Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, December 6, 2011

Filosofi Pare

Proses munculnya ide memang selalu menakjubkan dan tidak terduga. Begitu saja datang, dan begitu saja pergi. Termasuk salah satu tweet saya kemarin malam yang menjadi pemicu dari tulisan kali ini.


Coba tanyakan kepada teman-teman terdekat Anda semua, terutama generasi muda. Berani bertaruh, tidak lebih dari dua yang menyukai sayuran hijau satu ini. Coba wawancara juga abang siomay yang berkeliling di dekat rumah, seberapa banyak pelanggan yang memesan pare dengan suka cita dan bukan karena alasan klinis ataupun dare saat nongkrong bareng. Di dunia ini sebanyak apa sih makanan, minuman, dan apapun yang pahit di lidah, namun disukai oleh khalayak.

Seumur hidup, saya sendiri cuma tahu dua cara untuk menikmati pare yang pahit dan bentuknya kurang menggugah selera itu: ditumis segar atau diberi bumbu kacang. Dan selebihnya, asa bisa karena biasa. Kalau sudah disuguhi berulang kali, pada akhirnya lidah ini takluk juga.

Cara pertama adalah dengan memotong pare menjadi bagian-bagian kecil dan kemudian ditumis dengan berbagai campuran yang saya tidak tahu apa saja isinya, walau saya bisa jelas melihat cabe setiap memakannya. Rasanya segar, warnanya hijau muda. Masih ada pahitnya pasti, tapi segar. Dahulu saya perlu bantuan nasi putih untuk menetralkan rasa, sekarang tanpa minum air pun tetap ingin nambah.

Cara kedua adalah dengan menyiram pare yang tidak diolah dengan bumbu kacang yang melimpah. Terpujilah abang siomay yang menyusupkan siomay ke dalam pare yang dia jual, karena sangat membantu untuk mengimbangi pahit. Terpujilah juga abang siomay yang bumbu kacangnya diolah dengan sepenuh hati sehingga kombinasi rasa dari keduanya menciptakan pahit nikmat yang hanya bisa didapat dari pare.

Sama seperti kenyataan bukan?

Kenyataan dapat dihadapi dengan senyuman apabila kita paham cara menumisnya. Potong kecil-kecil dan masak dengan campuran kesukaan, lalu kunyah sedikit-sedikit dengan ikhlas. Kalau perlu, tambahkan nasi dari teman dan keluarga untuk mendorongnya melewati kerongkongan.

Kenyataan dapat kita terima dengan lapang dada apabila kita dapat menyelipkan siomay yang menyenangkan di dalamnya, those little joys in life. Langkah jitu lainnya adalah dengan menemukan bumbu kacang yang dapat membantu kita melewati segala pahit yang dirasa. Bisa teman, kekasih, atau lagi-lagi, keluarga.

Namun yang paling penting, kenyataan baru bisa kita nikmati sepenuhnya tanpa harus memasang muka masam apabila telah terbiasa. Pahit dari kenyataan tidak mungkin hilang, tapi rasa pahit nikmat yang unik itu hanya bisa didapat dari kenyataan juga; seperti halnya pare.

Sudah siap menjadikan pare sebagai makanan pokok?




Cheers, mate.

Saturday, December 3, 2011

The Last Dance

Komitmen ada karena kembali, bukan karena diam.

Komitmen itu sudah keliling dunia dan mencicipi beragam masakan dan pemandangan, tapi masih pulang ke kampung halaman untuk berbagai alasan, baik yang masuk akal maupun yang irelevan.

Sama percis dengan penjabaran lagu "Save The Last Dance For Me"

You can dance, every dance with the guy
Who gives you the eye, let him hold you tight
You can smile, every smile for the man
Who held your hand beneath the pale moon light
But don't forget who's takin' you home
And in whose arms you're gonna be
So darlin' save the last dance for me

Oh I know that the music's fine
Like sparklin' wine, go and have your fun
Laugh and sing, but while we're apart
Don't give your heart to anyone
But don't forget who's takin' you home
And in whose arms you're gonna be
So darlin' save the last dance for me

Baby don't you know I love you so
Can't you feel it when we touch
I will never, never let you go
I love you oh so much

You can dance, go and carry on
Till the night is gone
And it's time to go
If he asks if you're all alone
Can he walk you home,you must tell him no
'Cause don't forget who's taking you home
And in whose arms you're gonna be
Save the last dance for me


Mereka yang hanya tinggal di satu titik kemudian mengucap kata setia adalah mereka yang paling perlu dipertanyakan. Karena ujian tidak pernah muncul di zona aman.

Angkat gelas untuk hati nurani dan alam bawah sadar.




Cheers, mate.

Wednesday, November 30, 2011

Now What?

Page not found.




Cheers, mate.

Sunday, November 27, 2011

Whoa


Monday, November 14, 2011

MIPMIP

Mayang - Ela - Pingkan - Djaffri - Paul - Rara - Yudis

Hope you guys don't mind that I put this on my blog.

Our three days are now over, but the memories remain.

I am so grateful that I've found you guys. For these several months, you are the reason why I could sleep late at night, wake up really early in the morning, but still grin like the happiest moron all day long.

Frankly, maybe we don't know each other that well. We might as well go our own way afterwards. I don't care.

All I know, at least for now, setting this picture as my wallpaper cheers me up big time. I guess being a part of one bloody great team is surely one of the best mood boosters. You guys rock. For real.

"The roots of all goodness lie in the soil of appreciation of goodness." -Dalai Lama

PR. Mipmip.




Cheers, mate.

Wednesday, November 9, 2011

Got stuck reviewing for 'telisik musik', but got the urge to update anyway. So.

Prom (2011)

Just quoting a quote worth quoting. Unrelated.

The movie got 4.6/10 by IMDb and 33% by Rotten Tomatoes and I don't really like it too. But watch it anyway.




Cheers, mate.

Sunday, November 6, 2011

Masuk Tol


Hidup itu pilihan, mati itu tujuan.



Cheers, mate.

Saturday, November 5, 2011

Mylo Xyloto

No, this is not an album review.

If you frequently read my blog, you should have known that anyway. I named posts for reviews with the best fitted line from the album.

This post is, like Mylo Xyloto, according to Wikipedia, according to Chris Martin, based on a love story with a happy ending.



Quoted from Wikipedia:
Two protagonists: Mylo and Xyloto, who are living in an oppressive, dystopian urban environment, meet one another through a gang called "The Lost Boys", and fall in love.

R. D. Para-para-paradise.




Cheers, mate.

