Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Thursday, January 13, 2011

Life Is A Full-Time Job

Bahan tulisan kali ini muncul ketika pada hari kapan kemarin saya sedang membaca timeline Twitter saya sembari mendengarkan iPod, Copeland, shuffled, not repeated, dalam perjalanan pulang ke rumah menggunakan Feeder Busway Kemang Pratama yang tersohor di kalangan penglaju Bekasi-Jakarta.

Topik umum di timeline kala itu mengenai IP dan segala yang bersangkutan dengannya. Bagaimana banyak mahasiswa baru polos yang entah tinggi hati atau sekadar bangga saja tanpa maksud apa-apa menyebarluaskan >3.80-nya di berbagai situs jejaring sosial. Bagaimana banyak mahasiswa baru yang sakit hati karena dosen lalim dan teman sendiri. Argumen bahwa IP yang tidak ada hubungan dengan kesuksesan. Lainnya, lelucon tentang IP maupun keadaan timeline itu sendiri. I tweeted some bold statements too, like, "My GPA ain't high. Won't say it won't affect my future, because it sure will. Fortunately, I don't live in the future."

Saya tidak bilang bahwa IP saya di bawah 3, tapi memang tidak cukup untuk gelar cum laude juga. Ada sedikit rasa sedih - walau kemudian berubah bangga dan turut bahagia - setiap mendengar IP cum laude dari orang-orang sekitar saya. Kenapa saya tidak bisa? Kenapa saya kurang mau? Then God intervened. George Grusin - a decent name for an iPod isn't it? - played me 'You Love To Sing'.

Sing, with your head up, with your eyes closed
Not because you love the song, because you love to sing
Because you love to sing

Out of nowhere, saya mendapat sebuah interpretasi baru dari lagu lama ini.

Apa jadi kalau makna tersembunyi dari "sing" itu adalah "life" as we know it? Hidup dengan bangga, dengan tegak kepala, dengan tutup mata tanda tenang hati. Hidup bukan cuma satu kala semata, bukan cuma saat IP empat koma atau baru dibelikan sepeda roda dua untuk pertama. Hidup bukan cuma satu titik sementara, bukan cuma saat ciuman pertama atau duduk bersama gadis idaman. Hidup itu segala waktu yang terlewati. Saat nenek atau anjing kita mati. Saat pacar dibawa lari. Saat IP tidak mencukupi.

Maka dari itu, hiduplah. Bukan karena hanya momen-momen indah yang pernah ada, tapi juga karena hidup itu sendiri adalah sebuah pengalaman manis yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Karena hidup bukan sekadar bahagia belaka. Karena hidup adalah kita.

Mungkin niat awal kawan kita di Copeland tidak sejauh interpretasi saya, mungkin mereka cuma ingin membuat lagu tentang "sing" semata. That's just how I see it. I don't know about you, but I love my point of view.




Cheers, mate. :)

1 comment:

anggiew said...

nice one djaff! kalo gw sih pada dasarnya merasa smester ini gw sangatlah efortless jd ip gw yg sekarang sudah melebihi ekspektasi :D
keep on fighting! and keep writing..

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.