Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, September 24, 2011

Trick or Treat

"Treat others the way you want to be treated."

Saya berani bilang ajaran di atas bukan sebuah universal truth.

Contoh yang banyak ditemui adalah antara orang terencana dan deadliner.

Namun sebelum banyak mispersepsi ke depannya, mari definisikan bersama arti kedua kata di atas.

Orang terencana: Perfeksionis yang memiliki agenda - baik dalam bentuk fisik, digital, maupun tak kasat mata - di mana di dalamnya terdapat rincian lengkap akan hal-hal yang akan dilakukan olehnya dalam rentang waktu yang sangat jelas. Rentan terhadap kejutan, bahkan stadium akhirnya bisa kesal tidak juntrungan hingga pekerjaan yang sudah punya konstruksi rapi akhirnya tidak dilanjutkan.

Deadliner: Orang-orang ajaib yang potensi terpendamnya muncul setelah dipanas-panasi dengan berbagai bentuk tekanan, umumnya waktu yang mepet. Sering risih jika dihadapkan dengan tuntutan timeline selain timeline pribadi, karena pada akhirnya hasil yang mereka beri selalu saja, entah bagaimana, tidak pernah tidak bagus.

Sebelum berlanjut, mohon diperhatikan bahwa dua uraian di atas bukan pasti arti yang sebenarnya dari dua kata bersangkutan. Keduanya hanya definisi agak hiperbolik yang hanya digunakan dalam tulisan ini. Maaf saya harus menyatakan disclaimer ini, karena pasti ada saja yang mencibir, "Ya orang terencana ga gitu-gitu amat kali," atau "Deadliner juga punya rencana lah," atau bahkan yang sama sekali tidak relevan seperti, "Heh kalo ga suka bilang aja langsung ga usah nulis-nulis di blog," atau, "EMANG KENAPA KALO GUE TERENCANA/DEADLINER? GA SUKA?!" God bless us all.

Dalam sebuah kerja tim, orang terencana tidak akan berhenti mengingatkan seorang deadliner setiap 6 jam dalam kehidupan profesional mereka untuk mengikuti struktur buatannya, dan seorang deadliner tidak akan pernah lelah untuk tidak peduli dan atau berteriak balik tanda jengkel.
Nyatanya, orang terencana lebih suka dituntun - walaupun mungkin oleh dirinya sendiri - agar semua agendanya berjalan sesuai dengan perkiraan. Bagus? Banget. Sayang, niat baik itu akan berakibat buruk sekali saat dia menerapkan obsesinya terhadap kontrol tersebut kepada seorang deadliner sejati.

Contoh lainnya perihal attention to details, yang menurut banyak pakar, adalah unsur penting dalam jiwa seorang pemimpin. Seberapa sering Anda jengkel ketika orang lain tidak mengerti bahwa satu oxford comma atau satu pixel dalam grafik dapat merusak susu sebelanga, atau bahwa air Nestle dan air Aqua sangat berbeda dalam hal rasa dan aroma. Seberapa sering Anda jengkel ketika orang lain tidak mengerti kenyataan bahwa cuma mikroskop yang mampu melihat noda mini di sebuah gaun pesta, atau bahwa warna biru itu hanya terdiri dari biru muda dan biru tua, bukan puluhan jenis seperti mereka kira.

Masih banyak sekali contoh dalam keseharian yang semoga Anda sudah sadari sekarang. Coba saja lihat ke belakang. Ke hari kemarin ketika Anda yang suka manis menuangkan terlalu banyak gula tanpa permisi kepada Paman Budi yang penggemar kopi hitam. Ke minggu lalu ketika Anda yang modern mengajukan proposal dengan gaya pop art kepada elit perusahaan yang lebih suka batik. Ke bulan lalu ketika Anda yang gila film memutarkan 12 Angry Men di hadapan awam yang menonton Juno saja sudah kelimpungan. Ke tahun lalu ketika Anda yang suka diperhatikan terlalu sering khawatir dan kerap menelepon kekasih Anda di tengah malam hanya untuk tahu apakah AC-nya masih bekerja dengan baik.

