Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, June 25, 2011

Wednesday: I'm Not From Here

Wednesday is another blues night at Bonjour. I don't need it. They said the legendary King Ramsay is going to play tonight, and although I collect and repeatedly listen to each and every single album he ever released each and every day, I am not interested. At all.

Why? Because tonight, Martha was going to the Dry Barn.

The Dry Barn. Despite its mundane name - though some hipsters think it's, well, hip - the Dry Barn is the most sophisticated night club around here. And by around I mean the outer ring of the city. They got pool (hot, cold, warm, jacuzzi, kids pool, slides and stuffs, billiard), they got made-out-of-bulletproof-glass, pyramid-like entrance (oh, yes, the club is under the ground), they got extraterrestrial lighting (and I really thing they traded it with an alien from outer space, no green lights beats the Dry Barn green), and so, they got their own the most expensive (yes, you heard it right) crowd.

Long story short, I went there too that night.

Okay, I didn't go there. I'm a pitiful piece of insignificant fragment of this city. Only in my most unreal fantasy I could get pass the bouncer.

That's what friends are for.

I happened to know a certain guy named Kevin, who happened to be the assistant of the architect of the Dry Barn. That night, we sat down on the bench at the park, talking about the Dry Barn, inside and out. Oh yes, that's why I could describe the luminous lights, despite the fact that I have never, and will never get inside. He showed me some pictures. See? That's what friends are for.

So, that's my side of the story. God knows what happened inside the Dry Barn that night. All I know is, as I now (Thursday noon already) am reading the morning newspaper, Martha burst into the Bonjour, ordered one cup of Espresso, no ring. God saves the queen.



P.S. I have to go chasing my wildest dream. Whoever you are, please give this journal to Vince.

Monday, June 20, 2011

Otak Meledak

Aku berpikir, maka aku meledak.


Epik ga sih?

Seumur hidup, saya tidak pernah tidak - okay, mungkin pernah pada beberapa kesempatan - menjadi orang yang overthink dan kerap dicibir terlalu uptight yang kemudian diberi nasehat "Loosen up a bit!"

Familiar? Pernah berhadapan atau dihadapkan? Atau tertekan karena merasa dinyatakan?

Tabahlah, kawan.

Mungkin mereka semua ada benarnya jua.

Otak dicipta untuk dipakai, tapi mungkin kita salah tafsir menganggap fungsinya hanya untuk berpikir.

Siapa kira otak bisa cantik jadi hiasan dinding?

Siapa kira otak lebih ampuh jadi umpan ikan ketimbang cacing dan udang?

Siapa kira otak layak jadi busa pencuci nampan?

Siapa kira otak pantas dibawa pulang sebagai buah tangan dari tempat kenangan?

Siapa kira otak boleh ditendang ke sana ke mari pengganti bola kaki?

Tuh kan, ini hanya gurauan.

Berhenti berpikir terlalu serius. Sebelum meledak.




Cheers, mate. :)

DAFTAR PUSTAKA:

Friday, June 17, 2011

Kalau suatu saat saya tiada, apa kata dunia ya?

Akankah ayah, bunda, dan adik yang sudah lama tidak saya cium di kening masih ingat rasanya? Atau diri ini selayak kecupan yang cepat datang cepat pergi?

Akankah kawan lama masih mengingat segalanya dan mengalir air mata? Atau kenangan akan saya cuma kepingan insignifikan yang dikubur bersama kafan?

Akankah kawan baru terus memutar hari kemarin dan segala hal yang baru terlewat? Atau saya hanya rutinitas membosankan yang tidak sampai masuk ke hati?

Kalau memang butuh wafat untuk dikenang, untuk disayang, betapa menyedihkannya.

Kalau memang butuh mati untuk dihargai, untuk dipuji, betapa sebuah ironi.

Namun tidak apalah, setidaknya saya tahu saya dicinta.




Do miss me, mate.

Sunday, June 12, 2011

Berani Jatuh, Cinta

Jatuh cinta adalah bentuk keberanian. Namanya saja sudah jatuh.




Jatuh itu artinya ya lepas kendali, hanya bisa merasakan nikmatnya gravitasi saat tubuh kita membelah udara. Seperti gravitasi, cinta menarik manusia dengan kekuatan mutlak tanpa pandang bulu. Ditarik terus sampai membentur apa saja di permukaan. Sampai benturan itu tiba, angin saja yang kita terpa. Rambut rusak atau kering setidaknya, mata perih sulit dibuka, bergerak segala bagian tubuh juga percuma. Cuma bisa pasrah. Makin pasrah, makin nikmat, makin puncak sensasinya.

Jatuh itu artinya ya melesat ke bawah, tanpa kepastian ada yang menanti dengan tangan terbuka; dan kuat. Ibaratkan saja bukan satu, bukan dua, tapi segambreng tangan sudah siap sedia di bawah sana. Namun mereka hanya menunggu saja, mungkin juga tidak tahu apa yang akan mereka rasa. Mungkin ada yang hanya mau meraba, atau jangan-jangan mau memangsa. Seram. Atau giliran ada yang ingin tulus menangkap, tangannya sekurus lidi. Jangankan ditahan, tangannya malah ikutan putus! Kasihan.

Jatuh itu artinya ya kalau gagal, sakit yang dirasa. Masih baik kalau datarannya cuma rata. Bayangkan kalau berduri, atau berapi, atau tidak ada daratan sama sekali. Tidak ada! Sakit berkelanjutan di dalam kegelapan semata. Sudah cukup pun tidak bisa berdiri untuk kemudian lari walaupun untuk jatuh lagi. Bisanya menunggu saja, dan kali ini tidak mungkin dengan pasrah. Karena manusia pada dasarnya makhluk keras kepala, tidak mau mati kalau tidak terpaksa.

Lalu kenapa harus berani jatuh, cinta?

Karena jatuh cinta tidak hanya jatuh, tapi juga cinta.




Cheers, mate. :)


DAFTAR PUSTAKA:
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.