Friday, October 7, 2011

"Aku yakin engkau telah menjadi Avatar di sana"

Format telisik musik kali ini akan sedikit berbeda dari biasanya, karena saya mencaplok utuh apa yang tertera di MJP edisi Oktober 2011 asuhan BSO Band FEUI. Senang dapat berkontribusi di salah satu majalah mahasiswa paling niat yang pernah saya lihat, terutama masalah sampul dan desain keseluruhan. Mana lagi majalah mahasiswa yang melakukan olah digital besar-besaran pada sampulnya yang bahkan lebih memukau ketimbang foto selebritas dunia di muka Rolling Stone dan Esquire?


Lelah berdansa ceria bersama The Upstairs, Jimi kembali kepada genre aslinya, rock berisik, bersama Morfem. Lagu-lagu di album Indonesia sarat distorsi dan teriakan-teriakan asal sembur, tapi menyuarakan lirik-lirik brilian yang nikmat di telinga meski menggunakan bahasa baku modern Indonesia.

I wanna rock n roll, brick by brick.
1. Gadis Suku Pedalaman – (3:54)
Tembang pembuka yang bercerita mengenai cinta yang telah lama hilang tak kunjung datang. Musiknya mungkin biasa saja, berisik, dan terkadang memang cukup mengganggu vokal. Padahal, departemen liriknya cukup istimewa. Simak saja bagaimana Jimi menggunakan, “Empat presiden berganti sudah,” sebagai keterangan waktu dan pujian kikuk seperti, “Aku yakin engkau telah menjadi Avatar di sana.” Sisanya, kalimat-kalimat nyaris baku yang disulam menjadi lagu rindu yang ikhlas.

2. Who Stole My Bike – (1:56)
Bukan lagu yang istimewa. Tidak ada “telor” yang disuguhkan oleh lagu ini, tidak pakai karet dua di atasnya. Benar-benar transisi saja mungkin, sehingga dinamika album ini naik turun, membuat lagu berikutnya menjadi lebih dahsyat, karena lagu berikutnya adalah…

3. Tidur Di Manapun Bermimpi Kapanpun – (4:11)
Single yang mampu menawan hati setiap pendengarnya. Dengan tabuhan drum beringas mengiringi, ditimpali dengan vokal dua lapis suara sukses membuat siapa saja Anda untuk turut menyanyikan baris chorus yang sederhana nan anthemic, “Ku tertidur di manapun aku bisa, ku bermimpi kapanpun ku mau.”

4. Wahana Jalan Tikus – (4:05)
Merugilah Anda bila tidak paham jalan-jalan belakang DKI Jakarta. Bukan baru sekali jalan tikus menjadi penyelamat dari neraka (ungkapan dan harafiah), mengutip Jimi, “Oh jalan tikus menjadi pilihan, minimalkan panas yang menyinari. Mengurangi geram, umpat, dan tertekan.” Hawa lagu ini sendiri sejuk, isinya hanya kocokan gitar akustik ditimpa biola, dan akhirnya dilapisi dengan vokal yang syahdu menyanyikan – lagi-lagi – lirik yang baku, seringkali aneh, tapi selalu menarik. Cocok untuk menemani bisingnya klakson di tengah kemacetan ataupun pesingnya selokan di sempitnya gang-gang.

5. Pilih Sidang atau Berdamai? – (3:14)
Lagu jujur perihal jalan belakang (kali ini konotatif) di seluruh sudut ibu kota. Bentuk edukasi menarik untuk membuat rakyat Indonesia berani memberi seringai kepada para pengayom masyarakat sambil berkata, “Kami pilih sidang sajalah!” Musiknya catchy, tidak perlu berkali-kali untuk mengingat nadanya. Walaupun mungkin untuk mengingat lirik bagian verse dibutuhkan niat lebih karena selain cukup variatif, juga lagi-lagi agak tertutup oleh musik pengiring yang ramai dicampur kesalahan teknis dalam proses mixing yang cukup sering ditemukan di album indie.

6. Death Kitchen – (3:14)
Track berbahasa Inggris yang musiknya lebih baik dibanding track #2, ‘Who Stole My Bike’. Akan tetapi, lagi-lagi kualitas tertahan di masalah pronunciation. Lagi-lagi masih belum pakai telor, baik dadar maupun ceplok. Ada sedikit orak-arik berupa lirik di chorus, “Don’t go to the kitchen, there’s a body on the floor.” Sedikit saja tapi, baru satu suap sudah habis.

7. Tidur Di Manapun Bermimpi Kapanpun – akustik – (4:03)
Versi akustik yang tidak sia-sia. Selain kembali mengingatkan bahwa judul ini adalah single andalan, versi akustik ini juga menyelamatkan ‘Indonesia’ dari Death Kitchen. Selamat!

Album Morfem yang satu ini sangat direkomendasikan untuk pencinta bahasa baku modern dan penikmat lirik-lirik ala Jimi Multhazam (yang mana menggunakan bahasa baku modern). Direkomendasikan untuk seluruh pencinta musik Indonesia ataupun bagi yang baru ingin menjadi pencinta musik Indonesia. Tidak direkomendasikan untuk ibu hamil dan penderita epilepsi.

Saturday, September 24, 2011

Trick or Treat

"Treat others the way you want to be treated."

Saya berani bilang ajaran di atas bukan sebuah universal truth.

Contoh yang banyak ditemui adalah antara orang terencana dan deadliner.

Namun sebelum banyak mispersepsi ke depannya, mari definisikan bersama arti kedua kata di atas.

Orang terencana: Perfeksionis yang memiliki agenda - baik dalam bentuk fisik, digital, maupun tak kasat mata - di mana di dalamnya terdapat rincian lengkap akan hal-hal yang akan dilakukan olehnya dalam rentang waktu yang sangat jelas. Rentan terhadap kejutan, bahkan stadium akhirnya bisa kesal tidak juntrungan hingga pekerjaan yang sudah punya konstruksi rapi akhirnya tidak dilanjutkan.

Deadliner: Orang-orang ajaib yang potensi terpendamnya muncul setelah dipanas-panasi dengan berbagai bentuk tekanan, umumnya waktu yang mepet. Sering risih jika dihadapkan dengan tuntutan timeline selain timeline pribadi, karena pada akhirnya hasil yang mereka beri selalu saja, entah bagaimana, tidak pernah tidak bagus.

