Akankah ayah, bunda, dan adik yang sudah lama tidak saya cium di kening masih ingat rasanya? Atau diri ini selayak kecupan yang cepat datang cepat pergi?
Akankah kawan lama masih mengingat segalanya dan mengalir air mata? Atau kenangan akan saya cuma kepingan insignifikan yang dikubur bersama kafan?
Akankah kawan baru terus memutar hari kemarin dan segala hal yang baru terlewat? Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?
Kalau memang butuh wafat untuk dikenang, untuk disayang, betapa menyedihkannya.
Kalau memang butuh mati untuk dihargai, untuk dipuji, betapa sebuah ironi.
Namun tidak apalah, setidaknya saya tahu saya dicinta.
Do miss me, mate.


2 complains:
Selalu merinding tiap baca tulisan tentang kematian, suatu hal nyata yg selalu berusaha kita acuhkan sehari hari.
"Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?" :'( (y)
Post a Comment