Kena, deh.
Kalau Anda pengguna harian jalan bebas hambatan (khususnya Tol Dalam Kota dari arah Bekasi) dan cukup atentif terhadap lingkungan sekitar, pasti Anda akan sadar bahwa setelah gerbang Halim terpampang Data Kecelakaan Bulan Ini (terdengar seperti Menu Favorit Bulan Ini) di rerumputan. Lebih jauh lagi, bila otak Anda terlalu sering ngawang karena kemacetan, kemungkinan besar otak Anda akan membahas hal yang sama dengan tulisan saya kali ini.
Data terakhir yang saya lihat seperti di bawah ini:
Jumlah Kecelakaan: 139
Jumlah Korban Tewas: 4
Kemudian saya menciptakan sebuah skenario sederhana dari dua statistik tersebut:
Jumlah Kecelakaan: 4
Jumlah Korban Tewas: 139
Nah loh.
Kalau menurut Anda, lebih masuk akal yang mana?
Data pertama menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat tinggi. Rasio-nya dengan tingkat kematian juga tidak main-main, hampir 35 kecelakaan dibanding 1 kematian. Artinya jika Anda menderita kecelakaan yang ke-35 setelah 34 kecelakaan sebelumnya tidak ada korban jiwa, you might as well write your last will di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit.
Data kedua menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat rendah, tapi dengan jumlah korban tewas sudah seperti di kamp konsentrasi. Entah kecelakaan macam apa yang dapat menimbulkan angka seperti di atas. Mungkin ketika dua bus AKAP penuh pemudik yang sedang tarik-tarikan meledak bersama karena overheat di gerbang tol hingga muntahan besi panasnya terlontar ke delapan arah mata angin.
Kalau menurut saya pribadi, yang namanya kecelakaan itu tidak seharusnya terjadi setiap hari. Kecelakaan itu selayaknya adalah peristiwa yang bisa membuat orang menjerit, "Celaka!" sambil menahan air mata. Kejadian yang membuat detak jantung untuk sekian detik tertahan. Tragedi yang susah hilang dari dalam pikiran pelaku dan korban. Atau cukup sesuatu yang di luar perkiraan.
Kecelakaan yang terjadi setiap hari itu namanya kelalaian. Entah siapa yang salah di sini. Untuk mengetahuinya kita harus tahu lebih dalam mengenai rincian kecelakaan yang terjadi. Apakah karena di tengah jalan ada lubang sebesar kepala manusia purba? Apakah karena sebelum melakukan perjalanan panjang, para pengendara tidak pernah mengecek mesinnya dengan seksama? Apakah karena banyaknya mobil goyang di lajur darurat yang ditabrak orang mabuk yang kebut-kebutan dengan lawan main khayalan?
Anyway, let's cut the crap, and get to the point.
In life, is it better to do so many mistakes that you eventually get it right,
or, to do only few mistakes, that instantly change your life?
Cheers, mate.
Probably exhausted
3 days ago


0 complains:
Post a Comment