Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, December 23, 2010

Nyanyian Akhir Tahun

Satu minggu menuju tahun yang baru. Belum tahu jadinya apa. Bisa seru, bisa haru. Biar lebih penuh makna, ada baiknya kita lakukan refleksi kaca. Mulai dari mana?


2010 TOP 3 ALBUMS
Bukan album musik yang baru dirilis, tapi yang baru saya dengar tahun ini.

The Doors - The Very Best of The Doors
Mencari kesana-kemari tidak kunjung temu, akhirnya tega mengunduh melalui torrent saja (maaf wahai Manzarek, nanti kalau ada yang asli saya beli). Benar-benar album yang membuka telinga dari segenap musik setengah hati yang lalu lalang di radio dan televisi. Desain sampul depannya juga semakin mengukuhkan posisi Jim Morrison sebagai ujung tombak yang kian mati kian tajam. Favourite tracks: People Are Strange; Hello, I Love You; Touch Me.


Jamie Cullum - The Pursuit
Saya beli asli! Edisi paket sekaligus DVD lagi! Tidak mengecewakan. Sama sekali. Yang saya tangkap adalah suara-suara yang semakin modern, tapi tetap cocok didengar sambil minum teh hangat di hari mendung. Piano meledak di cover depan? Jawara. Favourite tracks: Grace Is Gone; I'm All Over It, Love Ain't Gonna Let You Down.


Maliq & D'essentials - Mata Hati Telinga
Album ini minjam dari teman adik saya. Lengkap ya? Ada album hasil download ilegal, album asli versi premium, sampai album hasil pinjaman. Isi album ini hanya 6 tembang. Dahsyat semua. Desain albumnya juga istimewa. Selain gayanya yang kontemporer, juga bisa dibuka-buka dan dilipat-lipat sedemikian rupa. Yang punya pasti sudah coba-coba. Favourite tracks: Luluh; Coba Katakan; Mata Hati Telinga.



2010 TOP 3 MOVIES
Keterangan sama seperti di atas. Mungkin judul-judul yang muncul belum diseleksi dengan seksama, hanya yang muncul cepat di benak saja. Akan tetapi bukankah itu artinya mereka benar-benar berkesan?

Before Sunrise
Revolusi. Seratus menit kurang isinya seputar sepasang manusia belaka, tapi tidak terbuang sia-sia. Setiap kata bermakna, setiap kala terasa indahnya. Jesse (Ethan Hawke) dan Celine (Julie Delpy), hampir bisa menggeser Harry (Billy Crystal) dan Sally (Meg Ryan) - dari When Harry Met Sally... - dari jajaran pasangan favorit saya. Favourite moment: Keseluruhan film. Jika harus diingat sebagiannya, mungkin scene pujangga jalanan yang mencipta puisi di pinggir sungai, "Don't you know me? Don't you know me by now?"


12 Angry Men
Seusai film ini, rasanya saya seperti sudah berhasil menemukan obat penyembuh kanker. Film ini adalah salah satu item di dalam bucket list saya, layaknya Carter (Morgan Freeman) ingin mendaki Everest dalam 'The Bucket List'. Tidak lebih dari 94 menit, sebanyak dua belas orang juri melakukan diskusi penuh drama untuk menentukan hidup-mati seorang bocah yang disangka melakukan pembunuhan. Beyond reasonable doubt, sebuah pelajaran berharga. Favourite moment: Ketika Juri #10 berkoar kasar dan sebelas orang juri lainnya berdiri dari kursi, menjauh tanda tidak peduli. (lihat di atas)


