sekalipun merasakan sehingga tidak bisa berikan jawaban. Hal lainnya, ketimbang diberi beban berat dari atas, saya merasakan perasaan seperti disedot yang amat sangat.
Kemungkinan lain adalah sebuah fase lucid dreaming. Sama seperti ditindih, saya belum pernah merasakannya sebelumnya. Apapun itu, saya senang masih sempat shalat setelahnya.

Hari Sabtu, satu hari lalu, ada kejadian yang sungguh menegangkan. Saya dan keluarga besar yang menyewa sebuah bus kecil sedang dalam perjalanan pulang menuju Bekasi dari arah Subang. Masih pukul delapan di segenap kilometer tol Cikampek. Di tengah renungan di kursi paling kanan dan paling belakang, terjadilah.

Sebuah bus warna putih berinisial PJ - raja tol yang serampangan - melesat cepat dari kanan, langsung ambil kiri saat tiba momen yang tepat. Bus buatan Cina malang yang kami tumpangi terpaksa mengelak ke kiri juga. Seketika sarana ini menjadi wahana. Setelah mengelak dengan susah payah ke kiri sampai terasa terangkat dari jalanan, si pengemudi kembali membalikkan kendali ke kanan. Mulai terdengar teriakan dari para ibu dan para balita yang cukup mengancam. Kembali lagi bus mengangkang, roda kirinya tidak ingin berteman dengan aspal jalan. Lalu akhirnya, setelah banting kiri sekali, lajur bus lurus kembali. Ketimbang berdetak kencang saat kejadian atau setelah kejadian, jantung saya baru berontak sekitar tiga menit setelahnya.

Baru diketahui kemudian, bus kami memang tidak dalam kondisi prima. Rem anginnya sering bocor, bautnya banyak yang lepas, bagian luar rodanya sudah ada yang terkoyak, stirnya sendiri tidak bisa langsung berbelok karena ada bagian yang hilang. Ini serius. Sekarang saya sedikit punya gambaran tentang perasaan mereka yang masuk berita.
Untungnya pendingin udaranya bekerja dengan sangat baik.

Hari ini hari Minggu. Masih pagi. Jika saja memang akan terjadi sesuatu, saya harap saya bisa berbagi lagi.

"Good morning, and in case I don't see ya, good afternoon, good evening, and good night!" -Truman (Jim Carrey)




Cheers, mate. :)

Thursday, September 9, 2010

Berlebar

Lebaran telah tiba, selamat berlebar! (layaknya berlibur saat liburan)

Banyak SMS, MMS, BM, email, tweet, wall post, video, berisi ucapan maaf dan sekawannya beredar di udara malam ini. Agak sedih juga, kartu ucapan yang kreatif sudah langka kehadirannya. Yaa, tapi setidaknya THR masih diberikan dalam bentuk fisik yang bisa dikeplak-keplak dan bukan berupa sederet angka dan huruf tertera di buku tabungan atau tanda terima transfer uang dari mesin ATM.

Soal ucapan, ini dari halaman profil Twitter saya:

Puasa belum usai buat jutaan jiwa yang hidup di jalan. Buka mata, hati, telinga. Hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia.

Setelah satu bulan penuh kegiatan mahasiswa baru, nampaknya itu hasilnya. Mahasiswa. Kalau Anda perhatikan, di atas sana "Berpikir subjektif tidak membantu" juga sudah ubah nama jadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan". Akhirnya tiba saatnya untuk bisa mulai didengar. Tinggal tunggu saja ke depannya. Kekhawatiran ibu melawan semangat aktivis ayah.

Itu saja. Robert H. Frank dengan 'The Economic Naturalist'-nya yang ada di urutan teratas tumpukan buku di ujung meja sukses menggoda saya.




Cheers, mate. :)

Tuesday, September 7, 2010

Ikut OPK, Bikin Semangat

Sabtu lalu, Orientasi Pengenalan Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (OPK FEUI) 2010 - maaf, kebiasaan bikin tugas essay jadinya tidak langsung disingkat saja - resmi ditutup oleh Project Officernya sendiri, Kak Luthfian (atau Lutfian?). Ini cerita saya.

