Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Sunday, September 30, 2012

Keluarga Berencana

Aloha.

Lengkapnya begini, baru kepikiran ketika hendak menulis post label #140 ini:

When all is gone, when all is said and done, plans are mere mementos.




Cheers, mate.

Sunday, September 16, 2012

Bebas Terikat



Free will itu apa sih?

Kalau menurut kamus di Spotlight bawaan Mac,

"the power of acting without the constraint of necessity or fate; the ability to act at one's own discretion."

Hmm.

Ya.

Jadi artinya, kedaulatan untuk bebas dari segala keharusan.

Sebuah hak yang sepanjang masa, seluas angkasa, diperjuangkan dan dielu-elukan habis-habisan. Namun pada titik tertentu, rasanya suaka itu malah membuat kita kelimpungan. Banyak percabangan yang membuat kita berpikir bahwa hidup ada baiknya sudah suratan. Bahwa memilih cuma bikin kita risih. Bahwa konsekuensi dari melangkah lebih mengerikan daripada sekadar tabah.

Pada kasus lainnya, justru kebanyakan saya dan kebanyakan Anda menggunakan free will tersebut untuk mengekang diri sendiri. Meyakini sesuatu, apapun itu, kemudian melakukan justifikasi terhadap apapun yang kita yakini. Apa namanya kalau bukan menggunakan kebebasan pribadi untuk mengikat diri sendiri?

Apakah kita yang secara sadar memilih untuk dikekang dapat disebut manusia bebas? Ataukah konsep kebebasan sebegitu hebatnya hingga kita tidak kuasa untuk berpegang kepadanya, lalu akhirnya menyerah dan berserah kepada pembelaan yang sering disebut faith?

Apakah pada akhirnya, kita cuma kumpulan keping-keping hal yang kita percaya? Bahwa kita tidak pernah bebas seutuhnya. Hanya bebas memilih di mula. Memilih jalan mana, kemudian menerima apa adanya.

Tapi kemudian lagi, apakah bebas lebih baik daripada bahagia? 

Coba tanya kembali. Coba evaluasi diri lagi.

Jangan mengaku bebas kalau memang berserah. Jangan juga sebaliknya. You are loved either way.




Cheers, mate.

Saturday, August 11, 2012

Perdana Selalu Bisa Dicipta

Menyenangkan ketika sekalinya saya mulai menulis lagi, ada saja feedback positif yang masuk ke mata. Dua linting pujian masuk via mention ke Twitter saya. Satu dari Aulia Uswah Affani dan satu dari Kutek Radio. Your comments mean a lot guys, really.

Maka dari itu saya merasa perlu kembali merangkai kata. Jadi kalimat, jadi paragraf, jadi cerita. Seringkali ini hanya jadi wacana, dan kali ini tidak terkecuali. The thing about blog adalah, semangat dan inspirasi menulis saya kerap muncul di tengah malam. Cukup merepotkan dan melelahkan ketika esok pagi saya harus menglaju keluar dari suburb lagi. Ditambah dengan makin intens-nya penggunaan social media Twitter, dimana pikiran dapat dituangkan dengan instan. Sangat menggoda untuk berhenti saja.

Maka saya harus lakukan inovasi agar blog saya tidak lantas hilang seperti kapur barus yang menyublim di lantai keramik kamar mandi. Salah jika Anda sangka kicauan singkat di Twitter membunuh kreativitas dan ketangkasan berujar blogger layaknya, "Video killed the radio star." Karena selalu ada cara untuk menghindari jadi budak teknologi.

Tanpa alasan, malam ini saya membaca ulang Volgorian Cabalsette. Dan kemudian tanpa alasan, saya menengok daftar alamat blog kolega di sisi kiri. Dan kemudian tanpa alasan, saya meng-klik tautan ke blog Dyah Ayu Asmarani. Dan kemudian tanpa alasan, saya hampiri blog Alanda Kariza yang dipajang di blog-nya. God works in his own ways.

Di blog Alanda, saya melihat satu fitur baru yang belum pernah saya temui sebelumnya: Reading Time. Brilian. Menjawab kemalasan membaca generasi muda, Alanda menjanjikan waktu baca sehingga ekspektasi bertemu reality. Sehingga pembaca tidak bosan di tengah jalan. Sehingga pembaca melahap habis setiap tulisan.