See what the problem is? It's us.

Bukan perkara sulit untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Karena pada dasarnya - seharusnya - kita sudah mencintai diri kita sendiri. Jauh lebih sulit untuk mencoba masuk ke dalam pikiran seseorang, dan lebih jauh lagi, hatinya. Belum berhenti sampai di situ, untuk memahami secara penuh, kita juga dituntut untuk mampu merasakan apa yang dia rasa, bukan hanya sekadar tahu tanpa rasa empati, dan akhirnya kemudian menunjukkan kepedulian secara nyata melalui beragam treatment yang bukan jarang jadi malapetaka bila dilakukan tanpa perhitungan.

Saya juga tidak cukup bodoh kok untuk tidak mengerti bahwa muasal kalimat mutiara tersebut adalah sesederhana, "Do good deeds, avoid evil deeds." dan bukan sedalam-dalam bahasan saya kali ini. Akan tetapi, kalimat itu menjadi pemicu yang cocok untuk topik ini, bukan?

Lagipula, kata siapa semua orang suka dilembut-lembuti? Selalu ada yang namanya masokis.

So, here it goes. The moment of truth.

Ketika Anda belum cukup yakin untuk mampu meyakinkan orang untuk mengikuti Anda.

"Treat others the way they want to be treated."


Keep your dignity though.



Cheers, mate. :)

Saturday, September 10, 2011

SIX

Selamat enam bulanan, Ardelia Apti. Check your mail!

Tuesday, September 6, 2011

"Lately I've been seeing things, belly button piercings"

Ingin rasanya rutin dalam pembuatan label satu ini. Tidak perlu terlalu berambisi, cukup satu bulan sekali. Jangan pedulikan yang lampau, mulai dari hari ini. Janji.

click the image to visit the album's Wikipedia page

And just why I picked this album? Karena ini album Arctic Monkeys paling enak sejauh ini. Ketika album pertama mereka rilis di pasaran, saya tahu mereka akan mengubah musik dunia. Muncul album kedua, saya tahu mereka semakin dewasa; banyak unsur aneh yang masuk, meningkatkan mutu, tapi butuh adaptasi gendang telinga. Album ketiga mereka cukup membuat saya frustrasi, sekian kali diputar masih belum bisa dicintai. Akhirnya, album keempat ini tiba. Nikmat sekali saya pikir. Sekarang, ketika saya mendengarkan 'Whatever People Say I Am, That's What I'm Not', lelah yang dirasa - sudah tua mungkin. Bisa dibilang, ini adalah WPSIATWIN yang telah dijinakkan.

Track by Track by Me
1. She's Thunderstorms - (3:55)
Awalnya horor memuncak, saya kira awalnya ini hanya another 'Humbug'. Namun ketika gitar II mengiringi, semua jadi ceria tanggung. Vokal Alex yang membius juga langsung menjadi magnet mutlak dari album termutakhir ini, "When you're feeling far away, she does what the night does to the day."

2. Black Treacle - (3:35)
Lirik pembukanya yang lebih dari mahadewa, "Lately I've been seeing things, belly button piercings in the sky at night, when we're side by side," dinyanyikan dengan sangat romantis. Begitu terus nuansanya dijaga sampai not paling akhir. Di tengah-tengah juga banyak fill guitar - tuiiit, tuiiiit - yang sederhana, tapi krusial. An instant favourite!

3. Brick by Brick - (2:59)
Lagu yang sangat cocok untuk dinyanyikan bersama di konser lembab sambil jejingkrakan berdempetan, karena liriknya yang berulang dan tidak sulit dihapal, semacam "I wanna rock n roll, brick by brick!" yang diteriakkan berkali-kali sepanjang lagu. Nada-nadanya juga asal menghentak dan tidak membuat pusing. Sangat sederhana, anthemic.