Scott Pilgrim vs. The World
Kalau dibandingkan dengan dua film sebelumnya mungkin saya terdengar seperti orang yang tidak punya selera. Nyatanya, saya hanya tidak peduli selera. Saya suka, saya terima. Terlebih lagi ada Mary Elizabeth Winstead sebagai Ramona, jelas sebuah 1UP (bila Anda sudah menonton, pasti tidak bingung lagi). Michael Cera masih cemerlang seperti biasa, ditandem dengan dialog cepat nan lucu dan Kieran Culkin yang sangat natural sebagai seorang sobat gay (atau memang karena benaran gay?) yang entah kenapa tetap terkesan gentle. Sisanya, efek-efek video game yang spektakuler. Oh, have I told you about the amazing interactive trailer? Favourite moment: "Wow. Girl number." Atau mungkin ketika Crash and The Boys menyanyikan lagu berdurasi 13 detik. Atau mungkin "Do you want to keep going?" yang ditanyakan Knives Chau (Ellen Wong) pada Scott yang bingung akan kelanjutan hubungan mereka. (lihat di atas) Atau, atau, atau. This movie is just too epic.







This is an unfinished post. Will update soon, cool people. Before New Year, I hope. Hang on there.

Sunday, December 19, 2010

Over The Rainbow

I should be studying now, shouldn't I? Fundamental Methods of Mathematics for Business and Economics; Volume 1. Alpha C. Chiang, Kevin Wainwright, Budi Frensidy, Mahyus Ekananda, Telisa Aulia Falianty. McGraw-Hill, Penerbit Salemba Empat. Optimization, Exponential and Logarithms, Integrals.

I'm a kind of person that always do something with a plan, a bunch of back-up plans, but a low self-esteem; not to say it in a bad way. I may have a lack of confidence in doing something, but that's only to make me more aware of threats around. How I used the term "low self-esteem" before is just a proof of my low self-esteem. Now to make it sounds more appealing, let's just say I'm a perfectionist, and an idealist. Maybe not a pure one, but there's no such thing as a pure idealist either, so.

One of my idealism is not to tell people to do what I'm not doing. Put it in a simple phrase: I don't want to be a hypocrite. This, my mate, is the roots of all the master plan, the back-up plans and the low self-esteem.

I'm not into taking chances, I'm not into surprises. I have a big obsession to always be in control; of myself and of everything I'm doing. A bit distortion on my envisioned path would make me turn from a lion into a rabbit. Fortunately, with a bunch of back-up plans, that kind of occasion is a mere hundred to one. And even when I am a rabbit, I won't be asking for mercy and forgiveness like a rabbit. I believe in my friends, but I won't sound so helpless I'll make them feel sorry. I'll stand tall and roar once again. Always have, always will.

An example. I won't be seen teaching a subject to other people until I'm at least 100% sure about what I'm talking about. I don't want to be caught doing wrong or not in control - a perfectionist, as you can see. Sounds egoistic? Non, Madame et Monsieur. This is a better way to put it: you'll never see me teaching you; we'll always be discussing things as an equal.

I'm not a chap who goes around thinking he's the almighty one. I'm proud, but I always try to assure myself that I'm not out of line. If, once or twice, you've seen me being a prick, scold, kick, slap, punch me in the face. That, is my idealism.

That's me. This is my problem.

Two of my colleagues, Fajar Mahdi and Adinda Khairina (click on their names to vote) is rolling for La Joie de Montréal, an international summer school contest. Wow. Good God. What a courage, I'll say. In my deepest heart, I kind of want to try for it too.

Studying abroad means using English as your primary language. Wow. Good God. I'm not saying that I'm not fluent in English, that would be a self-discrimination. And saying so will also make me an ungrateful being, for my parents have been letting me learning it since a little boy that I was. All I could say is that I don't think I'm fluent. A state of mind. Being a perfectionist and an idealist sure makes me have a low self-esteem.

For me, fluent means no mistakes. Not literally of course, since time can't be undone. Just, no flaws. In order to do and test my capability, I'll have to live that. Means I should use English more. Here comes my other idealism.

All this time I've been preserving the usage of my native language, Indonesia. Is it worth it?