Saya tidak tahu apakah ini memang ide orisinil atau saya saja yang kurang banyak menyisihkan waktu untuk membaca di dunia maya. Yang pasti, fitur inilah yang memberi saya inspirasi. Bukan untuk hal yang sama, tapi untuk memulai lagi suatu perdana.

So, here it is. A new label for my old blog: 140

Saya suka Twitter. Oh, suka sekali. Menurut saya merangkum wisdom atau humor dalam 140 karakter merupakan seni tersendiri. Namun saya juga suka blog. Terutama karena sudah banyak memori di sini. Dan sejujurnya karena kaum mayoritas masih memandang Twitter sebelah mata dan belum bisa menerimanya sebagai wadah pujangga. Karena itu saya percaya ada yang lebih baik dari eliminasi. Karena itulah di kamus ada kata integrasi.

140, adalah tulisan yang berisikan screenshot dari tweet yang saya anggap blog material. Boleh disertai penjelasan di baliknya, boleh tidak. Dimensions: 535x235 (how I love standardisation). Kalau Anda pernah baca buku 'Kicau Kacau' oleh Indra Herlambang, ya seperti itu kira-kira bentuknya (untuk yang dengan penjelasan).

Maka dari itu, hari ini saya ciptakan lagi sebuah perdana:


Ide ini memang bukan sepenuhnya datang dari surga, tapi saya percaya getting inspired oleh sesuatu itu bukan dosa. Apalagi saya punya cerita di balik penamaannya.

Label 140 mempunyai setidaknya tiga cerita. Yang pertama, melambangkan batas 140 karakter yang menjadi syarat sebuah tweet layak pajang. Yang kedua, bahwa IQ >= 140 sudah boleh dianggap genius. Yang ketiga, dibaca 14-0 (fourteen-o), dimana 14 adalah angka favorit saya, dan 0 adalah sebuah mula.

Jadi, ya. Saya masih berani bilang ini salah satu cara untuk jadi beda.




Cheers, mate.

Thursday, August 9, 2012

Ini Ekonomi UI!

updated:


Masa registrasi online dimulai sebentar lagi. Memang tidak pasti, karena kabar masih simpang siur antara esok tanggal 10 atau lusa tambah sehari tanggal 12. Sejak saya maba sampai tingkat tiga memang selalu bermasalah. Saya bersumpah kalau sampai lulus masih tidak berubah, saya akan ajukan kepada employer atau company saya untuk menyalurkan dana CSR bidang pendidikan untuk pemutakhiran SIAK-NG dan Biro Pendidikan FEUI.

Kuliah di FEUI banyak dukanya.

Butuh effort lebih bahkan untuk sekadar tetap bisa duduk di kelas, untuk mendengarkan kuliah yang kadang disampaikan dengan kurang menarik oleh dosen yang kelewat strict dalam memberi nilai. Sekalinya bertemu pengajar yang berkualitas, ada saja drama. Mulai dari asisten dosen yang kurang tenggang rasa, sampai pihak kepolisian yang mengundang massa.

Pengaturan waktu yang prima mutlak dimiliki untuk mampu mengisi CV dengan beragam kegiatan, kepanitiaan, dan pengalaman berorganisasi, tanpa membiarkan grafik IPK meliuk-liuk seperti ular atau bahkan menukik seperti kilat. Segitiga Kuliah benar adanya di FEUI. Semua harus korbankan satu diantara tiga: Nilai, Sosial, Tidur. Semua harus memilih antara tetap terjaga, cukup bersama keluarga, atau IPK dua koma. And don't get me started about campus politics. Ada saja drama.

Belum lagi masalah-masalah sepele lain yang sebenarnya jangan dipandang sebelah mata. Mulai dari sanitasi menyedihkan, dimana sabun cair tidak tersedia di toilet-toilet (sekarang sudah ada, dengan rasio air dan sabun sekitar tiga banding satu) sampai ya itu tadi, Regol yang tidak pernah lancar tanpa masalah. Mulai dari tarik ulur masa registrasi yang selalu merusak rencana, mahasiswa malang ledak emosi yang berujung black list sepihak karena sakit hati, sampai tweet kekanakan review kuliner Mie Goreng Cemong. Ada saja drama.

Tapi terlepas itu semua, selalu ada rasa bangga. Setiap melihat tulisan dunia maya berisi impian para murid SMA. Setiap tahunnya saat kemunculan Maba. Setiap harinya melihat kolam Makara. Setiap semesternya menyaksikan kebahagiaan yang sudah siap wisuda. Setiap buka lemari baju, dan melihat jakun dengan makara abu-abu.

