Quote? Not Quote?

"It's love. Yes all we're looking for is love from someone else."
-Emma Stone, La La Land

Today in History

Selamat Pagi, Siang, Petang, Malam!

Saya namanya Ramadhan Putera Djaffri. Sekarang bekerja di Samuel Aset Manajemen. Sebelumnya berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, menempuh pendidikan IPS di SMA Labschool Kebayoran, pulang-pergi naik sepeda saat bersekolah di SMP Al-Azhar 8 Kemang Pratama, seorang anak jemputan saat belajar di SD Bani Saleh 1, dan pernah dihajar rantai sepeda motor saat menghabiskan masa balita di TK Mini Pak Kasur.

Segala tulisan di Volgorian Cabalsette ini seharusnya sih hasil kreasi saya, kecuali yang saya sebutkan sumber lainnya. Karena itu saya harap Anda juga bisa menghormati dan selalu meminta izin atau setidaknya memberi saya kredit tiap kali mengutip. Ayo hindari plagiarisme sejak mula!

Soal sejarahnya sendiri, yang bisa saya ingat ada tiga semboyan Volgorian Cabalsette hingga kini. Pertama adalah "The Safest Place On Earth" yang sekarang jadi milik Volgorian Nopales. Kedua adalah "Berpikir Subjektif Tidak Membantu", yang kemudian berevolusi menjadi "Pemikiran, Ucapan, Tindakan" karena menurut saya tanpa aksi tidak ada realisasi.

Pun setelah sekian lama menggunakan semboyan ketiga, nampaknya saya harus kembali kepada semboyan kedua, karena lebih orisinil dan lebih saya. Terlebih lagi setelah semboyan itu sempat disebut-sebut kembali oleh rekan seperti Mirza dan Aditya.

Lainnya, saya akan sangat bahagia jika Anda memberi donasi uang kepada saya. Tidak bersedia? Kalau sekadar kesan, pesan, komentar, keluhan, cacian, dan makian mau kan? Tidak perlu banyak, saya hanya ingin tahu apakah memang ada yang membaca.

Terima kasih telah berkunjung. Nikmati dunia saya!

Wednesday, October 16, 2013

January 26th, 2013

Saya selalu merasa kenangan itu buku yang sudah selesai dibaca, atau belum. Sudah dalam artian untuk saat ini, belum karena di masa depan bukan tidak mungkin semua terulang kembali.

Ini bermula dari munculnya satu kalimat dari Alkitab sekian waktu lalu (yang muncul lagi pagi tadi) yang begitu membius dan sekarang sudah aman tertanam di cortex otak saya, "There is nothing new under the sun." Berlanjut dengan kejenuhan menjelang ujian tengah semester seharian. Lalu berakhir di bagian spesifik kotak masuk email pribadi yang sudah jarang dijamah. Bahkan sekarang saya berpikir untuk mulai bermain api dengan merogoh-rogoh bagian dalam laci yang entah berisi apa lagi.

Lalu buntu.

Saya juga tidak tahu hendak berujar apa dengan memulai menulis lagi di sini.

Kalau boleh pilih, saya lebih ingin teriak. Atau diam. Manapun boleh selama latarnya pegunungan pada musim salju. Atau musim gugur. Di negara yang jauh dari Indonesia raya. Atau dekat. Sendiri saja tanpa ada tempat bersandar. Atau berdua. Dengan siapa saja yang ada. Atau dengan dia.

Dia di sini juga tidak tahu yang dimaksud siapa. Benaran. Tahu pun tidak bisa mengubah apa-apa.

Sekarang cuma bisa diam sambil ngumpulin nyawa. Diet OCD sampai turun 15 kilogram. Belajar buat CFA bulan Juni tahun depan. Main bola bersama Bajing FC alias para bajingan. Tapi paling penting, senyum.

Setelah menulis seperti ini, biasanya diri sendiri akan mulai berevolusi. Mungkin saya akan mulai rajin pakai topi. Mungkin saya bakal jadi pecandu kopi. Mungkin saya tidak mengidolakan Miley Cyrus lagi. Atau mungkin yang lalu terulang kembali. Coba tengok tuh nukilan Alkitab di atas.

Manapun boleh. Cuma kali ini... Hehe.




Cheers, mate.
 
Creative Commons License
Volgorian Cabalsette by Ramadhan Putera Djaffri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.