Should I set aside that love of Indonesia language? I'm not an extremist that restrict the use of non-Indonesia languages. I love English, even though I never read a single literature like Moby Dick. I love French, even though I don't know a thing about it. But maybe I just love Indonesia more. I thought that maybe if I use it more - with my KBBI modified style a.k.a. Volgorian Cabalsette style - I'll help it to grow, or at least survive, for I don't want it to extinct.

You may say this cynically after reading my problem: "Oh come on, don't make it a big deal."

It is a big deal. I don't want to be a hypocrite. Setting aside that idealism means that I should not going around telling people to love Indonesia language more. Not like a half-hearted environmentalist that's angry about mother nature's health while using air conditioner all day long, or those politicians who talk about society welfare but creeping behind the stone wall stealing people's money.

I am a perfectionist. That is my idealism. Now that makes me have a low self-esteem.




Cheers, mate. :)

Saturday, December 11, 2010

Jangan Bakar Buku

Merujuk kepada tulisan Adinda Khairina di sini, saya juga jadi memikirkan soal masa depan buku. Bukannya tidak pernah, hanya saja kala itu saya tidak anggap peduli juga. Mungkin saja karena saya sudah punya jawaban sendiri dari pertanyaan yang muncul. Belum pernah saya publikasikan, jadi mungkin sebagai pengisi waktu istirahat dari pengetahuan dasar tentang bisnis yang bertubi-tubi menyerang saya dari tadi ada baiknya saya coba berbagi pandangan di sini.

Pertanyaannya sederhana:

Apa jadi masa depan buku?

Ha! Kalau Anda terkaget dengan pola kalimat di atas pasti Anda bukan pembaca lama blog saya. Coba dibalik-balik lagi halamannya, dibaca, terutama tulisan-tulisan mengenai bahasa. Kalau sudah bisa menerima (atau tidak peduli menerima) akan tutur tulisan saya, ayo kita lanjutkan bahasan.

Buku pada awalnya juga pasti berbentuk tidak seperti yang ada di toko buku masa kini - cover depan, cover belakang, kadang berhadiah cangkir atau stiker warna-warni untuk promosi. Kalau mundur ke belakang kita bisa bertemu dengan perkamen yang mudah rusak jika kena keringat. Ada juga gulungan yang susah dibaca karena ketika dibuka ingin buru-buru kembali ke posisi semual. Kalau kita ke belakang lagi malah bisa-bisa ditemukan catatan terukir di batang kayu dan terpahat di batu-batu. Bisa saja sih saya coba cek evolusinya dengan sumber tak berbatas dari dunia maya, tapi kalau iya tulisan ini terbengkalai jadinya.

Sekarang ini muncul yang namanya eBook. Sialnya, saya tidak yakin pembaca mau beralih hati. Ada banyak sekali alasan untuk tidak berpindah, mulai dari segi biaya hingga kebiasaan lama.

1. eBook mahal
Kalau dipikir jangka panjang, mungkin memang jadi lebih murah. Perangkat eBook sekarang sudah seberapa turun harganya. Isinya? Tinggal download. Benarkah?

Pikiran kita sudah terbentuk dengan konsep bahwa apa yang ada di internet itu punya sesama dan tidak ada harganya. Kalau biasa dimanjakan dengan 4shared, Google, Facebook, YouTube, Kaskus, IDWS, dan sekawannya memang rasanya demikian. Nyatanya tidak begitu. Coba tengok ke situs Apple sebagai contoh. Saya juga semakin sadar bahwa segala itu masih ada harganya, bahwa there is no such thing as a free lunch, setelah memiliki laptop ini.

Di iTunes, beragam konten macam lagu dan film itu berbayar. Terkadang ada tawaran gratisan di awal bulan, tapi tetap saja kita harus mengambilnya menggunakan sebuah ID yang mengharuskan kita mengisi formulir tanda setia sebelumnya.

Buku juga demikian adanya. Terutama buku. Have you ever wrote a book? I have not, but I bet it's a pretty harsh world. Kalau memang eBook sedemikian gratisnya, tidak ada lagi yang mau menulis buku sebagai mata pencaharian.