Kurang tiga puluh hari dari sekarang, saya jadi mahasiswa semester lima. Saya selalu beranggapan mahasiswa tahun ketiga sudah tidak punya someone to look up to, bahwa sudah saatnya jadi panutan. Yaa, semoga saja saya bisa, setidaknya untuk diri sendiri. Karena ini Ekonomi UI.




Cheers, mate.

Wednesday, July 25, 2012

Are You Different?

tulisan yang terpatri di balik jam tangan edisi Andy Warhol

This summer, I found Warhol. Andy.

Hasil karya Warhol sudah banyak lalu lalang lewat begitu saja di depan mata saya sejak lama. Kadang di layar kaca, kadang di dunia maya. Saya tahu dia eksentrik, saya tahu dia unik. Akan tetapi, tidak pernah sebelumnya saya tahu dia patut diidolakan. Maka potret pop art yang mencolok mata itu selalu dinikmati sekejap saja, atau sebagai efek Photobooth belaka.

Sampai musim panas kali ini. Saya disapa Warhol tanpa disangka. Di Singapura. Hanya tiga hari sebelum puasa.

Awalnya saya melihat brosur wisata dan tertarik untuk menyambangi Harry Potter: The Exhibition yang digelar di ArtScience Museum, ingin beli Bertie Botts kacang segala rasa, saja (walaupun akhirnya juga berakhir dengan pembelian Quill & Ink Set serta kaos Ravenclaw). Adalah sebuah kejutan tersendiri ketika mengetahui tempat terpuji tersebut juga sedang menjadi wadah bagi pameran sesepuh seniman modern favorit kita semua. Tidak banyak yang diharapkan ketika membeli tiket tambahan untuk eksibisi yang disebut kedua. "Hanya sekadar cuci mata," pikir saya.

Namun yang saya alami adalah perjalanan spiritual yang dihiasi dengan warna-warna ngejreng pembuka mata dan pikiran. Pameran Andy Warhol bahkan lebih bernilai magis dari witchcraft and wizardry yang ditawarkan Sorting Hat dan keempat asrama pilihannya. Lebih brutal dibanding Quidditch dengan bludger-nya. Sama indah dengan 1 set tongkat sihir Dumbledore's Army di Diagon Alley yang terlampau mahal harganya.

Selama ini saya hidup dengan berbagai nilai. Namun karena tidak pernah dinyatakan dengan lisan maupun tulisan, bukan jarang nilai-nilai itu berbenturan. Berkat the inspiring Warhol (serta karya dan quotes-nya yang ditata apik di sana), sejauh ini saya dapat merumuskan tiga nilai yang saya apresiasi tinggi dan ingin terus kejar dalam hidup:

1. Originality
Pertama kali saya sadari ketika menjawab pertanyaan Sorting Hat dalam interactive reading experience teranyar, Pottermore.
Memang jangan dipaksa, tapi benar adanya kreativitas itu ada karena terbiasa. Saya tidak menganjurkan Anda untuk mendengarkan musik avant-garde hanya agar terlihat berbeda. Cukup hal out of the box sederhana seperti pakai jam di tangan kebalikan, yang kalau tidak salah ingat dianjurkan di dalam buku Creative Junkies susunan Yoris Sebastian. Bagi semua yang ingin be different, that book is one good starting point.
Dari kreativitas sehari-hari itulah, walaupun mulanya dipaksakan, saya percaya sebuah karya orisinil dapat tercipta. Karena tidak semua kita diciptakan dengan jalan pikiran macam Andrew Warhola.

2. Persistence
Pertama kali saya sadari ketika mendengar ucapan seorang tokoh di serial Mad Men, "My persistence is my charm."
Batu yang sangat padat pun akhirnya berlubang karena setetes air yang menetes terus-terusan. Persistence artinya tetap konsisten melakukan apa yang kita yakini terlepas dari segala godaan dan rintangan yang muncul dari depan, samping, maupun belakang. Pada banyak argumen yang tiada benar tiada salah, saya selalu suka konsep agree to disagree, dimana kedua pihak yang bersengketa melanjutkan hidup mereka terlepas dari beda paham atas suatu masalah, dengan tetap memegang keyakinan mereka masing-masing. Karena pada akhirnya ludah yang pantas ditelan hanyalah ludah yang lebih manis rasanya, seperti 1+1=2 ketika kita sebelumnya percaya 1+1=3 dan bukan seperti bahwa Lichtenstein adalah seniman yang lebih hebat ketika kita adalah pemuja Warhol sebelumnya.
Nilai ini sedikit banyak bisa dipadukan dengan originality, dimana kita jangan hanya be different, tapi lebih penting lagi adalah keep being different, karena itu dia sikap orisinil yang membekas, seperti bekas tetesan air di batu karang.