Sebelum berlanjut, mohon diperhatikan bahwa dua uraian di atas bukan pasti arti yang sebenarnya dari dua kata bersangkutan. Keduanya hanya definisi agak hiperbolik yang hanya digunakan dalam tulisan ini. Maaf saya harus menyatakan disclaimer ini, karena pasti ada saja yang mencibir, "Ya orang terencana ga gitu-gitu amat kali," atau "Deadliner juga punya rencana lah," atau bahkan yang sama sekali tidak relevan seperti, "Heh kalo ga suka bilang aja langsung ga usah nulis-nulis di blog," atau, "EMANG KENAPA KALO GUE TERENCANA/DEADLINER? GA SUKA?!" God bless us all.

Dalam sebuah kerja tim, orang terencana tidak akan berhenti mengingatkan seorang deadliner setiap 6 jam dalam kehidupan profesional mereka untuk mengikuti struktur buatannya, dan seorang deadliner tidak akan pernah lelah untuk tidak peduli dan atau berteriak balik tanda jengkel.
Nyatanya, orang terencana lebih suka dituntun - walaupun mungkin oleh dirinya sendiri - agar semua agendanya berjalan sesuai dengan perkiraan. Bagus? Banget. Sayang, niat baik itu akan berakibat buruk sekali saat dia menerapkan obsesinya terhadap kontrol tersebut kepada seorang deadliner sejati.

Contoh lainnya perihal attention to details, yang menurut banyak pakar, adalah unsur penting dalam jiwa seorang pemimpin. Seberapa sering Anda jengkel ketika orang lain tidak mengerti bahwa satu oxford comma atau satu pixel dalam grafik dapat merusak susu sebelanga, atau bahwa air Nestle dan air Aqua sangat berbeda dalam hal rasa dan aroma. Seberapa sering Anda jengkel ketika orang lain tidak mengerti kenyataan bahwa cuma mikroskop yang mampu melihat noda mini di sebuah gaun pesta, atau bahwa warna biru itu hanya terdiri dari biru muda dan biru tua, bukan puluhan jenis seperti mereka kira.

Masih banyak sekali contoh dalam keseharian yang semoga Anda sudah sadari sekarang. Coba saja lihat ke belakang. Ke hari kemarin ketika Anda yang suka manis menuangkan terlalu banyak gula tanpa permisi kepada Paman Budi yang penggemar kopi hitam. Ke minggu lalu ketika Anda yang modern mengajukan proposal dengan gaya pop art kepada elit perusahaan yang lebih suka batik. Ke bulan lalu ketika Anda yang gila film memutarkan 12 Angry Men di hadapan awam yang menonton Juno saja sudah kelimpungan. Ke tahun lalu ketika Anda yang suka diperhatikan terlalu sering khawatir dan kerap menelepon kekasih Anda di tengah malam hanya untuk tahu apakah AC-nya masih bekerja dengan baik.

See what the problem is? It's us.

Bukan perkara sulit untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Karena pada dasarnya - seharusnya - kita sudah mencintai diri kita sendiri. Jauh lebih sulit untuk mencoba masuk ke dalam pikiran seseorang, dan lebih jauh lagi, hatinya. Belum berhenti sampai di situ, untuk memahami secara penuh, kita juga dituntut untuk mampu merasakan apa yang dia rasa, bukan hanya sekadar tahu tanpa rasa empati, dan akhirnya kemudian menunjukkan kepedulian secara nyata melalui beragam treatment yang bukan jarang jadi malapetaka bila dilakukan tanpa perhitungan.

Saya juga tidak cukup bodoh kok untuk tidak mengerti bahwa muasal kalimat mutiara tersebut adalah sesederhana, "Do good deeds, avoid evil deeds." dan bukan sedalam-dalam bahasan saya kali ini. Akan tetapi, kalimat itu menjadi pemicu yang cocok untuk topik ini, bukan?

Lagipula, kata siapa semua orang suka dilembut-lembuti? Selalu ada yang namanya masokis.

So, here it goes. The moment of truth.

Ketika Anda belum cukup yakin untuk mampu meyakinkan orang untuk mengikuti Anda.

"Treat others the way they want to be treated."


Keep your dignity though.



Cheers, mate. :)

Saturday, September 10, 2011

SIX

Selamat enam bulanan, Ardelia Apti. Check your mail!

Tuesday, September 6, 2011

"Lately I've been seeing things, belly button piercings"

Ingin rasanya rutin dalam pembuatan label satu ini. Tidak perlu terlalu berambisi, cukup satu bulan sekali. Jangan pedulikan yang lampau, mulai dari hari ini. Janji.

click the image to visit the album's Wikipedia page

And just why I picked this album? Karena ini album Arctic Monkeys paling enak sejauh ini. Ketika album pertama mereka rilis di pasaran, saya tahu mereka akan mengubah musik dunia. Muncul album kedua, saya tahu mereka semakin dewasa; banyak unsur aneh yang masuk, meningkatkan mutu, tapi butuh adaptasi gendang telinga. Album ketiga mereka cukup membuat saya frustrasi, sekian kali diputar masih belum bisa dicintai. Akhirnya, album keempat ini tiba. Nikmat sekali saya pikir. Sekarang, ketika saya mendengarkan 'Whatever People Say I Am, That's What I'm Not', lelah yang dirasa - sudah tua mungkin. Bisa dibilang, ini adalah WPSIATWIN yang telah dijinakkan.

Track by Track by Me
1. She's Thunderstorms - (3:55)
Awalnya horor memuncak, saya kira awalnya ini hanya another 'Humbug'. Namun ketika gitar II mengiringi, semua jadi ceria tanggung. Vokal Alex yang membius juga langsung menjadi magnet mutlak dari album termutakhir ini, "When you're feeling far away, she does what the night does to the day."

2. Black Treacle - (3:35)
Lirik pembukanya yang lebih dari mahadewa, "Lately I've been seeing things, belly button piercings in the sky at night, when we're side by side," dinyanyikan dengan sangat romantis. Begitu terus nuansanya dijaga sampai not paling akhir. Di tengah-tengah juga banyak fill guitar - tuiiit, tuiiiit - yang sederhana, tapi krusial. An instant favourite!

3. Brick by Brick - (2:59)
Lagu yang sangat cocok untuk dinyanyikan bersama di konser lembab sambil jejingkrakan berdempetan, karena liriknya yang berulang dan tidak sulit dihapal, semacam "I wanna rock n roll, brick by brick!" yang diteriakkan berkali-kali sepanjang lagu. Nada-nadanya juga asal menghentak dan tidak membuat pusing. Sangat sederhana, anthemic.