2. eBook susah
Di atas sudah disebut bahwa untuk mendapatkan sesuatu secara legal dari internet, kita harus membayar juga. Baiklah, coba kita hapus variabel harga itu. Apa yang tersisa? Teknologi.

Mungkin memang susah dipercaya, tapi nyatanya di dunia ini pasti masih ada yang tidak tahu cara mengoperasikan internet. Bahkan saya sangsi semua orang sudah bisa menyalakan komputer. Bagi sebagian besar rakyat dunia, pergi ke Gramedia, Kwitang, dan Kinokuniya, mengeluarkan sejumlah uang dari dompet atau kantong celana, dan pulang ke rumah dengan sekeranjang buku dan senyum di muka masih lebih mudah ketimbang harus bercokol dengan internet dan formulir-formulir serta birokrasinya.

Itu masih masalah pribadi, bagaimana dengan koneksi? Kalau tinggal di Jepang yang download satu episode serial TV sudah secepat mengunduh laporan keuangan dari situs IDX, mungkin hal itu tidak jadi masalah. Sayangnya, masih banyak sudut dunia yang menggunakan koneksi dial-up saja kadang harus pakai baca doa.

Belum lagi masalah berbagi. Jatuhnya jadi seperti diskriminasi.

3. eBook
Masalah ketiga adalah eBook itu sendiri. Banyak kebiasaan lama dan fungsi-fungsi lainnya yang tidak bisa dinilai harganya jika buku-buku itu harus dibuang ke luar jendela. Di bawah ini adalah sebagian dari hal-hal tersebut.
- eBook tidak bisa dibolak-balik seperti buku biasa
- eBook tidak nyaman dibaca sambil berendam di bath tub atau buang air di kloset
- eBook tidak bisa dibakar saat cuaca dingin menghadang
- eBook tidak bisa dimakan saat lapar melanda karena terjebak di gunung saat dipelonco
- eBook tidak bisa dibaui halamannya
- eBook tidak bisa dibaca selama 24 jam karena layarnya akan meredup kemudian mati
- eBook tidak bisa dicoret-coret ketika butuh catatan mendadak
- eBook tidak bisa dirobek saat kesal karena pacar direbut orang
- eBook tidak bisa dipakai untuk mengganjal pintu atau kaki meja


Intinya, eBook tidak membawa keuntungan secara langsung bagi kebanyakan umat manusia. Padahal, idealnya setiap perubahan itu harus memberikan kemudahan dan sekaligus mengalahkan kelebihan-kelebihan pendahulunya. Kayu bisa menggantikan batu karena lebih ringan. Perkamen dan gulungan bisa mengalahkan kayu karena jauh lebih ringkas dan gaya. Buku bisa mengalahkan itu semua karena lebih tahan lama. I just can't see what eBook bring to the table that's not already there. And don't mention the trees.




Cheers, mate. :)

Sunday, December 5, 2010

Dahaga

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada akhirnya
Atau berakhir lelah saja?

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada yang sapa
Atau cuma tersisa kecewa?

Kalau kita lari ke ujung dunia
Apa di sana ada indahnya
Atau hampa percuma?




Cheers, mate. :)

Can you read my mind?

Tell me what you find, when you read my mind.




Cheers, mate. :)

Friday, December 3, 2010

Sampaikan Dengan Tulisan

Saya bukan orang yang mudah - dan mungkin suka - bercerita ataupun bertutur tentang hal apa saja dengan suatu antusiasme yang seperti mengada-ada. Apalagi kepada muka-muka baru yang senantiasa berarti kepribadian-kepribadian yang mungkin baru juga. Setidaknya tidak secara lisan. Karenanya saya menjadi orang yang sangat menghargai segala bentuk tulisan, dan akhirnya bahasa secara umumnya.