3. Continuous Improvement
Pertama kali saya sadari ketika melihat karikatur perpisahan kantor Ayah saya dengan kutipan, "When better is possible, good is not enough."
Dalam kasus itu, alhamdulillah Ayah saya sedang ditarik oleh kantor pusat dengan posisi yang lebih baik. Bijak sekali memang cabang yang beliau tinggalkan. Kehilangan tenaga ahli karena dirampas kantor pusat, tapi malah turut bangga dan tidak memaksa untuk tetap diam dan membelenggu karier Ayah saya. We could learn something indeed.
Setelah keep being different dengan consistency, mari jadi lebih baik lagi dengan be innovative atas originality kita. Okay kita sudah pakai jam di tangan kebalikan, kenapa tidak coba kidal sekalian? Sebagai muslim, saya makan tentu saja harus pakai tangan kanan, tapi siapa bilang menekan tombol elevator tidak bisa pakai tangan kiri?

Baru tiga. Dan memang sebenarnya kenapa harus lebih dari tiga kalau nantinya hanya jadi belenggu? One game at a time. Or in this case, three games.

Terima kasih Emak. Terima kasih Abah. Terima kasih Warhol.





Cheers, mate.

Sunday, May 13, 2012

"Go on,

film the world before it happens."
-Panic at the Disco




Cheers, mate.

Monday, March 26, 2012

What Makes You Beautiful

Petang ini, di tengah kemacetan Lenteng Agung-Tanjung Barat, lagu yang sudah tidak asing di kuping kawula muda diputar untuk entah kali keberapa:

You don't know you're beautiful
That's what makes you beautiful

Seriusan?

Menurut saya sih, kasihan.

Kenapa faktor tidak mengenal kelebihan diri sendiri justru dianggap nilai tambah? Seharusnya senjata itu digunakan untuk menyerang atau mempertahankan diri, bukan didiamkan tanpa berhasil diidentifikasi.

Nampaknya kita ini sudah terlalu banyak membaca 9gag, dimana wanita jelita dianggap slut, dan wanita gamer dan kutu buku dijunjung tinggi layaknya dewi.

Tiada yang salah dengan berjalan penuh percaya diri karena rupa wajah sempurna, dada di atas ukuran rata-rata, dan kaki jenjang dari lantai hingga ke pinggang. Tidak salah juga berjalan menunduk sambil mendengar musik melalui earphone padahal memiliki tiga kelebihan tersebut, cuma kasihan saja. Kasihan, bukannya tambah rupawan. Tidak salah, cuma kasihan.

Ada beberapa alasan yang membuat saya, Anda, dan kita semua, mungkin merasa bahwa wanita yang sadar dirinya cantik itu menyebalkan:
1. Karena dirinya tidak secantik itu.
Bisa kembali ke selera, atau bisa juga memang terlalu percaya diri saja. Tidak usah dicaci, kecuali memang menyebalkan. Namun demikian, tetaplah berusaha objektif dan membantu dia keluar dari jurang kesesatan. Karena membiarkannya seperti demikian juga hanya akan memberi energi negatif bagi diri kita sendiri di setiap hari.
2. Karena iri dan dengki.
Self-explained. Rasanya tidak ada yang lebih menyebalkan bagi seorang wanita dibanding melihat wanita yang lebih baik darinya. Jangankan lebih baik, disamakan pun masih cemberut. Iri dan dengki hanya bisa hilang ketika dibarengi dengan rasa kagum, atau cinta sesama jenis. Oh, ralat, cinta pun terkadang masih tidak terima.
3. Karena cemburu buta.
Self-explained. Pada dasarnya lelaki itu menyukai dominasi. Ubahlah rasa insecure menjadi pride, karena afterall, Anda yang berhasil merebut hatinya. Kecuali memang ada tanda-tanda tidak setia. Saat itu Anda boleh panik, tapi jangan lupa diiringi dengan introspeksi dan perbaiki diri. Karena sesungguhnya macan yang kenyang tidak akan mencari kijang lain. Cheers.
4. Karena tidak mau dianggap menilai fisik saja.
Akuilah bahwa semua lelaki lebih suka wanita yang sering mengunggah foto saat pesta (ya, okay, mungkin, dan hanya mungkin, selama masih sesuai norma) dibanding foto saat mereka berkebun (ya, okay, kecuali dengan tata gaya dan busana yang baik). Tenang saja, masih ada orang yang tidak judgmental kok di dunia ini. Ingat, di sini yang dinilai hanya ranah visual, bukan kepribadian dan lainnya seperti hendak meminang seorang istri. Berkata bahwa wanita cantik itu tampak biasa saja hanya membuat Anda terlihat seperti seorang munafik. Kecuali memang bukan selera, dan punya argumen pendukung seperti larangan agama.
5. Karena dirinya suka mencuri.
Swiper jangan mencuri! Swiper jangan mencuri! Bahkan Dora mengajarkan hal yang sama kepada kita.

