Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Saturday, August 11, 2012

Perdana Selalu Bisa Dicipta

Menyenangkan ketika sekalinya saya mulai menulis lagi, ada saja feedback positif yang masuk ke mata. Dua linting pujian masuk via mention ke Twitter saya. Satu dari Aulia Uswah Affani dan satu dari Kutek Radio. Your comments mean a lot guys, really.

Maka dari itu saya merasa perlu kembali merangkai kata. Jadi kalimat, jadi paragraf, jadi cerita. Seringkali ini hanya jadi wacana, dan kali ini tidak terkecuali. The thing about blog adalah, semangat dan inspirasi menulis saya kerap muncul di tengah malam. Cukup merepotkan dan melelahkan ketika esok pagi saya harus menglaju keluar dari suburb lagi. Ditambah dengan makin intens-nya penggunaan social media Twitter, dimana pikiran dapat dituangkan dengan instan. Sangat menggoda untuk berhenti saja.

Maka saya harus lakukan inovasi agar blog saya tidak lantas hilang seperti kapur barus yang menyublim di lantai keramik kamar mandi. Salah jika Anda sangka kicauan singkat di Twitter membunuh kreativitas dan ketangkasan berujar blogger layaknya, "Video killed the radio star." Karena selalu ada cara untuk menghindari jadi budak teknologi.

Tanpa alasan, malam ini saya membaca ulang Volgorian Cabalsette. Dan kemudian tanpa alasan, saya menengok daftar alamat blog kolega di sisi kiri. Dan kemudian tanpa alasan, saya meng-klik tautan ke blog Dyah Ayu Asmarani. Dan kemudian tanpa alasan, saya hampiri blog Alanda Kariza yang dipajang di blog-nya. God works in his own ways.

Di blog Alanda, saya melihat satu fitur baru yang belum pernah saya temui sebelumnya: Reading Time. Brilian. Menjawab kemalasan membaca generasi muda, Alanda menjanjikan waktu baca sehingga ekspektasi bertemu reality. Sehingga pembaca tidak bosan di tengah jalan. Sehingga pembaca melahap habis setiap tulisan.

Saya tidak tahu apakah ini memang ide orisinil atau saya saja yang kurang banyak menyisihkan waktu untuk membaca di dunia maya. Yang pasti, fitur inilah yang memberi saya inspirasi. Bukan untuk hal yang sama, tapi untuk memulai lagi suatu perdana.

So, here it is. A new label for my old blog: 140

Saya suka Twitter. Oh, suka sekali. Menurut saya merangkum wisdom atau humor dalam 140 karakter merupakan seni tersendiri. Namun saya juga suka blog. Terutama karena sudah banyak memori di sini. Dan sejujurnya karena kaum mayoritas masih memandang Twitter sebelah mata dan belum bisa menerimanya sebagai wadah pujangga. Karena itu saya percaya ada yang lebih baik dari eliminasi. Karena itulah di kamus ada kata integrasi.

140, adalah tulisan yang berisikan screenshot dari tweet yang saya anggap blog material. Boleh disertai penjelasan di baliknya, boleh tidak. Dimensions: 535x235 (how I love standardisation). Kalau Anda pernah baca buku 'Kicau Kacau' oleh Indra Herlambang, ya seperti itu kira-kira bentuknya (untuk yang dengan penjelasan).

Maka dari itu, hari ini saya ciptakan lagi sebuah perdana:


Ide ini memang bukan sepenuhnya datang dari surga, tapi saya percaya getting inspired oleh sesuatu itu bukan dosa. Apalagi saya punya cerita di balik penamaannya.

Label 140 mempunyai setidaknya tiga cerita. Yang pertama, melambangkan batas 140 karakter yang menjadi syarat sebuah tweet layak pajang. Yang kedua, bahwa IQ >= 140 sudah boleh dianggap genius. Yang ketiga, dibaca 14-0 (fourteen-o), dimana 14 adalah angka favorit saya, dan 0 adalah sebuah mula.

Jadi, ya. Saya masih berani bilang ini salah satu cara untuk jadi beda.




Cheers, mate.

Thursday, August 9, 2012

Ini Ekonomi UI!

updated:


Masa registrasi online dimulai sebentar lagi. Memang tidak pasti, karena kabar masih simpang siur antara esok tanggal 10 atau lusa tambah sehari tanggal 12. Sejak saya maba sampai tingkat tiga memang selalu bermasalah. Saya bersumpah kalau sampai lulus masih tidak berubah, saya akan ajukan kepada employer atau company saya untuk menyalurkan dana CSR bidang pendidikan untuk pemutakhiran SIAK-NG dan Biro Pendidikan FEUI.

Kuliah di FEUI banyak dukanya.

Butuh effort lebih bahkan untuk sekadar tetap bisa duduk di kelas, untuk mendengarkan kuliah yang kadang disampaikan dengan kurang menarik oleh dosen yang kelewat strict dalam memberi nilai. Sekalinya bertemu pengajar yang berkualitas, ada saja drama. Mulai dari asisten dosen yang kurang tenggang rasa, sampai pihak kepolisian yang mengundang massa.

Pengaturan waktu yang prima mutlak dimiliki untuk mampu mengisi CV dengan beragam kegiatan, kepanitiaan, dan pengalaman berorganisasi, tanpa membiarkan grafik IPK meliuk-liuk seperti ular atau bahkan menukik seperti kilat. Segitiga Kuliah benar adanya di FEUI. Semua harus korbankan satu diantara tiga: Nilai, Sosial, Tidur. Semua harus memilih antara tetap terjaga, cukup bersama keluarga, atau IPK dua koma. And don't get me started about campus politics. Ada saja drama.

Belum lagi masalah-masalah sepele lain yang sebenarnya jangan dipandang sebelah mata. Mulai dari sanitasi menyedihkan, dimana sabun cair tidak tersedia di toilet-toilet (sekarang sudah ada, dengan rasio air dan sabun sekitar tiga banding satu) sampai ya itu tadi, Regol yang tidak pernah lancar tanpa masalah. Mulai dari tarik ulur masa registrasi yang selalu merusak rencana, mahasiswa malang ledak emosi yang berujung black list sepihak karena sakit hati, sampai tweet kekanakan review kuliner Mie Goreng Cemong. Ada saja drama.

Tapi terlepas itu semua, selalu ada rasa bangga. Setiap melihat tulisan dunia maya berisi impian para murid SMA. Setiap tahunnya saat kemunculan Maba. Setiap harinya melihat kolam Makara. Setiap semesternya menyaksikan kebahagiaan yang sudah siap wisuda. Setiap buka lemari baju, dan melihat jakun dengan makara abu-abu.

Kurang tiga puluh hari dari sekarang, saya jadi mahasiswa semester lima. Saya selalu beranggapan mahasiswa tahun ketiga sudah tidak punya someone to look up to, bahwa sudah saatnya jadi panutan. Yaa, semoga saja saya bisa, setidaknya untuk diri sendiri. Karena ini Ekonomi UI.




Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.