4. The Hellcat Spangled Shalalala - (3:00)
Saya bisa bilang ada dua bagian di lagu ini: The Hellcat Spangled adalah bagian seram dan Shalalala adalah bagian bahagianya. Tidak banyak komentar, mari kita, "Shalalala~"

5. Don't Sit Down 'Cause I've Moved Your Chair - (3:04)
Saya sangat suka dengan makin banyaknya backing vocal di album ini yang berteriak-teriak macam di lagu ini, "Uuuuuuuu!" atau "Yeh! Yeh! Yeh!" Sangat segar untuk Arctic Monkeys. Bukan favorit, tapi jelas menarik, terutama bagian, "Kung fu fighting~" yang dinyanyikan dengan cengkok yang aneh.

6. Library Pictures - (2:22)
Terasa secuil 'Favourite Worst Nightmare' di sini, di mana raungan gitar di-bending mencoba menghasilkan kengerian menghiasi latar gitar berat monoton atau strumming sekali-sekali yang khas sekali. Vokalnya juga demikian sepanjang tembang, mulai dari, "Library pictures of the quickening canoe," sampai "10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1," sampai akhirnya, "Or an ipp dipp, dog-shit rock and roll."

7. All My Own Stunts - (3:52)
Selain intro-nya yang suara latihan kemudian dibalas oleh riff gitar yang kotor-tapi-bersih dan catchy, tidak ada yang terlalu spesial dari lagu ini.

8. Reckless Serenade - (2:43)
Second best! Memiliki rasa yang nyaris persis dengan Black Treacle, tapi lebih seksi dengan intro bassline campur pita suara Alex. Rasa damba sukses tersampaikan melalui lirik-lirik eksentrik semacam, "When she laughs the heavens hum a stun gun lullaby," dan "Their hypnosis goes unnoticed when she's walking by." Solo ringkas dengan tone suara khas Arctic Monkeys menjelang akhir lagu juga menakjubkan. Selain itu, durasinya yang paling singkat juga tidak menyisakan celah untuk masuknya komponen yang sia-sia.

9. Piledriver Waltz - (3:24)
Average joe dari 'Suck It and See' itu ya yang berbunyi seperti lagu ini. Enak didengar saja, tidak perlu berpikir terlalu keras. Jinak. Tambah nikmat karena ditambah lirik khas Alex seperti, "If you're gonna try and walk on water make sure you wear your comfortable shoes."

10. Love Is a Laserquest - (3:12)
Tabuhan drum di awal jadi ciri khas dari lagu ini, di mana semua penonton pasti langsung sadar dan bersiap mengingat lirik ketika mendengar atau melihat Helders mulai beraksi dengan gaya santai, namun nafsu khas dirinya. Datar, tapi sebagai satu kesatuan memiliki lirik indah yang seolah berbicara kepada kita. "And do you still think love is a laserquest, or do you take it all more seriously?"

11. Suck It and See - (3:46)
Ada tiga judul yang hawanya serupa, ketiga-ketiganya bagi saya merupakan Top 3 album ini, yaitu judul ini, judul #2 dan judul #8. Ketiganya tentang cinta, told with the only way Arctic Monkeys know: awesomeness. Tidak banyak logat yang dapat menyanyikan, "Be cruel to me 'cause I'm a fool for you," dengan romantis seperti Alex.

12. That's Where You're Wrong - (4:17)
Menyenangkan! Lagu yang ada di penghujung album ini punya nada-nada yang mengisyaratkan bahwa ini semua belum berakhir, bahwa Arctic Monkeys masih akan terus berkarya. Cocok dibawakan juga di penghujung acara. Karena kalau Anda pikir musik hebat cuma sampai di sini, "That's where you're wrong."


4.5/5


Cheers, mate. :)

Monday, September 5, 2011

Baby, It's You



The exact person.

Sunday, July 10, 2011

We Just Don't Care

Sebelumnya, yang berpikir subjektif (dalam arti lain, tidak membantu) silakan pulang kalau tidak mau tersiksa.

"Let's break the rules and ignore society." -John Legend

Bagus ya fotonya? Itu belum kena kok.

Public Display of Affection (PDA) adalah permasalahan publik yang kian banyak menjamur, tapi kenapa juga dianggap masalah?

Pertanyaan intinya, dalam bentuk apa tepatnya publik dirugikan?

Saya tidak juga bilang bahwa publik diuntungkan, karena sewajarnya kita semua bukan penderita voyeurism. Saya juga tidak bilang bahwa PDA adalah sebuah praktik yang baik maupun benar, karena jangan sampai menjadi eksibisionis. Pun jika demikian, tidak layak mereka disalahkan jika kita tidak dirugikan. Who are we to judge?

Argumen publik paling logis boleh tentu masalah pencitraan. Pasangan yang melakukan di institusi pendidikan akan dianggap menodai ilmu pengetahuan, yang menunjukkan di tempat kerja akan dianggap melukai profesionalisme, yang beraksi di taman akan dianggap merusak moral para pendatang. Akan tetapi lagi, mana yang lebih penting, citra atau fakta?

Saya yakin dua di atas sana bukan maling ayam, perampok bank, atau koruptor. Bisa saja mereka orang yang membantu Anda mencarikan taksi sepulang dari mabok, bisa saja mereka orang yang memberi Anda sapu tangan saat air mata mulai bercucuran, bisa saja mereka pahlawan yang membela tanah air dan negara. Apa sebuah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan di tengah masyarakat, yang bahkan bukan untuk tujuan pameran, yang hanya terkadang (ataupun seringkali, tidak masalah) dan sekadar untuk pembuktian, membuat kita lupa itu semua?

Akan lebih mudah jika memberi alasan polos, tapi jujur dan tidak bertele-tele. Kalau disampaikan dengan baik, saya yakin semua bisa saling menghargai.

Mungkin PDA mengganggu Anda karena rindu kekasih atau mantan yang sedang ada di mana. Mungkin PDA membuat risih karena timbul suara-suara yang mengganggu konsentrasi berpikir. Mungkin PDA tidak sesuai saja dengan Undang-Undang atau peraturan tertulis yang ada hukuman pidananya. Ya atau bilang saja, minta pengertian kepada mereka untuk tidak melakukannya karena Anda tidak suka. Asal jangan nanti marah ketika Anda yang diberi peringatan karena turut berlaku demikian juga.

Dan jangan sekali-sekali membawa agama. Kalau memang dengan alasan melarang perintah agama, harusnya Anda juga ikuti mereka ke tempat yang cuma bisa berdua, lalu hentikan. Karena agama bukan melarang PDA, agama melarang kontennya.

Terakhir, Anda sudah tentu tahu foto PDA paling terkenal sepanjang masa karya Alfred Eisenstaedt di bawah ini:


Indah, bukan?

Akan susah kala fakta masih cuma diselubungi citra. Akan susah kala Anda hanya melihat yang menyelimuti, bukan inti. Akan susah kala Anda masih berpikir subjektif, karena berpikir subjektif tidak membantu.