Jadi, untuk para wanita, sadarilah kelebihan Anda (dan juga kekurangan tentunya). Jangan malu, jangan sungkan, tapi tetap sayangi kekasih hati. Tunjukkan pesona kepada dunia, walau masih di batas norma. Hidup wanita!


Dan jangan mencuri.




Cheers, mate.

Thursday, March 22, 2012

Wake up!

Because I can't stand another day not being able to wake you up in the middle of the night.




Cheers, mate.

Wednesday, February 15, 2012

FEBRUARY: Emotions

This is for February.

Last month, I learnt the words. This month, learn to feel by imitating BlackBerry Messenger emoticons.

The year 2012 is a reborn of a human.

















Still counting because the month's not over yet. Keep watching!




Cheers, mate.

Tuesday, January 31, 2012

JANUARY: Words

This is what I've been doing.



Alongside with that, everyday I picked the word of the day from Dictionary.com, but that will have to wait. Until then!




Cheers, mate.

Friday, January 27, 2012

Lelakian

Semua pasti tahu mengenai teori bahwa cuma ada dua jenis pria di dunia: Bajingan dan Gay.

Lalu kemudian siang ini akhirnya saya, dengan dipicu oleh tweet Anindita Prameswari Rangkuti, mencoba mencetus Segitiga Iblis Lelakian yang tidak bisa dielakkan oleh para pria. Tiga sudut dari segitiga itu berisi: Bajingan, Gay, dan Tidak Tepat Waktu.

Berbeda dengan Segitiga Iblis Perkuliahan (yang juga terkenal itu), dimana kita hanya boleh memilih dua saja dari tiga tersedia: Good Grades, Social Life, dan Enough Sleep. Di segitiga iblis lelakian ini, justru seorang pria harus mengeliminasi dua pilihan dari tiga tersedia, dan mengaku dengan lapang dada bahwa pilihan tersisa mencerminkan dirinya.

Perlu diingat bahwa tidak ada yang mutlak dalam dunia sosial. Jadi, please, be open minded. Teori ini sama sekali tidak didukung oleh penelitian dan data apapun, sehingga jelas kalau tidak akurat. Tidak masalah kalau hanya dianggap lelucon, tapi tidak perlu lah dicaci. Menghina jangan menghina, kalau tak ada artinya.
TTW = Tidak Tepat Waktu; G = Gay; B = Bajingan


Anda bukan Bajingan dan bukan Gay? Anda Tidak Tepat Waktu.

Anda tepat waktu? Antara Bajingan atau Gay.

Bajingan tepat waktu karena dia butuh impression itu dari wanita yang ingin dia bajingi.

Gay, technically, punya banyak kemiripan dengan wanita.

Tidak ada yang lebih baik dari lainnya di segitiga ini. Mohon dicamkan.

Setidaknya pria bisa pipis berdiri dan tidak perlu melahirkan. Jadi, sayangilah wanita. Okay, bro?




Cheers, mate.

Thursday, January 26, 2012

Nothing.

Do you know what felt worse than guilt? Nothing.
Apologizing in bad grammar.

See, I'm bad at this. But still, sorry.




Cheers, mate.

Saturday, January 21, 2012

Thursday: If I Ever Feel Better

"Hey!"

Martha turned back without stopping her steps. You know what will happen when you move forward, but keep looking behind? You won't be able to see whatever's coming your way. And so she did.

