Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, December 6, 2011

Filosofi Pare

Proses munculnya ide memang selalu menakjubkan dan tidak terduga. Begitu saja datang, dan begitu saja pergi. Termasuk salah satu tweet saya kemarin malam yang menjadi pemicu dari tulisan kali ini.


Coba tanyakan kepada teman-teman terdekat Anda semua, terutama generasi muda. Berani bertaruh, tidak lebih dari dua yang menyukai sayuran hijau satu ini. Coba wawancara juga abang siomay yang berkeliling di dekat rumah, seberapa banyak pelanggan yang memesan pare dengan suka cita dan bukan karena alasan klinis ataupun dare saat nongkrong bareng. Di dunia ini sebanyak apa sih makanan, minuman, dan apapun yang pahit di lidah, namun disukai oleh khalayak.

Seumur hidup, saya sendiri cuma tahu dua cara untuk menikmati pare yang pahit dan bentuknya kurang menggugah selera itu: ditumis segar atau diberi bumbu kacang. Dan selebihnya, asa bisa karena biasa. Kalau sudah disuguhi berulang kali, pada akhirnya lidah ini takluk juga.

Cara pertama adalah dengan memotong pare menjadi bagian-bagian kecil dan kemudian ditumis dengan berbagai campuran yang saya tidak tahu apa saja isinya, walau saya bisa jelas melihat cabe setiap memakannya. Rasanya segar, warnanya hijau muda. Masih ada pahitnya pasti, tapi segar. Dahulu saya perlu bantuan nasi putih untuk menetralkan rasa, sekarang tanpa minum air pun tetap ingin nambah.

Cara kedua adalah dengan menyiram pare yang tidak diolah dengan bumbu kacang yang melimpah. Terpujilah abang siomay yang menyusupkan siomay ke dalam pare yang dia jual, karena sangat membantu untuk mengimbangi pahit. Terpujilah juga abang siomay yang bumbu kacangnya diolah dengan sepenuh hati sehingga kombinasi rasa dari keduanya menciptakan pahit nikmat yang hanya bisa didapat dari pare.

Sama seperti kenyataan bukan?

Kenyataan dapat dihadapi dengan senyuman apabila kita paham cara menumisnya. Potong kecil-kecil dan masak dengan campuran kesukaan, lalu kunyah sedikit-sedikit dengan ikhlas. Kalau perlu, tambahkan nasi dari teman dan keluarga untuk mendorongnya melewati kerongkongan.

Kenyataan dapat kita terima dengan lapang dada apabila kita dapat menyelipkan siomay yang menyenangkan di dalamnya, those little joys in life. Langkah jitu lainnya adalah dengan menemukan bumbu kacang yang dapat membantu kita melewati segala pahit yang dirasa. Bisa teman, kekasih, atau lagi-lagi, keluarga.

Namun yang paling penting, kenyataan baru bisa kita nikmati sepenuhnya tanpa harus memasang muka masam apabila telah terbiasa. Pahit dari kenyataan tidak mungkin hilang, tapi rasa pahit nikmat yang unik itu hanya bisa didapat dari kenyataan juga; seperti halnya pare.

Sudah siap menjadikan pare sebagai makanan pokok?




Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.