Cheers, mate. :)

DAFTAR PUSTAKA:
pantai - koleksi pribadi

Saturday, July 9, 2011

I Love You


The exact feeling.

Saturday, June 25, 2011

Wednesday: I'm Not From Here

Wednesday is another blues night at Bonjour. I don't need it. They said the legendary King Ramsay is going to play tonight, and although I collect and repeatedly listen to each and every single album he ever released each and every day, I am not interested. At all.

Why? Because tonight, Martha was going to the Dry Barn.

The Dry Barn. Despite its mundane name - though some hipsters think it's, well, hip - the Dry Barn is the most sophisticated night club around here. And by around I mean the outer ring of the city. They got pool (hot, cold, warm, jacuzzi, kids pool, slides and stuffs, billiard), they got made-out-of-bulletproof-glass, pyramid-like entrance (oh, yes, the club is under the ground), they got extraterrestrial lighting (and I really thing they traded it with an alien from outer space, no green lights beats the Dry Barn green), and so, they got their own the most expensive (yes, you heard it right) crowd.

Long story short, I went there too that night.

Okay, I didn't go there. I'm a pitiful piece of insignificant fragment of this city. Only in my most unreal fantasy I could get pass the bouncer.

That's what friends are for.

I happened to know a certain guy named Kevin, who happened to be the assistant of the architect of the Dry Barn. That night, we sat down on the bench at the park, talking about the Dry Barn, inside and out. Oh yes, that's why I could describe the luminous lights, despite the fact that I have never, and will never get inside. He showed me some pictures. See? That's what friends are for.

So, that's my side of the story. God knows what happened inside the Dry Barn that night. All I know is, as I now (Thursday noon already) am reading the morning newspaper, Martha burst into the Bonjour, ordered one cup of Espresso, no ring. God saves the queen.



P.S. I have to go chasing my wildest dream. Whoever you are, please give this journal to Vince.

Monday, June 20, 2011

Otak Meledak

Aku berpikir, maka aku meledak.


Epik ga sih?

Seumur hidup, saya tidak pernah tidak - okay, mungkin pernah pada beberapa kesempatan - menjadi orang yang overthink dan kerap dicibir terlalu uptight yang kemudian diberi nasehat "Loosen up a bit!"

Familiar? Pernah berhadapan atau dihadapkan? Atau tertekan karena merasa dinyatakan?

Tabahlah, kawan.

Mungkin mereka semua ada benarnya jua.

Otak dicipta untuk dipakai, tapi mungkin kita salah tafsir menganggap fungsinya hanya untuk berpikir.

Siapa kira otak bisa cantik jadi hiasan dinding?

Siapa kira otak lebih ampuh jadi umpan ikan ketimbang cacing dan udang?

Siapa kira otak layak jadi busa pencuci nampan?

Siapa kira otak pantas dibawa pulang sebagai buah tangan dari tempat kenangan?

Siapa kira otak boleh ditendang ke sana ke mari pengganti bola kaki?

Tuh kan, ini hanya gurauan.

Berhenti berpikir terlalu serius. Sebelum meledak.




Cheers, mate. :)

DAFTAR PUSTAKA:

Friday, June 17, 2011

Kalau suatu saat saya tiada, apa kata dunia ya?

Akankah ayah, bunda, dan adik yang sudah lama tidak saya cium di kening masih ingat rasanya? Atau diri ini selayak kecupan yang cepat datang cepat pergi?

Akankah kawan lama masih mengingat segalanya dan mengalir air mata? Atau kenangan akan saya cuma kepingan insignifikan yang dikubur bersama kafan?

Akankah kawan baru terus memutar hari kemarin dan segala hal yang baru terlewat? Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?

Kalau memang butuh wafat untuk dikenang, untuk disayang, betapa menyedihkannya.

Kalau memang butuh mati untuk dihargai, untuk dipuji, betapa sebuah ironi.

Namun tidak apalah, setidaknya saya tahu saya dicinta.




Do miss me, mate.

Sunday, June 12, 2011

Berani Jatuh, Cinta

Jatuh cinta adalah bentuk keberanian. Namanya saja sudah jatuh.




Jatuh itu artinya ya lepas kendali, hanya bisa merasakan nikmatnya gravitasi saat tubuh kita membelah udara. Seperti gravitasi, cinta menarik manusia dengan kekuatan mutlak tanpa pandang bulu. Ditarik terus sampai membentur apa saja di permukaan. Sampai benturan itu tiba, angin saja yang kita terpa. Rambut rusak atau kering setidaknya, mata perih sulit dibuka, bergerak segala bagian tubuh juga percuma. Cuma bisa pasrah. Makin pasrah, makin nikmat, makin puncak sensasinya.

Jatuh itu artinya ya melesat ke bawah, tanpa kepastian ada yang menanti dengan tangan terbuka; dan kuat. Ibaratkan saja bukan satu, bukan dua, tapi segambreng tangan sudah siap sedia di bawah sana. Namun mereka hanya menunggu saja, mungkin juga tidak tahu apa yang akan mereka rasa. Mungkin ada yang hanya mau meraba, atau jangan-jangan mau memangsa. Seram. Atau giliran ada yang ingin tulus menangkap, tangannya sekurus lidi. Jangankan ditahan, tangannya malah ikutan putus! Kasihan.

Jatuh itu artinya ya kalau gagal, sakit yang dirasa. Masih baik kalau datarannya cuma rata. Bayangkan kalau berduri, atau berapi, atau tidak ada daratan sama sekali. Tidak ada! Sakit berkelanjutan di dalam kegelapan semata. Sudah cukup pun tidak bisa berdiri untuk kemudian lari walaupun untuk jatuh lagi. Bisanya menunggu saja, dan kali ini tidak mungkin dengan pasrah. Karena manusia pada dasarnya makhluk keras kepala, tidak mau mati kalau tidak terpaksa.

Lalu kenapa harus berani jatuh, cinta?

Karena jatuh cinta tidak hanya jatuh, tapi juga cinta.




Cheers, mate. :)


DAFTAR PUSTAKA:

Sunday, May 15, 2011

DB

Kenapa juga SP harus diberi nama SP? Semester Pendek? Aneh. Semester itu ya durasinya enam bulan. Tidak layak diberi embel-embel pendek, tinggi, besar, kecil, luas, sempit; yang namanya semester itu ya enam bulan. Harusnya ganti nama saja, jadi DB, Dwi Bulan.