Dengan term "segala bentuk" berarti yang saya maksud adalah sampai tingkat dimana yang terjadi adalah benar-benar perubahan sebuah benda menjadi kata saja. Misalkan bunga. Sampaikan cintamu dengan bunga kata mereka. Kebanyakan kita akan langsung pergi tancap gas atau nebeng teman yang berkendara untuk membeli bunga merah merekah berharga sekali makan siang seorang mahasiswa.
Pernahkah terpikir oleh Anda bahwa bunga itu bisa diwujudkan oleh secarik kertas bertuliskan BUNGA berwarna merah yang ditoreh dengan sepenuh hati? Mungkin tidak begitu bisa diterima sebagai momen manis oleh khalayak, tapi jujur saja itu hal yang indah bagi saya. Bila saya mendapat kesempatan untuk menerimanya, akan saya pajang di kamar agar saya selalu ingat akan kekuatan kata dan bahasa. Ini bukan dibuat-buat agar terdengar intelek, ini kenyataan, ini genuine feeling.

Tentu saja saya bukan ekstremis yang menganggap CHEVROLET OPTRA sebagai Optra asli yang bisa dikendarai keliling di jalan raya sambil bergaya. Dari sini muncul makna kedua "segala bentuk", yaitu benda itu harus tidak berubah kegunaannya. Pada contoh bunga di alinea sebelumnya, tujuan semula tidak mengalami pergeseran. Diberikan sebagai wujud rasa kasih sayang, sama-sama bisa disimpan untuk mengingatkan momen yang terlewatkan, dan sama-sama indah bagi yang memahami makna di dalamnya.

Rasanya memang masih banyak constraint yang membatasi perubahan benda menjadi kata belaka. Karena sebenarnya tanpa aturan saklek saja realisasi konsep ini susah dilaksanakan dan kebanyakan hanya bersifat metafor, misalnya ketika memberikan CINTA yang notabene adalah sesuatu yang abstrak.
Kabar baiknya, saya tidak ada di sini untuk menggurui sesama, tapi untuk mengungkapkan sebuah pemicu untuk dipertimbangkan dengan segenap akal sehat dan kemudian didiskusikan jika memang memungkinkan. Jika Anda suka, boleh sebarkan konsep ini kepada rekan dan sejawat, dan mungkin beri sedikit komentar melalui berbagai sarana. Jika Anda tidak suka, ayo berdiskusi panjang lebar, jangan cuma bisa kritik tanpa memberikan solusi. Akan tetapi mungkin lewat tulisan saja, saya bukan orang yang mudah bercerita dengan antusias.




Cheers, mate. :)

Thursday, December 2, 2010

"Like heaven needs more to come in"

Di saat pojok ini hampir mati, seorang Ardelia Apti (Vice PO Maker FEUI 2011) membuat saya kembali berhasrat untuk menulis. Berhubung hasrat ini insidentil, hasilnya saya tidak bisa memberikan topik segar dan terkini. Untungnya saja label 'telisik musik' belum masuk kategori sampah terlupakan sehingga masih bisa dimanfaatkan di masa seperti ini.


And just why I picked this album? Percaya tidak percaya saya baru menikmati Copeland lebih kurang sebulan lamanya. Bahkan mereka sudah bubar jalannya. Tidak tahu salah siapa hingga saya tidak tahu menahu sebelumnya mengenai band ini. Terduga pertama mungkin Suryo Rudito, krucil sial yang mewarnai jaman SMP saya dengan The Beatles, Led Zeppelin, Queen, Guns N Roses, dan Nirvana hingga tuli terhadap musik milenium baru. Anyway, setelah sebulan berkenalan Copeland tidak banyak munculkan rasa kecewa, beda halnya dengan Vampire Weekend atau The Trees and The Wild misalnya.

Track by track by me:
1. Brightest - (2:06)
Baru mulai mereka sudah galau! "And I just know that she warms my heart and knows what all my imperfections are" dinyanyikan sepenuh jiwa layaknya seorang pengembara di ujung air terjun Niagara dengan latar bintang malam dan suara daun.

