Lelah berdansa ceria bersama The
Upstairs, Jimi kembali kepada genre
aslinya, rock berisik, bersama Morfem. Lagu-lagu di album Indonesia sarat
distorsi dan teriakan-teriakan asal sembur, tapi menyuarakan lirik-lirik
brilian yang nikmat di telinga meski menggunakan bahasa baku modern Indonesia.
I wanna rock n roll, brick by brick.
1. Gadis Suku Pedalaman – (3:54)
Tembang pembuka yang bercerita
mengenai cinta yang telah lama hilang tak kunjung datang. Musiknya mungkin
biasa saja, berisik, dan terkadang memang cukup mengganggu vokal. Padahal,
departemen liriknya cukup istimewa. Simak saja bagaimana Jimi menggunakan,
“Empat presiden berganti sudah,” sebagai keterangan waktu dan pujian kikuk
seperti, “Aku yakin engkau telah menjadi Avatar di sana.” Sisanya,
kalimat-kalimat nyaris baku yang disulam menjadi lagu rindu yang ikhlas.
2. Who Stole My Bike – (1:56)
Bukan lagu yang istimewa. Tidak ada
“telor” yang disuguhkan oleh lagu ini, tidak pakai karet dua di atasnya.
Benar-benar transisi saja mungkin, sehingga dinamika album ini naik turun,
membuat lagu berikutnya menjadi lebih dahsyat, karena lagu berikutnya adalah…
3. Tidur Di Manapun Bermimpi
Kapanpun – (4:11)
Single yang mampu menawan hati
setiap pendengarnya. Dengan tabuhan drum beringas mengiringi, ditimpali dengan vokal
dua lapis suara sukses membuat siapa saja Anda untuk turut menyanyikan baris chorus yang sederhana nan anthemic, “Ku tertidur di manapun aku
bisa, ku bermimpi kapanpun ku mau.”
4. Wahana Jalan Tikus – (4:05)
Merugilah Anda bila tidak paham
jalan-jalan belakang DKI Jakarta. Bukan baru sekali jalan tikus menjadi
penyelamat dari neraka (ungkapan dan harafiah), mengutip Jimi, “Oh jalan tikus
menjadi pilihan, minimalkan panas yang menyinari. Mengurangi geram, umpat, dan
tertekan.” Hawa lagu ini sendiri sejuk, isinya hanya kocokan gitar akustik
ditimpa biola, dan akhirnya dilapisi dengan vokal yang syahdu menyanyikan –
lagi-lagi – lirik yang baku, seringkali aneh, tapi selalu menarik. Cocok untuk
menemani bisingnya klakson di tengah kemacetan ataupun pesingnya selokan di
sempitnya gang-gang.
5. Pilih Sidang atau Berdamai? –
(3:14)
Lagu jujur perihal jalan belakang
(kali ini konotatif) di seluruh sudut ibu kota. Bentuk edukasi menarik untuk
membuat rakyat Indonesia berani memberi seringai kepada para pengayom
masyarakat sambil berkata, “Kami pilih sidang sajalah!” Musiknya catchy, tidak perlu berkali-kali untuk
mengingat nadanya. Walaupun mungkin untuk mengingat lirik bagian verse dibutuhkan niat lebih karena
selain cukup variatif, juga lagi-lagi agak tertutup oleh musik pengiring yang
ramai dicampur kesalahan teknis dalam proses mixing yang cukup sering ditemukan di album indie.
6. Death Kitchen – (3:14)
Track berbahasa Inggris yang musiknya
lebih baik dibanding track #2, ‘Who Stole My Bike’. Akan tetapi, lagi-lagi
kualitas tertahan di masalah pronunciation.
Lagi-lagi masih belum pakai telor, baik dadar maupun ceplok. Ada sedikit
orak-arik berupa lirik di chorus,
“Don’t go to the kitchen, there’s a body on the floor.” Sedikit saja tapi, baru
satu suap sudah habis.
7. Tidur Di Manapun Bermimpi
Kapanpun – akustik – (4:03)
Versi akustik yang tidak sia-sia. Selain
kembali mengingatkan bahwa judul ini adalah single andalan, versi akustik ini
juga menyelamatkan ‘Indonesia’ dari Death Kitchen. Selamat!
Album Morfem yang satu ini sangat
direkomendasikan untuk pencinta bahasa baku modern dan penikmat lirik-lirik ala
Jimi Multhazam (yang mana menggunakan bahasa baku modern). Direkomendasikan
untuk seluruh pencinta musik Indonesia ataupun bagi yang baru ingin menjadi
pencinta musik Indonesia. Tidak direkomendasikan untuk ibu hamil dan penderita
epilepsi.



0 complains:
Post a Comment