Akan tetapi, lebih aneh lagi yang mempermasalahkan pilihan orang. Ambil SP, dibilang nafsu. Tidak ambil SP, dibilang malas. Who are you to judge? Beda prinsipil boleh, tapi sampai situ saja.

Coba kita bedah beberapa opini publik perihal makanan SP ini.

"Ngapain ngambil SP? Kagak bisa liburan."
Ya ambilnya tidak usah SKS penuh atuh, Mas. Saya cuma ambil 6 SKS, dua-duanya hari Selasa dan Kamis. Tidak segitu melelahkannya saya rasa. Mengingat keseharian kita sudah ditambah asistensi dan kepanitiaan serta kepentingan organisasi yang kerap didewakan.
Masa iya ada waktu empat hari dari Jumat-Senin tidak cukup? Apa kabar?
Lagipula bulan Agustus kosong melompong. Masa iya satu bulan tidak cukup? Apa kabar?

"Apa hubungannya lulus cepat dengan kepintaran?"
Siapa juga yang bilang lulus cepat artinya pintar? Siapa juga yang bilang IPK 4 artinya pintar? Siapa juga yang bilang Medali Emas OSN artinya pintar?
Kepintaran tidak sependek jalan pikiran Anda, kawan. Trofi dan medali yang dibanggakan itu justru jadi beban kalau tidak dipergunakan dengan cermat. Ditambah lagi, saya masih yakin ada perbedaan antara mereka yang pintar dan mereka yang sukses.

"Turunkan harga SP!"
Sudah jelas SP hukumnya optional. Kesannya memang hanya pihak yang ingin SP saja yang diuntungkan saat minta harga SP turun. Memangnya semua mau ikutan? Memangnya tidak banyak yang rindu keluarga di rumah? Memangnya dosen tidak butuh makan? Memangnya inflasi cuma bualan?
Kalau mau, sekalian turunkan biaya kuliah semester biasa saja. Atau gencarkan beasiswa, biar makin giat berprestasi. Atau kurangi birokrasi untuk BOP-B, biar tidak malas urus berkas. Atau ya tidak usah memaksa, Ibu dan Ayah sudah menanti di rumah.
Lucunya lagi, tetap saja setelah semua petisi dan teriakan, kelas masih over-quota.

Tidak terpikir lagi rasanya opini lain yang bisa saya coba beri sanggahan. Kalau ada, coba tambahkan melalui fitur komentar di bawah ya. Masih belum puas juga saya.

Sekarang, daripada dibilang mulut besar yang cuma bisa jadi oposisi, saya mau menjabarkan alasan saya daftar SP tahun ini.

1. Publikasi Economic Talent 2011
Saya dan rekan, Hadiati Nurul, sudah menjadwalkan bahwa publikasi salah satu acara Economic Talent 2011 akan dilaksanakan bulan Juni, bertepatan dengan pelaksanaan SP 2011. Daripada buang BBM, menyemburkan polusi, apalagi satu mobil cuma sendiri, hanya untuk perihal tersebut, sekalian saja kita belajar. Biar cepat lulus, biar cepat kerja, dapat uang, nikah, bahagia.

2. Ogah jadi pengangguran
Saya bukan dari daerah. Rumah saya, walau berjarak jauh, tidak sampai 1 jam perjalanan mobil dari Depok. Alhasil, tiap hari juga makan malam bersama keluarga. Tiap pagi juga salim kepada Ayah dan Bunda.
Saya tidak aktif di organisasi dalam maupun luar kampus. Satu-satunya kegiatan saya cuma menjadi bagian dari IT & Support Division di myCampus UI setiap hari kerja. Saat liburan tiba, habis semua.
Tidak ada alasan bagus kenapa saya harus memilih untuk di rumah saja, nonton TV atau main XBOX, makan keripik, jadi (lebih) gendut, dan bukannya ke kampus untuk menimba ilmu dan menunaikan secuil SKS agar bisa jadi sarjana.

3. Takut macet di tengah jalan
Masa depan itu diselubungi oleh asap abu-abu.
Mana tahu semester depan saya harus ikut Ayah kerja di Kutub Utara? Mana tahu tahun depan ada Perang Dunia III? Mana tahu dua tahun lagi saya sakit keras hingga merasa perih pun tak mampu?
Itu masih contoh-contoh hiperbola (walaupun sebenarnya satire) yang akan Anda - ya, ini bagi Anda, yang skeptis tidak bisa menerima pendapat orang lain, atau sekadar tidak punya selera humor - tertawakan. Kalau mau logis, saya juga bisa.
Siapa tahu semester depan saya tidak bisa mengatur prioritas hingga gagal dalam beberapa mata kuliah? Bukankah dengan mengambil SP sebelumnya saya jadi punya kesempatan lebih?
Siapa tahu tahun depan saya diharuskan mengambil sedikit saja SKS sebagai bentuk komitmen penuh terhadap organisasi dan kepanitiaan? Bukankan dengan mengambil SP sebelumnya saya lebih bisa lega bernafas?
Siapa tahu bulan Agustus ini saya harus meninggalkan dunia? Kalau itu benar adanya, setidaknya saya tahu, I've lived my life to the fullest. Walaupun hanya beda 6 SKS dari Anda semua.

4. Alasan pribadi
Alasan sisanya, ya pada intinya, ini hidup saya, terserah saya mau apa. Saya mau SP agar bisa efisien antar-jemput Ardelia Apti, yang kalau hari biasa agak sukar dilakukan. Saya mau SP karena takut rindu makanan KaFE. Saya mau SP biar tidak ditinggal lulus sahabat-sahabat saya. Atau, sekadar, saya mau SP. And there's nothing you can do about it, because this is my life.

Ada sanggahan?




Cheers, mate. :)


DAFTAR PUSTAKA:
foto kolam makara - milik pribadi

Sunday, May 8, 2011

Zip Your Face

Kalau ada yang ingin dikatakan, cepat sebelum turun ke bawah.


Karena malam ini saya beranjak dari sisi kenangan. Karena semakin dipupuk, mereka semakin subur. Karena semakin diternak, mereka semakin jinak. Karena semakin dilihat, mereka semakin dekat.

Sudah peduli apa lah dengan semua. All my life I've been good, kalau kata mbaknya.

Biarkan saja lay-up istimewa di atas berhenti sampai di sana. Kita semua juga tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi maaf - ralat, tidak perlu mohon maaf - sebelumnya, saya harus bermain Tuhan. Bersikap egois untuk menghapus semua suratan. Lebih berambisi untuk memiliki, lebih berhasrat untuk memegang erat, lebih nafsu untuk memburu.

In another universe, your sweetest dream is your worst nightmare.




