Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Friday, November 22, 2013

Saturday: Lost

It was far too early in the morning to be trying to call you.

Bonjour still closes its door for this town's creatures. Keeping sterile doctors outside and drunken fresh graduates inside (sleeping on the floor, laughing) this haven of mine. They kept on yelling about their annual salary last night; big as heck that one guy paycheque could actually feed me for the rest of my life. I hate fresh graduates.

Then, Vince arrived. Finally. I have been longing for this town's polluted air since last night, since I got into a fight with these drunken fresh graduates. We were just throwing punches when each and every one of them threw up and fell into a sleep so deep I was almost convinced they were dead because of my lousy jabs. The truth is, that's what will happen to you when you're tired as heck and try to make it go away by letting poisonous substances into your messed up metabolism. I hate fresh graduates.

It was 5.05. It was still cold outside.

It was still far too early in the morning to be trying to call you.

So, I took one for the team. I reached my pocket and lit the last cigarette I had. From last night. From one of those drunken fresh graduates high-roller suit pocket. The one with the bowler hat. I mean, what. I hate fresh graduates.

The coffin nail was top-notch though.

It was 5.20. Vince called.

He needed help waking those drunken fresh graduates. We decided to burn them instead. Just joking. I took the chance to make that suggestion, but Vince did not allow me.

He said I would rot to death in the prison for doing that. I told him that would not be much of a problem looking at myself now. He slapped me in the face. Twice. I sent him a combination of left hook and an uppercut. We hugged. A brotherly one. He begged for me to have a good sleep back in my hometown. He even handed me an airplane ticket back to our hometown. That, and my brown leather suitcase.

It was 6.21. A boy scout walked into Bonjour.

Is it still too early in the morning to be trying to call you?




P.S. See you soon.

Sunday, November 17, 2013

April 16th, 2013

In the digital age that is today, you know you are special when you have made it to be someone's password. Furthermore, to be his or her security question.

But it is only when everything is due yet nothing is new, that you can safely conclude that you actually are. Or better yet, might have always been.

And you are. Or better yet, might have always been.



Cheers, mate.

Wednesday, October 16, 2013

January 26th, 2013

Saya selalu merasa kenangan itu buku yang sudah selesai dibaca, atau belum. Sudah dalam artian untuk saat ini, belum karena di masa depan bukan tidak mungkin semua terulang kembali.

Ini bermula dari munculnya satu kalimat dari Alkitab sekian waktu lalu (yang muncul lagi pagi tadi) yang begitu membius dan sekarang sudah aman tertanam di cortex otak saya, "There is nothing new under the sun." Berlanjut dengan kejenuhan menjelang ujian tengah semester seharian. Lalu berakhir di bagian spesifik kotak masuk email pribadi yang sudah jarang dijamah. Bahkan sekarang saya berpikir untuk mulai bermain api dengan merogoh-rogoh bagian dalam laci yang entah berisi apa lagi.

Lalu buntu.

Saya juga tidak tahu hendak berujar apa dengan memulai menulis lagi di sini.

Kalau boleh pilih, saya lebih ingin teriak. Atau diam. Manapun boleh selama latarnya pegunungan pada musim salju. Atau musim gugur. Di negara yang jauh dari Indonesia raya. Atau dekat. Sendiri saja tanpa ada tempat bersandar. Atau berdua. Dengan siapa saja yang ada. Atau dengan dia.

Dia di sini juga tidak tahu yang dimaksud siapa. Benaran. Tahu pun tidak bisa mengubah apa-apa.

Sekarang cuma bisa diam sambil ngumpulin nyawa. Diet OCD sampai turun 15 kilogram. Belajar buat CFA bulan Juni tahun depan. Main bola bersama Bajing FC alias para bajingan. Tapi paling penting, senyum.

Setelah menulis seperti ini, biasanya diri sendiri akan mulai berevolusi. Mungkin saya akan mulai rajin pakai topi. Mungkin saya bakal jadi pecandu kopi. Mungkin saya tidak mengidolakan Miley Cyrus lagi. Atau mungkin yang lalu terulang kembali. Coba tengok tuh nukilan Alkitab di atas.

Manapun boleh. Cuma kali ini... Hehe.




Cheers, mate.

Thursday, March 7, 2013

Friday: I'm In Love

Imagine an endless green meadow with no one out there but you and your better half lying there eating turkey sandwiches.

Imagine a white sand beach with a bright blue sky and a glimpse of her smile as she runs into the open sea.

Imagine a mountain summit with the yellow sun rising behind the thin clouds as you hold her tight in your arms.

Imagine a rooftop dinner with all the exquisite dishes coming in the perfect order while her red lipstick spells out your name all night long.

Imagine those set of things.

That's the beauty of it.



P.S. I hate the ending myself, but it started with an alright scene.

Tuesday, February 12, 2013

Financial Press

Tulisan ini buat pembaca-pembaca yang masuk perangkat analytics Google tanpa nama dan hanya sebagai token belaka. Thanks to you, blog yang memuat tidak sampai 150 posts ini bisa ketumpahan lima belas ribu views hingga kini.

Pembaca yang menanti bus tua di tengah hujan deras ibukota. Pembaca yang menunggu caesar salad dan air mineral di kencan pertama. Pembaca yang menikmati lantunan vokal lirih dan gitar akustik pria tanggung dari perangkat iPod (ya, iPod, karena saya suka Apple). Dan akhirnya, pembaca yang terpaksa baca blog saya untuk membinasakan rasa lapar sebelum terlelap. Ya, Anda.

Tulisan ini monumen belaka (sekaligus pemanasan untuk babak final label Ben Bonjour, sih). Tulisan pengingat bahwa jadi mahasiswa konsentrasi Manajemen Keuangan ternyata bisa juga kerja di media. Media yang tidak berpihak kepada pihak manapun, kecuali kebenaran. Saya mau jadi yang seperti itu.

Jadi, bersabarlah. Turunkan payung Anda karena bus tua itu sebentar lagi tiba. Cuci tangan Anda karena salad itu tak lama lagi dihidangkan di depan mata. Lepaskan earpod (earphone terbaru Apple) Anda karena malam sudah larut. Dan akhirnya, cek kulkas Anda karena Anda tidak gendut. Ya, Anda.




Cheers, mate. :)

Tuesday, January 1, 2013

Dua Ribu Tiga Belas

Tidur saya tidak pulas. Senyum saya tidak lepas. Di pundak saya seolah ada setan serupa film Shutter sedang bertengger nyaman.

Saya banyak salah. Saya banyak dosa. Saya perlu untuk lebih rajin ibadah. Jangan sampai pikiran liar seperti terjun bebas saat lihat balkon tanpa pembatas atau tenang abadi saat lihat pil penenang muncul lagi. Saya bisa mati benaran.

"One cannot think well, love well, sleep well, if one has not dined well," kata Virginia Woolf di daftar menu Takarajima. Dia jelas-jelas salah kali ini. Semalam saya makan beragam jenis makanan dari seluruh dunia di hotel berbintang, tapi dunia saya tetap jauh mengabur.

Hari ini saya mau makan Hoka-Hoka Bento. Besok saya mau makan Sushi Tei sambil belajar. Lusa saya mau nonton The Raid, makan waffle A&W, nonton Hunger Games. Habis itu mau tidur saja. Lama. Sampai Onrop! digelar untuk kali kedua.

Selamat tahun baru.




Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.