Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Friday, June 17, 2011

Kalau suatu saat saya tiada, apa kata dunia ya?

Akankah ayah, bunda, dan adik yang sudah lama tidak saya cium di kening masih ingat rasanya? Atau diri ini selayak kecupan yang cepat datang cepat pergi?

Akankah kawan lama masih mengingat segalanya dan mengalir air mata? Atau kenangan akan saya cuma kepingan insignifikan yang dikubur bersama kafan?

Akankah kawan baru terus memutar hari kemarin dan segala hal yang baru terlewat? Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?

Kalau memang butuh wafat untuk dikenang, untuk disayang, betapa menyedihkannya.

Kalau memang butuh mati untuk dihargai, untuk dipuji, betapa sebuah ironi.

Namun tidak apalah, setidaknya saya tahu saya dicinta.




Do miss me, mate.

2 comments:

Fradita Wanda Sari said...

Selalu merinding tiap baca tulisan tentang kematian, suatu hal nyata yg selalu berusaha kita acuhkan sehari hari.

maharma said...

"Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?" :'( (y)

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.