Petang hari itu, makara abu-abu yang seharusnya berdiri kokoh malah tumbang tidak karuan. Semua juga tahu itu berkat renovasi di saat yang kurang tepat, tapi apa memang begitu? Beberapa kakak dari Komisi Disiplin menyuarakan pendapatnya (baca: berteriak bersahut-sahutan) bahwa makara jatuh karena kami, mahasiswa baru angkatan 2010, adalah pemuda-pemuda penyakitan, plagiat, dan manja. Seorang realis acuh mungkin akan menganggapnya sebuah bluff kosong yang cuma bisa dipercaya oleh anak di bawah umur. Seorang yang memang tidak ingin berada di situ bahkan otaknya sudah di mal-mal besar bersama teman-teman sepergaulannya. Saya, demi Allah, menangis. Setiap kata "kecewa", "mengecewakan", dan kata sifat lain yang memalukan serta beragam petuah terlontar dari mulut kak Luthfian, setiap itu juga terasa ada beban yang ditambahkan.

Kemudian pernyataan resmi penutupan OPK FEUI 2010 pun dikumandangkan. Air mancur bermancuran. Beban kembali ditambahkan. Di antara ratusan rekan yang menyanyikan 'Economy Goes Marching In', di antara riuh, di antara peluh, saya cuma bisa berdiam. Jauh dari bangga, saya malu dan kecewa. Lalu sekali lagi saya menoleh ke arah makara abu-abu yang terlelap di pinggir kolam. Perasaan bersalah semacam ini terakhir saya dapat ketika menatap ke bendera Indonesia di tengah malam bolong saat agenda Bintama (Bina Mental dan Kepemimpinan Siswa) malam terakhir di markas Kopassus, Serang. Suasananya serupa. Di antara lantunan lagu 'Padamu Negri' dan letupan senapan api, sebuah kecupan untuk sang saka merah putih membebaskan segala rasa.

Saya tidak berharap Anda yang realis ikut meresapinya dengan seksama. Anda yang tidak suka mengingat masa lampau juga silakan berlalu saja. Saya hanya membukakan pikiran saya, suatu alam yang Anda silakan masuk di dalamnya.

Bagaimana kalau ada tangan-tangan tak tampak yang menyebabkan jatuhnya jadwal renovasi bertepatan dengan pelaksanaan penutupan OPK FEUI 2010? Bisa saja, entah dari mana, para pembuat keputusan yang saya juga tidak tahu siapa, tiba-tiba dibuat lupa akan jatuhnya acara penutupan OPK di hari 4 September itu.

Bagaimana kalau makara abu-abu kebanggaan FEUI itu memang punya kekuatan magis seperti sorting hat di seri Harry Potter? Bisa saja, layaknya Universitas Indonesia yang memang punya banyak cerita mistis, kolam makara bukan hanya wujud arsitektur biasa yang bukan hanya punya nilai estetika, tapi juga dapat menilai kualitas para Maba?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat penyakitan?

Bagaimana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat plagiat?

Bagiamana kalau angkatan 2010 tetap tidak bisa mengubah predikat manja?

Kemudian rombongan dibubarkan untuk segera bertolak ke Pertamina Hall. Sambil berbalik kanan, sekali lagi saya arahkan pandangan ke makara abu-abu yang tergeletak lesu.

Maaf dan terima kasih kepada seluruh panitia OPK FEUI 2010.




Cheers, mate.

Monday, September 6, 2010

Feedback

Bukan suara ngikngok melengking indah mengganggu pendengaran saat pick-up gitar elektrik didekatkan dengan amplifier - black amplifier! amplifier, amplifier! - yang dimaksud oleh saya dengan feedback di sini. Feedback (|ˈfēdˌbak|), menurut New Oxford American Dictionary, adalah "information about reactions to a product, a person's performance of a task, etc., used as a basis for improvement."

Apakah yang saya tulis di sini ternyata memang ada yang membaca?

Mohon beri tahu saya. Tinggalkan di sana. Mention di Twitter dalam 140 kata, berikan komentar di bawah sini terutama, penuhi wall Facebook dengan surat pembaca. Pujian, cacian, sanggahan, hadiah, uang, makanan, sarung. Apa saja. Tapi yang lebih penting adalah apa adanya.

"Rather than love, than money, than fame, give me truth." -Thoreau

Terima kasih kepada orang yang belakangan memberi saya feedback, semisal saat saya menulis sebuah kalimat panjang dua baris untuk Saptraka, seorang teman dari Anissa yang saya temui di halte Masjid UI, Aditya yang suka mencuplik tulisan-tulisan saya tanpa sengaja, dan yang paling baru adalah Kania dan Uthi yang angkat bicara masalah indie.


*maaf hanya berbincang sebentar, Nickels mulai tak bisa tahan sabarnya*




Cheers, mate. :)
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.