"Where am I?"

"Bonjour. Square one. Heh."

"What happened?"

"I believe he could give you the complete story. Don't forget to thank him, or, well, slap him. Heh."

Well thanks aplenty, Vince.

"So, you?" Martha asked.

"I'm Ben."

"Okay, Ben. I'm..."

"I know. Martha, no?"

"I guess my reputation preceded me. Do you mind sharing the story?"

"Not at all. You thumped this big guy, Ted, on the pavement outside. You were looking back while walking quickly forward because I yelled at you, so.. I'm kind of guilty here. All apologies."

"And why were you yelling at me back then?"

God, this girl is good.

"Well, I..."

"Was looking for a perfect time to get to know me, and finally the time came, but you hesitate and have to catch me in front of the store?" She smiled.

"I didn't hesitate. You just walked out too fast." I'm weirdly relieved.

She chuckled.

"Well then, Ben. I guess you're also the one who brought me back here, yes?"

"Of course not. It was Ted. And it's not because you're heavy or anything, it's just..."

"Thank you, Ben. I owe you one."

Thursday, I owe you one.

"So. If I ever feel better, remind me to spend some good time with you."

"You can give me your number. When it's all over I'll let you know."

"Phoenix." She grinned.

"The greatest band on earth." I went to heaven.

Thursday, I owe you one hundred.



P.S. There was no such thing like Ted. But I guess you already know that, no? :)

Friday, January 20, 2012

Kecelakaan Bulan Ini

Kena, deh.

Kalau Anda pengguna harian jalan bebas hambatan (khususnya Tol Dalam Kota dari arah Bekasi) dan cukup atentif terhadap lingkungan sekitar, pasti Anda akan sadar bahwa setelah gerbang Halim terpampang Data Kecelakaan Bulan Ini (terdengar seperti Menu Favorit Bulan Ini) di rerumputan. Lebih jauh lagi, bila otak Anda terlalu sering ngawang karena kemacetan, kemungkinan besar otak Anda akan membahas hal yang sama dengan tulisan saya kali ini.

Data terakhir yang saya lihat seperti di bawah ini:

Jumlah Kecelakaan: 139
Jumlah Korban Tewas: 4

Kemudian saya menciptakan sebuah skenario sederhana dari dua statistik tersebut:

Jumlah Kecelakaan: 4
Jumlah Korban Tewas: 139

Nah loh.

Kalau menurut Anda, lebih masuk akal yang mana?

Data pertama menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat tinggi. Rasio-nya dengan tingkat kematian juga tidak main-main, hampir 35 kecelakaan dibanding 1 kematian. Artinya jika Anda menderita kecelakaan yang ke-35 setelah 34 kecelakaan sebelumnya tidak ada korban jiwa, you might as well write your last will di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit.

Data kedua menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat rendah, tapi dengan jumlah korban tewas sudah seperti di kamp konsentrasi. Entah kecelakaan macam apa yang dapat menimbulkan angka seperti di atas. Mungkin ketika dua bus AKAP penuh pemudik yang sedang tarik-tarikan meledak bersama karena overheat di gerbang tol hingga muntahan besi panasnya terlontar ke delapan arah mata angin.

Kalau menurut saya pribadi, yang namanya kecelakaan itu tidak seharusnya terjadi setiap hari. Kecelakaan itu selayaknya adalah peristiwa yang bisa membuat orang menjerit, "Celaka!" sambil menahan air mata. Kejadian yang membuat detak jantung untuk sekian detik tertahan. Tragedi yang susah hilang dari dalam pikiran pelaku dan korban. Atau cukup sesuatu yang di luar perkiraan.

Kecelakaan yang terjadi setiap hari itu namanya kelalaian. Entah siapa yang salah di sini. Untuk mengetahuinya kita harus tahu lebih dalam mengenai rincian kecelakaan yang terjadi. Apakah karena di tengah jalan ada lubang sebesar kepala manusia purba? Apakah karena sebelum melakukan perjalanan panjang, para pengendara tidak pernah mengecek mesinnya dengan seksama? Apakah karena banyaknya mobil goyang di lajur darurat yang ditabrak orang mabuk yang kebut-kebutan dengan lawan main khayalan?

Anyway, let's cut the crap, and get to the point.

In life, is it better to do so many mistakes that you eventually get it right,

or, to do only few mistakes, that instantly change your life?





Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.