Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Sunday, July 10, 2011

We Just Don't Care

Sebelumnya, yang berpikir subjektif (dalam arti lain, tidak membantu) silakan pulang kalau tidak mau tersiksa.

"Let's break the rules and ignore society." -John Legend

Bagus ya fotonya? Itu belum kena kok.

Public Display of Affection (PDA) adalah permasalahan publik yang kian banyak menjamur, tapi kenapa juga dianggap masalah?

Pertanyaan intinya, dalam bentuk apa tepatnya publik dirugikan?

Saya tidak juga bilang bahwa publik diuntungkan, karena sewajarnya kita semua bukan penderita voyeurism. Saya juga tidak bilang bahwa PDA adalah sebuah praktik yang baik maupun benar, karena jangan sampai menjadi eksibisionis. Pun jika demikian, tidak layak mereka disalahkan jika kita tidak dirugikan. Who are we to judge?

Argumen publik paling logis boleh tentu masalah pencitraan. Pasangan yang melakukan di institusi pendidikan akan dianggap menodai ilmu pengetahuan, yang menunjukkan di tempat kerja akan dianggap melukai profesionalisme, yang beraksi di taman akan dianggap merusak moral para pendatang. Akan tetapi lagi, mana yang lebih penting, citra atau fakta?

Saya yakin dua di atas sana bukan maling ayam, perampok bank, atau koruptor. Bisa saja mereka orang yang membantu Anda mencarikan taksi sepulang dari mabok, bisa saja mereka orang yang memberi Anda sapu tangan saat air mata mulai bercucuran, bisa saja mereka pahlawan yang membela tanah air dan negara. Apa sebuah bentuk kasih sayang yang ditunjukkan di tengah masyarakat, yang bahkan bukan untuk tujuan pameran, yang hanya terkadang (ataupun seringkali, tidak masalah) dan sekadar untuk pembuktian, membuat kita lupa itu semua?

Akan lebih mudah jika memberi alasan polos, tapi jujur dan tidak bertele-tele. Kalau disampaikan dengan baik, saya yakin semua bisa saling menghargai.

Mungkin PDA mengganggu Anda karena rindu kekasih atau mantan yang sedang ada di mana. Mungkin PDA membuat risih karena timbul suara-suara yang mengganggu konsentrasi berpikir. Mungkin PDA tidak sesuai saja dengan Undang-Undang atau peraturan tertulis yang ada hukuman pidananya. Ya atau bilang saja, minta pengertian kepada mereka untuk tidak melakukannya karena Anda tidak suka. Asal jangan nanti marah ketika Anda yang diberi peringatan karena turut berlaku demikian juga.

Dan jangan sekali-sekali membawa agama. Kalau memang dengan alasan melarang perintah agama, harusnya Anda juga ikuti mereka ke tempat yang cuma bisa berdua, lalu hentikan. Karena agama bukan melarang PDA, agama melarang kontennya.

Terakhir, Anda sudah tentu tahu foto PDA paling terkenal sepanjang masa karya Alfred Eisenstaedt di bawah ini:


Indah, bukan?

Akan susah kala fakta masih cuma diselubungi citra. Akan susah kala Anda hanya melihat yang menyelimuti, bukan inti. Akan susah kala Anda masih berpikir subjektif, karena berpikir subjektif tidak membantu.




Cheers, mate. :)

DAFTAR PUSTAKA:
pantai - koleksi pribadi

2 comments:

Fariz Razi said...

sepertinya PDA sih sah-sah aja, asal jgn berlebihan dan tentu saja melihat situasi dan kondisi. maksudnya juga kultur dimana kita berada. merujuk pada kalimat sebelumnya (gara-gara tulisan lo kok bahasa gw jadi keren gitu sih hihihi), negeri kita ini kan masih belum terlalu terbuka dengan masalah seperti ini.

kalo bicara seperti ini ya sepertinya memang harus sedikit membawa agama djaff, soalnya kalo dari agama kita (sama kan ya? haha) hal-hal kayak gitu termasuk hal-hal yang mampu merangsang birahi. tapi kalo gitu tergantung juga sih siapa yang memandang. loh kok gw jadi pusing gini ya...

anw, kembali ke poin gw yg pertama, gw pribadi sih gak begitu masalah, tapiiiii ada lah batasannya. karena kalo gak ada hukum buat apa ada polisi di dunia ini #edisiF4 *hoek* yah begitulah metaforanya

*tambah bingung*


*menghilang*

ramadjaffri said...

Ada emang riz. Ada banget hahaha. Kalo misalnya emang membuat resah juga harus menghormati yang ngeliat (atau ngeliatin). Berhenti, get a room.

Gue juga ga meng-encourage orang untuk melakukan PDA. Ya kira2 sama kayak merokok lah. Atau minum alkohol. When it happens, yasudah. Selama asap ga disembur ke muka gue, selama ga mabok sampe bikin rusuh, biarin aja. Every man (and woman) for himself.

Agama emg mengajak kita saling mengingatkan akan kebenaran, tapi susahnya kita jarang bisa ngingetin tanpa prasangka alias pikiran2 subjektif yg nantinya jadi labeling gitu. Dan ya, sedih jg kadang2 itu cuma jadi kedok padahal intinya, "Ya gue ga suka lo gitu, ngeganggu." Gitu juga ga salah sih, karena tujuannya pasti biar lembut. But still.

Intinya sih ada di kalimat2 menuju akhir sebenernya. Dimana orang itu salah ya saat dia salah. Kalo dia udah ga salah, ya berarti dia udah ga salah.

Cuma mungkin emang jalan menuju conclusion di tulisan ini agak sesuatu ya hahaha. Kebetulan aja yg gue angkat PDA, kalo gue angkat rokok, alkohol, atau mencontek mungkin beda efeknya.

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.