Beware, mate.


DAFTAR PUSTAKA:
foto - milik pribadi

Friday, April 29, 2011

Menghilang Jejak

Yang namanya lupa itu manusiawi. Di banyak kesempatan justru malah sebuah berkah Ilahi.


Baru belakangan setelah mengunduh apps Leme Cam untuk iPod Touch saya jadi keranjingan foto keseharian. Dulu saya sampai lupa fungsi mula kamera tercipta. Ya untuk jadi pengingat, untuk mencipta memento bagi manusia yang kodratnya mudah lupa.

Menggunakan kamera tipe Double Exposure saya dapat foto di atas. Aslinya mereka adalah sepasang kekasih yang entah mengapa lelakinya berjalan jauh lebih cepat dan bukan berdampingan. Maka terciptalah gambar semacam tersebut. Evolusi wanita jadi pria kemudian jadi hilang.

Mengerikan, ya? Saat seorang sudah tiada cuma kenangan yang bisa jadi bukti kehadirannya. Dari dulu juga saya selalu bilang jangan buang kenangan kan. Indah sekali mengetahui bahwa sesuatu pernah ada. Di suatu koordinat dunia, menghalangi materi lain untuk duduk di tempatnya, dan memberi pengaruh kepada sekitar tidak peduli kecil besarnya.

Namun untuk beberapa perkara, indah juga ketika kita asumsikan di dunia dalam foto di atas manusia secara alamiah berjalan ke arah mundur. Dari tiada, jadi pria, lalu wanita.

Banyak hal yang membuat hati ngilu kalau tetap kokoh berdiri. Bisa hal buruk yang memang terpuruk, menggelikan hingga memalukan, atau sekadar membuat cemburu bisu. Obatnya tiada bukan selain pura-pura bego hingga jadi bego benaran. Lainnya ya hadapi, karena memang saya masih belum bisa ada di pihak yang berlawanan dengan kenangan.

Semoga lanjut hingga hilang asa. Semoga asa tidak akan hilang.




Cheers, mate.


DAFTAR PUSTAKA:
http://dije.deviantart.com (menghilang_jejak_by_dije-d3f61lr.jpg)

Sunday, April 17, 2011

Tuesday: The End

This morning was not a good morning. It was terrible. It was inedible.

There she sat, only two tables away, with her fiance. It was an ordinary hectic morning, both are in their working attire, her fiance in his white doctor jacket with his doctor leather bag under the table and she - unlike yesterday - wore skirt. On the table was two sandwiches, one cup of chamomile tea, and a glass of orange juice. All the usual routines, but even I had to admit that they owned that table like the King and the Queen of a prosperous kingdom in the far east. All the people going in and out of this joint, but they stay the same. Then pop.

The ring was beautiful. I am no appraiser, but I know it costs at least 300 cups of Ben Bonjour's special drink which is only sold on special occasions. By special, I meant no Christmas nor Independence Day. By special, I meant catastrophic special, like when The Parade comes to visit; and it's already 10 years since the last The Parade.

I was never sure of my feeling about Martha, but now, I am.


P.S. Vince told me to stay away from Martha. I will never.

Tuesday, March 8, 2011

Hall D1

Ini post ke-103 ternyata.

Kalau ditanya satu rasa yang sedang melanda, saya ingin bilang cinta.

Menjalarnya cepat dan menggeliat. Keras menghantam seperti pukulan sabuk hitam, sekaligus menggelitik seperti sedang diduduki dua lusin kepik. Sekejap seperti tidur siang yang lelap, sekaligus mengamuk seperti sedang heboh dirasuk. Seolah ada naga warna merah jambu naik dari bawah diafragma terus hingga ke ujung kepala.

Asalnya bisa dari mana saja kapan saja, tapi acapkali dari sosok yang sama. Tingkah laku, kibasan rambut, sentuhan jemari, tatapan mata, lontaran kata, belaian muka, benturan kepala, sentuhan bibir, aroma kulit, getar bisikan. Jangan lupa tambahkan akhiran '-nya' di setiap contoh tersedia.

Dampaknya luar biasa. Setiap kalimat yang terjalin menjadi puisi, setiap guyon yang dicoba menjadi cerita, setiap harapan yang dipesan menjadi rekanan. Kalau berjalan, kaki diayun lebih tinggi dari sebagaimana harusnya. Kalau bicara, tiap kata punya nada berbeda hingga terdengar seperti paduan suara. Kalau berdua, ucapkan selamat datang kepada naga.

Jangan pernah ragu kala menggenggam es batu. Dinginnya menggigit, tapi hidup yang dirasa.

Oh remote AC saya mati, untung saya punya baterai dua A.




Cheers, mate. :)

Thursday, January 13, 2011

Life Is A Full-Time Job

Bahan tulisan kali ini muncul ketika pada hari kapan kemarin saya sedang membaca timeline Twitter saya sembari mendengarkan iPod, Copeland, shuffled, not repeated, dalam perjalanan pulang ke rumah menggunakan Feeder Busway Kemang Pratama yang tersohor di kalangan penglaju Bekasi-Jakarta.

Topik umum di timeline kala itu mengenai IP dan segala yang bersangkutan dengannya. Bagaimana banyak mahasiswa baru polos yang entah tinggi hati atau sekadar bangga saja tanpa maksud apa-apa menyebarluaskan >3.80-nya di berbagai situs jejaring sosial. Bagaimana banyak mahasiswa baru yang sakit hati karena dosen lalim dan teman sendiri. Argumen bahwa IP yang tidak ada hubungan dengan kesuksesan. Lainnya, lelucon tentang IP maupun keadaan timeline itu sendiri. I tweeted some bold statements too, like, "My GPA ain't high. Won't say it won't affect my future, because it sure will. Fortunately, I don't live in the future."

Saya tidak bilang bahwa IP saya di bawah 3, tapi memang tidak cukup untuk gelar cum laude juga. Ada sedikit rasa sedih - walau kemudian berubah bangga dan turut bahagia - setiap mendengar IP cum laude dari orang-orang sekitar saya. Kenapa saya tidak bisa? Kenapa saya kurang mau? Then God intervened. George Grusin - a decent name for an iPod isn't it? - played me 'You Love To Sing'.

Sing, with your head up, with your eyes closed
Not because you love the song, because you love to sing
Because you love to sing

Out of nowhere, saya mendapat sebuah interpretasi baru dari lagu lama ini.

