Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Wednesday, July 25, 2012

Are You Different?

tulisan yang terpatri di balik jam tangan edisi Andy Warhol

This summer, I found Warhol. Andy.

Hasil karya Warhol sudah banyak lalu lalang lewat begitu saja di depan mata saya sejak lama. Kadang di layar kaca, kadang di dunia maya. Saya tahu dia eksentrik, saya tahu dia unik. Akan tetapi, tidak pernah sebelumnya saya tahu dia patut diidolakan. Maka potret pop art yang mencolok mata itu selalu dinikmati sekejap saja, atau sebagai efek Photobooth belaka.

Sampai musim panas kali ini. Saya disapa Warhol tanpa disangka. Di Singapura. Hanya tiga hari sebelum puasa.

Awalnya saya melihat brosur wisata dan tertarik untuk menyambangi Harry Potter: The Exhibition yang digelar di ArtScience Museum, ingin beli Bertie Botts kacang segala rasa, saja (walaupun akhirnya juga berakhir dengan pembelian Quill & Ink Set serta kaos Ravenclaw). Adalah sebuah kejutan tersendiri ketika mengetahui tempat terpuji tersebut juga sedang menjadi wadah bagi pameran sesepuh seniman modern favorit kita semua. Tidak banyak yang diharapkan ketika membeli tiket tambahan untuk eksibisi yang disebut kedua. "Hanya sekadar cuci mata," pikir saya.

Namun yang saya alami adalah perjalanan spiritual yang dihiasi dengan warna-warna ngejreng pembuka mata dan pikiran. Pameran Andy Warhol bahkan lebih bernilai magis dari witchcraft and wizardry yang ditawarkan Sorting Hat dan keempat asrama pilihannya. Lebih brutal dibanding Quidditch dengan bludger-nya. Sama indah dengan 1 set tongkat sihir Dumbledore's Army di Diagon Alley yang terlampau mahal harganya.

Selama ini saya hidup dengan berbagai nilai. Namun karena tidak pernah dinyatakan dengan lisan maupun tulisan, bukan jarang nilai-nilai itu berbenturan. Berkat the inspiring Warhol (serta karya dan quotes-nya yang ditata apik di sana), sejauh ini saya dapat merumuskan tiga nilai yang saya apresiasi tinggi dan ingin terus kejar dalam hidup:

1. Originality
Pertama kali saya sadari ketika menjawab pertanyaan Sorting Hat dalam interactive reading experience teranyar, Pottermore.
Memang jangan dipaksa, tapi benar adanya kreativitas itu ada karena terbiasa. Saya tidak menganjurkan Anda untuk mendengarkan musik avant-garde hanya agar terlihat berbeda. Cukup hal out of the box sederhana seperti pakai jam di tangan kebalikan, yang kalau tidak salah ingat dianjurkan di dalam buku Creative Junkies susunan Yoris Sebastian. Bagi semua yang ingin be different, that book is one good starting point.
Dari kreativitas sehari-hari itulah, walaupun mulanya dipaksakan, saya percaya sebuah karya orisinil dapat tercipta. Karena tidak semua kita diciptakan dengan jalan pikiran macam Andrew Warhola.

2. Persistence
Pertama kali saya sadari ketika mendengar ucapan seorang tokoh di serial Mad Men, "My persistence is my charm."
Batu yang sangat padat pun akhirnya berlubang karena setetes air yang menetes terus-terusan. Persistence artinya tetap konsisten melakukan apa yang kita yakini terlepas dari segala godaan dan rintangan yang muncul dari depan, samping, maupun belakang. Pada banyak argumen yang tiada benar tiada salah, saya selalu suka konsep agree to disagree, dimana kedua pihak yang bersengketa melanjutkan hidup mereka terlepas dari beda paham atas suatu masalah, dengan tetap memegang keyakinan mereka masing-masing. Karena pada akhirnya ludah yang pantas ditelan hanyalah ludah yang lebih manis rasanya, seperti 1+1=2 ketika kita sebelumnya percaya 1+1=3 dan bukan seperti bahwa Lichtenstein adalah seniman yang lebih hebat ketika kita adalah pemuja Warhol sebelumnya.
Nilai ini sedikit banyak bisa dipadukan dengan originality, dimana kita jangan hanya be different, tapi lebih penting lagi adalah keep being different, karena itu dia sikap orisinil yang membekas, seperti bekas tetesan air di batu karang.


3. Continuous Improvement
Pertama kali saya sadari ketika melihat karikatur perpisahan kantor Ayah saya dengan kutipan, "When better is possible, good is not enough."
Dalam kasus itu, alhamdulillah Ayah saya sedang ditarik oleh kantor pusat dengan posisi yang lebih baik. Bijak sekali memang cabang yang beliau tinggalkan. Kehilangan tenaga ahli karena dirampas kantor pusat, tapi malah turut bangga dan tidak memaksa untuk tetap diam dan membelenggu karier Ayah saya. We could learn something indeed.
Setelah keep being different dengan consistency, mari jadi lebih baik lagi dengan be innovative atas originality kita. Okay kita sudah pakai jam di tangan kebalikan, kenapa tidak coba kidal sekalian? Sebagai muslim, saya makan tentu saja harus pakai tangan kanan, tapi siapa bilang menekan tombol elevator tidak bisa pakai tangan kiri?

Baru tiga. Dan memang sebenarnya kenapa harus lebih dari tiga kalau nantinya hanya jadi belenggu? One game at a time. Or in this case, three games.

Terima kasih Emak. Terima kasih Abah. Terima kasih Warhol.





Cheers, mate.

No comments:

 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.