Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Sunday, May 15, 2011

DB

Kenapa juga SP harus diberi nama SP? Semester Pendek? Aneh. Semester itu ya durasinya enam bulan. Tidak layak diberi embel-embel pendek, tinggi, besar, kecil, luas, sempit; yang namanya semester itu ya enam bulan. Harusnya ganti nama saja, jadi DB, Dwi Bulan.


Akan tetapi, lebih aneh lagi yang mempermasalahkan pilihan orang. Ambil SP, dibilang nafsu. Tidak ambil SP, dibilang malas. Who are you to judge? Beda prinsipil boleh, tapi sampai situ saja.

Coba kita bedah beberapa opini publik perihal makanan SP ini.

"Ngapain ngambil SP? Kagak bisa liburan."
Ya ambilnya tidak usah SKS penuh atuh, Mas. Saya cuma ambil 6 SKS, dua-duanya hari Selasa dan Kamis. Tidak segitu melelahkannya saya rasa. Mengingat keseharian kita sudah ditambah asistensi dan kepanitiaan serta kepentingan organisasi yang kerap didewakan.
Masa iya ada waktu empat hari dari Jumat-Senin tidak cukup? Apa kabar?
Lagipula bulan Agustus kosong melompong. Masa iya satu bulan tidak cukup? Apa kabar?

"Apa hubungannya lulus cepat dengan kepintaran?"
Siapa juga yang bilang lulus cepat artinya pintar? Siapa juga yang bilang IPK 4 artinya pintar? Siapa juga yang bilang Medali Emas OSN artinya pintar?
Kepintaran tidak sependek jalan pikiran Anda, kawan. Trofi dan medali yang dibanggakan itu justru jadi beban kalau tidak dipergunakan dengan cermat. Ditambah lagi, saya masih yakin ada perbedaan antara mereka yang pintar dan mereka yang sukses.

"Turunkan harga SP!"
Sudah jelas SP hukumnya optional. Kesannya memang hanya pihak yang ingin SP saja yang diuntungkan saat minta harga SP turun. Memangnya semua mau ikutan? Memangnya tidak banyak yang rindu keluarga di rumah? Memangnya dosen tidak butuh makan? Memangnya inflasi cuma bualan?
Kalau mau, sekalian turunkan biaya kuliah semester biasa saja. Atau gencarkan beasiswa, biar makin giat berprestasi. Atau kurangi birokrasi untuk BOP-B, biar tidak malas urus berkas. Atau ya tidak usah memaksa, Ibu dan Ayah sudah menanti di rumah.
Lucunya lagi, tetap saja setelah semua petisi dan teriakan, kelas masih over-quota.

Tidak terpikir lagi rasanya opini lain yang bisa saya coba beri sanggahan. Kalau ada, coba tambahkan melalui fitur komentar di bawah ya. Masih belum puas juga saya.

Sekarang, daripada dibilang mulut besar yang cuma bisa jadi oposisi, saya mau menjabarkan alasan saya daftar SP tahun ini.

1. Publikasi Economic Talent 2011
Saya dan rekan, Hadiati Nurul, sudah menjadwalkan bahwa publikasi salah satu acara Economic Talent 2011 akan dilaksanakan bulan Juni, bertepatan dengan pelaksanaan SP 2011. Daripada buang BBM, menyemburkan polusi, apalagi satu mobil cuma sendiri, hanya untuk perihal tersebut, sekalian saja kita belajar. Biar cepat lulus, biar cepat kerja, dapat uang, nikah, bahagia.

2. Ogah jadi pengangguran
Saya bukan dari daerah. Rumah saya, walau berjarak jauh, tidak sampai 1 jam perjalanan mobil dari Depok. Alhasil, tiap hari juga makan malam bersama keluarga. Tiap pagi juga salim kepada Ayah dan Bunda.
Saya tidak aktif di organisasi dalam maupun luar kampus. Satu-satunya kegiatan saya cuma menjadi bagian dari IT & Support Division di myCampus UI setiap hari kerja. Saat liburan tiba, habis semua.
Tidak ada alasan bagus kenapa saya harus memilih untuk di rumah saja, nonton TV atau main XBOX, makan keripik, jadi (lebih) gendut, dan bukannya ke kampus untuk menimba ilmu dan menunaikan secuil SKS agar bisa jadi sarjana.

3. Takut macet di tengah jalan
Masa depan itu diselubungi oleh asap abu-abu.
Mana tahu semester depan saya harus ikut Ayah kerja di Kutub Utara? Mana tahu tahun depan ada Perang Dunia III? Mana tahu dua tahun lagi saya sakit keras hingga merasa perih pun tak mampu?
Itu masih contoh-contoh hiperbola (walaupun sebenarnya satire) yang akan Anda - ya, ini bagi Anda, yang skeptis tidak bisa menerima pendapat orang lain, atau sekadar tidak punya selera humor - tertawakan. Kalau mau logis, saya juga bisa.
Siapa tahu semester depan saya tidak bisa mengatur prioritas hingga gagal dalam beberapa mata kuliah? Bukankah dengan mengambil SP sebelumnya saya jadi punya kesempatan lebih?
Siapa tahu tahun depan saya diharuskan mengambil sedikit saja SKS sebagai bentuk komitmen penuh terhadap organisasi dan kepanitiaan? Bukankan dengan mengambil SP sebelumnya saya lebih bisa lega bernafas?
Siapa tahu bulan Agustus ini saya harus meninggalkan dunia? Kalau itu benar adanya, setidaknya saya tahu, I've lived my life to the fullest. Walaupun hanya beda 6 SKS dari Anda semua.

4. Alasan pribadi
Alasan sisanya, ya pada intinya, ini hidup saya, terserah saya mau apa. Saya mau SP agar bisa efisien antar-jemput Ardelia Apti, yang kalau hari biasa agak sukar dilakukan. Saya mau SP karena takut rindu makanan KaFE. Saya mau SP biar tidak ditinggal lulus sahabat-sahabat saya. Atau, sekadar, saya mau SP. And there's nothing you can do about it, because this is my life.

Ada sanggahan?




Cheers, mate. :)


DAFTAR PUSTAKA:
foto kolam makara - milik pribadi

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.