Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Tuesday, January 31, 2012

JANUARY: Words

This is what I've been doing.



Alongside with that, everyday I picked the word of the day from Dictionary.com, but that will have to wait. Until then!




Cheers, mate.

Friday, January 27, 2012

Lelakian

Semua pasti tahu mengenai teori bahwa cuma ada dua jenis pria di dunia: Bajingan dan Gay.

Lalu kemudian siang ini akhirnya saya, dengan dipicu oleh tweet Anindita Prameswari Rangkuti, mencoba mencetus Segitiga Iblis Lelakian yang tidak bisa dielakkan oleh para pria. Tiga sudut dari segitiga itu berisi: Bajingan, Gay, dan Tidak Tepat Waktu.

Berbeda dengan Segitiga Iblis Perkuliahan (yang juga terkenal itu), dimana kita hanya boleh memilih dua saja dari tiga tersedia: Good Grades, Social Life, dan Enough Sleep. Di segitiga iblis lelakian ini, justru seorang pria harus mengeliminasi dua pilihan dari tiga tersedia, dan mengaku dengan lapang dada bahwa pilihan tersisa mencerminkan dirinya.

Perlu diingat bahwa tidak ada yang mutlak dalam dunia sosial. Jadi, please, be open minded. Teori ini sama sekali tidak didukung oleh penelitian dan data apapun, sehingga jelas kalau tidak akurat. Tidak masalah kalau hanya dianggap lelucon, tapi tidak perlu lah dicaci. Menghina jangan menghina, kalau tak ada artinya.
TTW = Tidak Tepat Waktu; G = Gay; B = Bajingan


Anda bukan Bajingan dan bukan Gay? Anda Tidak Tepat Waktu.

Anda tepat waktu? Antara Bajingan atau Gay.

Bajingan tepat waktu karena dia butuh impression itu dari wanita yang ingin dia bajingi.

Gay, technically, punya banyak kemiripan dengan wanita.

Tidak ada yang lebih baik dari lainnya di segitiga ini. Mohon dicamkan.

Setidaknya pria bisa pipis berdiri dan tidak perlu melahirkan. Jadi, sayangilah wanita. Okay, bro?




Cheers, mate.

Thursday, January 26, 2012

Nothing.

Do you know what felt worse than guilt? Nothing.
Apologizing in bad grammar.

See, I'm bad at this. But still, sorry.




Cheers, mate.

Saturday, January 21, 2012

Thursday: If I Ever Feel Better

"Hey!"

Martha turned back without stopping her steps. You know what will happen when you move forward, but keep looking behind? You won't be able to see whatever's coming your way. And so she did.

"Where am I?"

"Bonjour. Square one. Heh."

"What happened?"

"I believe he could give you the complete story. Don't forget to thank him, or, well, slap him. Heh."

Well thanks aplenty, Vince.

"So, you?" Martha asked.

"I'm Ben."

"Okay, Ben. I'm..."

"I know. Martha, no?"

"I guess my reputation preceded me. Do you mind sharing the story?"

"Not at all. You thumped this big guy, Ted, on the pavement outside. You were looking back while walking quickly forward because I yelled at you, so.. I'm kind of guilty here. All apologies."

"And why were you yelling at me back then?"

God, this girl is good.

"Well, I..."

"Was looking for a perfect time to get to know me, and finally the time came, but you hesitate and have to catch me in front of the store?" She smiled.

"I didn't hesitate. You just walked out too fast." I'm weirdly relieved.

She chuckled.

"Well then, Ben. I guess you're also the one who brought me back here, yes?"

"Of course not. It was Ted. And it's not because you're heavy or anything, it's just..."

"Thank you, Ben. I owe you one."

Thursday, I owe you one.

"So. If I ever feel better, remind me to spend some good time with you."

"You can give me your number. When it's all over I'll let you know."

"Phoenix." She grinned.

"The greatest band on earth." I went to heaven.

Thursday, I owe you one hundred.



P.S. There was no such thing like Ted. But I guess you already know that, no? :)

Friday, January 20, 2012

Kecelakaan Bulan Ini

Kena, deh.

Kalau Anda pengguna harian jalan bebas hambatan (khususnya Tol Dalam Kota dari arah Bekasi) dan cukup atentif terhadap lingkungan sekitar, pasti Anda akan sadar bahwa setelah gerbang Halim terpampang Data Kecelakaan Bulan Ini (terdengar seperti Menu Favorit Bulan Ini) di rerumputan. Lebih jauh lagi, bila otak Anda terlalu sering ngawang karena kemacetan, kemungkinan besar otak Anda akan membahas hal yang sama dengan tulisan saya kali ini.

Data terakhir yang saya lihat seperti di bawah ini:

Jumlah Kecelakaan: 139
Jumlah Korban Tewas: 4

Kemudian saya menciptakan sebuah skenario sederhana dari dua statistik tersebut:

Jumlah Kecelakaan: 4
Jumlah Korban Tewas: 139

Nah loh.

Kalau menurut Anda, lebih masuk akal yang mana?

Data pertama menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat tinggi. Rasio-nya dengan tingkat kematian juga tidak main-main, hampir 35 kecelakaan dibanding 1 kematian. Artinya jika Anda menderita kecelakaan yang ke-35 setelah 34 kecelakaan sebelumnya tidak ada korban jiwa, you might as well write your last will di ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit.

Data kedua menunjukkan frekuensi kecelakaan yang sangat rendah, tapi dengan jumlah korban tewas sudah seperti di kamp konsentrasi. Entah kecelakaan macam apa yang dapat menimbulkan angka seperti di atas. Mungkin ketika dua bus AKAP penuh pemudik yang sedang tarik-tarikan meledak bersama karena overheat di gerbang tol hingga muntahan besi panasnya terlontar ke delapan arah mata angin.

Kalau menurut saya pribadi, yang namanya kecelakaan itu tidak seharusnya terjadi setiap hari. Kecelakaan itu selayaknya adalah peristiwa yang bisa membuat orang menjerit, "Celaka!" sambil menahan air mata. Kejadian yang membuat detak jantung untuk sekian detik tertahan. Tragedi yang susah hilang dari dalam pikiran pelaku dan korban. Atau cukup sesuatu yang di luar perkiraan.

Kecelakaan yang terjadi setiap hari itu namanya kelalaian. Entah siapa yang salah di sini. Untuk mengetahuinya kita harus tahu lebih dalam mengenai rincian kecelakaan yang terjadi. Apakah karena di tengah jalan ada lubang sebesar kepala manusia purba? Apakah karena sebelum melakukan perjalanan panjang, para pengendara tidak pernah mengecek mesinnya dengan seksama? Apakah karena banyaknya mobil goyang di lajur darurat yang ditabrak orang mabuk yang kebut-kebutan dengan lawan main khayalan?

Anyway, let's cut the crap, and get to the point.

In life, is it better to do so many mistakes that you eventually get it right,

or, to do only few mistakes, that instantly change your life?





Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.