Apa jadi kalau makna tersembunyi dari "sing" itu adalah "life" as we know it? Hidup dengan bangga, dengan tegak kepala, dengan tutup mata tanda tenang hati. Hidup bukan cuma satu kala semata, bukan cuma saat IP empat koma atau baru dibelikan sepeda roda dua untuk pertama. Hidup bukan cuma satu titik sementara, bukan cuma saat ciuman pertama atau duduk bersama gadis idaman. Hidup itu segala waktu yang terlewati. Saat nenek atau anjing kita mati. Saat pacar dibawa lari. Saat IP tidak mencukupi.

Maka dari itu, hiduplah. Bukan karena hanya momen-momen indah yang pernah ada, tapi juga karena hidup itu sendiri adalah sebuah pengalaman manis yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Karena hidup bukan sekadar bahagia belaka. Karena hidup adalah kita.

Mungkin niat awal kawan kita di Copeland tidak sejauh interpretasi saya, mungkin mereka cuma ingin membuat lagu tentang "sing" semata. That's just how I see it. I don't know about you, but I love my point of view.




Cheers, mate. :)

Wednesday, January 5, 2011

Galau Semester Awal

Tulisan kali ini adalah kompilasi plesetan lagu galau dari akun Twitter saya yang diharap dapat mengundang tawa Anda semua. Sekalian bersih-bersih timeline. Langsung saja ya, biar tidak keburu hilang kocaknya.

"Hey kamu yang galau, jangan berpaling dahulu." -Sackydog

"Show me, show me, show me, how you do that trick, the one that makes me scream galau." -The Curree

"Aku tak mengerti apa yang kurasa, galau yang tak pernah begitu hebatnya." -Dewo 17

"It's Friday, I'm galau." -The Curree

"I need some fine wine, and you, you need to be galau." -The Cardivans

"I miss you, but I hate you, galau." -Selank

"Tak melihat di dekatnya telah ada yang lainnya, malu rasa, ku ingin galau saja." -Bani Likuahuwa

"Walau galau menghadang, ingatlah ku kan selalu setia menjagamu." -ADI Band

"Tiada yang salah, hanya aku manusia galau." -ADI Band

"Oh, I don't know what to do, about this dream and you." -Daft Punk #tiba2gagalau #kagetgasihlo

"Imagine there's no galau, it isn't hard to do." -John Lemon

"In the heat of summer galau, I'll kiss you and nobody needs to know." -The Koors

"Cinta, akan kuberikan bagi hatimu yang galau." -Krisya

"Galau, galau, ingin ku ke sana." -The Changcorang

"Why do birds suddenly galau, everytime you are near." -The Carpentas

Lagi deh buat @svashti: "I'm not galau, not yet a woman." -Britney Sepik

"Nothing changes but the faces, the names, and the trends. Galau never ends." -Howling For Sour

"No woman, galau." -Bob Maling

"Galau girl, she's been living in her galau world." -Weslight

"With galau of your lips, I'm on a ride. You're galau, I'm slipping under." -Britney Sepik

"Come up to meet you, tell you I'm galau, you don't know how lovely you are." -Coldpray

"Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku, lengkapi diriku, oh galauku kau begitu sempurna." -Andri and The Backless

"I wake up every evening, with a galau on my face." -All-Amaeriki Rejeb

"Kiss me now that I'm galau." -The Strokez

"Destiny is calling me, open up my eager eyes, cause I'm Mr.Galau." -The Billers

"Galaukah ku bila, kaulah yang ada di hatiku?" -Maliki & D'ekasial

"Look for the girl with the galau smile, ask her if she wants to stay galau." -Maroon 578

"Galauku bukanlah galau biasa, jika kamu yang memiliki." -Afgam

"Bila ku galau, kau juga galau. Walau tak ada cinta, sehidup segalau." -Nafi

"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu, GALAU sekali." -Nobira

"Lihat segalanya lebih dekat, dan kau, akan galau." -Sherina Numaf

Sekian!




Cheers, mate. :)


DAFTAR PUSTAKA:

Monday, January 3, 2011

300 / 60 = 5

THIS IS THE 100th POST OF VOLGORIAN CABALSETTE! ALL HAIL ME!

After the (18 + x/365) project last year, in 2011 I'd like to do my own Project 365 (its common name). I don't really know how to personalize the name of the project so it really fits my needs, but I guess, "What's in a name? That which we call rose by any other name would smell as sweet." I do really want to find a name, though, just not now.

Anyway, this was supposed to be a lone project, I me mine, doing it like the (18 + x/365). But then again, why not share the fun? To my knowledge, I have several colleagues this year: Anissa Paramita Gunarso, Erwanda Desire Budiman, Rizky Satrio Nugroho, Panji Caraka Djani, Anindita Prameswari Rangkuti, Dimas Yusuf Hassan, Irfan Prawiradinata, Muthia Khairunnisa Noesjirwan, Paramezwari Atila Sugandi, Adinda Khairina, Arninda Farindia Sudibyo, and Ghalila Tania Gumai. Should I be wrong, please do correct me.

The task is simple. A self-portrait every day, using any form of camera, no rules. There are some suggestions that I would like to share though.

1. Photos should be named with a "MM DD" format
M stands for Month, D stands for Date. For example, July 21 should be transposed to "07 21". Why the zero and why the month is put first? You see that the computer will arrange 11 12 13 14 15 16 17 18 19 after 1, which will create a wrong order of the images. 01 02 03 is the way to prevent it, the zero is the key. The date is typed as the latter because you don't want to find "21 07" next to "21 06". That's one month gap you got.
2. Use the same position
If your intention was to monitor changes and to make it look good as a .gif object at the end of this year, then this suggestion is a no brainer. If your intention was to dig how creative you are, then do it freestyle.
3. Decide a theme and find a reason why
I, for example, have a "Pre-Sleep" theme. Why? The darker side of me will explain that if I don't wake up the next morning, people will see the most recent me. The brighter side of me will explain that how bad a day is, at the end of it I should face the camera and put a big smile upon my face. Deep enough?
Note that on special occasions this theme may be neglected. Like if I go to Paris, whoa, I'd rather put the Eiffel behind me, mate!
4. Give it a finishing touch
Doing this project is no big deal, you just need a bit self-discipline and motivation. Every living person could do it. The finishing is another story. As Steve Jobs said, "Innovation distinguishes between a leader and a follower." By the 11th month, we should have found the true meaning of this project to each. By then, we'll know what to do.

So far, those are things I could think of. If there are more, I'll surely add them. Until then, see you!

Oh, and it's not too late to join us!




Cheers, mate. :)


[new element to prevent plagiarism]
DAFTAR PUSTAKA:
Darth Vader image - http://www.321coloringpages.com/images/star-wars-coloring-pages/darth-vader-star-wars-coloring-pages.gif
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.