4. The Hellcat Spangled Shalalala - (3:00)
Saya bisa bilang ada dua bagian di lagu ini: The Hellcat Spangled adalah bagian seram dan Shalalala adalah bagian bahagianya. Tidak banyak komentar, mari kita, "Shalalala~"

5. Don't Sit Down 'Cause I've Moved Your Chair - (3:04)
Saya sangat suka dengan makin banyaknya backing vocal di album ini yang berteriak-teriak macam di lagu ini, "Uuuuuuuu!" atau "Yeh! Yeh! Yeh!" Sangat segar untuk Arctic Monkeys. Bukan favorit, tapi jelas menarik, terutama bagian, "Kung fu fighting~" yang dinyanyikan dengan cengkok yang aneh.

6. Library Pictures - (2:22)
Terasa secuil 'Favourite Worst Nightmare' di sini, di mana raungan gitar di-bending mencoba menghasilkan kengerian menghiasi latar gitar berat monoton atau strumming sekali-sekali yang khas sekali. Vokalnya juga demikian sepanjang tembang, mulai dari, "Library pictures of the quickening canoe," sampai "10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1," sampai akhirnya, "Or an ipp dipp, dog-shit rock and roll."

7. All My Own Stunts - (3:52)
Selain intro-nya yang suara latihan kemudian dibalas oleh riff gitar yang kotor-tapi-bersih dan catchy, tidak ada yang terlalu spesial dari lagu ini.

8. Reckless Serenade - (2:43)
Second best! Memiliki rasa yang nyaris persis dengan Black Treacle, tapi lebih seksi dengan intro bassline campur pita suara Alex. Rasa damba sukses tersampaikan melalui lirik-lirik eksentrik semacam, "When she laughs the heavens hum a stun gun lullaby," dan "Their hypnosis goes unnoticed when she's walking by." Solo ringkas dengan tone suara khas Arctic Monkeys menjelang akhir lagu juga menakjubkan. Selain itu, durasinya yang paling singkat juga tidak menyisakan celah untuk masuknya komponen yang sia-sia.

9. Piledriver Waltz - (3:24)
Average joe dari 'Suck It and See' itu ya yang berbunyi seperti lagu ini. Enak didengar saja, tidak perlu berpikir terlalu keras. Jinak. Tambah nikmat karena ditambah lirik khas Alex seperti, "If you're gonna try and walk on water make sure you wear your comfortable shoes."

10. Love Is a Laserquest - (3:12)
Tabuhan drum di awal jadi ciri khas dari lagu ini, di mana semua penonton pasti langsung sadar dan bersiap mengingat lirik ketika mendengar atau melihat Helders mulai beraksi dengan gaya santai, namun nafsu khas dirinya. Datar, tapi sebagai satu kesatuan memiliki lirik indah yang seolah berbicara kepada kita. "And do you still think love is a laserquest, or do you take it all more seriously?"

11. Suck It and See - (3:46)
Ada tiga judul yang hawanya serupa, ketiga-ketiganya bagi saya merupakan Top 3 album ini, yaitu judul ini, judul #2 dan judul #8. Ketiganya tentang cinta, told with the only way Arctic Monkeys know: awesomeness. Tidak banyak logat yang dapat menyanyikan, "Be cruel to me 'cause I'm a fool for you," dengan romantis seperti Alex.

12. That's Where You're Wrong - (4:17)
Menyenangkan! Lagu yang ada di penghujung album ini punya nada-nada yang mengisyaratkan bahwa ini semua belum berakhir, bahwa Arctic Monkeys masih akan terus berkarya. Cocok dibawakan juga di penghujung acara. Karena kalau Anda pikir musik hebat cuma sampai di sini, "That's where you're wrong."


4.5/5


Cheers, mate. :)

Monday, September 5, 2011

Baby, It's You



The exact person.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.