2. Testing The Strong Ones - (3:37)
Least favourite. May we go to the next song?

3. Priceless (For Eleanor) - (4:50)
Baru sampai di lagu ketiga saja saya sudah paham bahwa ciri Copeland dalam departemen lirik adalah pengulangan, yang untungnya tidak membuat bosan dan malah membuat pendengar ingin terus mengulangnya hingga hapal mati untuk kemudian dinyanyikan dalam sebuah lantunan massal saat konser pembubaran atau reuni nantinya, mengharapkan band ini tidak akan pernah punah, "And all of the world and all its power couldn't keep your love from me now, 'cause I need you."

4. Take Care - (4:11)
Kalau band terlalu bagus saat menyanyikan lagu yang membius, konsekuensinya adalah kurang nyaman didengarkan ketika mereka bermain sedikit bersemangat. Namun tetap saja hal itu tidak membuat baris macam "Keep that sweet heart of yours beating, I'll be right there" menjadi kurang puitis daripada semestinya.

5. When Paula Sparks - (4:55)
Ini lagu kedua yang paling panjang durasinya pada album Beneath Medicine Tree. Lagi-lagi mereka terdengar bersemangat. Walaupun dibilang bersemangat, jangan harapkan semacam rock modern karena vokal Aaron Marsh jelas-jelas seperti orang pasrah yang ada di altar eksekusi. Secara umum masih nikmat didengar, tapi bagi saya lagu ini kurang istimewa. Indahnya, lagu ini medley dengan lagu berikutnya, yang merupakan lagu berdurasi terlama dan jauh lebih lovable!

6. California - (5:26)
Kalau ada orang yang masih ogah pulang kampung setelah mendengar lagu ini, artinya antara hatinya terbekukan atau tidak punya ongkos untuk naik kendaraan. Coba disimak saja bagian chorus lagu ini, "All of us here in Florida are starved for your attention, we're starved for your attention." Copeland mampu membuat sebuah bujukan untuk pulang menjadi begitu puitis, tapi masih penuh kesederhanaan. Klimaksnya jelas sekali rintihan sang vokalis yang menyuarakan ajakan singkat dengan sepenuh rasa, "So come back from California."

7. She Changes Your Mind - (3:48)
Ini salah satu lagu semangat Copeland yang cukup empuk masuk ke telinga. But still, nothing is really special. Bagian terbaik mungkin hanya line pembuka lagu, "She changes your mind when you see the joy in her eyes." Segala lirik yang mengandung kata "mata" akan selalu bermakna.

8. There Cannot Be A Close Second - (3:38)
Lagi-lagi lagu semangat lagi. Saya hanya akan berkomentar mengenai sepotong lirik bagian tengah, "When you look at me there can be no hesitation" yang sangat polos dan mudah dimasukkan ke dalam pembicaraan sehari-hari.

9. Coffee - (4:46)
Akhirnya kembali masuk ke zona mendayu. Jenis lagu yang tiada banding ketika didengarkan pada petang menjelang gelap atau malam menjelang hitam. Nadanya mengajak untuk bermalasan, tapi masih ada sisi optimis yang mencegah diri untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh khas fase depresi. Kemudian rasanya tidak akan ada yang lupa bagian, "If it's not too late for coffee, I'll be at your place in ten."

10. Walking Downtown - (3:06)
Another least favourite. Sorry, guys.

11. When Finally Set Free - (3:56)
Terlepas dari drumline yang sedikit berbeda dari lagu lainnya pada bagian pembuka, nampaknya tidak ada aspek lain yang bisa saya berikan tanggapan lebih lanjut. Liriknya yang terus sama sejalan dengan musiknya yang juga serupa dari awal hingga akhir. Penutupan yang cukup rapi sebenarnya, dengan barisan lirik semacam, "Feel the pain teaching us how much more we can take, reminding us how far we've come."


3.7/5


Cheers, mate. :)
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.